Khutbah Jum'at: Kita Sibuk Menyiapkan Masa Depan, Tetapi Sudahkah Menyiapkan Kematian?
Khutbah pertama
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيَ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
Jamaah Jumat rahimakumullah
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan sebenar-benarnya takwa, yaitu dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Sebab, takwa adalah sebaik-baik bekal yang harus kita persiapkan untuk menjalani kehidupan di dunia sekaligus perjalanan panjang menuju kehidupan akhirat.
Pada kesempatan yang mulia ini, marilah kita bersama-sama merenungkan satu perkara yang sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan kita, tetapi sering kali kita hindari untuk membicarakannya. Perkara tersebut adalah kematian. Izinkan saya mengawali khutbah ini dengan sebuah pertanyaan yang sederhana, tetapi mudah-mudahan dapat mengetuk hati kita. Jika malam ini kita diberi tahu bahwa besok kita tidak lagi berada di dunia, apa yang paling ingin kita selesaikan hari ini? Cukup kita jawab dalam hati masing-masing.
Mungkin ada di antara kita yang tiba-tiba teringat utang. Ada yang teringat anak-anak dan keluarga. Ada yang teringat suami atau istri. Ada yang teringat orang tua. Ada yang teringat saudara atau sahabat. Ada pula yang tiba-tiba teringat seseorang yang selama ini belum kita mintai maaf. Bahkan mungkin ada yang berkata dalam hati, "Ya Allah, ternyata amal saya masih sedikit. Ya Allah, ternyata salat saya masih sering saya lalaikan. Ya Allah, ternyata selama ini saya terlalu sibuk mengejar dunia dan terlalu sedikit mempersiapkan akhirat."
Jamaah Jumat rahimakumullah
Begitulah kehidupan kita. Kita begitu sibuk mempersiapkan masa depan. Kita bekerja keras karena ingin masa depan yang lebih baik. Kita menabung untuk masa depan. Kita membangun rumah untuk masa depan. Kita menyekolahkan anak-anak untuk masa depan mereka. Kita memikirkan kesehatan agar kelak dapat menikmati masa tua. Kita merencanakan usaha, pekerjaan, pendidikan, keluarga, dan berbagai kebutuhan hidup. Bahkan tidak sedikit di antara kita yang rela bekerja bertahun-tahun, mengorbankan waktu, tenaga, bahkan berutang demi sesuatu yang menurut kita penting untuk masa depan.
Namun ada satu masa depan yang terkadang kita lupakan, yaitu masa depan setelah kematian. Padahal, masa depan dunia yang kita rencanakan belum tentu kita sampai kepadanya. Kita merencanakan apa yang akan kita lakukan tahun depan, tetapi belum tentu kita sampai pada tahun depan. Kita merencanakan masa tua, tetapi belum tentu kita sampai pada usia tua. Kita merencanakan pensiun, tetapi belum tentu kita sampai pada masa pensiun. Kita merencanakan banyak hal untuk kehidupan kita, tetapi tidak seorang pun mengetahui apakah dirinya masih memiliki kesempatan untuk menjalankan semua rencana tersebut.
Akan tetapi, ada satu kepastian yang tidak mungkin kita hindari. Cepat atau lambat, kematian pasti akan datang menjemput kita. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ
"Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian."(QS. Ali 'Imran: 185).
Jamaah Jumat rahimakumullah, Perhatikanlah firman Allah tersebut. Allah tidak mengatakan hanya orang sakit yang akan mati. Allah tidak mengatakan hanya orang tua yang akan mati. Allah tidak mengatakan hanya orang miskin yang akan mati. Allah juga tidak mengatakan hanya orang kaya yang akan mati. Akan tetapi Allah berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ
"Setiap yang bernyawa."
Artinya, tidak ada seorang pun yang dikecualikan dari kematian. Kematian bukan persoalan apakah kita siap atau tidak. Kematian adalah sebuah kepastian. Yang menjadi persoalan adalah ketika kematian itu datang, dalam keadaan seperti apa kita akan menghadap Allah Subhanahu wa Ta'ala?
Apakah kita sedang berada dalam ketaatan atau justru sedang melakukan kemaksiatan? Apakah kita sedang menjaga salat atau justru meninggalkannya? Apakah kita sudah bertaubat atau masih menunda-nunda taubat? Apakah kita masih membawa utang yang belum diselesaikan? Apakah kita masih menyimpan permusuhan dan dendam kepada orang lain? Apakah kita sudah meminta maaf kepada orang-orang yang pernah kita sakiti? Inilah yang seharusnya menjadi renungan bagi kita semua. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an:
الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
"Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata, 'Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami akan kembali.'" (QS. Al-Baqarah: 156).
Kalimat إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
bukan hanya kalimat yang kita ucapkan ketika mendengar seseorang meninggal dunia. Kalimat tersebut mengingatkan kita tentang hakikat kehidupan. Kita adalah milik Allah dan kepada Allah pula kita akan kembali. Kita datang ke dunia dengan izin Allah, kita hidup dengan nikmat dan pertolongan Allah, kita memiliki kesehatan karena karunia Allah, kita memiliki keluarga karena karunia Allah, kita memiliki harta karena pemberian Allah, dan pada waktunya nanti seluruhnya akan kembali kepada Allah. Karena itu, jangan sampai ketika Allah memberikan kenikmatan kepada kita, kita justru melupakan Dzat yang memberikan nikmat tersebut.
Jamaah Jumat rahimakumullah
Ada sebuah kisah yang sangat terkenal yang disampaikan Rasulullah ﷺ tentang tiga orang dari kalangan Bani Israil. Dahulu ada seseorang yang menderita penyakit kulit, ada seseorang yang mengalami kebotakan, dan ada seseorang yang mengalami kebutaan. Kemudian Allah memberikan kesembuhan dan kenikmatan kepada mereka. Orang yang dahulu sakit menjadi sehat, orang yang dahulu kekurangan menjadi berkecukupan, dan orang yang dahulu buta mendapatkan kembali kehidupan yang jauh lebih baik. Allah juga memberikan harta kepada mereka.
Kemudian datanglah malaikat kepada masing-masing orang tersebut untuk menguji mereka. Malaikat bertanya tentang keadaan mereka sebelum mendapatkan nikmat dari Allah. Dua orang di antara mereka justru mengingkari keadaan mereka dahulu. Mereka seolah-olah lupa bahwa mereka pernah sakit dan pernah berada dalam kesulitan. Namun orang yang dahulu buta menjawab dengan jujur. Ia mengakui bahwa dahulu dirinya memang seorang yang buta, kemudian Allah menyembuhkannya dan memberikan harta kepadanya.
Jamaah yang dimuliakan Allah
Kisah tersebut mengajarkan kepada kita sebuah pelajaran yang sangat dalam. Ketika kehidupan kita berubah menjadi lebih baik, jangan sampai kita melupakan Allah yang telah mengubah kehidupan kita. Ketika kita sehat, jangan lupa bahwa dahulu kita pernah sakit. Ketika kita berkecukupan, jangan lupa bahwa dahulu kita pernah mengalami kekurangan. Ketika usaha kita berkembang, jangan lupa bahwa rezeki tersebut berasal dari Allah. Ketika kita mendapatkan jabatan, jangan lupa bahwa jabatan itu hanya sementara. Ketika kita memiliki rumah, kendaraan, usaha, tabungan, dan keluarga yang kita cintai, jangan sampai kita lupa bahwa semua itu hanyalah titipan Allah.
Sebab pada suatu saat nanti, semuanya akan kita tinggalkan. Rumah yang kita bangun dengan susah payah akan ditempati orang lain. Kendaraan yang kita rawat dengan baik akan dikendarai orang lain. Uang yang kita kumpulkan sedikit demi sedikit akan berpindah tangan. Jabatan yang kita banggakan akan diberikan kepada orang lain. Bahkan tubuh yang selama ini kita jaga pun pada akhirnya akan kembali menjadi tanah. Lalu apa yang benar-benar akan mengikuti kita? Amal kita. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
"Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya." (HR. Muslim).
Maka marilah kita bertanya kepada diri kita masing-masing: Apa yang akan tetap mengalir setelah kita tidak ada? Apa yang akan kita tinggalkan setelah kita meninggalkan dunia?Mungkin kita tidak memiliki banyak harta. Tidak mengapa. Kita bisa bersedekah sesuai dengan kemampuan kita. Mungkin kita bukan seorang ulama. Tidak mengapa. Kita bisa mengajarkan ilmu yang bermanfaat. Mungkin kita tidak memiliki jabatan tinggi. Tidak mengapa. Kita bisa mendidik anak-anak kita menjadi anak yang saleh dan salehah. Kita bisa mengajarkan mereka salat. Kita bisa mengajarkan mereka membaca Al-Qur'an. Kita bisa mengajarkan kejujuran, kesabaran, kasih sayang, dan akhlak yang baik.
Jangan pernah merasa bahwa kebaikan yang kita lakukan terlalu kecil. Bisa jadi sesuatu yang kita anggap sederhana justru menjadi amal yang besar di sisi Allah karena keikhlasan di dalamnya.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Salah satu kesalahan manusia adalah terlalu sering mengatakan "nanti." Nanti kalau sudah tua saya akan lebih rajin beribadah.Nanti kalau bisnis sudah selesai saya akan lebih banyak bersedekah. Nanti kalau anak-anak sudah besar saya akan lebih banyak ke masjid. Nanti kalau sudah pensiun saya akan memperbanyak membaca Al-Qur'an.
Tetapi pertanyaannya adalah: Siapa yang menjamin kita akan sampai kepada kata "nanti" tersebut? Berapa banyak orang yang pagi harinya masih membuat rencana, tetapi sore harinya sudah tidak ada? Berapa banyak orang yang malam harinya masih berbicara dengan keluarganya, tetapi pagi harinya sudah dipanggil oleh Allah? Berapa banyak orang yang masih berkata, "Besok saya akan bertaubat," tetapi ternyata tidak pernah bertemu dengan hari esok?
Karena itu, jangan menunggu tua untuk berubah menjadi baik. Jadilah baik selagi masih muda. Jangan menunggu sakit untuk mengingat Allah. Ingatlah Allah selagi kita masih sehat. Jangan menunggu kehilangan untuk menyayangi keluarga. Sayangi mereka selagi masih ada. Jangan menunggu berada di pemakaman untuk mengingat kematian. Ingatlah kematian ketika kita masih berada di rumah. Dan jangan menunggu ajal mendekat untuk bertaubat kepada Allah. Bertaubatlah selagi pintu taubat masih terbuka.
Jamaah Jumat rahimakumullah
Hari ini kita masih diberi kesempatan. Kita masih bisa bersujud. Kita masih bisa mengangkat tangan dan berdoa. Kita masih bisa membaca Al-Qur'an. Kita masih bisa meminta maaf kepada orang tua. Kita masih bisa memeluk anak-anak kita. Kita masih bisa meminta maaf kepada pasangan. Kita masih bisa melunasi utang. Kita masih bisa bersedekah. Kita masih bisa memperbaiki salat. Kita masih bisa meninggalkan maksiat. Kita masih bisa memperbaiki hubungan dengan saudara. Dan yang paling penting, kita masih bisa bertaubat kepada Allah.
Sebab akan tiba waktunya ketika manusia ingin kembali ke dunia, bukan untuk membeli rumah yang lebih besar, bukan untuk membeli kendaraan yang lebih mahal, bukan untuk mengejar jabatan yang lebih tinggi, tetapi mungkin hanya untuk berkata, "Ya Allah, kembalikan aku sebentar saja. Aku ingin memperbaiki amal." Allah Subhanahu wa Ta'ala menggambarkan penyesalan orang yang telah menghadapi kematian:
رَبِّ ارْجِعُونِ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ
"Ya Tuhanku, kembalikanlah aku ke dunia agar aku dapat berbuat kebajikan terhadap apa yang telah aku tinggalkan." (QS. Al-Mu'minun: 99–100).
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, Selama Allah masih memberikan kita umur, berarti Allah masih memberikan kita kesempatan. Kesempatan untuk berubah, kesempatan untuk bertaubat, kesempatan untuk memperbaiki hubungan, kesempatan untuk memperbanyak amal, kesempatan untuk melunasi utang, kesempatan untuk berbuat baik kepada orang tua, kesempatan untuk mendidik keluarga, dan kesempatan untuk mempersiapkan kepulangan kita menghadap Allah Subhanahu wa Ta'ala.Rasulullah ﷺ bersabda:
أَكْيَسُهُمْ أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا، وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا، أُولَئِكَ الْأَكْيَاسُ
"Orang yang paling cerdas adalah orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik mempersiapkan diri untuk kehidupan setelah kematian." (HR. Ibnu Majah).
Jamaah Jumat rahimakumullah, Kita tidak tahu kapan kematian akan datang, tetapi kita tahu bahwa kematian pasti datang. Karena itu, jangan hanya sibuk menyiapkan masa depan anak-anak kita, tetapi siapkan pula masa depan kita sendiri setelah kematian. Jangan hanya menyiapkan rumah untuk tempat tinggal di dunia, tetapi siapkan amal untuk tempat tinggal di akhirat. Jangan hanya takut kehilangan dunia, tetapi takutlah apabila kita kehilangan kesempatan untuk mendapatkan rahmat Allah.
Bekerjalah untuk kehidupan dunia, tetapi jangan lupakan akhirat. Bangunlah rumah untuk keluarga, tetapi bangun pula keluarga yang dekat dengan Allah. Kumpulkanlah harta dengan cara yang halal, tetapi jangan lupa menyisihkan sebagian untuk bersedekah. Didiklah anak-anak agar sukses di dunia, tetapi jangan lupa mendidik mereka agar mengenal Allah dan mencintai agama-Nya.
Pada akhirnya, marilah kita kembali bertanya kepada diri sendiri: Jika hari ini adalah hari terakhir kita di dunia, apakah kita sudah siap menghadap Allah? Jika jawabannya belum, maka hari ini adalah waktu yang tepat untuk mulai memperbaikinya. Semoga Allah memberikan kita umur yang penuh keberkahan, memberikan kita kekuatan untuk bertaubat sebelum ajal tiba, mengampuni dosa-dosa kita, memperbaiki salat kita, memperbaiki keluarga kita, memberikan rezeki yang halal dan berkah, serta menjadikan harta dan kehidupan dunia yang kita miliki sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada-Nya.
Ketika malaikat maut datang menjemput kita, kita berada dalam keadaan yang Allah ridhai. Dan Allah memberikan kepada kita husnul khatimah, mengampuni dosa-dosa kita, melapangkan kubur kita, menerangi kubur kita, menerima amal-amal kita, menyelamatkan kita dari azab kubur dan azab neraka, serta mempertemukan kita kembali dengan orang-orang yang kita cintai di dalam surga-Nya. Aamiin.
اللَّهُمَّ اخْتِمْ لَنَا بِحُسْنِ الْخَاتِمَةِ، وَلَا تَخْتِمْ عَلَيْنَا بِسُوْءِ الْخَاتِمَةِ.
أَقُوْلُ قَوْلِي هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah kedua
الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا، وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا، وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ حُسْنَ الْخَاتِمَةِ، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ سُوْءِ الْخَاتِمَةِ.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِيْ إِلَيْهَا مَعَادُنَا.
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي أَعْمَارِنَا وَأَوْقَاتِنَا وَأَرْزَاقِنَا، وَاجْعَلْ أَعْمَارَنَا زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلْ مَوْتَنَا رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ.
اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا قَلْبًا خَاشِعًا، وَلِسَانًا ذَاكِرًا، وَعَمَلًا صَالِحًا مُتَقَبَّلًا.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَبْنَاءَنَا وَبَنَاتِنَا، وَاجْعَلْهُمْ أَبْنَاءً صَالِحِيْنَ، وَاجْعَلْهُمْ قُرَّةَ عَيْنٍ لَنَا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ.
اللَّهُمَّ ارْحَمْ وَالِدَيْنَا كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا.
اللَّهُمَّ مَنْ كَانَ مِنَّا مَرِيْضًا فَاشْفِهِ، وَمَنْ كَانَ مِنَّا مُبْتَلًى فَعَافِهِ، وَمَنْ كَانَ مِنَّا فِي ضِيْقٍ فَفَرِّجْ عَنْهُ، وَمَنْ كَانَ مِنَّا فِي دَيْنٍ فَاقْضِ عَنْهُ دَيْنَهُ.
اللَّهُمَّ اقْضِ حَوَائِجَنَا، وَيَسِّرْ أُمُوْرَنَا، وَبَارِكْ فِي أَهْلِنَا وَأَوْلَادِنَا وَأَرْزَاقِنَا.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ.
عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَ