Khutbah Jum'at : Dunia Di Tangan, Bukan Di Hati
Khutbah Pertama
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ
Jamaah Jum’at rahimakumullah
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Pada kesempatan yang mulia ini, marilah kita bersama-sama merenungkan satu penyakit hati yang sering kali tidak kita sadari. Penyakit ini terlihat sederhana, tetapi bahayanya sangat besar. Yaitu ketika kita terlalu mencintai kehidupan dunia, hingga kita lupa bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara dan kehidupan akhirat adalah kehidupan yang sesungguhnya. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-A'la:
بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ
“Tetapi kamu lebih mengutamakan kehidupan dunia, sedangkan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A‘la: 16–17). Perhatikanlah firman Allah:
بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا
“Bahkan kalian lebih mengutamakan kehidupan dunia.”
Ayat ini bukan berarti Allah melarang kita mencari dunia. Islam tidak melarang kita bekerja. Islam tidak melarang kita menjadi kaya. Islam tidak melarang kita memiliki rumah yang bagus, kendaraan yang baik, usaha yang maju, ataupun pendidikan yang tinggi. Semua itu boleh. Yang menjadi persoalan bukanlah seberapa banyak dunia yang kita miliki, tetapi seberapa besar dunia menguasai hati kita. Kita boleh memiliki harta, tetapi jangan sampai harta memiliki hati kita. Kita boleh memiliki jabatan, tetapi jangan sampai jabatan membuat kita lupa kepada Allah. Kita boleh mengejar kesuksesan, tetapi jangan sampai kesuksesan membuat kita meninggalkan akhirat.
Sebab, yang berbahaya adalah ketika dunia mulai mengambil tempat yang seharusnya ditempati oleh akhirat. Kita rela bangun pagi karena pekerjaan, tetapi terasa berat untuk bangun melaksanakan shalat Subuh. Kita takut kehilangan uang, tetapi tidak takut kehilangan pahala. Kita sangat khawatir rekening berkurang, tetapi tidak khawatir amal kita berkurang. Kita sibuk menghitung keuntungan bisnis, tetapi lupa menghitung bekal menuju kematian. Kita menjaga penampilan di hadapan manusia, tetapi lupa menjaga hati di hadapan Allah. Inilah yang dimaksud dengan:
تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا
“Lebih mengutamakan kehidupan dunia.”
Jamaah Jum’at rahimakumullah
Setelah Allah mengingatkan tentang kecenderungan manusia mengutamakan dunia, Allah langsung memberikan perbandingan yang sangat jelas:
وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ
“Sedangkan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.”
Mengapa akhirat lebih baik dan lebih kekal? Karena dunia, bagaimanapun indahnya, pasti akan berakhir. Sehebat apa pun pekerjaan kita, akan ada hari ketika kita berhenti bekerja. Sebanyak apa pun harta yang kita miliki, akan ada hari ketika semuanya kita tinggalkan. Sebagus apa pun rumah kita, akan ada hari ketika kita keluar dari rumah itu untuk terakhir kalinya. Sebagus apa pun kendaraan kita, ia tidak akan mengantarkan kita melewati pintu kubur. Jabatan akan kita tinggalkan. Gelar akan kita tinggalkan. Popularitas akan kita tinggalkan. Bahkan tubuh yang selama ini kita rawat dan kita banggakan pun pada akhirnya akan kembali menjadi tanah. Lalu apa yang akan ikut bersama kita? Amal kita. Rasulullah ﷺ bersabda:
يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلَاثَةٌ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ، وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ، يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ، وَيَبْقَى عَمَلُهُ
“Yang mengikuti mayit ada tiga: keluarganya, hartanya, dan amalnya. Dua akan kembali, sedangkan satu akan tetap bersamanya. Keluarga dan hartanya akan kembali, sementara amalnya akan tetap bersamanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Jamaah rahimakumullah
Ketika kita meninggal dunia, keluarga akan mengantarkan kita. Mereka menangis. Mereka mendoakan. Mereka mungkin mengadakan pemakaman yang baik. Namun setelah jasad dimasukkan ke dalam kubur, mereka akan pulang. Harta kita pun akan ditinggalkan. Rumah kita tetap berdiri. Tabungan tetap ada. Kendaraan tetap ada. Usaha mungkin tetap berjalan.Tetapi kita sudah tidak bisa lagi menikmatinya.
Pada saat itulah kita akan menyadari bahwa sebanyak apa pun dunia yang kita kumpulkan, semuanya tidak akan berguna kecuali jika dunia tersebut kita jadikan jalan menuju keridaan Allah. Dan di sinilah kita belajar dari salah seorang sahabat Rasulullah ﷺ. Kisah Abu Thalhah: Ketika Harta Menjadi Jalan Menuju Akhirat
Ada sebuah kisah yang sangat indah dari seorang sahabat Nabi ﷺ, yaitu Abu Thalhah radhiyallahu 'anhu. Abu Thalhah adalah salah seorang sahabat yang memiliki harta. Ia mempunyai sebuah kebun yang sangat ia cintai bernama Bairuha. Kebun itu subur, indah, dan memiliki sumber air yang baik. Namun ketika turun firman Allah:
لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ
“Kamu tidak akan memperoleh kebajikan sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai.” (QS. Ali 'Imran: 92).
Maka Abu Thalhah datang kepada Rasulullah ﷺ. Ia menyampaikan bahwa harta yang paling ia cintai adalah kebun Bairuha. Karena itu, ia ingin menyedekahkannya dengan mengharapkan kebaikan dan pahala dari Allah SWT.
Perhatikan, jamaah rahimakumullah. Abu Thalhah tidak mengatakan, “Saya akan menyedekahkan harta yang sudah tidak saya sukai.” Bukan. Justru ia memberikan harta yang ia cintai. Di sinilah kita melihat bagaimana generasi para sahabat memandang dunia. Mereka memiliki dunia, tetapi dunia tidak menguasai hati mereka. Mereka kaya, tetapi kekayaan menjadi kendaraan menuju akhirat. Mereka bekerja, tetapi pekerjaan tidak membuat mereka melupakan Allah. Mereka memiliki harta, tetapi harta tidak memiliki mereka.
Jamaah Jum’at rahimakumullah
Karena itu, persoalannya bukan sekadar: “Apakah kita punya dunia?” Tetapi pertanyaan yang lebih penting adalah: “Untuk apa kita menggunakan dunia yang Allah titipkan kepada kita?” Kalau Allah memberikan harta, gunakanlah untuk bersedekah. Kalau Allah memberikan ilmu, gunakanlah untuk mengajarkan kebaikan. Kalau Allah memberikan jabatan, gunakanlah untuk menolong dan melayani manusia. Kalau Allah memberikan kesehatan, gunakanlah untuk beribadah. Kalau Allah memberikan keluarga, jadikanlah keluarga sebagai jalan menuju surga. Jadi, dunia jangan dibuang, tetapi jangan pula dipertuhankan. Dunia boleh berada di tangan kita, tetapi jangan sampai dunia masuk dan menguasai hati kita. Allah SWT mengingatkan:
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Kehidupan dunia itu hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS. Ali 'Imran: 185)
Dunia memang indah. Tetapi keindahannya akan berakhir. Dunia memang menyenangkan. Tetapi kesenangannya akan berlalu. Dunia memang bisa membuat kita bahagia. Namun jangan sampai kebahagiaan dunia membuat kita kehilangan kebahagiaan akhirat. Karena itu, marilah kita mulai bertanya kepada diri kita sendiri. Apakah shalat sudah kita dahulukan daripada pekerjaan? Apakah Al-Qur'an masih memiliki tempat dalam kehidupan kita? Apakah kita masih bersedekah ketika Allah memberikan kesempatan dan kemampuan? Apakah kita mendidik anak-anak kita hanya untuk mengejar dunia, atau juga untuk mengejar akhirat?.
Dan ketika mendapatkan rezeki, apakah yang pertama kali muncul dalam pikiran kita hanya: “Berapa banyak yang bisa saya beli?” Ataukah kita juga bertanya: “Berapa banyak yang bisa saya sedekahkan?” Jangan sampai kita membangun rumah yang megah di dunia, tetapi lupa membangun bekal untuk kehidupan setelah kematian. Jangan sampai kita memiliki tabungan untuk puluhan tahun ke depan, tetapi tidak memiliki bekal untuk perjalanan akhirat yang kita tidak pernah tahu kapan akan dimulai. Rasulullah ﷺ bersabda:
كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ
“Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir.” (HR. Bukhari).
Seorang musafir tidak akan menganggap tempat persinggahannya sebagai tujuan akhir. Ia akan menggunakan perjalanan itu untuk sampai kepada tujuan. Begitu pula kehidupan kita. Dunia adalah perjalanan. Akhirat adalah tujuan. Maka jangan sampai kita sibuk memperindah tempat persinggahan, tetapi lupa mempersiapkan tempat kembali. Mari kita gunakan dunia yang Allah berikan sebagai sarana untuk mendapatkan ridha-Nya. Mari kita bekerja, tetapi jangan lupakan shalat.Mari kita mencari rezeki, tetapi jangan lupakan sedekah. Mari kita membangun masa depan, tetapi jangan lupakan akhirat. Mari kita memiliki dunia, tetapi jangan biarkan dunia memiliki hati kita.
Semoga Allah SWT menjadikan dunia berada di tangan kita, bukan di hati kita. Semoga Allah memberikan kita harta yang halal dan berkah, ilmu yang bermanfaat, keluarga yang saleh, serta umur yang digunakan untuk beribadah kepada-Nya. Semoga ketika dunia meninggalkan kita, kita tidak menjadi orang yang kehilangan segalanya. Sebaliknya, semoga kita menjadi orang yang membawa bekal amal terbaik untuk bertemu dengan Allah SWT.
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى عَبْدِكَ ونَبِيِّكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ اَللَّهُمَّ أَبْعِدْ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَالْمُفْسِدِيْنَ وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِ الْمُسْلِمِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ