Logo PWM Sulbar
Khutbah Jum'at

Khutbah Jum'at : Rezeki yang Halal, Hati yang Amanah

Oleh: Muh. Fadli H..S.E.
09 October 2026
Khutbah Jum'at : Rezeki yang Halal, Hati yang Amanah

Khutbah Pertama

 

الْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.

 

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, nikmat, serta karunia-Nya kepada kita semua, sehingga pada hari yang mulia ini kita masih diberikan kesempatan, kesehatan, dan kekuatan untuk melaksanakan ibadah salat Jumat dalam keadaan iman dan Islam.

Marilah kita senantiasa memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT atas segala nikmat yang telah dianugerahkan kepada kita, baik nikmat iman, nikmat Islam, nikmat kesehatan, maupun nikmat rezeki yang tidak terhitung jumlahnya. Semoga segala nikmat tersebut senantiasa menjadikan kita hamba yang bersyukur dan semakin mendekatkan diri kepada-Nya.

Selawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, kepada keluarga beliau, para sahabat, serta seluruh umatnya yang istiqamah mengikuti sunah dan ajaran beliau hingga akhir zaman. Semoga kita semua mendapatkan syafaat beliau pada hari kiamat kelak. Amin ya Rabbal ‘alamin.

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang senantiasa bersyukur, diberikan rezeki yang halal, dan memiliki hati yang amanah.

Pada kesempatan yang mulia ini, marilah kita merenungkan satu persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari, yaitu tentang bagaimana kita mencari, memperoleh, dan menggunakan harta dalam kehidupan ini.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Setiap hari kita bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Ada yang pergi ke sawah, melaut, berdagang di pasar, bekerja di kantor, mengajar di sekolah, menjalankan usaha, dan ada pula yang berjuang mencari pekerjaan.

Semua itu merupakan bagian dari ikhtiar manusia untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan keluarganya.

Kita membutuhkan uang untuk membeli makanan, membayar biaya pendidikan anak, memenuhi kebutuhan rumah tangga, membayar pengobatan, dan mempersiapkan masa depan.

Islam tidak melarang kita menjadi kaya. Islam juga tidak melarang kita memiliki usaha yang besar dan kehidupan yang berkecukupan. Akan tetapi, Islam mengingatkan bahwa harta bukan hanya tentang berapa banyak yang kita kumpulkan, tetapi juga tentang bagaimana cara kita mendapatkannya.

Sebab, banyaknya harta tidak selalu menunjukkan keberkahan, sebagaimana sedikitnya harta tidak berarti seseorang jauh dari rahmat Allah.

Yang harus kita pertanyakan bukan hanya, “Berapa banyak penghasilan saya hari ini?”

Namun, kita juga harus bertanya, “Apakah penghasilan ini diperoleh dengan cara yang diridai Allah? Apakah di dalamnya ada hak orang lain yang saya abaikan? Apakah harta ini membawa kebaikan bagi keluarga saya?”

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Pertama, carilah rezeki dengan cara yang halal dan jujur.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 188:

وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ

Artinya: “Janganlah kamu memakan harta di antara kamu dengan jalan yang batil.”

Ayat ini mengingatkan kita agar tidak mengambil hak orang lain melalui cara yang tidak benar.

Dalam kehidupan sehari-hari, perbuatan itu bisa muncul dalam berbagai bentuk.

Seorang pedagang yang mengurangi timbangan demi memperoleh keuntungan lebih besar. Seorang pekerja yang sengaja memalsukan laporan pekerjaannya. Seseorang yang mengambil uang yang bukan haknya. Orang yang berutang tetapi sengaja tidak mau membayar meskipun mampu. Atau seseorang yang memanfaatkan jabatan untuk memperoleh keuntungan pribadi.

Mungkin secara lahiriah, uang itu bertambah. Mungkin orang lain tidak mengetahui perbuatannya. Bahkan, mungkin pelakunya merasa berhasil karena tidak pernah tertangkap.

Namun, jamaah sekalian, jangan kita mengukur keberhasilan hanya dari apa yang terlihat oleh manusia. Sebab, Allah Maha Mengetahui apa yang kita kerjakan.

Jangan sampai kita begitu takut kehilangan keuntungan di dunia, tetapi tidak takut kehilangan keberkahan dalam hidup kita.

Jangan sampai kita menginginkan anak-anak yang saleh, keluarga yang bahagia, dan kehidupan yang tenteram, tetapi kita mengabaikan kejujuran dalam mencari nafkah.

Mari kita ingat bahwa kejujuran terkadang membuat keuntungan terasa lebih kecil, tetapi kebohongan dapat merusak kepercayaan dan membawa kerugian yang jauh lebih besar.

Kedua, tunaikanlah setiap amanah, sekecil apa pun amanah itu.

Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 58:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا

Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.”

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Amanah bukan hanya urusan pemimpin atau pejabat. Amanah adalah urusan kita semua.

Orang tua memiliki amanah untuk mendidik dan menafkahi keluarganya sesuai kemampuannya. Anak memiliki tanggung jawab untuk menghormati orang tua. Pedagang memiliki amanah untuk berlaku jujur kepada pembeli. Pegawai memiliki amanah untuk menjalankan pekerjaannya dengan baik. Pengurus organisasi memiliki amanah terhadap tugas dan dana yang dipercayakan kepadanya.

Demikian pula siapa pun yang dipercaya mengelola uang, barang, jabatan, atau kepentingan masyarakat.

Jangan kita menganggap uang kantor sebagai uang yang tidak bertuan. Jangan kita menganggap dana organisasi sebagai kesempatan untuk memenuhi kepentingan pribadi. Jangan kita menganggap jabatan sebagai jalan untuk mendapatkan keuntungan tanpa tanggung jawab.

Sebab, sesuatu yang dipercayakan kepada kita bukan berarti sepenuhnya menjadi milik kita.

Rasulullah SAW bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Artinya: “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari, no. 7138).

Hadis ini mengajarkan bahwa setiap orang memiliki tanggung jawab sesuai dengan amanahnya.

Karena itu, jangan hanya bertanya, “Apa yang bisa saya dapatkan dari jabatan ini?” Namun, tanyakan juga, “Apa yang harus saya pertanggungjawabkan dari jabatan ini?”

Jangan hanya berpikir tentang keuntungan yang akan kita peroleh. Pikirkan pula tentang hak orang lain yang harus kita jaga.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Ketiga, jangan sampai kesibukan mencari uang membuat kita lupa kepada Allah dan keluarga.

Ada orang yang bekerja siang dan malam demi anak-anaknya. Itu merupakan bentuk tanggung jawab yang patut dihargai. Namun, kita juga perlu bertanya: apakah di tengah kesibukan mencari nafkah, kita masih memberikan perhatian kepada keluarga? Apakah kita masih menjaga salat? Apakah kita masih memiliki waktu untuk berbuat baik kepada tetangga dan membantu orang yang membutuhkan?

Jangan sampai kita bekerja keras untuk memberikan kehidupan yang baik kepada keluarga, tetapi kehilangan kesempatan untuk mendidik dan mendampingi mereka.

Jangan sampai kita memiliki rumah yang semakin besar, tetapi hubungan keluarga semakin renggang. Jangan sampai kita memiliki penghasilan yang semakin tinggi, tetapi rasa syukur semakin rendah.

Harta seharusnya menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan membuat kita semakin jauh dari-Nya.

Apabila Allah memberikan kita kelapangan rezeki, jangan lupa bersedekah. Apabila Allah memberikan kita jabatan, gunakanlah untuk melayani dan berbuat adil. Apabila Allah memberikan kita keahlian, gunakanlah untuk menghasilkan manfaat. Apabila rezeki kita masih terbatas, jangan berputus asa dan jangan menghalalkan segala cara.

Kita semua memiliki ujian masing-masing. Orang yang berkecukupan diuji dengan bagaimana ia menggunakan hartanya, sedangkan orang yang memiliki keterbatasan diuji dengan kesabaran dan ikhtiarnya.

Yang terpenting adalah bagaimana kita menjalani ujian tersebut dengan tetap berpegang pada ketakwaan.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Marilah kita membawa pulang tiga pelajaran dari khutbah ini.

Pertama, jujur dalam mencari rezeki, meskipun tidak ada manusia yang mengawasi kita.

Kedua, menjaga amanah dan hak orang lain, baik dalam keluarga, pekerjaan, perdagangan, maupun kehidupan bermasyarakat.

Ketiga, menggunakan harta untuk kebaikan, bukan hanya untuk memenuhi keinginan diri sendiri.

Sebelum kita menutup khutbah pertama ini, marilah kita bertanya kepada diri kita masing-masing: jika hari ini Allah memeriksa seluruh harta yang kita miliki, apakah kita sudah siap mempertanggungjawabkan dari mana harta itu berasal dan untuk apa harta itu digunakan?

Semoga pertanyaan ini tidak sekadar kita dengarkan, tetapi menjadi bahan introspeksi dalam kehidupan kita.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

 

Khutbah Kedua

 

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Marilah kita kembali meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.

Dari apa yang telah kita renungkan, kita memahami bahwa rezeki yang baik bukan semata-mata rezeki yang banyak, melainkan rezeki yang diperoleh dengan cara yang benar, digunakan untuk kebaikan, dan tidak mengandung kezaliman terhadap sesama.

Mari kita mulai dari diri sendiri.

Jika kita seorang pedagang, berdaganglah dengan jujur. Jika kita seorang pekerja, tunaikanlah tugas dengan sungguh-sungguh. Jika kita seorang pemimpin, berlaku adillah kepada orang-orang yang kita pimpin. Jika kita seorang kepala keluarga, penuhilah tanggung jawab sesuai kemampuan kita. Jika kita dipercaya mengelola uang atau barang milik orang lain, jagalah amanah itu sebaik-baiknya.

Dan apabila kita pernah mengambil hak orang lain, jangan menunda untuk memperbaikinya. Bertobatlah kepada Allah, kembalikan hak yang bukan milik kita apabila memungkinkan, dan mintalah maaf kepada pihak yang telah kita zalimi.

Jangan menunggu menjadi kaya untuk berbuat baik. Jangan menunggu memiliki jabatan untuk berlaku amanah. Mulailah dari hal-hal kecil yang berada dalam jangkauan kita.

Semoga Allah menjadikan kita manusia yang jujur dalam bekerja, amanah dalam tanggung jawab, bersyukur dalam kecukupan, sabar dalam kesulitan, dan peduli terhadap sesama.

Doa penutup

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

Ya Allah, ampunilah dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dan dosa seluruh kaum muslimin dan muslimat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ رِزْقًا حَلَالًا طَيِّبًا، وَعِلْمًا نَافِعًا، وَعَمَلًا صَالِحًا.

Ya Allah, karuniakanlah kepada kami rezeki yang halal dan baik, ilmu yang bermanfaat, serta amal yang saleh. Jauhkanlah kami dari rezeki yang haram, dari perbuatan curang, dari sifat serakah, dan dari kebiasaan mengambil hak orang lain.

Ya Allah, jadikanlah kami hamba-hamba yang amanah. Bimbinglah para pemimpin kami agar berlaku adil, para pedagang agar berlaku jujur, para pekerja agar bertanggung jawab, dan setiap keluarga agar hidup dalam kasih sayang dan keberkahan.

Ya Allah, lapangkanlah rezeki saudara-saudara kami yang sedang mengalami kesulitan. Berikanlah pekerjaan kepada mereka yang belum mendapatkannya, kesembuhan kepada mereka yang sedang sakit, kekuatan kepada mereka yang sedang menghadapi ujian, serta kecukupan kepada mereka yang membutuhkan pertolongan.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

Artinya: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka.”

وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ.

Chat WhatsApp