Logo PWM Sulbar

Antara Kesombongan dan Ketundukan kepada Allah

H

H. Ismail Ibrahim, S.Pd.I.,M.Pd.I

Sekretaris PWM Sulbar

08 September 2026 • Dibaca 63 kali
Antara Kesombongan dan Ketundukan kepada Allah
Pernahkah kita berhenti sejenak lalu memandang gunung? Gunung berdiri kokoh, tinggi menjulang, seolah tidak tergoyahkan oleh apa pun. Angin menerpanya, hujan membasahinya, panas menyinarinya, tetapi ia tetap berdiri teguh. Namun, di balik kekokohan gunung itu, Allah ingin mengajarkan kepada manusia sebuah pelajaran yang sangat dalam, yaitu tentang kekuatan, ketundukan, dan bahaya kesombongan. Allah berfirman: وَالْجِبَالَ أَوْتَادًا ۝٧ “Dan gunung-gunung sebagai pasak.”(QS. An-Naba’: 7). Gunung adalah salah satu tanda kebesaran Allah. Ia besar, kuat, kokoh, dan menjulang tinggi. Tetapi sehebat apa pun gunung, ia tetap makhluk Allah. Ia tidak pernah mengaku sebagai pemilik kekuatan. Ia hanya menjalankan apa yang telah Allah tetapkan kepadanya. Di sinilah manusia seharusnya belajar bahwa kita boleh kuat, tetapi jangan sombong; kita boleh tinggi, tetapi jangan merasa lebih tinggi daripada orang lain; kita boleh memiliki kedudukan, tetapi jangan pernah lupa bahwa semua yang kita miliki hanyalah titipan Allah. Bahkan Allah memberikan gambaran yang sangat menyentuh tentang gunung ketika berbicara mengenai Al-Qur’an. Allah berfirman: لَوْ أَنْزَلْنَا هَٰذَا الْقُرْآنَ عَلَىٰ جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ ۚ وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ ۝٢١ “Sekiranya Kami turunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, niscaya kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah karena takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia agar mereka berpikir.” (QS. Al-Hasyr: 21). Perhatikan kalimat terakhir ayat tersebut: لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ, “agar mereka berpikir.” Artinya, Allah tidak sekadar menceritakan tentang gunung, tetapi Allah sedang mengajak kita untuk berpikir tentang diri kita sendiri. Gunung yang begitu besar dan kokoh saja digambarkan akan tunduk ketika berhadapan dengan kebesaran Allah. Lalu bagaimana dengan kita? Kita bukan gunung. Tubuh kita lemah, usia kita terbatas, kesehatan kita bisa hilang kapan saja, dan kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi kepada kita satu jam atau bahkan satu menit yang akan datang. Namun, manusia yang begitu lemah terkadang justru memiliki hati yang keras. Gunung bisa tunduk, tetapi manusia terkadang membangkang. Gunung digambarkan takut kepada Allah, tetapi manusia terkadang berani melakukan maksiat. Gunung kokoh secara fisik, tetapi tetap tunduk kepada Penciptanya, sementara manusia yang lemah secara fisik terkadang justru merasa dirinya kuat dan tidak membutuhkan Allah. Di sinilah kita perlu berhenti dan bertanya kepada diri sendiri: apa sebenarnya yang membuat kita sombong? Apakah karena harta? Apakah karena jabatan? Apakah karena ilmu? Apakah karena kekuasaan? Apakah karena kecantikan, ketampanan, popularitas, atau banyaknya orang yang menghormati kita? Bukankah semuanya hanya titipan? Jabatan yang hari ini kita miliki, suatu saat akan berpindah kepada orang lain. Harta yang hari ini kita kumpulkan, suatu saat akan kita tinggalkan. Kekuatan yang hari ini kita banggakan, suatu saat akan melemah. Wajah yang hari ini kita banggakan, suatu saat akan menua. Nama yang hari ini dikenal banyak orang, suatu saat akan dilupakan. Dan kehidupan yang hari ini kita jalani, suatu saat pasti akan berakhir. Allah mengingatkan kita: وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا ۝٣٧ “Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong. Sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung.” (QS. Al-Isra’: 37). Ayat ini seakan mengingatkan manusia, “Jangan terlalu tinggi menempatkan dirimu. Engkau tidak mampu menembus bumi dan tidak akan mampu mencapai ketinggian gunung. Lalu apa yang membuatmu begitu sombong?” Apa yang hendak kita banggakan? Harta? Bukankah harta bisa hilang? Jabatan? Bukankah jabatan bisa dicabut? Kekuatan? Bukankah tubuh akan melemah? Popularitas? Bukankah suatu saat manusia akan melupakan kita? Allah juga mengingatkan: كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.” (QS. Ali ‘Imran: 185). Ayat ini seharusnya menjadi pengingat bagi kita bahwa tidak ada manusia yang akan hidup selamanya. Raja akan mati, orang kaya akan mati, orang miskin akan mati, orang terkenal akan mati, dan orang yang tidak dikenal pun akan mati. Pada akhirnya, kita semua akan kembali kepada Allah. Karena itu, kemuliaan manusia bukan ditentukan oleh seberapa tinggi ia berdiri di hadapan manusia, tetapi oleh seberapa tunduk ia di hadapan Allah. Salah satu contoh terbesar tentang bahaya kesombongan dapat kita lihat dalam kisah Iblis. Ketika Allah memerintahkan Iblis untuk sujud kepada Adam, Iblis menolak. Ia merasa dirinya lebih baik. Allah mengabadikan perkataannya: قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِّنْهُ ۖ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ ۝١٢ “Ia berkata, ‘Aku lebih baik daripadanya. Engkau menciptakanku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” (QS. Al-A’raf: 12). Perhatikan baik-baik. Kesombongan Iblis muncul dari sebuah perasaan: “Aku lebih baik.” Kalimat ini terlihat sederhana, tetapi sangat berbahaya. Kesombongan tidak selalu muncul dalam bentuk membusungkan dada atau berbicara kasar kepada orang lain. Terkadang kesombongan bersembunyi di dalam hati ketika kita merasa lebih pintar, lebih kaya, lebih saleh, lebih berpengalaman, lebih berjasa, lebih pantas, atau merasa lebih baik daripada orang lain. Padahal kita hanya mengetahui apa yang tampak dari seseorang, sedangkan Allah mengetahui isi hatinya. Kita mungkin melihat kekurangan seseorang, tetapi tidak mengetahui amal baik yang ia sembunyikan. Kita mungkin melihat kesalahannya hari ini, tetapi tidak mengetahui bagaimana akhir kehidupannya. Bisa jadi orang yang kita remehkan justru lebih dekat kepada Allah daripada kita. Bisa jadi orang yang tidak dikenal manusia justru sangat dikenal oleh penghuni langit. Karena itu, jangan terlalu mudah merasa lebih baik daripada orang lain. Ada sebuah kisah inspiratif tentang seorang lelaki yang pernah memiliki kedudukan tinggi. Ia dihormati banyak orang. Ketika berbicara, orang-orang mendengarkan. Ketika memberikan perintah, orang-orang segera melaksanakan. Namun, lama-kelamaan penghormatan itu masuk ke dalam hatinya. Ia mulai merasa dirinya penting dan lebih tinggi daripada orang lain. Ia mulai meremehkan orang miskin, sulit menerima kritik, tidak suka dinasihati, dan merasa keberhasilannya semata-mata karena kecerdasan serta kerja kerasnya sendiri. Sampai suatu hari keadaan berubah. Jabatannya hilang. Orang-orang yang dahulu mengelilinginya mulai pergi. Orang-orang yang dahulu memujinya tidak lagi datang. Harta yang selama ini membuatnya merasa aman ternyata tidak mampu memberikan ketenangan. Ia kemudian duduk sendirian dan merenungkan kehidupannya. Saat itulah ia menangis dan menyadari sesuatu yang sangat dalam: selama ini ia terlalu sibuk meninggikan dirinya di hadapan manusia, tetapi lupa merendahkan dirinya di hadapan Allah. Sejak saat itu ia mulai berubah. Ia memperbaiki shalatnya, belajar meminta maaf, menerima nasihat, menghormati orang-orang yang dahulu ia remehkan, dan membantu orang lain tanpa mencari pujian. Ketika ditanya mengapa ia berubah, ia menjawab, “Dahulu saya ingin dihormati manusia. Sekarang saya ingin mendapatkan ridha Allah.” Kisah tersebut mengajarkan kepada kita bahwa terkadang Allah menghilangkan sesuatu yang kita banggakan bukan untuk menghancurkan kita, tetapi untuk menghancurkan kesombongan yang ada di dalam diri kita. Ada kalanya Allah mengurangi dunia yang kita miliki agar hati kita kembali mengingat siapa sebenarnya yang memberikan semua itu. Allah berfirman: وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ “Dan segala nikmat yang ada padamu adalah dari Allah.” (QS. An-Nahl: 53). Kalau semua nikmat berasal dari Allah, lalu mengapa kita menggunakan pemberian Allah untuk menyombongkan diri di hadapan manusia? Harta berasal dari Allah, ilmu berasal dari Allah, kesehatan berasal dari Allah, jabatan berasal dari Allah, keluarga berasal dari Allah, bahkan kemampuan kita untuk bekerja dan berusaha pun merupakan nikmat dari Allah. Karena itu, ketundukan kepada Allah bukan berarti kelemahan. Justru orang yang mampu tunduk kepada Allah adalah orang yang memiliki kekuatan jiwa. Ia kuat menahan amarah, kuat menolak maksiat, kuat berkata jujur ketika kebohongan menguntungkan dirinya, kuat mengembalikan sesuatu yang bukan miliknya, kuat meminta maaf ketika egonya terluka, dan kuat menerima kebenaran meskipun kebenaran itu datang dari orang yang lebih muda atau lebih rendah kedudukannya. Rasulullah ﷺ bersabda: لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ “Orang yang kuat bukanlah orang yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim). Betapa indah ajaran ini. Dunia sering mengajarkan bahwa orang kuat adalah orang yang mampu mengalahkan orang lain. Namun Islam mengajarkan bahwa kekuatan yang lebih tinggi adalah kemampuan untuk mengalahkan diri sendiri. Mengalahkan orang lain mungkin hanya membutuhkan tenaga, tetapi mengalahkan ego, hawa nafsu, amarah, dan kesombongan membutuhkan kekuatan iman. Maka, marilah kita kembali belajar dari gunung. Gunung itu tinggi, tetapi tidak sombong. Gunung itu kokoh, tetapi tetap tunduk kepada ketetapan Allah. Gunung itu besar, tetapi tidak pernah mengaku sebagai pencipta dirinya sendiri. Demikian pula seharusnya seorang mukmin: kokoh dalam iman, tetapi rendah hati dalam kehidupan; teguh memegang kebenaran, tetapi lembut kepada sesama; kuat menghadapi ujian, tetapi mudah menerima nasihat; tinggi cita-citanya, tetapi rendah hatinya. Jika Allah memberikan ilmu kepada kita, seharusnya kita semakin rendah hati. Jika Allah memberikan harta, seharusnya kita semakin banyak berbagi. Jika Allah memberikan jabatan, seharusnya kita semakin takut menyalahgunakan amanah. Jika Allah memberikan popularitas, seharusnya kita semakin berhati-hati terhadap pujian. Dan jika Allah memberikan kekuatan, seharusnya kekuatan itu kita gunakan untuk melindungi dan membantu, bukan untuk menindas orang lain. Allah berfirman: إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13). Allah tidak mengatakan bahwa yang paling mulia adalah yang paling kaya. Allah tidak mengatakan yang paling mulia adalah yang paling terkenal. Allah tidak mengatakan yang paling mulia adalah yang paling tinggi jabatannya. Tetapi Allah mengatakan bahwa yang paling mulia adalah yang paling bertakwa. Maka jangan hanya meminta kepada Allah agar kita menjadi kuat. Mintalah agar ketika kita kuat, kita tetap rendah hati. Jangan hanya meminta agar Allah mengangkat derajat kita. Mintalah agar ketika derajat kita diangkat, hati kita tetap sujud. Jangan hanya meminta kekayaan, tetapi mintalah agar kekayaan tidak membuat kita lupa kepada Pemberinya. Jangan hanya meminta jabatan, tetapi mintalah agar jabatan tidak membuat kita menzalimi orang lain. Jangan hanya meminta kemenangan, tetapi mintalah agar ketika menang kita tetap mampu menghormati orang yang kalah. Sebab terkadang ujian terbesar bukanlah ketika kita berada dalam kesulitan. Ujian terbesar justru ketika kita berada dalam kenikmatan. Ketika miskin, mungkin kita mudah berdoa, tetapi apakah kita tetap dekat kepada Allah ketika sudah kaya? Ketika tidak memiliki jabatan, mungkin kita mudah rendah hati, tetapi apakah kita tetap rendah hati ketika semua orang menghormati kita? Ketika tidak dikenal, mungkin kita mudah ikhlas, tetapi apakah kita tetap ikhlas ketika banyak orang memuji kita? Pada akhirnya, kita semua akan kembali kepada Allah. Jabatan akan kita tinggalkan, harta akan kita tinggalkan, rumah akan kita tinggalkan, popularitas akan kita tinggalkan, bahkan orang-orang yang kita cintai pun suatu saat akan mengantar kita sampai ke liang lahat lalu kembali meninggalkan kita. Yang akan kita bawa bukanlah seberapa tinggi posisi kita di dunia, melainkan iman dan amal yang kita persembahkan kepada Allah. Karena itu, jangan terlalu sibuk meninggikan nama di dunia sampai lupa meninggikan amal di hadapan Allah. Jangan terlalu sibuk mencari penghormatan manusia sampai lupa mencari ridha Allah. Jangan terlalu takut kehilangan kedudukan di hadapan manusia sampai lupa bahwa yang paling penting adalah kedudukan kita di sisi Allah. Mari kita belajar dari gunung: kokoh dalam iman, teguh dalam kebenaran, sabar menghadapi ujian, tinggi dalam cita-cita tetapi rendah hati dalam kehidupan, kuat menghadapi dunia tetapi tetap tunduk kepada Allah. Dan ketika suatu hari hati kita mulai merasa hebat, ketika kita mulai merasa lebih tinggi daripada orang lain, ketika kita sulit menerima nasihat, mari kita ingat kembali firman Allah: لَوْ أَنْزَلْنَا هَٰذَا الْقُرْآنَ عَلَىٰ جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ “Sekiranya Kami turunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, niscaya kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah karena takut kepada Allah.” (QS. Al-Hasyr: 21). “Jika gunung yang begitu kokoh saja tunduk kepada Allah, mengapa aku yang begitu lemah masih berani menyombongkan diri?” Semoga Allah membersihkan hati kita dari kesombongan yang terlihat maupun yang tersembunyi. Semoga Allah menjadikan kita kuat tanpa menjadi angkuh, tinggi tanpa menjadi sombong, kaya tanpa menjadi lalai, berilmu tanpa merasa paling tahu, dan memiliki kedudukan tanpa merendahkan orang lain. Semoga semakin tinggi kedudukan kita, semakin dalam sujud kita. Semakin banyak harta yang Allah titipkan kepada kita, semakin banyak pula yang kita gunakan untuk kebaikan. Semakin luas ilmu kita, semakin besar pula rasa takut kita kepada Allah. Dan semakin banyak manusia mengenal kita, semakin kita menyadari bahwa yang paling penting bukanlah dikenal oleh manusia, tetapi dikenal dan diridhai oleh Allah. Karena pada akhirnya, kemuliaan manusia bukan terletak pada seberapa tinggi ia berdiri di hadapan manusia, tetapi pada seberapa rendah hatinya ketika bersujud di hadapan Allah. Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
Chat WhatsApp