UNIMAJU: Menjaga Nilai, Menjemput Kemajuan
PWMSULBAR.ID - Hidup di era modern bukan berarti meninggalkan semua yang lama, melainkan kemampuan memilah: nilai-nilai luhur, kebaikan, dan ajaran Islam yang tetap harus dipertahankan, serta inovasi baru yang perlu diadopsi demi mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Inilah hakikat menata diri: berani berkaca, mengevaluasi perjalanan, dan memastikan setiap langkah tetap berada pada jalur cita-cita perjuangan. Bagi Universitas Muhammadiyah Mamuju (UNIMAJU), pertanyaannya sederhana tetapi mendasar: sudahkah cara kita bekerja hari ini membawa kampus menuju PTMA unggul dan berkelanjutan? Keunikan PTMA terletak pada identitasnya sebagai amal usaha Muhammadiyah. Kampus bukan sekadar tempat bekerja, memperoleh penghasilan, atau mengejar jabatan, tetapi juga ruang pengabdian, perjuangan, dan investasi akhirat. Di sinilah usaha dan amal bertemu: profesional dalam bekerja, produktif dalam berkarya, ikhlas dalam mengabdi, serta bertanggung jawab dalam mengelola amanah. Keikhlasan tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan profesionalisme; sebaliknya, profesionalisme harus memperkuat nilai ibadah. Bayangkan seorang dosen yang mengajarkan ilmu, membentuk keterampilan, menanamkan akhlak, dan membimbing mahasiswa menjadi manusia bermanfaat. Ilmunya dapat terus hidup melalui karya dan pengabdian para alumninya. Betapa luas potensi amal jariah yang lahir dari pendidikan! Karena itu, hubungan antara ilmu, amal, dan tanggung jawab duniawi dengan orientasi akhirat layak terus kita kaji, termasuk dalam pengajian kampus hari ini. Terima kasih kepada Ustaz Taufik Abdullah, S.Ag., M.Ag., yang memberikan pengajian untuk penguatan pemahaman keislaman kita. Islam tidak mempertentangkan kemajuan dunia dengan keselamatan akhirat. Al-Qur'an, Surah Al-Qasas ayat 77, mengajarkan agar manusia mengupayakan kebahagiaan akhirat tanpa melupakan bagiannya di dunia. Pesan ini relevan bagi pengelolaan perguruan tinggi: nilai spiritual harus berjalan bersama kecakapan manajerial, tata kelola yang sehat, inovasi, dan kebermanfaatan sosial. Amal usaha harus beramal sekaligus berusaha. Kampus memerlukan idealisme, tetapi juga membutuhkan pendapatan yang sehat, efisiensi anggaran, kemitraan produktif, dan kepercayaan masyarakat. Tanpa nilai, bisnis kehilangan arah; tanpa kemampuan mengelola usaha, pengabdian berisiko kehilangan daya dukung. Keseimbangan keduanya menjadi fondasi keberlanjutan UNIMAJU. Kehadiran BPJS Ketenagakerjaan dan Bank Syariah Indonesia (BSI) dalam lingkungan kemitraan kampus patut diapresiasi. BPJS Ketenagakerjaan membawa misi perlindungan sosial bagi pekerja, sedangkan BSI menghadirkan layanan keuangan berdasarkan prinsip syariah. Kemitraan semacam ini tidak semestinya berhenti pada seremoni atau kunjungan, tetapi berkembang menjadi program nyata yang memberikan manfaat bagi dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni, dan masyarakat. Kita perlu belajar dari pengalaman sejumlah perguruan tinggi Muhammadiyah yang membangun kemitraan produktif dengan dunia usaha. Dukungan mitra dapat hadir dalam berbagai bentuk: penyediaan fasilitas kampus, pengelolaan sampah modern, kegiatan olahraga mahasiswa, wisuda, beasiswa, hingga penguatan kewirausahaan. Pelajarannya jelas: kampus yang mampu menawarkan program terukur, tata kelola transparan, dan manfaat bersama akan lebih mudah membangun kepercayaan mitra. Kemitraan bukan sekadar meminta bantuan, melainkan menawarkan nilai. UNIMAJU harus mampu menjelaskan apa yang dapat dikerjakan bersama BPJS Ketenagakerjaan, BSI, pemerintah, dunia usaha, dan organisasi masyarakat. Mahasiswa dapat memperoleh literasi keuangan syariah dan perlindungan ketenagakerjaan; alumni dapat difasilitasi memasuki dunia kerja; dosen dapat mengembangkan riset terapan; sementara mitra memperoleh ruang untuk menjalankan tanggung jawab sosial dan memperluas dampak programnya. Pada November bulan depan, terdapat dua agenda penting yang membutuhkan dukungan seluruh warga Muhammadiyah dan simpatisan. Pertama, wisuda yang direncanakan pada 9 November, dengan sasaran 250 alumni. Kedua, Tanwir Muhammadiyah ke-114 di Palu, Sulawesi Tengah, pada 13–15 November. Kedua agenda ini memiliki arti strategis: wisuda menegaskan hasil proses pendidikan, sedangkan Tanwir memperkuat gerak dan arah perjuangan organisasi. Karena itu, publikasi tidak boleh dianggap pekerjaan tambahan yang hanya dilakukan panitia. Setiap warga kampus dapat menjadi bagian dari dakwah melalui penyebaran informasi yang benar, menarik, dan bertanggung jawab. Konten digital harus dipersiapkan sejak dini, disebarluaskan secara konsisten, serta menampilkan prestasi, gagasan, dan manfaat nyata Muhammadiyah bagi masyarakat. Di era digital, dakwah tidak cukup hanya hadir di ruang pertemuan; ia harus menjangkau ruang-ruang komunikasi tempat masyarakat membangun persepsi dan mengambil keputusan. Pengembangan program studi juga menjadi bagian dari ikhtiar menjemput masa depan. Program Studi Kepelatihan Olahraga yang InsyaAllah hadir pada akhir Oktober memiliki peluang untuk menjawab kebutuhan tenaga profesional di bidang olahraga. Prospek tersebut dapat mencakup pelatih, pengelola kegiatan olahraga, pembinaan atlet usia dini, klub, sekolah, dan berbagai lembaga olahraga. Namun, peluang harus diikuti kesiapan dosen, kurikulum, sarana praktik, kemitraan, dan pemetaan kebutuhan pasar kerja. Kita perlu mengajak anak, adik, dan kemenakan yang berminat untuk mengenal serta mempertimbangkan program studi ini melalui jalur penerimaan resmi. Selanjutnya, rencana pembukaan Program Studi Bisnis Digital pada November juga patut dipersiapkan dengan serius. Dunia usaha semakin memerlukan sumber daya manusia yang menguasai pemasaran digital, perdagangan elektronik, analisis data, kewirausahaan, dan pemanfaatan kecerdasan buatan. Akan tetapi, membuka program studi bukan sekadar menambah daftar pilihan. Program harus dibangun berdasarkan kebutuhan masyarakat, kelayakan sumber daya, mutu pembelajaran, dan peluang kerja lulusan. Kedua program tersebut dapat menjadi pintu masuk bagi UNIMAJU untuk memperkuat relevansi pendidikan tinggi dengan kebutuhan zaman. Meski demikian, promosi penerimaan mahasiswa harus disertai informasi resmi mengenai izin penyelenggaraan, jadwal penerimaan, dan dimulainya perkuliahan. Kepercayaan masyarakat dibangun melalui kesesuaian antara janji dan kenyataan. Lalu, apa implikasi seluruh ikhtiar ini? Pertama, perubahan cara berpikir. Warga UNIMAJU perlu bergerak dari budaya rutinitas menuju budaya kinerja, dari bekerja sekadar memenuhi kewajiban menuju bekerja dengan target dan hasil yang terukur. Kedua, perubahan tata kelola. Keuangan, sumber daya manusia, sarana, teknologi informasi, dan akademik harus dikelola secara transparan, efisien, serta bertanggung jawab. Ketiga, perubahan pola kemitraan. Hubungan dengan pihak luar harus menghasilkan program yang nyata, bukan sekadar dokumentasi kegiatan. Keempat, perubahan strategi pengembangan mahasiswa. Program studi baru harus melahirkan lulusan yang kompeten, berkarakter Islami, adaptif terhadap teknologi, dan mampu menciptakan lapangan kerja.Kelima, seluruh gerakan harus terhubung dengan satu tujuan: menjadikan UNIMAJU unggul secara akademik, kuat secara kelembagaan, sehat secara finansial, berdampak bagi masyarakat, dan teguh dalam identitas Islam serta Kemuhammadiyahan. Keunggulan tidak lahir dari banyaknya kegiatan, tetapi dari konsistensi mengubah kegiatan menjadi hasil, hasil menjadi dampak, dan dampak menjadi keberlanjutan. Kesimpulannya, menjaga nilai lama dan mengadopsi inovasi baru bukanlah dua pilihan yang saling bertentangan. Keduanya harus dipadukan dalam strategi yang cerdas. Nilai Islam menjadi kompas, profesionalisme menjadi cara kerja, kemitraan menjadi pengungkit, teknologi menjadi instrumen, dan kebermanfaatan menjadi ukuran keberhasilan. Saran tindak lanjutnya konkret: setiap unit menyusun target dan indikator kinerja; tim kemitraan menyiapkan program bersama BPJS Ketenagakerjaan dan BSI; panitia memperkuat publikasi wisuda dan Tanwir; pengelola program studi memastikan seluruh persyaratan akademik dan kelembagaan terpenuhi; serta pimpinan melakukan evaluasi berkala terhadap capaian, kendala, dan tindak lanjutnya. Pada akhirnya, kita perlu bertanya kepada diri sendiri: apakah kehadiran kita di UNIMAJU hanya untuk bekerja, atau juga untuk membangun peradaban? Jika kampus ini kita pandang sebagai amanah, maka setiap tugas adalah pengabdian, setiap inovasi adalah ikhtiar, setiap kemitraan adalah peluang kebaikan, dan setiap keberhasilan harus memberi manfaat yang lebih luas. Mari menjaga nilai, menjemput kemajuan, dan menguatkan amal usaha. Sebab UNIMAJU yang unggul dan berkelanjutan tidak dibangun oleh satu orang, satu jabatan, atau satu periode kepemimpinan, tetapi oleh kebersamaan orang-orang yang memiliki visi, integritas, dan kesediaan bekerja nyata.
Dr. Ir. H. Muh. Tahir, M.Si.
Rektor Unimaju