Logo PWM Sulbar
Khutbah Jum'at

Khutbah Jum’at: Menjaga Hati Dari Tipu Daya Dunia Dan Belajar Merasa Cukup

Oleh: H. Ismail Ibrahim, S.Pd.I.,M.Pd.I.
01 October 2026
Khutbah Jum’at: Menjaga Hati Dari Tipu Daya Dunia Dan Belajar Merasa Cukup

Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.

Jamaah Jum’at rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Pada kesempatan yang mulia ini, marilah kita merenungkan satu perkara yang sering kali tidak kita sadari dalam kehidupan kita sehari-hari, yaitu bagaimana setan berusaha memengaruhi keinginan manusia.

Dalam kehidupan ini, ada sesuatu yang sebenarnya biasa saja, tetapi tiba-tiba terlihat begitu menarik. Sesuatu yang sebelumnya tidak pernah kita pikirkan, tiba-tiba terasa begitu penting. Sesuatu yang sebelumnya tidak kita butuhkan, tiba-tiba terasa seolah-olah harus kita miliki. Mengapa hal itu bisa terjadi? Salah satu sebabnya adalah karena setan berusaha menghiasi sesuatu di dalam pandangan manusia, sehingga yang sebenarnya biasa terlihat luar biasa, yang sebenarnya tidak penting terlihat sangat penting, dan yang sebenarnya hanya keinginan terasa seperti kebutuhan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيلِ فَهُمْ لَا يَهْتَدُونَ

“Dan setan menjadikan mereka memandang baik perbuatan-perbuatan mereka, lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak mendapat petunjuk.” (QS. An-Naml: 24).

Perhatikan ayat ini. Setan tidak selalu datang dengan mengatakan, “Lakukanlah keburukan!” Kadang setan datang dengan cara yang jauh lebih halus. Ia membuat sesuatu yang berlebihan terlihat wajar. Ia membuat sesuatu yang tidak terlalu penting terlihat sangat penting. Ia membuat manusia berkata dalam hatinya: “Saya harus punya ini.” Kemudian setelah mendapatkannya, muncul lagi bisikan: “Masih kurang. Cari yang lebih bagus.” Setelah mendapatkan yang lebih bagus, muncul lagi: “Masih ada yang lebih tinggi.” 

Begitulah keinginan manusia apabila tidak dikendalikan. Keinginan yang tidak dijaga dapat berubah menjadi keserakahan. Dan keserakahan yang terus dipelihara dapat membuat seseorang lupa bahwa hidup di dunia ini hanyalah sementara. Islam tidak melarang kita menjadi tampan atau cantik. Islam tidak melarang kita memiliki rumah yang baik, kendaraan yang layak, harta yang banyak, ataupun jabatan yang tinggi.

Semua itu bisa menjadi nikmat dari Allah. Bahkan, jika digunakan dengan benar, semua itu dapat menjadi sarana untuk melakukan kebaikan. Yang menjadi masalah bukan ketika kita memiliki dunia, tetapi ketika dunia mulai menguasai hati kita. Allah tidak melarang kita memiliki dunia. Tetapi Allah mengingatkan agar dunia jangan sampai memiliki hati kita. Lihatlah bagaimana seseorang mengejar penampilan. Tampil gagah atau cantik bukanlah dosa. Menjaga kebersihan dan penampilan juga merupakan bagian dari kebaikan. Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ

“Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan.” (HR. Muslim).

Namun, keindahan harus tetap berada di bawah kendali iman. Jangan sampai keindahan berubah menjadi kesombongan. Jangan sampai seseorang menghabiskan seluruh hidupnya hanya untuk mendapatkan pujian manusia. Jangan sampai penampilan menjadi sumber kesombongan. Dan jangan sampai keindahan menjadi pintu menuju kemaksiatan. Sebab yang Allah lihat bukan sekadar wajah dan pakaian kita. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim).

Maka jangan sampai kita sibuk memperindah wajah, tetapi lupa memperindah hati. Jangan sampai pakaian semakin indah, tetapi akhlak semakin buruk. Jangan sampai penampilan semakin menarik, tetapi hubungan dengan Allah semakin jauh. Karena sesungguhnya nilai seorang manusia di hadapan Allah bukan ditentukan oleh apa yang terlihat dari luar, tetapi oleh apa yang ada di dalam hati dan amalnya.

Kalau penampilan saja dapat menjadi pintu masuk bagi keinginan yang berlebihan, demikian pula dengan harta. Bahkan, dalam urusan harta, manusia sering kali diuji dengan satu perkara yang sangat halus: sulit merasa cukup. Awalnya seseorang berkata: “Saya punya satu rumah saja sudah cukup.” Setelah memiliki satu rumah, muncul keinginan memiliki rumah kedua. Setelah memiliki kendaraan, ingin kendaraan yang lebih mahal. Setelah mendapatkan sejumlah harta, ingin jumlah yang lebih banyak. Sekali lagi, masalahnya bukan memiliki harta. Masalahnya adalah ketika hati tidak pernah mengatakan cukup. Rasulullah ﷺ memberikan gambaran yang sangat dalam:

لَوْ أَنَّ لِابْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ، وَلَنْ يَمْلَأَ فَاهُ إِلَّا التُّرَابُ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ

“Seandainya anak Adam memiliki satu lembah emas, niscaya ia ingin memiliki dua lembah. Tidak ada yang memenuhi mulutnya kecuali tanah. Dan Allah menerima taubat orang yang bertaubat.” (HR. Bukhari dan Muslim). Perhatikan kalimat:

لَنْ يَمْلَأَ فَاهُ إِلَّا التُّرَابُ

“Tidak ada yang memenuhi mulutnya kecuali tanah.”

Ini mengingatkan kita bahwa apabila keinginan manusia dibiarkan tanpa kendali, maka keinginan itu hampir tidak memiliki batas. Punya sedikit ingin lebih banyak. Punya banyak ingin lebih banyak lagi. Sudah mendapatkan yang diinginkan, ingin mendapatkan yang lebih tinggi. Bukan karena kebutuhan selalu bertambah, tetapi karena keinginan yang terus dipelihara. Maka seorang Muslim perlu bertanya kepada dirinya: “Apakah yang saya kejar benar-benar kebutuhan, atau hanya keinginan yang terus dihiasi?”

Jamaah Jum’at rahimakumullah,

Selain penampilan dan harta, manusia juga dapat diuji dengan jabatan, kedudukan, dan popularitas. Ketika belum mempunyai jabatan, seseorang berkata: “Saya hanya ingin mengabdi.” Namun setelah mendapatkan jabatan, muncul keinginan untuk mempertahankannya. Ketika sudah dikenal, ingin semakin dikenal. Ketika sudah memiliki panggung, ingin mendapatkan panggung yang lebih besar. Padahal jabatan bukanlah kehormatan yang kekal. Jabatan adalah amanah yang suatu saat akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Rasulullah ﷺ bersabda kepada Abdurrahman bin Samurah radhiyallahu 'anhu:

يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ سَمُرَةَ، لَا تَسْأَلِ الْإِمَارَةَ، فَإِنَّكَ إِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا، وَإِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا

“Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau meminta jabatan kepemimpinan. Karena jika engkau diberi jabatan karena memintanya, engkau akan diserahkan kepadanya. Tetapi jika engkau diberi jabatan tanpa memintanya, engkau akan dibantu untuk menjalankannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadits ini bukan berarti seorang Muslim tidak boleh menerima amanah kepemimpinan. Namun hadits ini mengajarkan kepada kita agar jangan menjadikan jabatan sebagai tujuan hawa nafsu. Sebab jabatan yang dikejar karena ambisi dapat menjadi ujian yang berat. Semakin tinggi kedudukan seseorang, seharusnya semakin besar pula rasa takutnya kepada Allah. Semakin luas pengaruhnya, semakin besar pula tanggung jawabnya. Dan semakin banyak manusia yang mengikutinya, semakin berat pula pertanggungjawabannya di hadapan Allah.

Ada sebuah pelajaran yang sangat indah dari kehidupan Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu. Abu Bakar radhiyallahu 'anhu adalah manusia yang mulia. Beliau menjadi khalifah setelah Rasulullah ﷺ wafat. Namun, perhatikan bagaimana sikap beliau terhadap kedudukan dan dunia. Dikisahkan bahwa sebelum menjadi khalifah, Abu Bakar biasa membantu pekerjaan sebagian masyarakat, termasuk memerah susu kambing milik keluarga yang membutuhkan bantuan. Setelah beliau menjadi khalifah, ada seorang anak perempuan dari kalangan mereka yang berkata kurang lebih: “Sekarang beliau sudah menjadi khalifah, apakah beliau masih akan memerah susu untuk kami?” Ternyata Abu Bakar tetap melakukannya. Jabatan tidak membuat beliau merasa terlalu tinggi untuk melayani. Inilah pelajaran yang sangat besar bagi kita.

Semakin tinggi kedudukan seseorang, seharusnya semakin rendah hati dirinya di hadapan Allah dan semakin besar manfaatnya bagi manusia. Bukan jabatan yang membuat seseorang mulia. Bukan harta yang membuat seseorang mulia. Bukan wajah dan penampilan yang membuat seseorang mulia. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13).

Jamaah Jum’at rahimakumullah, Lalu bagaimana kita menghadapi berbagai keinginan yang ada di dalam diri kita? Ada beberapa hal yang perlu kita lakukan. 

Pertama, bedakan antara kebutuhan dan keinginan. Tidak semua yang kita inginkan harus kita miliki.Tidak semua yang sedang tren harus kita ikuti. Tidak semua yang dimiliki orang lain harus kita kejar. Sebelum membeli sesuatu, sebelum mengejar sesuatu, sebelum menginginkan sesuatu, tanyakan kepada diri kita: “Apakah saya benar-benar membutuhkan ini, atau hanya sedang mengikuti keinginan?”

Kedua, latihlah qana'ah. Qana'ah bukan berarti tidak boleh kaya. Qana'ah bukan berarti tidak boleh memiliki cita-cita. Qana'ah juga bukan berarti berhenti berusaha. Qana'ah berarti hati menerima apa yang Allah berikan, sambil tetap berusaha mendapatkan rezeki dengan cara yang halal. Rasulullah ﷺ bersabda:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ، وَرُزِقَ كَفَافًا، وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ

“Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang cukup, dan Allah menjadikannya merasa cukup dengan apa yang diberikan kepadanya.” (HR. Muslim).

Orang yang qana'ah bukan berarti tidak memiliki keinginan. Ia tetap memiliki cita-cita. Ia tetap bekerja. Ia tetap berusaha. Namun hatinya tidak diperbudak oleh keinginannya. Ia bekerja, tetapi tidak lupa beribadah. Ia mencari harta, tetapi tidak lupa bersedekah. Ia memiliki rumah, tetapi tidak lupa kepada pemilik rezeki. Ia memiliki jabatan, tetapi tidak lupa bahwa semua jabatan akan berakhir.

Ketiga, ingatlah kematian. Ketika keinginan dunia mulai terlalu besar, ingatlah bahwa semua yang kita kumpulkan pada akhirnya akan kita tinggalkan. Rumah akan ditinggalkan. Kendaraan akan ditinggalkan. Jabatan akan ditinggalkan. Popularitas akan ditinggalkan. Harta akan ditinggalkan. Yang akan ikut bersama kita hanyalah amal. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amal kebajikan yang terus-menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu dan lebih baik untuk menjadi harapan.”(QS. Al-Kahfi: 46).

Maka marilah kita bertanya kepada diri sendiri. Saya sebenarnya sedang mengejar apa? Apakah saya mengejar kebutuhan atau sekadar keinginan? Apakah saya mengejar ridha Allah atau pujian manusia? Apakah harta berada di tangan saya, atau justru hati saya yang berada di tangan harta? Apakah jabatan saya gunakan untuk melayani, atau justru saya hidup demi mempertahankan jabatan? Dan yang paling penting: Siapa yang sebenarnya mengendalikan keinginan saya?

Jangan sampai setan menghiasi dunia sedemikian rupa sehingga kita lupa kepada akhirat. Jangan sampai sesuatu yang awalnya hanya sarana berubah menjadi tujuan hidup. Jangan sampai kita memiliki banyak hal, tetapi kehilangan ketenangan. Jangan sampai rumah semakin besar, tetapi hati semakin sempit. Jangan sampai harta semakin banyak, tetapi sedekah semakin sedikit. Jangan sampai jabatan semakin tinggi, tetapi sujud semakin jarang. Jangan sampai nama semakin terkenal di bumi, tetapi nama kita semakin jauh dari mengingat Allah.

Maka marilah kita belajar merasa cukup. Bukan cukup dalam beribadah, karena ibadah harus terus kita tingkatkan. Bukan cukup dalam berbuat baik, karena kebaikan harus terus kita tambah. Tetapi cukup dalam urusan dunia, sehingga hati tidak terus-menerus diperbudak oleh keinginan. Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang mampu mengendalikan keinginan, bukan dikendalikan oleh keinginan.

Semoga Allah memberikan kepada kita rezeki yang halal dan berkah, hati yang qana'ah, jiwa yang tenang, serta kemampuan untuk menggunakan segala nikmat dunia sebagai jalan menuju keridhaan-Nya. Semoga Allah tidak menjadikan dunia sebagai tujuan terbesar dalam hidup kita, tetapi menjadikan dunia sebagai sarana untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia dan keselamatan di akhirat.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لله حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا اَمَرَ. اَشْهَدُ اَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ اِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ وَ كَفَرَ. وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ وَ حَبِيْبُهُ وَ خَلِيْلُهُ سَيِّدُ الْإِنْسِ وَ الْبَشَرِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِهِ وَ اَصْحَابِهِ وَ سَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.

اَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ الله اِتَّقُوْا الله وَ اعْلَمُوْا اَنَّ الله يُحِبُّ مَكَارِمَ الْأُمُوْرِ وَ يَكْرَهُ سَفَاسِفَهَا يُحِبُّ مِنْ عِبَادِهِ اَنْ يَّكُوْنُوْا فِى تَكْمِيْلِ اِسْلَامِهِ وَ اِيْمَانِهِ وَ اِنَّهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْفَاسِقِيْنَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ وَ سَلَّمْتَ وَ بَارَكْتَ عَلَى اِبْرَاهِيْمَ وَ عَلَى اَلِ اِبْرَاهِيْمَ فِى الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَ الْمُؤْمِنَاتِ وَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَ الْأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ وَ قَاضِيَ الْحَاجَاتِ. اَللَّهُمَّ رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ اِذْهَدَيْتَنَا وَ هَبْلَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً اِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ. رَبَّنَا لَا تَجْعَلْ فِى قُلُوْبَنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ اَمَنُوْا رَبَّنَا اِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَّحِيْمٌ. رَبَّنَا هَبْلَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَ ذُرِّيَّتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَ اجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا. رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ الله! اِنَّ الله يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَ الْإِحْسَانِ وَ اِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَ يَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَ الْمُنْكَرِ وَ الْبَغْىِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَّكَّرُوْنَ فَاذْكُرُوْا الله الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَ اشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَ لَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ وَ اللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ .

 

Chat WhatsApp