Logo PWM Sulbar
Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Barat
Ketua PW Muhammadiyah Sulbar
Jadwal Salat
00:00:00

Mamuju dan sekitarnya

Memuat tanggal...

🌅 Subuh 05:01
🌄 Terbit 06:07
☀️ Zuhur 12:10
⛅ Ashar 15:32
🌆 Maghrib 18:08
🌙 Isya 19:19
Sumber jadwal: KHGT Muhammadiyah. Untuk fitur lengkap, gunakan MASA, aplikasi resmi Muhammadiyah. Waktu Subuh mengikuti keputusan MTT PP Muhammadiyah.
Khutbah Jum’at: Menjaga Hati Dari Tipu Daya Dunia Dan Belajar Merasa Cukup
utama

Khutbah Jum’at: Menjaga Hati Dari Tipu Daya Dunia Dan Belajar Merasa Cukup

Selengkapnya
Khutbah Jum'at : Ketika Jabatan Menjadi Ujian Keimanan
utama

Khutbah Jum'at : Ketika Jabatan Menjadi Ujian Keimanan

Selengkapnya
Khutbah Jum'at : Dunia Di Tangan, Bukan Di Hati
utama

Khutbah Jum'at : Dunia Di Tangan, Bukan Di Hati

Selengkapnya
Khutbah Jum'at : Menjaga Hati Di Tengah Ujian Kehidupan
utama

Khutbah Jum'at : Menjaga Hati Di Tengah Ujian Kehidupan

Selengkapnya
Khutbah Jum'at: Kita Sibuk Menyiapkan Masa Depan, Tetapi Sudahkah Menyiapkan Kematian?
utama

Khutbah Jum'at: Kita Sibuk Menyiapkan Masa Depan, Tetapi Sudahkah Menyiapkan Kematian?

Selengkapnya
6 PDM Kab/Kota
16 Sekolah/Pesantren
19 Majelis/Lembaga
69 Amal Usaha Utama
Tanwir, Menyalakan Arah Peradaban Dr. Ir. H. Muh. Tahir, M.Si.
04 Nov 2026

Tanwir, Menyalakan Arah Peradaban

PWMSULBAR.ID - Menyambut Tanwir Muhammadiyah ke-114 di Palu, 13–15 November 2026, harapan besar tertuju pada lahirnya strategi baru untuk menjawab persoalan keumatan, kemanusiaan universal, dan tantangan peradaban. Sebagai warga Muhammadiyah dan simpatisan, kita berharap Tanwir tidak sekadar menjadi forum permusyawaratan, tetapi momentum refleksi, evaluasi, dan pembaruan arah gerakan menuju Muktamar di Medan, November 2027.Tanwir merupakan permusyawaratan tertinggi Muhammadiyah setelah Muktamar, yang diselenggarakan Pimpinan Pusat sekurang-kurangnya dua kali dalam satu periode kepemimpinan. Forum ini melibatkan unsur PP, PWM, pimpinan organisasi otonom tingkat pusat, serta peninjau. Secara historis, istilah Tanwir mulai digunakan pada 1932, masa KH. Hisyam, dan diresmikan pada Muktamar ke-24 di Banjarmasin tahun 1935. Tradisi ini menegaskan bahwa musyawarah merupakan jantung gerakan Muhammadiyah.Tanwir bukan forum pemilihan pimpinan pusat. Pemilihan pimpinan dilaksanakan pada Muktamar, sedangkan Tanwir Palu membahas tata tertib pemilihan untuk Muktamar 2027. Perbedaan ini penting dipahami agar Tanwir tetap berada pada hakikatnya: forum strategis untuk membahas arah, kebijakan, dan masa depan Persyarikatan.Menurut Agung Danarto, Tanwir ke-114 mengagendakan pembahasan Risalah Kesemestaan, AD-ART, program 20 tahun mendatang, serta tata tertib pemilihan pimpinan pusat pada Muktamar. Risalah Kesemestaan menjadi langkah penting dalam internasionalisasi Muhammadiyah, memperluas kontribusi bagi peradaban global, menyiapkan kader berkiprah di tingkat internasional, dan membuka peluang pengembangan Amal Usaha Muhammadiyah di berbagai negara.Implikasinya, Muhammadiyah dituntut semakin visioner, adaptif, dan berdampak. Evaluasi program harus jujur dan terukur; kaderisasi harus melahirkan pemimpin berintegritas dan berwawasan global; amal usaha harus semakin profesional; serta gerakan harus tetap berpihak pada persoalan nyata umat dan masyarakat. Globalisasi tidak boleh menjauhkan Muhammadiyah dari akar pengabdiannya.Allah SWT berfirman dalam QS. Asy-Syura ayat 38: “Sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah di antara mereka.” Ayat ini menegaskan bahwa musyawarah bukan sekadar mekanisme organisasi, melainkan nilai luhur untuk melahirkan keputusan yang bijaksana, adil, dan membawa kemaslahatan.Tanwir Palu harus menghasilkan gagasan yang melampaui rutinitas, kebijakan yang menjawab tantangan zaman, dan program yang menjadi pijakan strategis Muktamar Medan 2027. Muhammadiyah tidak cukup besar dalam jumlah amal usaha; ia harus semakin besar dalam manfaat, pemikiran, dan kontribusi kemanusiaan.Tanwir bukan sekadar forum berbicara tentang masa depan, melainkan ruang merumuskan masa depan. Dari Palu, Muhammadiyah diharapkan semakin mencerahkan umat, memajukan bangsa, dan menyinari peradaban dunia. Penulis : Dr, H. Muh. Tahir, M.Si.Rektor Unimaju 

Memberi Untuk Negeri: Perjalanan Ambulan LazisMu PWM Sulbar Antar Jenazah ke Kalukku MUHAMMADIYAH
04 Nov 2026

Memberi Untuk Negeri: Perjalanan Ambulan LazisMu PWM Sulbar Antar Jenazah ke Kalukku

PWMSULBAR.ID, Mamuju – Wujud nyata kepedulian sosial Muhammadiyah kembali terlihat. Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Barat melalui Lazismu Sulbar memberikan layanan pengantaran jenazah dari Kota Mamuju ke Kalukku, Kabupaten Mamuju.Layanan ini menggunakan armada Ambulan Lazismu PWM Sulawesi Barat. Armada ini memang disiapkan untuk melayani kebutuhan umat, baik dalam keadaan sakit maupun duka.Layanan antar jenazah gratis ini adalah bagian dari program "Memberi Untuk Negeri" yang diusung LazisMu, untuk meringankan beban keluarga yang sedang berduka."Ambulan Lazismu ini adalah milik umat. Siapapun yang membutuhkan, InsyaAllah kita layani. Dari Mamuju ke Kalukku hari ini adalah bagian dari dakwah sosial Muhammadiyah. Semoga almarhum husnul khatimah," ujar Abd. Rahman Jafar Ketua Lazismu Sulbar.Keberadaan Ambulan Lazismu PWM Sulbar sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Sulawesi Barat, khususnya bagi mereka yang membutuhkan transportasi medis dan layanan kedukaan yang cepat dan layak.Bagi masyarakat yang membutuhkan layanan Ambulan Lazismu PWM Sulbar dapat menghubungi kantor LazisMu Sulawesi Barat.

Khutbah di Masjid Ta’mir Ismail Ibrahim: Tentang Iman dan Amanah Menjaga Lingkungan MUHAMMADIYAH
31 Oct 2026

Khutbah di Masjid Ta’mir Ismail Ibrahim: Tentang Iman dan Amanah Menjaga Lingkungan

PWMSULBAR.ID, Mamuju – Pesan kuat tentang hubungan iman dan kelestarian lingkungan disampaikan dalam Khutbah Jum'at di Masjid Tamir Muhammadiyah Wonomuyo (30/10) bertema "Jangan Lukai Bumi Yang Menjadi Saksi Sujudmu" oleh Ismail Ibrahim.Khatib mengingatkan bahwa kerusakan lingkungan yang sering disebut bencana alam, sejatinya banyak disebabkan oleh ulah manusia yang mengutamakan keuntungan pribadi di atas keselamatan sesama."Api mungkin dinyalakan oleh segelintir orang, tetapi asapnya dihirup oleh jutaan manusia. Keuntungan mungkin dinikmati sebagian pihak, tetapi penderitaannya ditanggung masyarakat luas," kutip isi khutbah.Kerusakan adalah Panggilan untuk KembaliMengutip QS. Ar-Rum: 41 “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia... agar mereka kembali ke jalan yang benar.” Kerusakan bukanlah alasan berputus asa, melainkan panggilan untuk taubat dengan menghentikan perbuatan merusak dan memperbaikinya.Jangan Rusak Bumi Setelah DiperbaikiQS. Al-A'raf: 56 menegaskan “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di bumi setelah diperbaiki.” Bumi adalah amanah, bukan milik mutlak untuk dirusak. Jangan sampai rajin bersujud tapi tindakan justru menyengsarakan makhluk Allah.Menjaga Lingkungan adalah Bagian dari SyariatDalam maqashid syariah, menjaga jiwa (hifzh an-nafs) dan keturunan (hifzh an-nasl) adalah amanah utama. Asap kebakaran yang mengganggu pernapasan anak-anak dan rusaknya hutan mengancam generasi mendatang. Maka menjaga lingkungan adalah tanggung jawab moral dan keagamaan.Menanam adalah SedekahRasulullah SAW bersabda: "Tidaklah seorang muslim menanam pohon atau menabur benih, lalu burung, manusia, atau binatang memakan darinya, kecuali hal itu menjadi sedekah baginya." (HR. Bukhari-Muslim). Sebaliknya, pembakaran yang merusak adalah pengkhianatan amanah.Kaidah Fikih: Kemudharatan Harus DihilangkanKaidah Adh-dhararu yuzaal  menegaskan bahwa bahaya terhadap masyarakat harus dicegah. Pembakaran lahan yang mencemari udara dan merusak lingkungan harus dihentikan karena kepentingan pribadi tidak boleh mengorbankan keselamatan orang banyak.Khutbah ditutup dengan ajakan praktis: hemat air saat wudhu, kurangi sampah plastik, jangan bakar sampah sembarangan, tanam dan rawat pohon, serta didik anak mencintai lingkungan."Jangan bakar bumi yang menanggung sujudmu. Jangan rusak tanah tempat dahimu berserah kepada Allah."

Masjid Ta’mir Muhammadiyah Wonomulyo Rutin Gelar Sedekah Jum'at: Berbagi Makanan, Snack, Kopi dan Teh untuk Jamaah MUHAMMADIYAH
31 Oct 2026

Masjid Ta’mir Muhammadiyah Wonomulyo Rutin Gelar Sedekah Jum'at: Berbagi Makanan, Snack, Kopi dan Teh untuk Jamaah

PWMSULBAR.ID, Wonomulyo – (30/10/2026) Semangat berbagi terus dihidupkan oleh Pengurus Masjid Ta’mir Muhammadiyah Wonomulyo. Setiap selesai pelaksanaan Shalat Jum'at, masjid yang berada di Masjid Muhammadiyah Wonomulyo ini rutin menggelar Sedekah Jum'at dengan membagikan makanan, snack, serta minuman kopi dan teh kepada jamaah.Seperti terlihat pada Jum'at ini, para pengurus masjid tampak membagikan kotak makanan menggunakan kantong plastik kuning kepada jamaah yang terdiri dari orang tua, remaja, hingga anak-anak. Suasana kehangatan dan kebersamaan begitu terasa di dalam masjid berkarpet hijau tersebut.Salah seorang pengurus menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan wujud rasa syukur dan upaya memakmurkan masjid.Musabaqah Imam Masjid Tamir Muhammadiyah Wonomulyo mengatakan "Alhamdulillah, ini kegiatan rutin setiap Jum'at. Kita ingin Jum'at tidak hanya menjadi hari ibadah, tapi juga hari berbagi. Sedikit makanan, snack, kopi dan teh untuk jamaah setelah shalat, semoga menjadi berkah dan mempererat ukhuwah," ujarnya.Jamaah yang hadir, termasuk anak-anak, tampak antusias dan tertib menerima bingkisan. Beberapa jamaah juga terlihat menikmati hidangan bersama di dalam masjid sambil berbincang.Dalam ajaran Islam, sedekah di hari Jum'at memiliki keutamaan tersendiri. Rasulullah SAW menjadikan hari Jum'at sebagai hari terbaik untuk berbuat kebaikan, termasuk bersedekah.Melalui program Sedekah Jum'at ini, Masjid Ta’mir Muhammadiyah berharap dapat menjadi contoh gerakan kebaikan yang berkelanjutan, serta menginspirasi masjid-masjid lain untuk menghidupkan tradisi berbagi di hari yang penuh berkah.Semoga setiap suap makanan dan teguk kopi-teh yang dibagikan menjadi amal jariyah dan pemberat timbangan kebaikan di akhirat.

UNIMAJU: Menjaga Nilai, Menjemput Kemajuan Dr. Ir. H. Muh. Tahir, M.Si.
17 Oct 2026

UNIMAJU: Menjaga Nilai, Menjemput Kemajuan

PWMSULBAR.ID - Hidup di era modern bukan berarti meninggalkan semua yang lama, melainkan kemampuan memilah: nilai-nilai luhur, kebaikan, dan ajaran Islam yang tetap harus dipertahankan, serta inovasi baru yang perlu diadopsi demi mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Inilah hakikat menata diri: berani berkaca, mengevaluasi perjalanan, dan memastikan setiap langkah tetap berada pada jalur cita-cita perjuangan. Bagi Universitas Muhammadiyah Mamuju (UNIMAJU), pertanyaannya sederhana tetapi mendasar: sudahkah cara kita bekerja hari ini membawa kampus menuju PTMA unggul dan berkelanjutan? Keunikan PTMA terletak pada identitasnya sebagai amal usaha Muhammadiyah. Kampus bukan sekadar tempat bekerja, memperoleh penghasilan, atau mengejar jabatan, tetapi juga ruang pengabdian, perjuangan, dan investasi akhirat. Di sinilah usaha dan amal bertemu: profesional dalam bekerja, produktif dalam berkarya, ikhlas dalam mengabdi, serta bertanggung jawab dalam mengelola amanah. Keikhlasan tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan profesionalisme; sebaliknya, profesionalisme harus memperkuat nilai ibadah. Bayangkan seorang dosen yang mengajarkan ilmu, membentuk keterampilan, menanamkan akhlak, dan membimbing mahasiswa menjadi manusia bermanfaat. Ilmunya dapat terus hidup melalui karya dan pengabdian para alumninya. Betapa luas potensi amal jariah yang lahir dari pendidikan! Karena itu, hubungan antara ilmu, amal, dan tanggung jawab duniawi dengan orientasi akhirat layak terus kita kaji, termasuk dalam pengajian kampus hari ini. Terima kasih kepada Ustaz Taufik Abdullah, S.Ag., M.Ag., yang memberikan pengajian untuk penguatan pemahaman keislaman kita. Islam tidak mempertentangkan kemajuan dunia dengan keselamatan akhirat. Al-Qur'an, Surah Al-Qasas ayat 77, mengajarkan agar manusia mengupayakan kebahagiaan akhirat tanpa melupakan bagiannya di dunia. Pesan ini relevan bagi pengelolaan perguruan tinggi: nilai spiritual harus berjalan bersama kecakapan manajerial, tata kelola yang sehat, inovasi, dan kebermanfaatan sosial. Amal usaha harus beramal sekaligus berusaha. Kampus memerlukan idealisme, tetapi juga membutuhkan pendapatan yang sehat, efisiensi anggaran, kemitraan produktif, dan kepercayaan masyarakat. Tanpa nilai, bisnis kehilangan arah; tanpa kemampuan mengelola usaha, pengabdian berisiko kehilangan daya dukung. Keseimbangan keduanya menjadi fondasi keberlanjutan UNIMAJU. Kehadiran BPJS Ketenagakerjaan dan Bank Syariah Indonesia (BSI) dalam lingkungan kemitraan kampus patut diapresiasi. BPJS Ketenagakerjaan membawa misi perlindungan sosial bagi pekerja, sedangkan BSI menghadirkan layanan keuangan berdasarkan prinsip syariah. Kemitraan semacam ini tidak semestinya berhenti pada seremoni atau kunjungan, tetapi berkembang menjadi program nyata yang memberikan manfaat bagi dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni, dan masyarakat. Kita perlu belajar dari pengalaman sejumlah perguruan tinggi Muhammadiyah yang membangun kemitraan produktif dengan dunia usaha. Dukungan mitra dapat hadir dalam berbagai bentuk: penyediaan fasilitas kampus, pengelolaan sampah modern, kegiatan olahraga mahasiswa, wisuda, beasiswa, hingga penguatan kewirausahaan. Pelajarannya jelas: kampus yang mampu menawarkan program terukur, tata kelola transparan, dan manfaat bersama akan lebih mudah membangun kepercayaan mitra. Kemitraan bukan sekadar meminta bantuan, melainkan menawarkan nilai. UNIMAJU harus mampu menjelaskan apa yang dapat dikerjakan bersama BPJS Ketenagakerjaan, BSI, pemerintah, dunia usaha, dan organisasi masyarakat. Mahasiswa dapat memperoleh literasi keuangan syariah dan perlindungan ketenagakerjaan; alumni dapat difasilitasi memasuki dunia kerja; dosen dapat mengembangkan riset terapan; sementara mitra memperoleh ruang untuk menjalankan tanggung jawab sosial dan memperluas dampak programnya. Pada November bulan depan, terdapat dua agenda penting yang membutuhkan dukungan seluruh warga Muhammadiyah dan simpatisan. Pertama, wisuda yang direncanakan pada 9 November, dengan sasaran 250 alumni. Kedua, Tanwir Muhammadiyah ke-114 di Palu, Sulawesi Tengah, pada 13–15 November. Kedua agenda ini memiliki arti strategis: wisuda menegaskan hasil proses pendidikan, sedangkan Tanwir memperkuat gerak dan arah perjuangan organisasi. Karena itu, publikasi tidak boleh dianggap pekerjaan tambahan yang hanya dilakukan panitia. Setiap warga kampus dapat menjadi bagian dari dakwah melalui penyebaran informasi yang benar, menarik, dan bertanggung jawab. Konten digital harus dipersiapkan sejak dini, disebarluaskan secara konsisten, serta menampilkan prestasi, gagasan, dan manfaat nyata Muhammadiyah bagi masyarakat. Di era digital, dakwah tidak cukup hanya hadir di ruang pertemuan; ia harus menjangkau ruang-ruang komunikasi tempat masyarakat membangun persepsi dan mengambil keputusan. Pengembangan program studi juga menjadi bagian dari ikhtiar menjemput masa depan. Program Studi Kepelatihan Olahraga yang InsyaAllah hadir pada akhir Oktober memiliki peluang untuk menjawab kebutuhan tenaga profesional di bidang olahraga. Prospek tersebut dapat mencakup pelatih, pengelola kegiatan olahraga, pembinaan atlet usia dini, klub, sekolah, dan berbagai lembaga olahraga. Namun, peluang harus diikuti kesiapan dosen, kurikulum, sarana praktik, kemitraan, dan pemetaan kebutuhan pasar kerja. Kita perlu mengajak anak, adik, dan kemenakan yang berminat untuk mengenal serta mempertimbangkan program studi ini melalui jalur penerimaan resmi. Selanjutnya, rencana pembukaan Program Studi Bisnis Digital pada November juga patut dipersiapkan dengan serius. Dunia usaha semakin memerlukan sumber daya manusia yang menguasai pemasaran digital, perdagangan elektronik, analisis data, kewirausahaan, dan pemanfaatan kecerdasan buatan. Akan tetapi, membuka program studi bukan sekadar menambah daftar pilihan. Program harus dibangun berdasarkan kebutuhan masyarakat, kelayakan sumber daya, mutu pembelajaran, dan peluang kerja lulusan. Kedua program tersebut dapat menjadi pintu masuk bagi UNIMAJU untuk memperkuat relevansi pendidikan tinggi dengan kebutuhan zaman. Meski demikian, promosi penerimaan mahasiswa harus disertai informasi resmi mengenai izin penyelenggaraan, jadwal penerimaan, dan dimulainya perkuliahan. Kepercayaan masyarakat dibangun melalui kesesuaian antara janji dan kenyataan. Lalu, apa implikasi seluruh ikhtiar ini? Pertama, perubahan cara berpikir. Warga UNIMAJU perlu bergerak dari budaya rutinitas menuju budaya kinerja, dari bekerja sekadar memenuhi kewajiban menuju bekerja dengan target dan hasil yang terukur. Kedua, perubahan tata kelola. Keuangan, sumber daya manusia, sarana, teknologi informasi, dan akademik harus dikelola secara transparan, efisien, serta bertanggung jawab. Ketiga, perubahan pola kemitraan. Hubungan dengan pihak luar harus menghasilkan program yang nyata, bukan sekadar dokumentasi kegiatan. Keempat, perubahan strategi pengembangan mahasiswa. Program studi baru harus melahirkan lulusan yang kompeten, berkarakter Islami, adaptif terhadap teknologi, dan mampu menciptakan lapangan kerja.Kelima, seluruh gerakan harus terhubung dengan satu tujuan: menjadikan UNIMAJU unggul secara akademik, kuat secara kelembagaan, sehat secara finansial, berdampak bagi masyarakat, dan teguh dalam identitas Islam serta Kemuhammadiyahan. Keunggulan tidak lahir dari banyaknya kegiatan, tetapi dari konsistensi mengubah kegiatan menjadi hasil, hasil menjadi dampak, dan dampak menjadi keberlanjutan. Kesimpulannya, menjaga nilai lama dan mengadopsi inovasi baru bukanlah dua pilihan yang saling bertentangan. Keduanya harus dipadukan dalam strategi yang cerdas. Nilai Islam menjadi kompas, profesionalisme menjadi cara kerja, kemitraan menjadi pengungkit, teknologi menjadi instrumen, dan kebermanfaatan menjadi ukuran keberhasilan. Saran tindak lanjutnya konkret: setiap unit menyusun target dan indikator kinerja; tim kemitraan menyiapkan program bersama BPJS Ketenagakerjaan dan BSI; panitia memperkuat publikasi wisuda dan Tanwir; pengelola program studi memastikan seluruh persyaratan akademik dan kelembagaan terpenuhi; serta pimpinan melakukan evaluasi berkala terhadap capaian, kendala, dan tindak lanjutnya. Pada akhirnya, kita perlu bertanya kepada diri sendiri: apakah kehadiran kita di UNIMAJU hanya untuk bekerja, atau juga untuk membangun peradaban? Jika kampus ini kita pandang sebagai amanah, maka setiap tugas adalah pengabdian, setiap inovasi adalah ikhtiar, setiap kemitraan adalah peluang kebaikan, dan setiap keberhasilan harus memberi manfaat yang lebih luas. Mari menjaga nilai, menjemput kemajuan, dan menguatkan amal usaha. Sebab UNIMAJU yang unggul dan berkelanjutan tidak dibangun oleh satu orang, satu jabatan, atau satu periode kepemimpinan, tetapi oleh kebersamaan orang-orang yang memiliki visi, integritas, dan kesediaan bekerja nyata.

Halaalan Thayyiban  : Mengapa Sepakbola Lebih Diterima Dibandingkan Merokok Di Lingkungan Muhammadiyah ? Ustadz Wawan Rongkop
01 Oct 2026

Halaalan Thayyiban : Mengapa Sepakbola Lebih Diterima Dibandingkan Merokok Di Lingkungan Muhammadiyah ?

PWMSULBAR.ID. Setelah mencermati keberadaan klub bola Hizbul Wathan (HW) yang muncul ke permukaan. Jauh sebelum Indonesia merdeka. Serta melihat Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dan Universitas Ahmad Dahlan (UAD) memiliki klub sepakbola kampus. Pernah berlaga di Liga 4 PSSI. Saya merasa memiliki legal standing untuk menuangkan gagasan tentang sepakbola di lingkungan dakwah Muhammadiyah. Kesimpulan saya sederhana. Merokok itu debatable, tapi sepakbola itu marketable di Muhammadiyah. Sebenarnya, banyak kader Muhammadiyah yang perokok berat. Tidak sedikit pula yang menggandrungi tayangan sepakbola. Namun, keduanya memiliki nasib berbeda: 1. Tidak mungkin ada dai Muhammadiyah berani mengisi ceramah di level PRM, PCM, PDM, hingga KOKAM sambil menghisap rokok. 2. Sangat mungkin seorang dai Muhammadiyah menyisipkan cerita sepakbola di tengah ceramah agama dan jamaahpun antusias. 3. Bahkan untuk menjadi menantu tokoh Muhammadiyah, boleh jadi ada syarat tidak tertulis : dia bukan perokok aktif. 4. Sedangkan bagi pria lajang yang ingin menikahi putri kader Muhammadiyah, tidak akan gemetar hanya karena ia memiliki hobi bermain bola. 5. Pokoknya dua kutub beda nasib. 6. Tiada maaf bagi penggemar rokok, masih ada ampunan bagi penggemar bola. Pesan Tersirat Dari Lapangan Hijau. Sesungguhnya, sepakbola bukan sekadar soal menang dan kalah. Ia menitipkan pesan dakwah yang lembut. Pertama, tetaplah optimis. Timnas Denmark pada 1992 sejatinya sudah wassalam. Ia hanya runner-up grup kualifikasi, juara grupnya adalah Yugoslavia. Karena faktor perang Balkan, UEFA mendiskualifikasi Yugoslavia dan Denmark lolos ke putaran final. Dunia tak pernah berharap Denmark bisa bicara banyak. Namun di luar nalar, Denmark melewati fase grup, menang di perempat final dan semifinal. Secara ajaib, di final membuat Jerman menangis. Denmark juara. Lapangan bola berbisik : tetaplah optimis. Meski hari ini sedang gagal. Kedua, berjuanglah sampai menit terakhir. Saya masih mengingat 3 menit krusial Final Liga Champions 1999. Bayern Munchen sudah unggul 1-0 atas Manchester United dan hanya butuh 3 menit lagi untuk juara. Namun MU comeback mencetak dua gol dan berbalik juara. Kisah ini sering saya gunakan untuk memotivasi tamu-tamu saya yang sudah homeless, hopeless, dan speechless. Terkadang orang yang dalam situasi darurat tidak butuh banyak dalil, ia justru butuh pesan sederhana yang menyentuh. Ketiga, kekuatan teamwork. Yunani di Euro 2004 sedang mendidik penduduk bumi tentang kerjasama tim. Timnas Yunani datang dengan kemiskinan skuad, tanpa bintang menonjol. Namun pelatihnya yang berdarah Jerman, Otto Rehhagel, mengajarkan anak asuhnya untuk bermain sebagai tim, bukan individu. Saat bertahan, semua terlibat. Saat menyerang, saling membantu. Hasilnya, Piala Eropa menjadi milik Yunani. Keempat, jangan menyerah saat kembang-kempis. AC Milan sudah unggul 3-0 babak pertama Final Liga Champions 2005. Namun Liverpool menyamakan kedudukan menjadi 3-3 di babak kedua dan akhirnya menang lewat adu penalti. Sepakbola mengajarkan kita untuk tetap optimis . Walaupun perjalanan sedang naik-turun. Kelima, masalah adalah jalan menuju kemenangan. Italia 2006 adalah tim yang compang-camping karena skandal Calciopoli. Juventus dihukum turun kasta ke Serie B, pemain-pemain intinya pindah ke Barcelona dan Madrid. Satu negara geger. Namun justru di tengah badai itulah , mereka meraih Trofi Piala Dunia 2006 di Jerman. Ditambah drama Zidane yang menanduk Materazzi, kisah ini semakin melekat. Lapangan hijau berbisik : terkadang masalah adalah tantangan. Jika sanggup melewatinya, Tuhan telah menyiapkan kesuksesan yang tak terduga. Wallahu a'lam. Istana Atas Telaga, 27 September 2026

Konsep Berkah Komunal di Muhammadiyah: Struktural Cerminan Kultural  Ustadz Wawan Rongkop
27 Sep 2026

Konsep Berkah Komunal di Muhammadiyah: Struktural Cerminan Kultural

PWMSULBAR.ID - Ada sebuah pertanyaan yang jarang kita ajukan secara serius : mengapa pembangunan di lingkungan Muhammadiyah hampir selalu selesai ? Pernahkah kita mendengar kasus memalukan anggaran pembangunan TK Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA) ditilep oknum hingga bangunan mangkrak ?, nihil. Sulit menjumpai kasus demikian. Pernahkah kita mendengar anggaran pembangunan Rumah Sakit PKU Muhammadiyah digelapkan oknum ?, nihil. Berapa kali kita jumpa anggaran pembangunan SMP atau SMA Muhammadiyah menguap karena ulah oknum ?. Insya Allah, di level yang massif, sulit menjumpai kasus seperti itu. Begitu pula anggaran pembangunan Gedung Serbaguna atau Masjid Muhammadiyah. Hampir tidak pernah kita dengar menguap. Apakah Muhammadiyah steril dari oknum ?. Tentu tidak. Satu dua oknum yang memalukan tetap ada. Satu dua kasus mal-administrasi tetap terjadi. Namun, ia tidak menjadi penyakit menular. Ia tidak membudaya. Ia tidak menjadi sistem. Fenomena ini baru-baru saja menyadarkan saya, pada sebuah konsep. Tentu berbasis dalil Al-Qur'an. Surat Al-An'am ayat 129, mengilhami saya untuk berprasangka baik. Tentang hubungan pemimpin dan rakyat. Penguasa dipengaruhi oleh kualitas warganya. Akuntabilitas pemerintah disebabkan oleh ketertiban warganya. Maka, kepemimpinan struktural Muhammadiyah adalah cermin dari kesalehan sosial akar rumput warga Muhammadiyah se-Indonesia. Inilah yang saya sebut sebagai Berkah Komunal, Bukan Berkah Personal. Eksistensi TK ABA di sebuah desa bukanlah berkah dari Ustadz A atau B. Melainkan berkah dari komunitas jamaah di desa tersebut yang menjaga amanah. Eksistensi PKU Muhammadiyah di sebuah kabupaten bukan berkah dari Ustadz C atau D. Tapi berkah dari warga Muhammadiyah satu kabupaten yang patuh iuran, patuh mengawasi. Akuntabilitas Universitas Muhammadiyah di sebuah provinsi bukan berkah dari Ustadz E atau F. Melainkan berkah dari civitas akademika yang jumlahnya tak terbatas, saling mengoreksi. Sampailah pada gongnya : keindahan struktural Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam mengayunkan kebijakan publik, adalah berasal dari feedback akuntabilitas akar rumput masyarakat Muhammadiyah satu negara. Dari sini saya berkeyakinan, Insya Allah tidak akan ada Indonesia Bubar. Jika Berkah Komunal ini dijaga. Indonesia butuh komunitas Salafi Wahabi untuk mencetak kesalehan komunal. Indonesia butuh ikhtiar dari komunitas MTA Solo untuk mencetak kesejukan komunal. Indonesia butuh sumbangsih PERSIS untuk mengkondisikan soliditas komunal. Kita berharap pesantren Hidayatullah menjadi gudang penghasil kesejukan Indonesia. Jutaan pengikut tarekat di NU adalah soko guru penyelamat dari Sabang sampai Merauke. Jutaan pengikut akidah bercorak Asy'ariyah adalah penjaga nikmat Allah yang ada di perut bumi Indonesia. Dan doa anak yatim piatu satu negeri adalah alat pancing rahmat Allah. Kesimpulannya, tulisan ini adalah sebuah harapan. Semoga menjadi jembatan yang menyatukan hati komunitas puritan Indonesia dengan komunitas tradisional. Agar Salafi Wahabi, MTA Solo, PERSIS, Hidayatullah, Al-Irsyad dan Muhammadiyah bisa berpelukan erat dengan jamaah NU. Aamiin, aamiin, aamiin. ISTANA ATAS TELAGA, 13 September 2026.

Teologi Al-Ma'un Di Tengah Tiga Trauma Politik Bangsa Ustadz Wawan Rongkop
26 Sep 2026

Teologi Al-Ma'un Di Tengah Tiga Trauma Politik Bangsa

PWMSULBAR.ID, Tiga kali Indonesia mengalami trauma politik besar. Dan tiga kali pula Teologi Al-Ma'un yang diwariskan K.H. Ahmad Dahlan membuktikan ketahanannya. Catatan sejarah menunjukkan, setidaknya ada tiga fase kritis yang menguji daya tahan bangsa ini : pertama, transisi berdarah dari Orde Lama ke Orde Baru . Kedua, kejatuhan Orde Baru menuju Reformasi . Dan ketiga, anomali reformasi itu sendiri. Di setiap fase itu, negara limbung di level atas. Namun di level bawah, kerja-kerja kemanusiaan Muhammadiyah tetap berjalan. Trauma Pertama: Kejatuhan Soekarno Akhir kepemimpinan Soekarno tidak bisa dilepaskan dari perebutan sumber daya global. Dalam banyak literatur, pembunuhan John F. Kennedy oleh CIA dikaitkan dengan penolakannya terhadap penguasaan tambang emas di Irian Jaya oleh Amerika. Pola yang sama berulang pada Soekarno. Penolakannya terhadap agenda penguasaan tambang tersebut , berujung pada kejatuhannya. Soeharto kemudian menerima pinangan untuk menjadi Presiden kedua. Namun pinangan itu mensyaratkan tumbal : kontrak penguasaan tambang emas Irian Jaya oleh Amerika selama 50 tahun. Transisi Orde Lama ke Orde Baru pun ditebus dengan tumbal yang mengerikan. Trauma Kedua: Kejatuhan Soeharto Krisis Moneter 1997 menjadi penanda berakhirnya Orde Baru. Krisis ini tidak tunggal. Ada andil spekulan global seperti George Soros yang berafiliasi dengan Partai Demokrat Amerika . Partai tempat Bill Clinton dan Obama bernaung. Kita mengenang B.J. Habibie sebagai tokoh jenius yang berhasil menjinakkan dolar. Namun persoalannya tidak sesederhana itu. Asing membiarkan dollar hancur dan Indonesia sejenak bahagia. Tetapi ada tumbalnya. Tumbal pertama, IMF leluasa menggurita di Indonesia sejak 1997 hingga kini. Tumbal kedua, industri strategis pesawat terbang buatan Habibie dihentikan produksinya. Ironisnya, beberapa tahun kemudian sebuah pesawat kita hanya dibarter dengan beras dari Thailand. Barter politis yang menyakitkan. Tumbal berikutnya menyusul : impor susu yang mematikan peternak sapi lokal, dan lepasnya Timor-Timur dari pangkuan Ibu Pertiwi. Trauma Ketiga: Anomali Reformasi dan Pertaubatan Sang Kesatria Reformasi mengubah segalanya. Jika sebelumnya Bupati, Gubernur, hingga Presiden dipilih oleh legislatif, orde reformasi mengubahnya menjadi pemilihan langsung. Hasilnya, negara dipenuhi raja-raja kecil di daerah. Aliran APBD dan APBN justru memproduksi koruptor-koruptor baru. Kebebasan pers yang diharapkan menjadi penawar, ternyata tidak mengurangi angka korupsi. Amandemen UUD 1945 yang begitu masif juga tidak serta-merta membuat Indonesia lebih baik. Di titik inilah kita menyaksikan pertaubatan politis seorang kesatria. Prof. Amien Rais, tokoh sentral Reformasi . Secara terbuka meminta maaf kepada Jenderal Try Sutrisno, mantan Wakil Presiden. Apa yang diperjuangkan di MPR saat itu, ternyata diselewengkan oleh generasi setelahnya. Kesaksian ini saya peroleh dari penuturan Jenderal Purnawirawan Kiki Syahnakri pada sebuah podcast. Al-Ma'un Sebagai Mobil Damkar Lantas apa relevansi Teologi Al-Ma'un ? Teologi Al-Ma'un adalah kecerdasan adversitas. Sebuah kecerdasan yang dirancang K.H. Ahmad Dahlan untuk mengubah kecerdasan personal menjadi kecerdasan sosial yang adaptif dan solutif. Wujudnya nyata pada tahun 1965, ketika KOKAM Muhammadiyah berdiri bersama umat Islam dan RPKAD menumpas G30S/PKI. Wujudnya terus bereinkarnasi dalam dua dasawarsa terakhir melalui lahirnya MDMC, Lazismu, dan berbagai amal usaha lainnya. Ini meneguhkan satu prinsip: apapun yang terjadi di level government, Muhammadiyah konsisten merawat citizen. Donasi untuk gempa Aceh, gempa Palu, banjir Cianjur, gempa NTT, dan berbagai bencana lainnya tidak lahir dari ruang kosong. Ia lahir dari pikiran teologis sekaligus aksiologis K.H. Ahmad Dahlan. Aktivitas pendidikan, dari SD hingga perguruan tinggi Muhammadiyah, tetap the show must go on. Meski ruang politik nasional memanas, dari panasnya G30S/PKI, panasnya kerusuhan Mei 1998, hingga panasnya despotisme anti-meritokrasi di era Jokowi. Prof. Dien Syamsuddin pernah mengungkapkan data yang mengejutkan : banyak Rumah Sakit PKU Muhammadiyah harus nombok ratusan miliar rupiah saat pandemi Covid-19 . Demi memudahkan layanan BPJS bagi rakyat. Inilah asbabul nuzul tulisan ini. Pertama, untuk memastikan bahwa ketika terjadi kebakaran di level atas, api itu masih bisa diselamatkan di level bawah. Kedua, bahwa sekalipun terjadi gempa politik di level elit, Muhammadiyah akan selalu berfungsi sebagai mobil pemadam kebakaran yang cekatan dan gesit. Penulis adalah Pemerhati Sosial Keagamaan. Tinggal di Istana Atas Telaga.

Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM)

Jaringan pimpinan daerah Muhammadiyah se-Kabupaten Sulawesi Barat

Lihat Portal PDM →
Chat WhatsApp