Logo PWM Sulbar

2045: Indonesia Jangan Cuma Jadi Pasar

D

Dr. Ir. H. Muh. Tahir, M.Si.

Rektor UNIMAJU

28 August 2026 Dibaca 23 kali
2045: Indonesia Jangan Cuma Jadi Pasar
Kita harus berani melihat Indonesia jauh melampaui hari ini. Tahun 2030, 2035, hingga 2045 bukan sekadar deretan angka, melainkan perjalanan menuju masa depan yang sedang kita bentuk. Pertanyaannya sederhana tetapi menentukan: ketika dunia berubah, Indonesia akan menjadi pencipta atau hanya pengguna ciptaan bangsa lain? Jepang memiliki otomotif, Korea Selatan memiliki Samsung dan ekosistem teknologinya, China kuat dalam manufaktur dan produksi massal, Eropa berkembang dalam teknologi digital dan kecerdasan buatan, sementara negara-negara lain terus berlomba menemukan sesuatu yang baru. Lalu apa yang akan menjadi tanda tangan Indonesia? Jangan sampai yang paling menonjol justru energi kita habis untuk saling curiga, saling menjatuhkan dan mempertentangkan kelompok hanya karena berbeda pilihan dan kepentingan. Politik boleh berbeda, tetapi masa depan bangsa harus menjadi kepentingan bersama. Karena itu, Indonesia harus mengubah budaya dari debat menjadi riset, dari riset menjadi inovasi, dari inovasi menjadi produk, dan dari produk menjadi kekuatan bangsa. Riset tidak boleh berhenti sebagai laporan dan jurnal. Ia harus menjawab persoalan nyata, melahirkan teknologi, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan produktivitas dan menghasilkan sesuatu yang dapat digunakan serta dibanggakan dunia. Sejarah membuktikan bahwa teknologi besar tidak lahir sekaligus sempurna. Komputer generasi awal membutuhkan ruang besar dan perangkat yang sangat banyak; kini kemampuan komputasi berada dalam laptop, tablet bahkan telepon genggam. Setiap generasi mengambil hasil generasi sebelumnya, memperbaiki kekurangannya, mengecilkan ukurannya, meningkatkan kecepatannya dan memperluas manfaatnya. Begitulah peradaban maju: generasi tidak mengulang, tetapi meneruskan dan melompat. Thomas Alva Edison pun mengajarkan hal yang sama. Ia membangun laboratorium, melakukan percobaan berulang, menghadapi kegagalan, memperbaiki temuan dan mengubah gagasan menjadi teknologi. Dari Edison hingga revolusi digital dan AI, sejarah ilmu pengetahuan menunjukkan bahwa penemuan lahir dari rasa ingin tahu yang panjang, eksperimen yang tekun dan keberanian untuk gagal. Tidak ada negara maju karena hanya pandai membeli teknologi; negara maju karena mampu menciptakan, menguasai dan mengembangkan teknologi. Maka slogan bahwa Indonesia mampu menjadi negara maju harus diterjemahkan menjadi pekerjaan nyata: memperkuat sekolah dan perguruan tinggi, membangun laboratorium, menyiapkan peneliti dan teknisi, mempertemukan kampus dengan industri, membiayai riset, melindungi inovasi dan membuka pasar bagi produk hasil penelitian. Kekayaan alam Indonesia harus menjadi bahan bakar lahirnya teknologi, bukan sekadar bahan mentah yang kemudian kita beli kembali dalam bentuk produk bernilai tinggi. Kita membutuhkan peta jalan yang melampaui masa jabatan. Apa yang harus ditemukan pada 2030? Apa yang harus menjadi kekuatan teknologi pada 2035? Apa yang harus menjadi karya Indonesia pada 2045? Setiap generasi harus menanam, generasi berikutnya merawat, generasi sesudahnya memanen lalu menanam kembali. Rencana besar tidak boleh mati bersama pergantian pemimpin. Bagi generasi yang mulai memasuki penghujung masa kerja dan usia pengabdian, pertanyaan terpenting bukan lagi berapa lama kita memegang jabatan, tetapi apa yang kita tinggalkan setelah jabatan berakhir. Gedung dapat tua, jabatan berganti, usia berlalu, tetapi gagasan, ilmu, riset dan inovasi dapat hidup jauh lebih panjang daripada penciptanya. Karena itu, warisan terbaik bukan sekadar posisi yang pernah kita duduki, melainkan generasi yang kita siapkan untuk melampaui kita. Indonesia masih membutuhkan banyak ciptaan: pertanian, pangan, kesehatan, energi, kelautan, pendidikan, industri, teknologi digital, AI, lingkungan dan berbagai sektor kehidupan. Kita tidak kekurangan masalah; yang harus diperkuat adalah keberanian mengubah masalah menjadi peluang riset dan inovasi. Maka mulai sekarang, jangan hanya bertanya siapa yang berkuasa, tetapi bertanyalah apa yang kita ciptakan. Jangan hanya sibuk mempertahankan kelompok, tetapi bangun ekosistem yang memungkinkan anak-anak bangsa menemukan sesuatu yang belum pernah ada. Sebab 2045 akan datang tanpa menunggu kita siap. Ketika saat itu tiba, sejarah akan bertanya: Indonesia menjadi apa?.
Chat WhatsApp