Khutbah Jum’at: Empat Perkara yang Merugikan
Khutbah Pertama
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْه ُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اما بعـدقال الله تعالى: اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا
Jamaah Jumat rahimakumullah, Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Sebab, ketakwaan adalah bekal terbaik dalam perjalanan panjang menuju kehidupan akhirat.
Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: Apa yang sesungguhnya paling merugikan dalam hidup kita? Apakah kehilangan uang? Kehilangan jabatan? Kehilangan rumah? Atau kehilangan kesempatan menjadi orang yang lebih baik di hadapan Allah? Kerugian terbesar bukanlah ketika seseorang kehilangan sesuatu yang ada di tangannya, melainkan ketika ia kehilangan sesuatu yang tidak akan pernah kembali: waktu yang telah berlalu, kesempatan beramal yang terlewatkan, ilmu yang tidak diamalkan, dan hati yang semakin jauh dari Allah. Allah Swt. mengingatkan kita melalui Surah Al-‘Ashr ayat 1–3:
وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
“Demi masa. Sungguh, manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.”
Allah tidak mengatakan bahwa hanya orang miskin yang merugi, atau hanya orang yang gagal dalam pekerjaan yang merugi. Allah menyatakan bahwa manusia berada dalam kerugian, kecuali mereka yang mengisi hidup dengan iman, amal saleh, kebenaran, dan kesabaran. Pada kesempatan yang mulia ini, marilah kita merenungkan empat perkara yang dapat merugikan manusia menurut ajaran Islam.
Pertama: Umur yang berlalu tanpa amal saleh. Kerugian pertama adalah umur yang panjang, tetapi tidak membawa kita semakin dekat kepada Allah. Kita sering mengeluh kekurangan waktu. Namun, tanpa terasa, berjam-jam dapat kita habiskan untuk perkara yang tidak bermanfaat. Kita bisa begitu sibuk mengejar dunia, tetapi menunda salat. Kita begitu serius merencanakan masa depan, tetapi lupa mempersiapkan kematian. Rasulullah saw. bersabda:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu karenanya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari, no. 6412).
Hadis ini mengingatkan kita bahwa kesehatan dan waktu luang merupakan nikmat besar yang sering baru disadari nilainya setelah hilang. Saat sehat, kita menunda salat sunah. Saat memiliki waktu, kita menunda membaca Al-Qur’an. Saat orang tua masih hidup, kita menunda membahagiakan mereka. Saat kesempatan meminta maaf terbuka, kita justru mempertahankan kesombongan. Kemudian datanglah sakit. Datanglah kesibukan. Datanglah kematian. Barulah kita menyadari bahwa kesempatan yang dahulu kita anggap biasa ternyata sangat berharga. Allah Swt. menggambarkan penyesalan manusia ketika kematian datang dalam Surah Al-Munafiqun ayat 10:
رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ
“Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda kematianku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang saleh.”
Jamaah yang dirahmati Allah, Perhatikan permintaan orang yang telah mendekati kematian itu. Ia tidak meminta dikembalikan untuk membeli rumah yang lebih besar. Ia tidak meminta waktu tambahan untuk mendapatkan jabatan yang lebih tinggi. Ia ingin kembali agar dapat bersedekah dan menjadi orang saleh.
Mengapa? Karena pada saat itulah ia memahami bahwa amal saleh jauh lebih berharga daripada banyak perkara yang selama hidupnya ia kejar. Maka jangan tunggu sakit untuk beribadah. Jangan tunggu tua untuk bertobat. Jangan tunggu kehilangan untuk menghargai orang-orang yang kita cintai. Selagi napas masih berembus, pintu amal masih terbuka. Selagi mata masih dapat melihat, bacalah Al-Qur’an. Selagi kaki masih mampu melangkah, datangilah masjid. Selagi orang tua masih hidup, bahagiakanlah mereka.
Bayangkan seorang pedagang yang setiap pagi menerima modal seratus keping emas. Namun, modal itu hanya berlaku untuk satu hari. Apa yang tidak ia gunakan pada hari itu akan hilang selamanya. Pedagang yang bijak akan menggunakan modalnya untuk menghasilkan keuntungan. Ia tidak akan membiarkan seluruh modalnya lenyap tanpa hasil. Begitulah gambaran umur kita. Setiap hari, jatah hidup kita berkurang. Kita tidak dapat menyimpan hari ini untuk digunakan kembali esok hari. Kita tidak dapat membeli kembali masa muda yang telah berlalu. Maka tanyakan kepada diri kita: Jika hari ini adalah salah satu lembar terakhir kehidupan kita, amal apa yang sudah kita persiapkan untuk menghadap Allah?
Kedua: Ilmu yang tidak diamalkan. Kerugian kedua adalah ketika seseorang memiliki ilmu, tetapi ilmunya tidak mengubah perilakunya. Ia mengetahui bahwa salat adalah kewajiban, tetapi masih meremehkannya. Ia mengetahui bahwa ghibah adalah dosa, tetapi lisannya tetap menyakiti orang lain. Ia mengetahui bahwa kejujuran adalah perintah agama, tetapi masih berdusta ketika berdagang. Ia pandai memberikan nasihat, tetapi lupa menasihati dirinya sendiri. Allah Swt. berfirman dalam Surah Ash-Shaff ayat 2–3:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Sangat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.”
Ayat ini bukan berarti kita harus berhenti menasihati orang lain sebelum diri kita sempurna. Tidak ada manusia yang sempurna. Namun, ayat ini mengingatkan kita agar jangan menjadikan nasihat hanya sebagai ucapan, melainkan juga sebagai pedoman untuk memperbaiki diri. Rasulullah saw. juga mengajarkan agar kita berlindung dari ilmu yang tidak memberikan manfaat. Dalam sebuah hadis disebutkan:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat.” (HR. Muslim, no. 2722).
Jamaah yang dimuliakan Allah, Ilmu seharusnya melahirkan kerendahan hati, bukan kesombongan. Ilmu seharusnya memperbaiki akhlak, bukan membuat seseorang merasa paling benar. Ilmu seharusnya mendekatkan kita kepada Allah, bukan membuat kita pandai mencari alasan untuk membenarkan kesalahan. Jangan sampai lisan kita fasih berbicara tentang surga, tetapi perilaku kita justru menjauh dari jalan menuju surga. Jangan sampai kita hafal banyak dalil tentang kejujuran, tetapi orang lain tidak dapat mempercayai perkataan kita. Ilmu yang bermanfaat bukan hanya ilmu yang memenuhi pikiran, melainkan ilmu yang membimbing tindakan.
Karena itu, setiap kali kita mempelajari satu ayat, satu hadis, atau satu nasihat agama, tanyakanlah: Perubahan apa yang akan saya lakukan setelah mengetahui ini? Jika kita belajar tentang kesabaran, bersabarlah. Jika kita belajar tentang sedekah, bersedekahlah. Jika kita belajar tentang berbakti kepada orang tua, segeralah membahagiakan mereka. Jangan menunggu menjadi sempurna untuk berbuat baik. Mulailah mengamalkan apa yang telah kita ketahui, sambil terus belajar dan memperbaiki diri.
Ketiga: Harta yang dikumpulkan, tetapi melupakan keberkahan. Kerugian ketiga adalah ketika manusia begitu sibuk mengumpulkan harta hingga lupa kepada Allah, lupa kepada keluarga, dan lupa kepada sesama. Ada orang yang bekerja siang dan malam demi mendapatkan penghasilan, tetapi salatnya terbengkalai. Ada orang yang hartanya bertambah, tetapi kejujurannya berkurang. Ada pula orang yang memiliki banyak harta, tetapi sangat berat mengeluarkan sedikit saja untuk membantu orang yang membutuhkan.
Islam tidak melarang umatnya menjadi kaya. Harta yang halal dapat menjadi sarana beribadah, menafkahi keluarga, membantu fakir miskin, membangun pendidikan, dan memberikan manfaat kepada masyarakat. Yang berbahaya adalah ketika harta menjadi tujuan tertinggi, sehingga manusia rela mengorbankan prinsip agama demi mendapatkannya.Allah Swt. berfirman dalam Surah At-Takatsur ayat 1–2:
أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ
“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.”
Betapa dalam makna ayat ini, jamaah sekalian. Manusia berlomba-lomba memperbanyak kekayaan, memperbesar rumah, meninggikan jabatan, dan membanggakan kedudukan. Terkadang, perlombaan itu terus berlangsung sampai kematian datang menghentikannya. Ketika seseorang meninggal dunia, rumah yang dibangunnya tidak ikut masuk ke dalam kubur. Kendaraan yang dibanggakannya tidak ikut mengantarkannya ke akhirat. Jabatan yang diperjuangkannya tidak lagi dapat menyelamatkannya.
Harta yang ditinggalkan akan menjadi milik ahli waris. Adapun amal yang telah dilakukan, itulah yang diharapkan menjadi bekal di hadapan Allah. Rasulullah saw. bersabda:
يَقُولُ ابْنُ آدَمَ: مَالِي مَالِي. قَالَ: وَهَلْ لَكَ يَا ابْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ إِلَّا مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ، أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ، أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ؟
“Anak Adam berkata, ‘Hartaku, hartaku!’ Padahal, tidak ada bagian dari hartanya kecuali apa yang ia makan lalu habis, apa yang ia pakai lalu usang, atau apa yang ia sedekahkan lalu menjadi bekal.” (HR. Muslim, no. 2958; terjemahan disederhanakan).
Jamaah yang dirahmati Allah, Hadis ini mengajak kita mengubah cara pandang terhadap kekayaan. Harta bukan sekadar sesuatu yang kita kumpulkan, melainkan amanah yang harus kita pertanggungjawabkan. Boleh jadi, uang yang kita keluarkan untuk membantu seorang anak yatim menjadi sebab kebahagiaan kita di akhirat. Boleh jadi, makanan yang kita berikan kepada tetangga yang kelaparan menjadi amal yang sangat berharga di sisi Allah. Boleh jadi, kejujuran kita dalam berdagang, meskipun membuat keuntungan lebih sedikit, justru mendatangkan keberkahan dalam kehidupan. Sebaliknya, harta yang diperoleh melalui penipuan, korupsi, riba yang diharamkan, atau mengambil hak orang lain bukanlah jalan menuju keselamatan.
Karena itu, marilah kita mencari rezeki yang halal, menunaikan zakat, memperbanyak sedekah, dan menafkahi keluarga dengan penuh tanggung jawab. Ingatlah, kekayaan sejati bukanlah sekadar banyaknya yang kita miliki, tetapi baiknya cara kita memperoleh, menggunakan, dan mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah.
Dikisahkan dalam hadis sahih, ketika Rasulullah saw. bertanya kepada Aisyah r.a. tentang seekor kambing yang telah disedekahkan, Aisyah menjelaskan bahwa sebagian besar kambing itu telah dibagikan dan hanya bagian pahanya yang tersisa. Rasulullah saw. kemudian bersabda:
بَقِيَ كُلُّهَا غَيْرَ كَتِفِهَا
“Yang tersisa justru semuanya, kecuali bagian pahanya.” (HR. Tirmidzi, no. 2470; dinilai sahih oleh sejumlah ulama hadis).
Maksudnya, bagian yang telah disedekahkan itulah yang menjadi simpanan pahala, sedangkan bagian yang masih tersisa akan habis dimakan, betapa berbeda cara pandang dunia dengan cara pandang iman. Dunia mengajarkan kita bahwa yang tersimpan di lemari adalah milik kita. Iman mengajarkan bahwa apa yang kita keluarkan di jalan Allah tidak hilang begitu saja, melainkan kita harapkan menjadi bekal akhirat.
Maka, jangan takut menjadi orang yang gemar memberi. Jangan merasa miskin hanya karena berbagi. Selama diberikan dengan ikhlas dan sesuai kemampuan, kebaikan yang kecil pun dapat bernilai besar di sisi Allah.
Keempat: Hati yang lalai dan jauh dari mengingat Allah. Inilah kerugian yang paling mengkhawatirkan: ketika tubuh masih hidup, tetapi hati semakin jauh dari Allah. Seseorang mungkin memiliki umur panjang, ilmu tinggi, dan harta berlimpah. Namun, jika hatinya dipenuhi kesombongan, iri hati, kebencian, dan kecintaan berlebihan kepada dunia, semua itu dapat menjauhkannya dari ketenangan dan ketaatan. Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-Hasyr ayat 19:
وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang melupakan Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik.”
Melupakan Allah bukan sekadar lupa menyebut nama-Nya. Kelalaian itu juga tampak ketika seseorang mengetahui kewajiban agama tetapi sengaja mengabaikannya, ketika ia berbuat zalim tanpa merasa bersalah, atau ketika ia terus mengejar dunia tanpa memikirkan pertanggungjawaban akhirat. Rasulullah saw. bersabda:
مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لَا يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ
“Perumpamaan orang yang mengingat Tuhannya dan orang yang tidak mengingat Tuhannya adalah seperti orang yang hidup dan orang yang mati.” (HR. Bukhari, no. 6407).
Jamaah rahimakumullah, Hati yang hidup adalah hati yang masih dapat tersentuh oleh ayat-ayat Allah, yang merasa bersalah ketika berbuat dosa, yang bersyukur ketika mendapat nikmat, dan yang kembali bertobat ketika melakukan kesalahan. Sebaliknya, hati yang lalai dapat membuat seseorang terbiasa melakukan kesalahan tanpa penyesalan.
Ketika mendengar azan, ia tidak tergerak untuk salat. Ketika melihat orang miskin, ia tidak tergerak untuk membantu. Ketika menyakiti orang lain, ia tidak merasa perlu meminta maaf. Ketika kematian menimpa tetangganya, ia hanya bersedih sesaat, kemudian kembali hidup seolah-olah kematian tidak akan pernah mendatanginya. Padahal, kematian adalah kepastian bagi setiap manusia. Allah Swt. berfirman dalam Surah Ar-Ra‘d ayat 28:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
Jangan kita salah memahami ayat ini. Zikir bukan sekadar ucapan di lisan, tetapi juga harus disertai keimanan, ketaatan, dan usaha memperbaiki diri. Kita berzikir dengan lisan, mengingat Allah dengan hati, dan membuktikannya melalui perilaku. Jika hati terasa keras, dekatilah Al-Qur’an. Jika hidup terasa jauh dari keberkahan, periksalah kembali salat dan hubungan kita dengan sesama. Jika dosa terasa biasa, segeralah bertobat sebelum hati semakin terbiasa dengannya. Jangan sampai kita dikenal manusia sebagai orang yang sukses, tetapi tidak berusaha menjadi hamba yang dicintai Allah.
Jamaah yang dimuliakan Allah, Jangan menunggu musibah untuk kembali kepada Allah. Jangan menunggu kehilangan untuk belajar bersyukur. Jangan menunggu ajal mendekat untuk meminta ampun. Mulailah hari ini. Perbaiki salat kita. Bersihkan hati kita. Perbaiki hubungan kita dengan keluarga dan sesama. Perbanyak istigfar. Dan jangan pernah meremehkan satu kebaikan pun. Semoga umur kita menjadi ladang amal, ilmu kita menjadi cahaya, harta kita menjadi jalan kebaikan, dan hati kita senantiasa hidup dalam ketaatan kepada Allah Swt.
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
Khutbah Kedua
الحمد للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا. أَمَّا بَعْدُ:فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًااللهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِىّ وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَاَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِين وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِيْ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِيْ اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَعِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر