Logo PWM Sulbar

Gagasan & Opini

Kumpulan pemikiran, gagasan, dan artikel dari para tokoh serta kader.

UNIMAJU: Menjaga Nilai, Menjemput Kemajuan
17 Oct 2026 • 40 views

UNIMAJU: Menjaga Nilai, Menjemput Kemajuan

PWMSULBAR.ID - Hidup di era modern bukan berarti meninggalkan semua yang lama, melainkan kemampuan memilah: nilai-nilai luhur, kebaikan, dan ajaran Islam yang tetap harus dipertahankan, serta inovasi baru yang perlu diadopsi demi mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Inilah hakikat menata diri: berani berkaca, mengevaluasi perjalanan, dan memastikan setiap langkah tetap berada pada jalur cita-cita perjuangan. Bagi Universitas Muhammadiyah Mamuju (UNIMAJU), pertanyaannya sederhana tetapi mendasar: sudahkah cara kita bekerja hari ini membawa kampus menuju PTMA unggul dan berkelanjutan? Keunikan PTMA terletak pada identitasnya sebagai amal usaha Muhammadiyah. Kampus bukan sekadar tempat bekerja, memperoleh penghasilan, atau mengejar jabatan, tetapi juga ruang pengabdian, perjuangan, dan investasi akhirat. Di sinilah usaha dan amal bertemu: profesional dalam bekerja, produktif dalam berkarya, ikhlas dalam mengabdi, serta bertanggung jawab dalam mengelola amanah. Keikhlasan tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan profesionalisme; sebaliknya, profesionalisme harus memperkuat nilai ibadah. Bayangkan seorang dosen yang mengajarkan ilmu, membentuk keterampilan, menanamkan akhlak, dan membimbing mahasiswa menjadi manusia bermanfaat. Ilmunya dapat terus hidup melalui karya dan pengabdian para alumninya. Betapa luas potensi amal jariah yang lahir dari pendidikan! Karena itu, hubungan antara ilmu, amal, dan tanggung jawab duniawi dengan orientasi akhirat layak terus kita kaji, termasuk dalam pengajian kampus hari ini. Terima kasih kepada Ustaz Taufik Abdullah, S.Ag., M.Ag., yang memberikan pengajian untuk penguatan pemahaman keislaman kita. Islam tidak mempertentangkan kemajuan dunia dengan keselamatan akhirat. Al-Qur'an, Surah Al-Qasas ayat 77, mengajarkan agar manusia mengupayakan kebahagiaan akhirat tanpa melupakan bagiannya di dunia. Pesan ini relevan bagi pengelolaan perguruan tinggi: nilai spiritual harus berjalan bersama kecakapan manajerial, tata kelola yang sehat, inovasi, dan kebermanfaatan sosial. Amal usaha harus beramal sekaligus berusaha. Kampus memerlukan idealisme, tetapi juga membutuhkan pendapatan yang sehat, efisiensi anggaran, kemitraan produktif, dan kepercayaan masyarakat. Tanpa nilai, bisnis kehilangan arah; tanpa kemampuan mengelola usaha, pengabdian berisiko kehilangan daya dukung. Keseimbangan keduanya menjadi fondasi keberlanjutan UNIMAJU. Kehadiran BPJS Ketenagakerjaan dan Bank Syariah Indonesia (BSI) dalam lingkungan kemitraan kampus patut diapresiasi. BPJS Ketenagakerjaan membawa misi perlindungan sosial bagi pekerja, sedangkan BSI menghadirkan layanan keuangan berdasarkan prinsip syariah. Kemitraan semacam ini tidak semestinya berhenti pada seremoni atau kunjungan, tetapi berkembang menjadi program nyata yang memberikan manfaat bagi dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni, dan masyarakat. Kita perlu belajar dari pengalaman sejumlah perguruan tinggi Muhammadiyah yang membangun kemitraan produktif dengan dunia usaha. Dukungan mitra dapat hadir dalam berbagai bentuk: penyediaan fasilitas kampus, pengelolaan sampah modern, kegiatan olahraga mahasiswa, wisuda, beasiswa, hingga penguatan kewirausahaan. Pelajarannya jelas: kampus yang mampu menawarkan program terukur, tata kelola transparan, dan manfaat bersama akan lebih mudah membangun kepercayaan mitra. Kemitraan bukan sekadar meminta bantuan, melainkan menawarkan nilai. UNIMAJU harus mampu menjelaskan apa yang dapat dikerjakan bersama BPJS Ketenagakerjaan, BSI, pemerintah, dunia usaha, dan organisasi masyarakat. Mahasiswa dapat memperoleh literasi keuangan syariah dan perlindungan ketenagakerjaan; alumni dapat difasilitasi memasuki dunia kerja; dosen dapat mengembangkan riset terapan; sementara mitra memperoleh ruang untuk menjalankan tanggung jawab sosial dan memperluas dampak programnya. Pada November bulan depan, terdapat dua agenda penting yang membutuhkan dukungan seluruh warga Muhammadiyah dan simpatisan. Pertama, wisuda yang direncanakan pada 9 November, dengan sasaran 250 alumni. Kedua, Tanwir Muhammadiyah ke-114 di Palu, Sulawesi Tengah, pada 13–15 November. Kedua agenda ini memiliki arti strategis: wisuda menegaskan hasil proses pendidikan, sedangkan Tanwir memperkuat gerak dan arah perjuangan organisasi. Karena itu, publikasi tidak boleh dianggap pekerjaan tambahan yang hanya dilakukan panitia. Setiap warga kampus dapat menjadi bagian dari dakwah melalui penyebaran informasi yang benar, menarik, dan bertanggung jawab. Konten digital harus dipersiapkan sejak dini, disebarluaskan secara konsisten, serta menampilkan prestasi, gagasan, dan manfaat nyata Muhammadiyah bagi masyarakat. Di era digital, dakwah tidak cukup hanya hadir di ruang pertemuan; ia harus menjangkau ruang-ruang komunikasi tempat masyarakat membangun persepsi dan mengambil keputusan. Pengembangan program studi juga menjadi bagian dari ikhtiar menjemput masa depan. Program Studi Kepelatihan Olahraga yang InsyaAllah hadir pada akhir Oktober memiliki peluang untuk menjawab kebutuhan tenaga profesional di bidang olahraga. Prospek tersebut dapat mencakup pelatih, pengelola kegiatan olahraga, pembinaan atlet usia dini, klub, sekolah, dan berbagai lembaga olahraga. Namun, peluang harus diikuti kesiapan dosen, kurikulum, sarana praktik, kemitraan, dan pemetaan kebutuhan pasar kerja. Kita perlu mengajak anak, adik, dan kemenakan yang berminat untuk mengenal serta mempertimbangkan program studi ini melalui jalur penerimaan resmi. Selanjutnya, rencana pembukaan Program Studi Bisnis Digital pada November juga patut dipersiapkan dengan serius. Dunia usaha semakin memerlukan sumber daya manusia yang menguasai pemasaran digital, perdagangan elektronik, analisis data, kewirausahaan, dan pemanfaatan kecerdasan buatan. Akan tetapi, membuka program studi bukan sekadar menambah daftar pilihan. Program harus dibangun berdasarkan kebutuhan masyarakat, kelayakan sumber daya, mutu pembelajaran, dan peluang kerja lulusan. Kedua program tersebut dapat menjadi pintu masuk bagi UNIMAJU untuk memperkuat relevansi pendidikan tinggi dengan kebutuhan zaman. Meski demikian, promosi penerimaan mahasiswa harus disertai informasi resmi mengenai izin penyelenggaraan, jadwal penerimaan, dan dimulainya perkuliahan. Kepercayaan masyarakat dibangun melalui kesesuaian antara janji dan kenyataan. Lalu, apa implikasi seluruh ikhtiar ini? Pertama, perubahan cara berpikir. Warga UNIMAJU perlu bergerak dari budaya rutinitas menuju budaya kinerja, dari bekerja sekadar memenuhi kewajiban menuju bekerja dengan target dan hasil yang terukur. Kedua, perubahan tata kelola. Keuangan, sumber daya manusia, sarana, teknologi informasi, dan akademik harus dikelola secara transparan, efisien, serta bertanggung jawab. Ketiga, perubahan pola kemitraan. Hubungan dengan pihak luar harus menghasilkan program yang nyata, bukan sekadar dokumentasi kegiatan. Keempat, perubahan strategi pengembangan mahasiswa. Program studi baru harus melahirkan lulusan yang kompeten, berkarakter Islami, adaptif terhadap teknologi, dan mampu menciptakan lapangan kerja.Kelima, seluruh gerakan harus terhubung dengan satu tujuan: menjadikan UNIMAJU unggul secara akademik, kuat secara kelembagaan, sehat secara finansial, berdampak bagi masyarakat, dan teguh dalam identitas Islam serta Kemuhammadiyahan. Keunggulan tidak lahir dari banyaknya kegiatan, tetapi dari konsistensi mengubah kegiatan menjadi hasil, hasil menjadi dampak, dan dampak menjadi keberlanjutan. Kesimpulannya, menjaga nilai lama dan mengadopsi inovasi baru bukanlah dua pilihan yang saling bertentangan. Keduanya harus dipadukan dalam strategi yang cerdas. Nilai Islam menjadi kompas, profesionalisme menjadi cara kerja, kemitraan menjadi pengungkit, teknologi menjadi instrumen, dan kebermanfaatan menjadi ukuran keberhasilan. Saran tindak lanjutnya konkret: setiap unit menyusun target dan indikator kinerja; tim kemitraan menyiapkan program bersama BPJS Ketenagakerjaan dan BSI; panitia memperkuat publikasi wisuda dan Tanwir; pengelola program studi memastikan seluruh persyaratan akademik dan kelembagaan terpenuhi; serta pimpinan melakukan evaluasi berkala terhadap capaian, kendala, dan tindak lanjutnya. Pada akhirnya, kita perlu bertanya kepada diri sendiri: apakah kehadiran kita di UNIMAJU hanya untuk bekerja, atau juga untuk membangun peradaban? Jika kampus ini kita pandang sebagai amanah, maka setiap tugas adalah pengabdian, setiap inovasi adalah ikhtiar, setiap kemitraan adalah peluang kebaikan, dan setiap keberhasilan harus memberi manfaat yang lebih luas. Mari menjaga nilai, menjemput kemajuan, dan menguatkan amal usaha. Sebab UNIMAJU yang unggul dan berkelanjutan tidak dibangun oleh satu orang, satu jabatan, atau satu periode kepemimpinan, tetapi oleh kebersamaan orang-orang yang memiliki visi, integritas, dan kesediaan bekerja nyata.

D

Dr. Ir. H. Muh. Tahir, M.Si.

Rektor Unimaju

Halaalan Thayyiban  : Mengapa Sepakbola Lebih Diterima Dibandingkan Merokok Di Lingkungan Muhammadiyah ?
01 Oct 2026 • 74 views

Halaalan Thayyiban : Mengapa Sepakbola Lebih Diterima Dibandingkan Merokok Di Lingkungan Muhammadiyah ?

PWMSULBAR.ID. Setelah mencermati keberadaan klub bola Hizbul Wathan (HW) yang muncul ke permukaan. Jauh sebelum Indonesia merdeka. Serta melihat Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dan Universitas Ahmad Dahlan (UAD) memiliki klub sepakbola kampus. Pernah berlaga di Liga 4 PSSI. Saya merasa memiliki legal standing untuk menuangkan gagasan tentang sepakbola di lingkungan dakwah Muhammadiyah. Kesimpulan saya sederhana. Merokok itu debatable, tapi sepakbola itu marketable di Muhammadiyah. Sebenarnya, banyak kader Muhammadiyah yang perokok berat. Tidak sedikit pula yang menggandrungi tayangan sepakbola. Namun, keduanya memiliki nasib berbeda: 1. Tidak mungkin ada dai Muhammadiyah berani mengisi ceramah di level PRM, PCM, PDM, hingga KOKAM sambil menghisap rokok. 2. Sangat mungkin seorang dai Muhammadiyah menyisipkan cerita sepakbola di tengah ceramah agama dan jamaahpun antusias. 3. Bahkan untuk menjadi menantu tokoh Muhammadiyah, boleh jadi ada syarat tidak tertulis : dia bukan perokok aktif. 4. Sedangkan bagi pria lajang yang ingin menikahi putri kader Muhammadiyah, tidak akan gemetar hanya karena ia memiliki hobi bermain bola. 5. Pokoknya dua kutub beda nasib. 6. Tiada maaf bagi penggemar rokok, masih ada ampunan bagi penggemar bola. Pesan Tersirat Dari Lapangan Hijau. Sesungguhnya, sepakbola bukan sekadar soal menang dan kalah. Ia menitipkan pesan dakwah yang lembut. Pertama, tetaplah optimis. Timnas Denmark pada 1992 sejatinya sudah wassalam. Ia hanya runner-up grup kualifikasi, juara grupnya adalah Yugoslavia. Karena faktor perang Balkan, UEFA mendiskualifikasi Yugoslavia dan Denmark lolos ke putaran final. Dunia tak pernah berharap Denmark bisa bicara banyak. Namun di luar nalar, Denmark melewati fase grup, menang di perempat final dan semifinal. Secara ajaib, di final membuat Jerman menangis. Denmark juara. Lapangan bola berbisik : tetaplah optimis. Meski hari ini sedang gagal. Kedua, berjuanglah sampai menit terakhir. Saya masih mengingat 3 menit krusial Final Liga Champions 1999. Bayern Munchen sudah unggul 1-0 atas Manchester United dan hanya butuh 3 menit lagi untuk juara. Namun MU comeback mencetak dua gol dan berbalik juara. Kisah ini sering saya gunakan untuk memotivasi tamu-tamu saya yang sudah homeless, hopeless, dan speechless. Terkadang orang yang dalam situasi darurat tidak butuh banyak dalil, ia justru butuh pesan sederhana yang menyentuh. Ketiga, kekuatan teamwork. Yunani di Euro 2004 sedang mendidik penduduk bumi tentang kerjasama tim. Timnas Yunani datang dengan kemiskinan skuad, tanpa bintang menonjol. Namun pelatihnya yang berdarah Jerman, Otto Rehhagel, mengajarkan anak asuhnya untuk bermain sebagai tim, bukan individu. Saat bertahan, semua terlibat. Saat menyerang, saling membantu. Hasilnya, Piala Eropa menjadi milik Yunani. Keempat, jangan menyerah saat kembang-kempis. AC Milan sudah unggul 3-0 babak pertama Final Liga Champions 2005. Namun Liverpool menyamakan kedudukan menjadi 3-3 di babak kedua dan akhirnya menang lewat adu penalti. Sepakbola mengajarkan kita untuk tetap optimis . Walaupun perjalanan sedang naik-turun. Kelima, masalah adalah jalan menuju kemenangan. Italia 2006 adalah tim yang compang-camping karena skandal Calciopoli. Juventus dihukum turun kasta ke Serie B, pemain-pemain intinya pindah ke Barcelona dan Madrid. Satu negara geger. Namun justru di tengah badai itulah , mereka meraih Trofi Piala Dunia 2006 di Jerman. Ditambah drama Zidane yang menanduk Materazzi, kisah ini semakin melekat. Lapangan hijau berbisik : terkadang masalah adalah tantangan. Jika sanggup melewatinya, Tuhan telah menyiapkan kesuksesan yang tak terduga. Wallahu a'lam. Istana Atas Telaga, 27 September 2026

U

Ustadz Wawan Rongkop

Kader Muhammadiyah Jogjakarta

Konsep Berkah Komunal di Muhammadiyah: Struktural Cerminan Kultural
27 Sep 2026 • 86 views

Konsep Berkah Komunal di Muhammadiyah: Struktural Cerminan Kultural

PWMSULBAR.ID - Ada sebuah pertanyaan yang jarang kita ajukan secara serius : mengapa pembangunan di lingkungan Muhammadiyah hampir selalu selesai ? Pernahkah kita mendengar kasus memalukan anggaran pembangunan TK Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA) ditilep oknum hingga bangunan mangkrak ?, nihil. Sulit menjumpai kasus demikian. Pernahkah kita mendengar anggaran pembangunan Rumah Sakit PKU Muhammadiyah digelapkan oknum ?, nihil. Berapa kali kita jumpa anggaran pembangunan SMP atau SMA Muhammadiyah menguap karena ulah oknum ?. Insya Allah, di level yang massif, sulit menjumpai kasus seperti itu. Begitu pula anggaran pembangunan Gedung Serbaguna atau Masjid Muhammadiyah. Hampir tidak pernah kita dengar menguap. Apakah Muhammadiyah steril dari oknum ?. Tentu tidak. Satu dua oknum yang memalukan tetap ada. Satu dua kasus mal-administrasi tetap terjadi. Namun, ia tidak menjadi penyakit menular. Ia tidak membudaya. Ia tidak menjadi sistem. Fenomena ini baru-baru saja menyadarkan saya, pada sebuah konsep. Tentu berbasis dalil Al-Qur'an. Surat Al-An'am ayat 129, mengilhami saya untuk berprasangka baik. Tentang hubungan pemimpin dan rakyat. Penguasa dipengaruhi oleh kualitas warganya. Akuntabilitas pemerintah disebabkan oleh ketertiban warganya. Maka, kepemimpinan struktural Muhammadiyah adalah cermin dari kesalehan sosial akar rumput warga Muhammadiyah se-Indonesia. Inilah yang saya sebut sebagai Berkah Komunal, Bukan Berkah Personal. Eksistensi TK ABA di sebuah desa bukanlah berkah dari Ustadz A atau B. Melainkan berkah dari komunitas jamaah di desa tersebut yang menjaga amanah. Eksistensi PKU Muhammadiyah di sebuah kabupaten bukan berkah dari Ustadz C atau D. Tapi berkah dari warga Muhammadiyah satu kabupaten yang patuh iuran, patuh mengawasi. Akuntabilitas Universitas Muhammadiyah di sebuah provinsi bukan berkah dari Ustadz E atau F. Melainkan berkah dari civitas akademika yang jumlahnya tak terbatas, saling mengoreksi. Sampailah pada gongnya : keindahan struktural Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam mengayunkan kebijakan publik, adalah berasal dari feedback akuntabilitas akar rumput masyarakat Muhammadiyah satu negara. Dari sini saya berkeyakinan, Insya Allah tidak akan ada Indonesia Bubar. Jika Berkah Komunal ini dijaga. Indonesia butuh komunitas Salafi Wahabi untuk mencetak kesalehan komunal. Indonesia butuh ikhtiar dari komunitas MTA Solo untuk mencetak kesejukan komunal. Indonesia butuh sumbangsih PERSIS untuk mengkondisikan soliditas komunal. Kita berharap pesantren Hidayatullah menjadi gudang penghasil kesejukan Indonesia. Jutaan pengikut tarekat di NU adalah soko guru penyelamat dari Sabang sampai Merauke. Jutaan pengikut akidah bercorak Asy'ariyah adalah penjaga nikmat Allah yang ada di perut bumi Indonesia. Dan doa anak yatim piatu satu negeri adalah alat pancing rahmat Allah. Kesimpulannya, tulisan ini adalah sebuah harapan. Semoga menjadi jembatan yang menyatukan hati komunitas puritan Indonesia dengan komunitas tradisional. Agar Salafi Wahabi, MTA Solo, PERSIS, Hidayatullah, Al-Irsyad dan Muhammadiyah bisa berpelukan erat dengan jamaah NU. Aamiin, aamiin, aamiin. ISTANA ATAS TELAGA, 13 September 2026.

U

Ustadz Wawan Rongkop

Kader Muhammadiyah Jogjakarta

Teologi Al-Ma'un Di Tengah Tiga Trauma Politik Bangsa
26 Sep 2026 • 84 views

Teologi Al-Ma'un Di Tengah Tiga Trauma Politik Bangsa

PWMSULBAR.ID, Tiga kali Indonesia mengalami trauma politik besar. Dan tiga kali pula Teologi Al-Ma'un yang diwariskan K.H. Ahmad Dahlan membuktikan ketahanannya. Catatan sejarah menunjukkan, setidaknya ada tiga fase kritis yang menguji daya tahan bangsa ini : pertama, transisi berdarah dari Orde Lama ke Orde Baru . Kedua, kejatuhan Orde Baru menuju Reformasi . Dan ketiga, anomali reformasi itu sendiri. Di setiap fase itu, negara limbung di level atas. Namun di level bawah, kerja-kerja kemanusiaan Muhammadiyah tetap berjalan. Trauma Pertama: Kejatuhan Soekarno Akhir kepemimpinan Soekarno tidak bisa dilepaskan dari perebutan sumber daya global. Dalam banyak literatur, pembunuhan John F. Kennedy oleh CIA dikaitkan dengan penolakannya terhadap penguasaan tambang emas di Irian Jaya oleh Amerika. Pola yang sama berulang pada Soekarno. Penolakannya terhadap agenda penguasaan tambang tersebut , berujung pada kejatuhannya. Soeharto kemudian menerima pinangan untuk menjadi Presiden kedua. Namun pinangan itu mensyaratkan tumbal : kontrak penguasaan tambang emas Irian Jaya oleh Amerika selama 50 tahun. Transisi Orde Lama ke Orde Baru pun ditebus dengan tumbal yang mengerikan. Trauma Kedua: Kejatuhan Soeharto Krisis Moneter 1997 menjadi penanda berakhirnya Orde Baru. Krisis ini tidak tunggal. Ada andil spekulan global seperti George Soros yang berafiliasi dengan Partai Demokrat Amerika . Partai tempat Bill Clinton dan Obama bernaung. Kita mengenang B.J. Habibie sebagai tokoh jenius yang berhasil menjinakkan dolar. Namun persoalannya tidak sesederhana itu. Asing membiarkan dollar hancur dan Indonesia sejenak bahagia. Tetapi ada tumbalnya. Tumbal pertama, IMF leluasa menggurita di Indonesia sejak 1997 hingga kini. Tumbal kedua, industri strategis pesawat terbang buatan Habibie dihentikan produksinya. Ironisnya, beberapa tahun kemudian sebuah pesawat kita hanya dibarter dengan beras dari Thailand. Barter politis yang menyakitkan. Tumbal berikutnya menyusul : impor susu yang mematikan peternak sapi lokal, dan lepasnya Timor-Timur dari pangkuan Ibu Pertiwi. Trauma Ketiga: Anomali Reformasi dan Pertaubatan Sang Kesatria Reformasi mengubah segalanya. Jika sebelumnya Bupati, Gubernur, hingga Presiden dipilih oleh legislatif, orde reformasi mengubahnya menjadi pemilihan langsung. Hasilnya, negara dipenuhi raja-raja kecil di daerah. Aliran APBD dan APBN justru memproduksi koruptor-koruptor baru. Kebebasan pers yang diharapkan menjadi penawar, ternyata tidak mengurangi angka korupsi. Amandemen UUD 1945 yang begitu masif juga tidak serta-merta membuat Indonesia lebih baik. Di titik inilah kita menyaksikan pertaubatan politis seorang kesatria. Prof. Amien Rais, tokoh sentral Reformasi . Secara terbuka meminta maaf kepada Jenderal Try Sutrisno, mantan Wakil Presiden. Apa yang diperjuangkan di MPR saat itu, ternyata diselewengkan oleh generasi setelahnya. Kesaksian ini saya peroleh dari penuturan Jenderal Purnawirawan Kiki Syahnakri pada sebuah podcast. Al-Ma'un Sebagai Mobil Damkar Lantas apa relevansi Teologi Al-Ma'un ? Teologi Al-Ma'un adalah kecerdasan adversitas. Sebuah kecerdasan yang dirancang K.H. Ahmad Dahlan untuk mengubah kecerdasan personal menjadi kecerdasan sosial yang adaptif dan solutif. Wujudnya nyata pada tahun 1965, ketika KOKAM Muhammadiyah berdiri bersama umat Islam dan RPKAD menumpas G30S/PKI. Wujudnya terus bereinkarnasi dalam dua dasawarsa terakhir melalui lahirnya MDMC, Lazismu, dan berbagai amal usaha lainnya. Ini meneguhkan satu prinsip: apapun yang terjadi di level government, Muhammadiyah konsisten merawat citizen. Donasi untuk gempa Aceh, gempa Palu, banjir Cianjur, gempa NTT, dan berbagai bencana lainnya tidak lahir dari ruang kosong. Ia lahir dari pikiran teologis sekaligus aksiologis K.H. Ahmad Dahlan. Aktivitas pendidikan, dari SD hingga perguruan tinggi Muhammadiyah, tetap the show must go on. Meski ruang politik nasional memanas, dari panasnya G30S/PKI, panasnya kerusuhan Mei 1998, hingga panasnya despotisme anti-meritokrasi di era Jokowi. Prof. Dien Syamsuddin pernah mengungkapkan data yang mengejutkan : banyak Rumah Sakit PKU Muhammadiyah harus nombok ratusan miliar rupiah saat pandemi Covid-19 . Demi memudahkan layanan BPJS bagi rakyat. Inilah asbabul nuzul tulisan ini. Pertama, untuk memastikan bahwa ketika terjadi kebakaran di level atas, api itu masih bisa diselamatkan di level bawah. Kedua, bahwa sekalipun terjadi gempa politik di level elit, Muhammadiyah akan selalu berfungsi sebagai mobil pemadam kebakaran yang cekatan dan gesit. Penulis adalah Pemerhati Sosial Keagamaan. Tinggal di Istana Atas Telaga.

U

Ustadz Wawan Rongkop

Kader Muhammadiyah Jogjakarta

Mengapa Umat Islam Harus Berhenti Bangga Menjadi Konsumen?
24 Sep 2026 • 78 views

Mengapa Umat Islam Harus Berhenti Bangga Menjadi Konsumen?

PWMSUBAR.ID, Di tengah derasnya arus konsumsi, umat Islam perlu mengajukan satu pertanyaan yang sering luput dari perhatian: apakah kita sedang membangun kekuatan ekonomi umat, atau justru sedang menjadi pasar bagi kekuatan ekonomi orang lain? Setiap hari kita membeli makanan, pakaian, kendaraan, gawai, jasa pendidikan, hingga berbagai kebutuhan digital. Menjadi konsumen tentu bukan sesuatu yang salah. Konsumsi merupakan bagian dari kehidupan manusia dan aktivitas ekonomi. Namun, persoalan muncul ketika konsumsi menjadi identitas, sementara kemampuan untuk memproduksi, memiliki aset, menciptakan lapangan kerja, dan membangun kemandirian ekonomi justru tertinggal. Karena itu, persoalan ekonomi umat sesungguhnya bukan sekadar tentang seberapa banyak umat Islam berbelanja. Persoalan yang lebih mendasar adalah seberapa besar kemampuan umat Islam untuk menciptakan nilai dan manfaat bagi kehidupan. Dari Konsumen Menjadi Produsen Islam tidak mengajarkan umatnya untuk menjadi manusia yang pasif. Al-Qur'an bahkan menggambarkan kehidupan seorang Muslim sebagai perpaduan antara ibadah dan ikhtiar. Allah Swt. berfirman: فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِن فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ “Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung.” (QS. Al-Jumu'ah: 10) Ayat tersebut memperlihatkan bahwa kesalehan dalam Islam tidak berhenti di dalam masjid. Setelah menunaikan salat, manusia diperintahkan untuk kembali ke tengah kehidupan, bekerja, berusaha, dan mencari karunia Allah. Karena itu, masjid seharusnya tidak hanya melahirkan manusia yang rajin beribadah, tetapi juga manusia yang produktif, mandiri, dan mampu memberikan manfaat kepada masyarakat. Dari sinilah cara pandang terhadap ekonomi umat perlu diubah. Umat Islam tidak cukup hanya bertanya, “Apa yang bisa saya beli?” tetapi juga harus mulai bertanya, “Apa yang bisa saya hasilkan?” Tidak cukup bertanya, “Di mana saya bisa bekerja?” tetapi juga, “Pekerjaan apa yang bisa saya ciptakan untuk orang lain?” Perubahan pertanyaan tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi sesungguhnya merupakan perubahan cara berpikir yang sangat mendasar: dari mentalitas konsumen menuju mentalitas produsen dan pemberdaya. Kekayaan Bukan Sekadar untuk Dikumpulkan Semangat produktivitas dalam Islam tidak berarti bahwa kekayaan harus dikejar hanya demi memperkaya diri sendiri. Justru Islam memberikan tanggung jawab sosial terhadap harta. Allah Swt. berfirman: كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنكُمْ “Agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.” (QS. Al-Hasyr: 7). Ayat ini memberikan perspektif penting bahwa ekonomi tidak boleh hanya berputar di kalangan kelompok yang sudah memiliki modal. Kekayaan seharusnya menciptakan perputaran manfaat yang lebih luas. Karena itu, ketika umat Islam berbicara tentang menjadi kaya, pembicaraannya tidak boleh berhenti pada mobil apa yang dapat dibeli, rumah seperti apa yang dapat dimiliki, atau seberapa tinggi gaya hidup yang dapat ditampilkan. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: berapa banyak orang yang dapat diberdayakan oleh kekayaan tersebut? Apakah kekayaan itu menciptakan lapangan pekerjaan? Apakah ia membantu UMKM berkembang? Apakah ia membiayai pendidikan? Apakah ia menghidupkan aset wakaf? Apakah ia membantu masyarakat miskin menjadi mandiri? Jika jawabannya ya, maka kekayaan tidak berhenti sebagai milik pribadi. Ia berubah menjadi instrumen kemaslahatan. Wakaf Jangan Hanya Menjadi Aset yang Diam Dalam konteks inilah wakaf memiliki posisi yang sangat strategis. Wakaf sering kali dipahami sebatas tanah untuk masjid, madrasah, makam, atau bangunan sosial. Padahal, secara lebih luas, wakaf dapat menjadi instrumen pemberdayaan ekonomi apabila dikelola secara profesional dan sesuai ketentuan syariah. Bayangkan jika sebagian aset wakaf dikembangkan menjadi pusat pendidikan, klinik kesehatan, pertanian, koperasi, pusat UMKM, rumah produksi, atau inkubator kewirausahaan. Maka wakaf tidak lagi sekadar menjadi aset yang diwariskan dari generasi ke generasi, tetapi menjadi aset yang terus menghasilkan manfaat dari generasi ke generasi. Semangat tersebut sejalan dengan sabda Rasulullah ﷺ: إِذَا مَاتَ الإِنسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ “Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim, no. 1631). Wakaf merupakan salah satu bentuk nyata dari semangat kebermanfaatan yang terus mengalir. Karena itu, tantangan umat bukan hanya memperbanyak aset wakaf, tetapi juga meningkatkan kualitas pengelolaannya agar manfaatnya semakin luas. Dengan kata lain, umat tidak cukup hanya memiliki aset. Umat harus mampu menghidupkan aset. Masjid dan Ekonomi Jamaah Gagasan tentang aset produktif kemudian membawa kita pada institusi yang paling dekat dengan kehidupan umat: masjid. Masjid memiliki jamaah. Masjid memiliki jaringan sosial. Sebagian masjid memiliki tanah, dana umat, lembaga pendidikan, dan berbagai kegiatan sosial. Namun, potensi tersebut belum selalu terhubung menjadi sebuah ekosistem pemberdayaan ekonomi jamaah. Padahal, masjid dapat menjadi titik awal terbentuknya jaringan ekonomi masyarakat. Jamaah yang memiliki usaha kecil dapat dipertemukan. Mereka dapat membangun koperasi, membeli bahan baku secara bersama, melakukan pemasaran bersama, mendapatkan pelatihan, dan mengembangkan usaha melalui teknologi digital. Dengan demikian, hubungan antara masjid dan ekonomi tidak berarti menjadikan masjid sebagai tempat mencari keuntungan semata. Sebaliknya, masjid dapat menjadi pusat pemberdayaan yang membantu jamaah keluar dari ketergantungan ekonomi. Semangat ini sejalan dengan firman Allah: وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ “Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan ketakwaan, dan janganlah kamu tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Ma'idah: 2). Jika prinsip ta'awun diterapkan dalam kehidupan ekonomi, maka jamaah tidak lagi berdiri sebagai individu-individu yang berjalan sendiri-sendiri. Mereka dapat menjadi kekuatan kolektif. Dari jamaah lahir koperasi. Dari koperasi tumbuh usaha. Dari usaha tercipta lapangan pekerjaan. Dari lapangan pekerjaan lahir kemandirian. Dan dari kemandirian tumbuh kemampuan untuk membantu sesama. Inilah ekonomi umat yang berangkat dari solidaritas, bukan sekadar kompetisi. Koperasi dan Semangat Saling Menguatkan Dalam konteks tersebut, koperasi dapat menjadi salah satu instrumen untuk mengubah semangat ta'awun menjadi kekuatan ekonomi yang nyata. Seorang pelaku UMKM mungkin lemah ketika berjalan sendirian. Modalnya terbatas, akses pasarnya kecil, kemampuan negosiasinya rendah, dan biaya produksinya relatif tinggi. Namun, ketika mereka bergabung dan membangun kekuatan bersama, posisi tersebut dapat berubah. Karena itu, koperasi tidak semestinya hanya dipandang sebagai lembaga simpan pinjam. Ia dapat menjadi ruang untuk membangun kekuatan ekonomi kolektif. Di sinilah umat Islam perlu belajar bahwa kemandirian tidak selalu berarti harus berjalan sendirian. Justru kemandirian dapat dibangun melalui kerja sama yang sehat, profesional, transparan, dan saling menguatkan. Pendidikan Harus Melahirkan Pencipta Kerja Namun, seluruh gagasan tersebut akan sulit berkembang jika pendidikan umat hanya diarahkan untuk menghasilkan pencari kerja. Pertanyaan yang sering muncul kepada seorang mahasiswa adalah, “Setelah lulus kamu mau bekerja di mana?” Pertanyaan tersebut tentu penting. Tetapi ada pertanyaan lain yang juga perlu diajukan: “Setelah lulus, apa yang bisa kamu ciptakan?” Tidak semua mahasiswa harus menjadi pengusaha. Tidak semua orang harus mendirikan perusahaan. Tetapi setiap orang perlu memiliki kemampuan untuk melihat masalah sebagai peluang, mengelola sumber daya, bekerja sama, dan menciptakan solusi. Karena itu, pendidikan kewirausahaan tidak boleh hanya berhenti pada mata kuliah, seminar, atau tugas membuat proposal bisnis. Kewirausahaan harus menjadi budaya pendidikan. Kampus seharusnya menjadi tempat mahasiswa belajar bagaimana mengubah pengetahuan menjadi produk, penelitian menjadi inovasi, kreativitas menjadi usaha, dan masalah sosial menjadi peluang pemberdayaan. Dengan demikian, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari berapa banyak lulusan yang mendapatkan pekerjaan, tetapi juga dari berapa banyak pengetahuan dan keterampilan mereka yang kemudian memberikan manfaat bagi masyarakat. Nabi Mengajarkan Kemandirian dan Kehormatan Semangat tersebut memiliki dasar yang kuat dalam ajaran Nabi ﷺ. Rasulullah bersabda: لَأَنْ يَأْخُذَ أَحَدُكُمْ حَبْلَهُ، فَيَأْتِيَ بِحُزْمَةِ الْحَطَبِ عَلَى ظَهْرِهِ، فَيَبِيعَهَا، فَيَكُفَّ اللَّهُ بِهَا وَجْهَهُ، خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ النَّاسَ، أَعْطَوْهُ أَوْ مَنَعُوهُ Sungguh, seseorang di antara kalian mengambil talinya, lalu membawa seikat kayu bakar di atas punggungnya kemudian menjualnya, sehingga Allah menjaga kehormatannya dengan hasil itu, lebih baik baginya daripada meminta-minta kepada manusia, baik mereka memberinya maupun tidak.” (HR. Bukhari, no. 1471). Hadis ini memperlihatkan betapa Islam menghargai usaha yang halal dan menjaga kehormatan manusia. Maka membangun kewirausahaan umat bukan semata-mata proyek untuk mengejar keuntungan. Ia juga merupakan bagian dari usaha membangun izzah, yaitu kehormatan dan kemampuan untuk berdiri di atas usaha sendiri. Muhammadiyah dan Agenda Kemandirian Umat Dalam konteks Muhammadiyah, gagasan tersebut sebenarnya memiliki ruang yang sangat besar. Muhammadiyah memiliki sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, masjid, lembaga filantropi, amal usaha, kader, dan jaringan sosial yang luas. Pertanyaannya kemudian bukan lagi sekadar “Apakah Muhammadiyah memiliki modal?” Modal itu ada dalam berbagai bentuk: modal sosial, modal intelektual, modal kelembagaan, aset, sumber daya manusia, dan kepercayaan masyarakat. Pertanyaan yang lebih penting adalah: Bagaimana seluruh modal tersebut dapat diubah menjadi kekuatan produktif yang memberikan manfaat lebih luas kepada umat? Di sinilah konsep amal usaha perlu terus dikembangkan. Amal usaha jangan hanya dipahami sebagai lembaga yang menyediakan layanan pendidikan, kesehatan, atau sosial. Ia juga dapat menjadi bagian dari ekosistem yang menghubungkan pendidikan, kewirausahaan, riset, teknologi, investasi sosial, wakaf produktif, UMKM, dan pemberdayaan masyarakat. Dengan demikian, organisasi tidak hanya memiliki banyak institusi, tetapi juga memiliki ekosistem kemandirian. Berhenti Membanggakan Konsumsi Pada akhirnya, persoalannya bukan apakah umat Islam boleh menjadi konsumen. Tentu boleh. Yang perlu ditinggalkan adalah mentalitas yang menjadikan konsumsi sebagai ukuran keberhasilan hidup, sementara kemampuan untuk memproduksi, memiliki aset, menciptakan pekerjaan, dan memberdayakan masyarakat tidak mendapatkan perhatian yang sama. Umat Islam perlu mengubah cara pandang: Dari membeli menjadi menciptakan. Dari menerima menjadi memberdayakan. Dari memiliki aset menjadi menghidupkan aset. Dari mengumpulkan jamaah menjadi membangun kekuatan jamaah. Dari mencetak pencari kerja menjadi mencetak pencipta kerja. Dari kesalehan individual menuju kemandirian sosial. Sebab pada akhirnya, pertanyaan ekonomi umat bukan hanya “Seberapa banyak yang kita konsumsi?”, melainkan: “Seberapa banyak manfaat yang mampu kita ciptakan?” Di situlah ekonomi Islam menemukan maknanya. Bukan sekadar menjadikan umat kaya, tetapi menjadikan kekuatan ekonomi sebagai sarana menjaga martabat manusia, memperluas kemaslahatan, dan membangun peradaban. Maka sudah saatnya umat Islam berhenti merasa bangga hanya karena menjadi konsumen yang besar. Umat perlu bangga ketika mampu menjadi produsen, pemberi kerja, pemilik aset produktif, penggerak koperasi, pengelola wakaf, pengembang UMKM, dan pembangun kemaslahatan. Karena umat yang kuat bukan hanya umat yang mampu membeli. Umat yang kuat adalah umat yang mampu menciptakan, memiliki, memberdayakan, dan berbagi. Wallahu’alam...!

H

H. Ismail Ibrahim, M.Pd.I.

Sekretaris PWM Sulawesi Barat

MBS At-Tanwir Mamuju Mengukir Jejak di Kemah Santri Muhammadiyah Nasional
22 Sep 2026 • 171 views

MBS At-Tanwir Mamuju Mengukir Jejak di Kemah Santri Muhammadiyah Nasional

Ada rasa bangga yang sulit dijelaskan ketika melihat anak-anak santri membawa nama daerahnya jauh dari kampung halaman. Apalagi ketika yang dibawa bukan sekadar nama pribadi, tetapi nama lembaga, Persyarikatan, dan daerah tempat mereka tumbuh. Itulah yang sedang dilakukan para santri MBS At-Tanwir Mamuju. Dalam Kemah Santri Muhammadiyah (KSM) ke-2 tingkat nasional di Bumi Perkeman Coban Rondo Malang 21-24 September 2026. MBS At-Tanwir Mamuju hadir sebagai satu-satunya pondok Muhammadiyah yang mewakili Sulawesi Barat. Bahkan dari Pulau Sulawesi, hanya dua provinsi yang turut mengirimkan peserta, yakni Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Bagi saya, kehadiran mereka bukan sekadar tentang siapa yang datang dan siapa yang tidak datang. Ada pesan yang jauh lebih besar yg ingin disampaikan.Bahwa santri dari Mamuju juga punya kesempatan untuk berdiri sejajar, belajar, berjejaring, dan membawa nama Sulawesi Barat di ruang nasional. Senin, 21 September 2026, Kemah Santri Muhammadiyah tingkat nasional resmi dibuka. Hadir Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah, bapak Izzul Muslimin, S.IP., hadir membuka kegiatan. Ada empat pesan penting yang disampaikan kepada seluruh peserta.: Pertama, beriman dan bertakwa. Kedua, berakhlakul karimah. Ketiga, memiliki modal ilmu pengetahuan. Dan keempat, memiliki mental dan fisik yang kuat. Empat pesan sederhana, tetapi sesungguhnya menjadi fondasi penting bagi seorang kader. Sebab Muhammadiyah tidak hanya membutuhkan orang pintar. Muhammadiyah membutuhkan orang pintar yang beriman. Tidak hanya membutuhkan orang yang kuat, tetapi juga orang yang berakhlak. Tidak hanya membutuhkan kader yang memiliki pengetahuan, tetapi juga memiliki mental dan fisik untuk menghadapi tantangan zaman. Dari Malang, pesan itu terasa semakin jelas bahwa Muhammadiyah ingin terus mencerahkan semesta dengan kader-kader terbaiknya. Bupati Malang, Drs. H. M. Sanusi, M.M., yang akrab disapa Abah Sanusi, juga hadir memberikan sambutan. Pesannya sederhana tetapi penuh harapan yakni kpd para peserta harus mempersiapkan diri menjadi pemimpin masa depan. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Muhammadiyah yang selama ini ikut mencetak calon-calon pemimpin bangsa. Bagi para santri yang duduk mendengarkan, mungkin kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi siapa tahu, di antara mereka yang hadir di Malang hari itu, kelak ada yang menjadi pemimpin di daerahnya, menjadi guru, dosen, pengusaha, birokrat, ulama, atau bahkan pemimpin Persyarikatan bangsa dan negara. Pesan yang tidak kalah penting datang dari Kementerian Agama. Hadir mewakili Direktorat Jenderal Pesantren, Endi Suhendi, S.Ag., M.A., Kepala Subdirektorat Pendidikan Muadalah dan Pendidikan Diniyah Formal. Pesannya kembali mengingatkan tiga hal: jaga iman dan akhlak, jangan berhenti belajar, dan teruslah memberikan manfaat. Tiga kalimat yang sebenarnya sederhana, tetapi jika benar-benar dijalankan, cukup untuk menjadi bekal seorang santri menghadapi kehidupan. Kemudian tausyiah disampaikan oleh Dr. Syamsudin, M.Ag., Wakil Ketua Bidang Tarjih dan Tajdid, Kepesantrenan, Haji-Umrah. Dari beliau ada pesan yang menarik tentang sosok pemimpin Muhammadiyah masa depan yakni al-qawiyyul amīn. Pemimpin yang kuat sekaligus dapat dipercaya. Ada ketegasan, ada kekuatan, tetapi juga ada kejujuran. Sebab kekuatan tanpa kejujuran bisa menjadi kesombongan. Kejujuran tanpa keberanian bisa membuat seseorang tidak mampu mengambil keputusan. Maka seorang pemimpin harus memiliki keduanya: kuat dan amanah. Di tengah suasana nasional itulah, nama MBS At-Tanwir Mamuju ikut diperkenalkan. Sebagai bagian dari Muhammadiyah Sulawesi Barat. Saya berkesempatan hadir membersamai para peserta dari Sulawesi Barat. Kehadiran ini bukan hanya untuk memastikan mereka tidak merasa sendirian jauh dari Mamuju, tetapi juga menjadi kesempatan untuk memperkenalkan lebih dekat MBS At-Tanwir Mamuju kepada para pimpinan Muhammadiyah yang hadir dari berbagai daerah. Ada kebanggaan tersendiri ketika menyebut: “Ini MBS At-Tanwir Mamuju, dari Sulawesi Barat.” Sederhana memang. Tetapi bagi sebuah lembaga pendidikan yang tumbuh jauh dari pusat Pulau Jawa, kesempatan memperkenalkan diri di forum nasional adalah sesuatu yang sangat berarti. Mungkin perjalanan Mamuju–Malang terasa jauh. Tetapi bagi pendidikan, jarak geografis seharusnya tidak pernah menjadi alasan untuk berhenti bermimpi. Santri-santri MBS At-Tanwir hari ini datang ke Malang bukan hanya membawa tas dan perlengkapan kemah. Mereka membawa nama Mamuju, nama Sulawesi Barat, nama besar Muhammadiyah, dan tentu saja nama MBS At-Tanwir. Mereka datang untuk belajar. Bertemu dengan santri dari berbagai daerah. Mengenal wajah Muhammadiyah yang jauh lebih luas. Dan yang paling penting, belajar bahwa menjadi santri bukan berarti hanya pandai mengaji. Santri juga harus siap menjadi bagian dari masa depan bangsa. Karena itu, saya berharap perjalanan ini tidak berhenti ketika kemah selesai. Jangan sampai setelah kembali ke Mamuju, semua yang didengar hanya menjadi cerita. Bawalah pulang semangatnya. Bawalah pulang ilmunya. Bawalah pulang persaudaraannya. Dan yang paling penting, bawalah pulang perubahan dalam diri. Furqan Mawardi, Ketua Lembaga Pengembangan Cabang Ranting Masjid dan Pesantren PWM SULBAR

Furqan Mawardi

Ketua Lembaga Pengembangan Cabang Ranting Masjid dan Pesantren PWM SULBAR

Kader Muda Muhammadiyah dan Tantangan Etika Berpikir Di Era Informasi: Menguatkan Kembali Tradisi Tabayyun
20 Sep 2026 • 67 views

Kader Muda Muhammadiyah dan Tantangan Etika Berpikir Di Era Informasi: Menguatkan Kembali Tradisi Tabayyun

PWMSULBAR.ID - Perkembangan teknologi informasi telah membawa perubahan fundamental dalam pola komunikasi generasi muda. Ruang digital memungkinkan informasi diproduksi, dikonsumsi, dan disebarluaskan dalam waktu yang sangat singkat. Kondisi ini memberikan peluang besar bagi pengembangan dakwah, pendidikan, intelektualisme, dan gerakan sosial. Namun, pada saat yang sama, perkembangan tersebut menghadirkan tantangan serius terhadap etika komunikasi, kedewasaan berpikir, dan kemampuan melakukan verifikasi informasi. Dalam konteks kader Muhammadiyah, tantangan tersebut perlu ditempatkan sebagai bahan refleksi kaderisasi. Fenomena seperti membicarakan persoalan personal orang lain, membuka aib saudara, menyebarluaskan informasi yang belum terverifikasi, hingga menjadikan persoalan pribadi sebagai konsumsi publik merupakan gejala yang perlu disikapi secara kritis dan proporsional. Fenomena tersebut tentu tidak dapat digeneralisasi sebagai karakter seluruh kader muda Muhammadiyah. Akan tetapi, ketika praktik semacam itu mulai dianggap sebagai sesuatu yang wajar dalam ruang sosial maupun digital, maka terdapat persoalan etis yang perlu mendapatkan perhatian bersama. Kaderisasi tidak semestinya hanya menghasilkan kader yang memiliki keberanian berbicara, tetapi juga kader yang memiliki kematangan epistemik dan kedewasaan moral. Kader harus mampu membedakan antara fakta dan opini, informasi dan interpretasi, kritik dan penghukuman, serta keterbukaan dan pengumbaran persoalan privat. Dalam kehidupan sosial, terdapat satu prinsip yang layak direnungkan: “Tidak semua yang diketahui harus disampaikan, tidak semua yang didengar harus dipercaya, dan tidak semua yang benar untuk diketahui layak disebarluaskan.” Prinsip tersebut mengandung pesan bahwa pengetahuan selalu memiliki dimensi etis. Informasi bukan sekadar sesuatu yang dapat dipindahkan dari satu orang kepada orang lain, tetapi dapat memiliki konsekuensi terhadap reputasi, kehormatan, hubungan sosial, bahkan keberlangsungan sebuah komunitas. Karena itu, kecepatan menerima dan menyebarkan informasi tidak dapat dijadikan ukuran kecerdasan intelektual. Justru kemampuan menunda kesimpulan, memeriksa sumber, memahami konteks, melakukan klarifikasi, serta mempertimbangkan dampak dari suatu informasi merupakan bagian dari kedewasaan berpikir. Tabayyun sebagai Etika Epistemik Islam telah memberikan kerangka yang sangat fundamental dalam menghadapi persoalan informasi melalui prinsip tabayyun. Allah SWT berfirman: «يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ» “Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6). Tabayyun dalam konteks ini tidak hanya dipahami sebagai aktivitas memeriksa benar atau salahnya sebuah berita. Ia merupakan disiplin intelektual dan etika sosial yang mengharuskan seseorang berhati-hati sebelum menerima, menilai, maupun menyebarluaskan informasi. Seorang kader tidak seharusnya membangun kesimpulan hanya berdasarkan potongan cerita, tangkapan layar, percakapan sepihak, atau informasi yang diperoleh dari pihak kedua dan ketiga. Informasi membutuhkan konteks, sumber yang dapat dipertanggungjawabkan, serta klarifikasi dari pihak yang berkaitan. Sebab, informasi yang tidak diverifikasi dapat melahirkan prasangka. Prasangka dapat berkembang menjadi penilaian. Penilaian yang tidak berdasar dapat berubah menjadi tuduhan. Dan tuduhan yang disebarluaskan dapat menghasilkan ketidakadilan terhadap seseorang. Al-Qur'an kembali memberikan peringatan dalam QS. Al-Hujurat ayat 12 agar manusia menjauhi prasangka, tidak mencari-cari kesalahan orang lain, dan tidak melakukan ghibah. Dengan demikian, terdapat sebuah rangkaian etika yang sangat relevan bagi kehidupan kader: Verifikasi sebelum percaya, Klarifikasi sebelum menilai, Pertimbangan sebelum menyebarkan, Nasihat sebelum mempermalukan. Menjaga Aib dan Martabat Sesama Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa menutupi aib seorang Muslim, Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim). Hadis tersebut memberikan landasan penting mengenai perlindungan terhadap kehormatan manusia. Menjaga aib bukan berarti membenarkan kesalahan atau membiarkan pelanggaran. Jika terdapat persoalan yang berkaitan dengan amanah, integritas, atau kepentingan organisasi, tentu diperlukan penyelesaian yang bertanggung jawab. Namun, penyelesaian tersebut seharusnya ditempuh melalui klarifikasi, nasihat, pembinaan, musyawarah, dan mekanisme organisasi yang sesuai, bukan dengan menjadikan persoalan personal sebagai konsumsi publik. Dalam konteks kaderisasi, terdapat perbedaan fundamental antara mengkritik perilaku untuk tujuan perbaikan dan membuka aib untuk menjatuhkan martabat seseorang. Kritik memiliki orientasi perbaikan, sedangkan pengumbaran aib berpotensi menggeser persoalan dari pembinaan menuju penghukuman sosial. Demikian pula dengan fenomena menjadikan persoalan pribadi sebagai konsumsi publik. Keterbukaan merupakan nilai yang penting, tetapi keterbukaan tidak identik dengan hilangnya batas antara ruang privat dan ruang publik. Berbagi pengalaman untuk tujuan edukasi, refleksi, dan mengambil ibrah merupakan sesuatu yang berbeda dengan menormalisasi pengungkapan persoalan pribadi tanpa mempertimbangkan nilai kemaslahatan, martabat, dan dampaknya terhadap diri sendiri maupun orang lain. Mengonsumsi Informasi secara Beradab Di tengah fenomena information overload, kader membutuhkan bukan hanya literasi digital, tetapi juga literasi etis. Seorang kader perlu membangun kebiasaan bertanya: Apakah informasi ini benar? Siapa sumber pertamanya? Apa konteksnya? Sudahkah pihak yang bersangkutan diklarifikasi? Apakah informasi ini relevan untuk saya ketahui? Dan apakah informasi tersebut memang layak saya sebarkan? Sebab, viralitas tidak identik dengan validitas. Banyaknya orang yang membicarakan suatu informasi tidak menjadikannya benar. Demikian pula, kedekatan kita dengan seseorang tidak otomatis menjadikan seluruh informasi yang disampaikannya bebas dari kekeliruan. “Jangan mengukur kebenaran dari banyaknya orang yang membicarakannya; ukur kebenaran dari kekuatan bukti yang menopangnya.” Dalam perspektif etika informasi, kemampuan untuk tidak meneruskan suatu informasi juga merupakan bentuk kecerdasan moral. “Tidak semua yang masuk ke telinga harus menetap di pikiran, dan tidak semua yang menetap di pikiran harus keluar melalui lisan.” Kader yang matang tidak menjadikan informasi sebagai instrumen untuk memenangkan perdebatan atau membangun superioritas sosial. Informasi seharusnya menjadi sarana untuk menemukan kebenaran, memperbaiki keadaan, dan menghadirkan kemaslahatan. Reorientasi Kaderisasi Karena itu, proses kaderisasi Muhammadiyah perlu terus memperkuat dimensi intelektualisme, akhlak, literasi digital, etika komunikasi, dan kedewasaan epistemik. Kader tidak cukup hanya dibentuk menjadi individu yang kritis terhadap realitas. Kader juga harus memiliki kemampuan untuk mengkritisi dirinya sendiri: bagaimana ia menerima informasi, bagaimana ia membentuk kesimpulan, bagaimana ia menyampaikan kritik, dan bagaimana ia memperlakukan orang yang berbeda pandangan dengannya. Kader yang dewasa secara intelektual tidak tergesa-gesa menjadi hakim atas cerita yang baru didengarnya. “Kader yang matang bukanlah mereka yang paling cepat mengetahui kesalahan orang lain, melainkan mereka yang paling bertanggung jawab dalam memperlakukan informasi tentang orang lain.” Dalam kerangka itu, tabayyun harus menjadi budaya intelektual sekaligus budaya organisasi. Bukan hanya ketika menerima berita tentang orang lain, tetapi juga ketika terjadi konflik internal, perbedaan pandangan, dinamika kepemimpinan, maupun persoalan yang berkembang di ruang digital. Tabayyun mengajarkan kita untuk memberikan ruang bagi fakta sebelum kesimpulan, memberikan ruang bagi klarifikasi sebelum penilaian, dan memberikan ruang bagi pembinaan sebelum penghukuman. Penutup Muhammadiyah membutuhkan generasi muda yang kritis tetapi beradab, progresif tetapi reflektif, berani bersuara tetapi mampu menjaga lisan, serta teguh memperjuangkan kebenaran tanpa kehilangan penghormatan terhadap martabat manusia. Kekuatan kader tidak semata-mata terletak pada seberapa keras ia menyampaikan kritik, tetapi juga pada seberapa matang ia mengelola informasi, seberapa adil ia membentuk penilaian, dan seberapa kuat ia menjaga adab ketika memperjuangkan kebenaran. Sebab, kebenaran yang diperjuangkan tanpa adab berpotensi kehilangan substansi kemanusiaannya. Maka, tantangan kaderisasi hari ini bukan sekadar mencetak kader yang mampu berbicara tentang perubahan sosial, tetapi melahirkan kader yang mampu mengubah cara berpikir, cara memperoleh pengetahuan, cara berkomunikasi, dan cara memperlakukan sesama. Jangan sampai lisan yang seharusnya menjadi instrumen dakwah berubah menjadi sarana membuka aib. Jangan sampai media yang seharusnya menjadi ruang pencerdasan berubah menjadi ruang penghakiman. Dan jangan sampai keberanian menyampaikan pendapat berjalan lebih cepat daripada kemampuan melakukan tabayyun. Tabayyun sebelum menyimpulkan. Klarifikasi sebelum menilai, Musyawarah sebelum memutuskan, dan Pembinaan sebelum mempermalukan. Karena pada akhirnya, kematangan seorang kader tidak hanya diukur dari kemampuannya memperjuangkan kebenaran, tetapi juga dari kemampuannya menjaga adab ketika memperjuangkan kebenaran. Fastabiqul Khairat.  Penulis : Muh. Fadli, H.,S.E. Ketua Bidang Kader DPD IMM Sulawesi Barat

M

Muh. Fadli, H.,S.E.

Ketua Bidang Kader DPD IMM Sulawesi Barat

Literasi: Dari Membaca Ke Solusi
18 Sep 2026 • 51 views

Literasi: Dari Membaca Ke Solusi

PWMSULBAR.ID - Literasi kembali penting bukan sekadar karena orang perlu bisa membaca, tetapi karena bangsa yang membaca sedang membangun cara berpikirnya. Membaca melatih manusia menerima informasi, menghubungkan pengetahuan, mempertanyakan kebenaran, menemukan pola, lalu melahirkan gagasan. Jika membaca menjadi budaya, kecerdasan tidak lagi hanya milik individu, ia berubah menjadi kecerdasan kolektif bangsa. Al-Qur’an bahkan membuka risalahnya dengan perintah intelektual: “Iqra’ bacalah!” (QS. Al-‘Alaq: 1). Membaca bukan hanya aktivitas mata, tetapi aktivitas akal dan hati untuk memahami tanda-tanda Allah. Karena itu, masyarakat yang menjadikan membaca sebagai kebiasaan sesungguhnya sedang membangun fondasi peradabannya. Belajar dari Bangsa Lain Ketika berjalan di Teheran, Iran, kita dapat menemukan pemandangan menarik: ruang-ruang publik, taman, pusat perbelanjaan, dan fasilitas pendidikan dimanfaatkan masyarakat untuk membaca dan belajar. Di Jepang, budaya membaca tumbuh bersama disiplin belajar; perpustakaan dan toko buku menjadi bagian dari ekosistem pengetahuan. Di Finlandia, perpustakaan diposisikan sebagai ruang publik untuk belajar. Di Korea Selatan, pembangunan pendidikan, riset, dan teknologi berjalan beriringan dengan budaya belajar yang kuat. Tentu, kemajuan suatu negara tidak dapat dijelaskan hanya oleh budaya membaca. Ada banyak faktor lain: pendidikan, institusi, ekonomi, teknologi, kebijakan, dan kualitas sumber daya manusia. Namun satu hal jelas: bangsa maju membutuhkan masyarakat yang menghargai pengetahuan. Tangga Literasi Masalah kita bukan semata berapa banyak orang yang bisa membaca, melainkan berapa banyak yang terus membaca, apa yang dibaca, seberapa dalam dibaca, lalu apa yang dihasilkan dari bacaannya. Perjalanan intelektual sebenarnya dapat dibayangkan sebagai tangga. Pertama, tidak berminat membaca. Kedua, mulai membaca apa saja. Ketiga, berubah menjadi pembaca fokus: memilih bidang tertentu dan mendalaminya. Keempat, mulai meneliti, tidak puas hanya mengetahui apa kata orang. Kelima, menulis dan menghasilkan pengetahuan. Dan puncaknya, menjadi problem solver: menggunakan pengetahuan, riset, dan pengalaman untuk menawarkan jalan keluar atas persoalan nyata. Di sinilah posisi seorang pakar. Pakar bukan sekadar orang yang mengetahui banyak hal. Pakar adalah orang yang mendalami bidang tertentu, menghasilkan pengetahuan, mampu membaca persoalan secara sistematis, dan memberikan alternatif solusi yang dapat dipertanggungjawabkan. Maka ukuran intelektualitas bukan panjangnya daftar gelar, tetapi seberapa besar pengetahuan mampu mengubah masalah menjadi solusi. Jebakan Scrolling dan Pentingnya Pohon Ilmu Lalu bagaimana dengan literasi digital? Teknologi seharusnya menjadi jalan tol pengetahuan, bukan sekadar jalan raya tempat kita terus menggulir layar. Media sosial memang mempercepat akses informasi, tetapi sebagian besar kontennya dirancang singkat dan mudah dikonsumsi. Kita dapat mengetahui banyak hal dalam beberapa menit, tetapi belum tentu memahami satu hal secara mendalam. Di sinilah bahayanya scrolling tanpa pendalaman. Kita merasa banyak tahu karena setiap detik menemukan informasi baru, padahal pengetahuan kita mungkin hanya berupa serpihan. Algoritma memberi kita informasi yang cepat; literasi mendalam memberi kita pemahaman. Karena itu, literasi digital harus naik kelas: dari content consumer menjadi knowledge seeker, dari scrolling menjadi searching, dari searching menjadi studying, dari studying menjadi researching, lalu dari researching menjadi creating and solving. Buku, jurnal ilmiah, laporan riset, dan repositori akademik tetap penting karena menyediakan ruang bagi pembacaan yang lebih panjang, sistematis, dan komprehensif. Digitalisasi tidak menggantikan membaca mendalam; ia seharusnya mempercepat manusia menemukan bahan untuk membaca lebih mendalam. Menariknya, perpustakaan menggunakan sistem Dewey Decimal Classification (DDC) yang mengelompokkan pengetahuan ke dalam sepuluh kelas utama. Bagi seorang peneliti, ini bukan sekadar sistem menata buku. DDC mengajarkan sebuah disiplin intelektual: ketika saya sedang membaca, sebenarnya saya sedang berdiri di pohon ilmu yang mana? Misalnya seseorang meneliti kepemimpinan. Ia tidak cukup mengatakan, “Saya meneliti kepemimpinan.” Ia perlu mengetahui bahwa kepemimpinan berada dalam rumpun ilmu sosial, kemudian masuk ke organisasi, manajemen, perilaku organisasi, hingga variabel spesifik yang ditelitinya. Semakin jelas posisi keilmuannya, semakin tajam pula pertanyaan risetnya. Penutup: Dari Informasi ke Solusi Inilah implikasi terbesar literasi: membaca bukan tujuan akhir, membaca adalah pintu masuk menuju spesialisasi, riset, tulisan, keahlian, dan solusi. Maka perguruan tinggi jangan hanya menghasilkan mahasiswa yang lulus ujian, tetapi manusia yang mampu membaca persoalan. Dosen jangan hanya mengejar penyampaian materi, tetapi membangun budaya membaca, meneliti, menulis, dan memecahkan masalah. Perpustakaan jangan hanya menjadi gudang buku, tetapi menjadi jantung intelektual kampus. Dan setiap individu perlu memilih satu pertanyaan sederhana: “Bidang apa yang sungguh-sungguh ingin saya kuasai?” Setelah itu, bacalah setiap hari. Pilih bidang. Petakan pohon ilmunya. Baca buku dasar. Lanjutkan dengan jurnal mutakhir. Temukan research gap. Teliti persoalan. Tulis hasilnya. Gunakan ilmu itu untuk menyelesaikan masalah masyarakat. Sebab Allah tidak hanya meninggikan orang yang beriman, tetapi juga orang yang diberi ilmu: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11). Akhirnya, bangsa tidak akan menjadi cerdas hanya karena memiliki banyak informasi. Bangsa menjadi cerdas ketika informasi berubah menjadi pengetahuan, pengetahuan berubah menjadi keahlian, keahlian berubah menjadi inovasi, dan inovasi menghadirkan solusi.Maka mari berhenti bertanya, “Berapa banyak yang sudah saya baca?” Mulailah bertanya: “Setelah membaca, masalah apa yang mampu saya pecahkan?” Itulah literasi yang melahirkan peradaban. Penulis : Dr. H. Muh. Tahir, M.Si. - Rektor Universitas Muhammadiyah Mamuju, Dewan Pakar Majelis Pustaka & Informasi PWM Sulawesi Barat

D

Dr. Ir. H. Muh. Tahir, M.Si.

Rektor Universitas Muhammadiyah Mamuju

Muhammadiyah: Gerakan Berkemajuan Yang Beriman Dan Berakhlak
17 Sep 2026 • 69 views

Muhammadiyah: Gerakan Berkemajuan Yang Beriman Dan Berakhlak

Muhammadiyah sejak awal tidak lahir sekadar sebagai sebuah organisasi, melainkan sebagai gerakan dakwah yang memiliki cita-cita besar: menghadirkan Islam sebagai kekuatan yang mencerahkan kehidupan, menebarkan kemanfaatan, dan mencegah segala bentuk kerusakan. Karena itu, Muhammadiyah tidak cukup hanya berbicara tentang kemajuan, tetapi harus memastikan bahwa setiap kemajuan selalu berpijak pada iman, ilmu, dan akhlak. Di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, tantangan Muhammadiyah juga semakin kompleks. Kemajuan teknologi, perubahan sosial, perkembangan ekonomi, dan dinamika kehidupan masyarakat menghadirkan peluang sekaligus risiko. Dalam situasi seperti ini, gerakan berkemajuan tidak boleh dimaknai semata-mata sebagai kemampuan mengikuti perkembangan zaman. Berkemajuan harus berarti mampu menjadikan perubahan sebagai jalan untuk menghadirkan kemaslahatan yang lebih luas. Di sinilah iman dan akhlak menjadi fondasi yang tidak boleh ditinggalkan. Ilmu memberikan kemampuan untuk membaca persoalan, sementara iman memberikan arah tentang untuk apa kemampuan itu digunakan. Ilmu tanpa iman dapat kehilangan orientasi moral, sedangkan iman tanpa ilmu dapat kehilangan daya untuk menjawab persoalan kehidupan. Keduanya harus berjalan beriringan agar kemajuan tidak hanya menghasilkan kecanggihan, tetapi juga menghadirkan kebijaksanaan dan kemanusiaan. Dalam konteks kepemimpinan Muhammadiyah, prinsip tersebut menjadi semakin penting. Pimpinan bukanlah penguasa yang harus dilayani, tetapi pelayan yang diberi amanah untuk melayani. Jabatan dalam persyarikatan bukanlah simbol kedudukan, melainkan ruang pengabdian. Semakin tinggi amanah yang diberikan, semakin besar pula tanggung jawab moral untuk menjaga kepercayaan umat. Kepemimpinan yang demikian tidak dibangun dengan jarak, melainkan dengan keteladanan. Seorang pimpinan tidak cukup hanya pandai memberikan arahan, tetapi harus mampu menunjukkan contoh dalam keikhlasan, kedisiplinan, kesederhanaan, keterbukaan, dan kesediaan mendengar. Sebab, organisasi yang besar tidak akan kokoh hanya karena struktur yang kuat. Ia membutuhkan manusia-manusia yang memiliki integritas dan kesediaan untuk menempatkan kepentingan persyarikatan di atas kepentingan pribadi. Kekuatan Muhammadiyah sesungguhnya bukan hanya terletak pada banyaknya amal usaha, luasnya jaringan organisasi, megahnya gedung, atau besarnya jumlah anggota. Semua itu penting sebagai instrumen perjuangan, tetapi yang menentukan ruh gerakan adalah ketakwaan, keikhlasan, ilmu, dan persatuan. Gedung dapat dibangun, institusi dapat dikembangkan, dan jumlah anggota dapat bertambah. Namun, jika keikhlasan melemah, ukhuwah retak, dan orientasi pengabdian bergeser menjadi kepentingan pribadi atau kelompok, maka kemajuan material tidak otomatis menunjukkan kemajuan gerakan. Karena itu, Muhammadiyah perlu terus merawat budaya organisasi yang sehat: budaya saling menghormati, terbuka terhadap gagasan, dewasa dalam menghadapi perbedaan, dan mengutamakan musyawarah. Perbedaan pandangan adalah sesuatu yang wajar dalam organisasi yang hidup. Yang harus dijaga adalah agar perbedaan tidak berubah menjadi perpecahan dan kritik tidak berubah menjadi permusuhan. Ukhuwah bukan berarti menghilangkan perbedaan. Ukhuwah berarti memiliki kesadaran bahwa di balik perbedaan terdapat tujuan perjuangan yang lebih besar. Kita boleh berbeda dalam cara berpikir, tetapi tidak boleh kehilangan kesamaan dalam semangat berkhidmat. Kita boleh memiliki pendekatan yang berbeda, tetapi tetap berjalan menuju cita-cita yang sama: menghadirkan Islam yang mencerahkan dan memberi manfaat bagi kehidupan. Bagi PWM Sulawesi Barat, semangat tersebut dapat menjadi pijakan penting dalam menjalankan amanah persyarikatan. Sulawesi Barat memiliki realitas sosial yang beragam dan tantangan pembangunan yang membutuhkan kontribusi berbagai elemen masyarakat. Muhammadiyah dapat mengambil peran melalui pendidikan, kesehatan, sosial, ekonomi, dakwah, pemberdayaan masyarakat, serta penguatan kualitas sumber daya manusia. Namun, kontribusi tersebut harus selalu dimulai dari pembenahan internal. Gerakan yang ingin mencerahkan masyarakat harus terlebih dahulu memastikan bahwa nilai-nilai pencerahan hidup dalam diri para kader dan pimpinannya. Gerakan yang berbicara tentang keadilan harus menghadirkan keadilan dalam relasi internalnya. Gerakan yang mengajarkan keikhlasan harus menunjukkan keikhlasan dalam pengabdiannya. Inilah makna penting dari Muhammadiyah sebagai gerakan berkemajuan yang beriman dan berakhlak. Berkemajuan bukan sekadar bergerak cepat, tetapi bergerak ke arah yang benar. Bukan sekadar memperbesar organisasi, tetapi memperbesar manfaat. Bukan sekadar membangun institusi, tetapi membangun manusia. Bukan sekadar mengejar pencapaian, tetapi memastikan setiap pencapaian membawa keberkahan. Pada akhirnya, ukuran keberhasilan seorang pimpinan bukanlah seberapa lama ia memegang jabatan, tetapi seberapa besar manfaat yang ditinggalkannya. Ukuran keberhasilan sebuah kepemimpinan bukan seberapa banyak orang yang tunduk kepada keputusan pimpinan, tetapi seberapa banyak orang yang tumbuh, terberdayakan, dan merasakan manfaat dari keberadaan organisasi. Maka, mari menjadikan Muhammadiyah sebagai ruang pengabdian yang bekerja dengan hati, berpikir dengan ilmu, bergerak dengan ketulusan, dan menjaga persatuan dengan ukhuwah. Sebab, gerakan yang kuat bukan gerakan yang tidak pernah menghadapi perbedaan, melainkan gerakan yang mampu mengelola perbedaan menjadi energi untuk melahirkan kebaikan. PWM Sulawesi Barat harus terus melangkah sebagai bagian dari gerakan yang tidak hanya ingin menjadi besar, tetapi juga ingin menjadi bermakna. Tidak hanya ingin hadir, tetapi memberi solusi. Tidak hanya ingin berkembang, tetapi membawa kemajuan yang berakar pada iman dan akhlak. Semoga setiap amanah yang dipikul, setiap ikhtiar yang dilakukan, dan setiap langkah yang ditempuh oleh seluruh keluarga besar Muhammadiyah di Sulawesi Barat menjadi bagian dari amal kebajikan yang terus mengalir manfaatnya bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan. Wallahu a'lam bish-shawab.

H

H. Ismail Ibrahim, M.Pd.I.

Sekretaris PWM Sulawesi Barat

Chat WhatsApp