06 Sep 2026
•
32 views
Di tengah perubahan zaman yang bergerak begitu cepat, perempuan tidak lagi dapat ditempatkan hanya sebagai pelengkap dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Perempuan adalah penggerak perubahan, pendidik generasi, penjaga nilai, sekaligus bagian penting dari proses membangun peradaban. Karena itu, ketika berbicara tentang masa depan umat dan bangsa, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang masa depan perempuan, keluarga, dan generasi yang akan datang.
Gagasan “Perempuan Berkemajuan, Keluarga Tangguh, Masyarakat Berkeadaban” bukan sekadar rangkaian kata. Ia merupakan sebuah visi yang sangat relevan dengan tantangan kehidupan hari ini sekaligus memiliki akar yang kuat dalam ajaran Islam dan sejarah panjang gerakan ‘Aisyiyah. Islam sejak awal telah menempatkan perempuan sebagai manusia yang memiliki martabat, tanggung jawab, dan kesempatan yang sama untuk beramal saleh. Allah SwT berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)
Ayat ini memberikan fondasi penting bahwa kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh jenis kelamin, status sosial, kekayaan, ataupun jabatan. Kemuliaan ditentukan oleh ketakwaan. Bahkan Al-Qur’an secara tegas menyandingkan laki-laki dan perempuan dalam iman dan amal saleh:
إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ... أَعَدَّ اللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا
Sungguh, laki-laki dan perempuan Muslim, laki-laki dan perempuan mukmin, ... Allah telah menyediakan bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 35).
Maka, menjadi perempuan berkemajuan bukanlah gagasan yang bertentangan dengan Islam. Justru, perempuan yang berilmu, beriman, mandiri, produktif, dan memberikan manfaat adalah bagian dari cita-cita Islam tentang manusia yang berkualitas.
Zaman berubah begitu cepat. Teknologi digital membuka kesempatan luas bagi perempuan untuk belajar, bekerja, berwirausaha, membangun jaringan, dan menyuarakan gagasan. Namun pada saat yang sama, perubahan tersebut membawa tantangan baru: banjir informasi, budaya konsumtif, tekanan sosial di media digital, kekerasan berbasis daring, perubahan pola relasi keluarga, hingga tantangan pengasuhan anak. Karena itu, perempuan tidak cukup hanya menjadi pengguna zaman. Perempuan harus mampu membaca, menyaring, dan mengarahkan perubahan.
Perempuan berkemajuan bukan hanya perempuan yang memiliki pendidikan tinggi atau karier yang baik. Ia adalah perempuan yang memiliki wawasan luas, keteguhan iman, kemandirian, kepedulian sosial, kemampuan berpikir kritis, dan keberanian menghadirkan kemaslahatan. Rasulullah ﷺ mengajarkan:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
Semangat ini seharusnya menjadi ruh perempuan berkemajuan. Kemajuan tidak berhenti pada pertanyaan, “Apa yang saya capai?” tetapi bergerak kepada pertanyaan yang lebih besar: “Apa manfaat kehadiran saya bagi keluarga, umat, bangsa, dan kemanusiaan?” Di sinilah dakwah ‘Aisyiyah memiliki posisi yang sangat strategis.
Sejak awal berdirinya, ‘Aisyiyah telah menunjukkan bahwa dakwah tidak harus berhenti di mimbar. Dakwah dapat hadir melalui pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, pelayanan sosial, penguatan keluarga, dan berbagai amal usaha yang menyentuh kebutuhan masyarakat. Dakwah yang demikian bukan hanya berbicara tentang kebaikan, tetapi menghadirkan kebaikan dalam kehidupan nyata.
Ketika berbicara tentang perempuan berkemajuan dalam Muhammadiyah, kita tidak dapat melupakan Siti Walidah atau Nyai Ahmad Dahlan. Ia hidup pada masa ketika kesempatan perempuan untuk memperoleh pendidikan masih sangat terbatas. Namun keterbatasan zaman tidak membuatnya menyerah pada keadaan. Bersama KH Ahmad Dahlan, ia membangun kesadaran bahwa perempuan harus memperoleh pendidikan agama, pengetahuan, dan keterampilan. Dari ruang-ruang pengajian yang sederhana, gerakan tersebut berkembang menjadi perjuangan sosial yang lebih luas hingga lahir dan berkembangnya ‘Aisyiyah. Yang sangat inspiratif dari perjuangan Nyai Ahmad Dahlan adalah bahwa ia tidak menunggu keadaan menjadi ideal. Ia bergerak dengan apa yang ada, dari tempat yang ada, dan bersama orang-orang yang ada. Inilah pelajaran penting bagi kita hari ini.
Perubahan besar tidak selalu dimulai dari gedung megah, jabatan tinggi, atau sumber daya yang berlimpah. Perubahan dapat dimulai dari sebuah rumah, sebuah pengajian, sebuah kelas, atau bahkan dari satu perempuan yang memiliki keberanian untuk mengatakan: “Kita harus melakukan sesuatu.” Nyai Ahmad Dahlan juga menunjukkan bahwa rumah tidak harus menjadi batas bagi pikiran perempuan.
Rumah dapat menjadi sekolah pertama bagi peradaban. Dari rumah lahir manusia. Dari rumah tumbuh karakter. Dari rumah pula lahir generasi yang kelak menentukan wajah masyarakat. Karena itu, menjadi perempuan berkemajuan tidak berarti harus meninggalkan keluarga. Sebaliknya, perempuan dapat mengembangkan dirinya sekaligus menjadikan keluarga sebagai basis perjuangan peradaban.
Teladan perempuan berkemajuan juga dapat kita lihat pada Aisyah binti Abu Bakar. Aisyah bukan hanya dikenal sebagai istri Rasulullah ﷺ. Ia adalah seorang perempuan berilmu yang menjadi rujukan umat. Ia meriwayatkan banyak hadis dan menjadi tempat bertanya para sahabat mengenai berbagai persoalan agama. Pengetahuannya mencakup persoalan ibadah, keluarga, kehidupan sosial, bahkan berbagai persoalan keilmuan pada zamannya.
Kisah Aisyah menunjukkan bahwa perempuan dalam tradisi Islam memiliki ruang untuk belajar, berpikir, mengajar, dan memberikan kontribusi intelektual. Maka, ketika hari ini ‘Aisyiyah mendorong perempuan untuk memperoleh pendidikan, meningkatkan kapasitas, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, sesungguhnya kita sedang meneruskan tradisi Islam yang telah memiliki akar sejarah yang kuat.
Sejarah awal ‘Aisyiyah juga memperlihatkan peran penting tokoh seperti Siti Bariyah dan Siti Munjiyah. Mereka adalah bagian dari generasi perempuan yang berani mengambil peran dalam organisasi dan kehidupan publik pada masa ketika ruang perempuan masih sangat terbatas. Siti Munjiyah bahkan dikenal sebagai salah satu tokoh perempuan yang tampil dalam Kongres Perempuan Indonesia Pertama.
Kehadiran mereka memberikan pesan penting: perempuan Muslim tidak harus memilih antara kesalehan dan kemajuan. Perempuan dapat menjadi pribadi yang taat beragama sekaligus aktif memperjuangkan pendidikan, keadilan, kemanusiaan, dan kemajuan masyarakat.
Kisah mereka juga memberikan pelajaran tentang pentingnya regenerasi. Gerakan tidak boleh hanya menjadi milik generasi lama. Perempuan muda harus diberi ruang untuk belajar, berpikir, memimpin, dan mengambil keputusan. Generasi muda bukan sekadar penerus organisasi. Mereka adalah pemilik masa depan gerakan.
Perempuan berkemajuan tidak berarti perempuan harus berjalan sendirian. Kemajuan perempuan harus berjalan beriringan dengan penguatan keluarga. Al-Qur’an mengingatkan:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6).
Keluarga bukan hanya tempat memenuhi kebutuhan ekonomi dan biologis. Keluarga adalah tempat pertama untuk belajar tentang iman, kasih sayang, kejujuran, tanggung jawab, penghormatan, dan keadilan. Karena itu, keluarga tangguh bukan keluarga yang tidak pernah menghadapi masalah. Keluarga tangguh adalah keluarga yang mampu menghadapi masalah bersama. Rasulullah ﷺ bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini menegaskan bahwa membangun keluarga merupakan tanggung jawab bersama. Bukan hanya ibu. Bukan hanya ayah. Keduanya memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan keluarga yang aman, sehat, dan penuh kasih sayang.
Teladan yang sangat kuat tentang keluarga tangguh dapat kita lihat pada Khadijah binti Khuwailid. Ketika Rasulullah ﷺ menerima wahyu pertama dan pulang dalam keadaan ketakutan, Khadijah tidak panik dan tidak menyalahkannya. Ia justru menenangkan Rasulullah dan meyakinkannya bahwa Allah tidak akan menghinakannya. Ia mengingatkan berbagai kebaikan Rasulullah: menyambung silaturahmi, membantu orang miskin, menolong orang lemah, memuliakan tamu, dan membela kebenaran.
Khadijah menunjukkan bahwa seorang istri dapat menjadi tempat pulang secara emosional dan spiritual bagi suaminya. Ia bukan sekadar pendamping kehidupan, tetapi mitra perjuangan. Kisah Khadijah mengajarkan bahwa keluarga tangguh dibangun bukan dengan siapa yang paling dominan, tetapi dengan siapa yang paling mampu saling menguatkan. Karena itu, membangun keluarga tangguh bukan berarti mengembalikan perempuan pada peran domestik semata. Yang harus dibangun adalah keluarga yang memungkinkan laki-laki dan perempuan berkembang sekaligus saling mendukung. Rasulullah ﷺ bersabda:
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik kepada keluargaku.” (HR. Tirmidzi)
Hadis ini memberikan ukuran yang sangat sederhana tetapi mendalam tentang kualitas keberagamaan seseorang. Kesalehan tidak hanya terlihat dari aktivitas di masjid, banyaknya ceramah, atau kemampuan berbicara tentang agama. Kesalehan juga terlihat dari: Bagaimana seseorang berbicara kepada pasangannya. Bagaimana orang tua memperlakukan anaknya. Bagaimana keluarga menyelesaikan konflik. Bagaimana seorang suami menghargai istrinya. Bagaimana seorang istri menghormati suaminya. Karen itu Agama menghadirkan rasa aman di rumah. Sebab rumah yang penuh ketakutan sulit melahirkan generasi yang tangguh.
Kisah Asma binti Abu Bakar juga menunjukkan bahwa perempuan memiliki peran penting dalam perjuangan. Dalam peristiwa hijrah, Asma’ membantu mempersiapkan kebutuhan Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar ketika keduanya berada di Gua Tsur. Ia menggunakan ikat pinggangnya untuk membantu membawa bekal sehingga dikenal dengan julukan Dzatun Nithaqain. Kisah ini menunjukkan bahwa perempuan bukan hanya penonton sejarah. Perempuan adalah pelaku sejarah.
Pelajaran ini penting bagi perempuan ‘Aisyiyah hari ini. Jangan menunggu perubahan datang. Jangan menunggu seseorang memberikan ruang. Bangun kemampuan, perluas ilmu, kuatkan jaringan, lalu hadirkan perubahan.
Keluarga yang sehat akan menjadi fondasi masyarakat yang sehat. Sebaliknya, kekerasan, diskriminasi, ketidakpedulian, dan ketidakadilan yang dibiarkan dalam keluarga dapat terbawa ke ruang sosial yang lebih luas. Karena itu, perjuangan ‘Aisyiyah untuk keluarga pada hakikatnya adalah perjuangan membangun masyarakat. Allah SwT berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ
“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan.” (QS. An-Nahl: 90).
Masyarakat berkeadaban bukan hanya masyarakat yang maju secara ekonomi dan teknologi. Ia adalah masyarakat yang menjunjung martabat manusia. Masyarakat yang melindungi anak. Masyarakat yang menghargai perempuan. Masyarakat yang memberikan kesempatan kepada setiap orang untuk berkembang. Masyarakat yang menolak kekerasan. Masyarakat yang peduli kepada kelompok lemah. Dan yang tidak kalah penting, masyarakat yang menjadikan ilmu dan akhlak sebagai fondasi kemajuan.
Perempuan dan Laki-laki adalah Mitra dalam Membangun Peradaban. Al-Qur’an memberikan prinsip yang sangat kuat:
وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ
“Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar.” (QS. At-Taubah: 71).
Ayat ini sangat relevan bagi gerakan perempuan. Laki-laki dan perempuan bukan kompetitor dalam melakukan kebaikan. Mereka adalah mitra dalam amar makruf nahi mungkar. Maka memperjuangkan perempuan bukan berarti mempertentangkan perempuan dengan laki-laki. Sebaliknya, yang harus dibangun adalah kemitraan. Perempuan dan laki-laki bersama-sama mendidik anak. Bersama-sama membangun ekonomi keluarga. Bersama-sama menjaga moral masyarakat. Bersama-sama melawan kekerasan. Bersama-sama menghadirkan keadilan. Dan bersama-sama membangun peradaban.
Di sinilah dakwah ‘Aisyiyah mendapatkan tantangan sekaligus peluang. Dakwah tidak cukup hanya mengajak masyarakat menjadi baik secara personal. Dakwah harus mampu menjawab persoalan kehidupan. Hari ini, persoalan yang dihadapi perempuan dan keluarga semakin kompleks:
• bagaimana mendidik anak di tengah derasnya pengaruh media sosial;
• bagaimana membangun keluarga yang sehat secara emosional;
• bagaimana mencegah kekerasan terhadap perempuan dan anak;
• bagaimana meningkatkan kemandirian ekonomi perempuan;
• bagaimana meningkatkan literasi digital;
• bagaimana menghadapi perubahan dunia kerja;
• bagaimana menjaga kesehatan dan kesejahteraan keluarga;
• bagaimana memastikan pendidikan tetap dapat diakses semua kalangan.
Karena itu, dakwah ‘Aisyiyah harus terus bergerak dari dakwah bil-lisan menuju dakwah bil-hal—dakwah yang diwujudkan melalui tindakan nyata. Sekolah adalah dakwah. Rumah sakit adalah dakwah. Panti asuhan adalah dakwah. Pemberdayaan ekonomi adalah dakwah. Penguatan keluarga adalah dakwah. Pendampingan perempuan dan anak adalah dakwah. Bahkan ketika seorang kader membantu seorang perempuan memperoleh keterampilan agar mampu mandiri secara ekonomi, sesungguhnya ia sedang menjalankan dakwah.
Kita sering mencari tokoh inspiratif hanya di antara nama-nama besar. Padahal di sekitar kita terdapat begitu banyak perempuan ‘Aisyiyah yang setiap hari melakukan kerja-kerja peradaban. Ada guru yang setiap pagi memasuki kelas dan mendidik anak-anak. Ada tenaga kesehatan yang melayani pasien. Ada kader yang mendampingi keluarga kurang mampu. Ada mubalighat yang menguatkan kehidupan keagamaan masyarakat. Ada perempuan yang mengelola amal usaha. Ada ibu yang mendidik anaknya dengan penuh kesabaran. Ada kader yang bekerja tanpa banyak bicara dan tanpa menuntut penghargaan. Mereka mungkin tidak masuk berita. Mereka mungkin tidak memiliki ribuan pengikut di media sosial. Tetapi mereka adalah pahlawan peradaban sehari-hari. Sebab peradaban tidak hanya dibangun oleh orang-orang terkenal. Peradaban dibangun oleh jutaan manusia yang setiap hari memilih untuk berbuat baik.
Jika kita melihat perjalanan para perempuan tersebut—dari Khadijah, Aisyah, Asma’, kemudian Nyai Ahmad Dahlan, Siti Bariyah, Siti Munjiyah, dan para perempuan ‘Aisyiyah setelahnya—kita menemukan satu benang merah: Mereka tidak menunggu zaman menjadi ideal untuk bergerak. Mereka bergerak untuk membuat zaman menjadi lebih baik. Nyai Ahmad Dahlan menjawab tantangan pendidikan perempuan pada zamannya. Siti Bariyah dan Siti Munjiyah menunjukkan keberanian perempuan memasuki ruang organisasi dan publik.
Para perempuan ‘Aisyiyah generasi berikutnya meneruskan perjuangan melalui pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, dan pemberdayaan masyarakat. Kini, tantangan kita berbeda. Jika dahulu perjuangan menghadapi keterbatasan akses pendidikan, hari ini kita menghadapi banjir informasi. Jika dahulu perjuangan membangun sekolah, hari ini kita juga harus membangun literasi digital. Jika dahulu perjuangan membuka ruang bagi perempuan untuk belajar, hari ini kita harus memastikan perempuan mampu menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, dan kepemimpinan tanpa kehilangan nilai-nilai keislaman. Maka, spirit perjuangan para pendahulu harus kita teruskan dengan cara yang sesuai dengan zaman.
Apa yang Harus Dilakukan ‘Aisyiyah?. Menurut saya, ada beberapa agenda penting yang harus terus diperkuat. Pertama, memperkuat pendidikan perempuan. Perempuan harus memiliki akses seluas-luasnya terhadap ilmu agama, ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, kesehatan, dan kepemimpinan. Kedua, memperkuat ketahanan keluarga. Keluarga harus menjadi ruang yang aman, sehat, komunikatif, dan penuh kasih sayang. Ketiga, memperkuat kaderisasi perempuan muda. Anak muda jangan hanya diminta hadir ketika kegiatan berlangsung. Mereka harus diberi ruang untuk berpikir, memimpin, berinovasi, dan menentukan masa depan gerakan. Keempat, memperluas dakwah digital. Generasi muda berada di ruang digital. Maka dakwah juga harus hadir di sana dengan bahasa yang cerdas, santun, kreatif, dan relevan. Kelima, memperkuat pemberdayaan ekonomi perempuan. Kemandirian ekonomi merupakan salah satu modal penting agar perempuan memiliki daya tawar dan mampu berkontribusi lebih besar bagi keluarga dan masyarakat. Keenam, memperluas gerakan perlindungan perempuan dan anak. Islam adalah agama rahmat. Karena itu, tidak boleh ada pembenaran terhadap kekerasan dan penghinaan atas nama agama.
Pada akhirnya, tantangan terbesar perempuan hari ini bukan sekadar bagaimana menjadi sukses. Tantangan yang lebih besar adalah bagaimana memastikan bahwa keberhasilan itu memiliki makna bagi kehidupan. Kita membutuhkan perempuan yang berpendidikan tetapi tetap rendah hati. Perempuan yang mandiri tetapi tetap peduli. Perempuan yang kritis tetapi tetap beradab. Perempuan yang aktif di ruang publik tetapi mampu membangun kehangatan keluarga. Perempuan yang melek teknologi tetapi tidak kehilangan nilai kemanusiaan. Dan kita juga membutuhkan laki-laki yang tidak merasa terancam oleh kemajuan perempuan, tetapi melihat kemajuan perempuan sebagai kekuatan bersama. Sebab keluarga tangguh tidak lahir dari dominasi salah satu pihak. Keluarga tangguh lahir dari kemitraan, kasih sayang, komunikasi, keteladanan, dan tanggung jawab.
Masyarakat berkeadaban juga tidak lahir hanya dari banyaknya orang yang berbicara tentang agama. Ia lahir ketika nilai agama menjelma menjadi keadilan, ilmu pengetahuan, kepedulian, pelayanan, dan kemanusiaan.
Di sinilah tugas besar ‘Aisyiyah. Nyai Ahmad Dahlan telah memberikan teladan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bergerak. Aisyah telah menunjukkan bahwa perempuan dapat menjadi guru umat. Khadijah menunjukkan bahwa perempuan dapat menjadi sumber keteguhan keluarga dan perjuangan. Asma’ menunjukkan keberanian perempuan mengambil bagian dalam sejarah. Siti Bariyah dan Siti Munjiyah menunjukkan bahwa perempuan Muslim dapat hadir dalam ruang publik dengan tetap membawa nilai-nilai keislaman.
Dan para perempuan ‘Aisyiyah hari ini sedang meneruskan estafet itu melalui pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, pemberdayaan, dan dakwah. Kini pertanyaannya bukan lagi: “Apa yang telah dilakukan para perempuan hebat sebelum kita?” Pertanyaan kita adalah: “Apa yang akan kita lakukan pada zaman kita?” Kita mungkin tidak akan dikenang seperti Nyai Ahmad Dahlan. Kita mungkin tidak akan menulis sejarah besar. Namun kita dapat memastikan bahwa ada seorang anak yang menjadi lebih berilmu karena kita. Ada seorang perempuan yang menjadi lebih berdaya karena kita. Ada sebuah keluarga yang menjadi lebih tangguh karena kita. Ada seseorang yang kembali memiliki harapan karena kita. Dan jika itu terjadi, sesungguhnya kita telah ikut membangun peradaban.
Karena pada akhirnya, perempuan berkemajuan bukan sekadar perempuan yang mampu mengikuti perubahan, tetapi perempuan yang mampu mengarahkan perubahan menuju kebaikan. Dari perempuan yang tercerahkan lahir keluarga yang kuat. Dari keluarga yang kuat lahir generasi yang berkarakter. Dari generasi yang berkarakter lahir masyarakat yang berkeadaban. Dan dari masyarakat yang berkeadaban lahirlah peradaban yang mencerahkan. Inilah dakwah ‘Aisyiyah: memuliakan perempuan, menguatkan keluarga, memberdayakan masyarakat, dan menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh kehidupan.