Bukan Sekedar Rajin Beribadah, Tetapi Meneladani Akhlak Rasulullah SAW
H
H. Ismail Ibrahim, S.Pd.I.,M.Pd.I.
Sekretaris PWM Sulbar
25 August 2026
•
Dibaca 31 kali
Sering kali kita mengukur kesalehan seseorang dari apa yang terlihat: seberapa rajin ia shalat, seberapa sering ia membaca Al-Qur'an, atau seberapa banyak ia bersedekah. Padahal, menurut saya, kesalehan tidak berhenti pada aktivitas ibadah yang tampak. Kesalehan juga seharusnya tercermin dalam akhlak, cara berpikir, dan bagaimana seseorang memperlakukan orang lain.
Kedekatan seseorang dengan Allah SWT seharusnya tercermin dalam sikapnya sehari-hari. Semakin dekat kepada-Nya, ia seharusnya semakin mampu menjaga perkataan, mengendalikan emosi, menghormati orang lain, dan berbuat adil. Dengan demikian, ibadah bukan hanya tentang seberapa banyak yang kita lakukan, tetapi tentang seberapa jauh ibadah itu membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik. Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.”(HR. Ahmad).
Hadis tersebut menunjukkan betapa pentingnya akhlak dalam ajaran Islam. Rasulullah SAW tidak hanya datang untuk mengajarkan manusia tentang ibadah, tetapi juga untuk menyempurnakan akhlak manusia. Menurut saya, pesan ini sangat relevan dengan kehidupan kita saat ini.
Kita hidup di tengah masyarakat yang semakin mudah berkomunikasi, tetapi pada saat yang sama juga semakin mudah terjadi konflik. Media sosial, misalnya, membuat seseorang dapat menyampaikan pendapat dengan cepat. Sayangnya, kebebasan berbicara sering tidak diikuti dengan kemampuan menjaga lisan. Perbedaan pendapat dapat berubah menjadi saling menghina, kritik berubah menjadi serangan pribadi, dan persoalan kecil berkembang menjadi permusuhan. Padahal, Islam mengajarkan bahwa menjaga lisan merupakan bagian penting dari keimanan. Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam.” (Muttafaq 'alaih).
Hadis ini mengingatkan kita bahwa kemampuan berbicara bukan berarti kita harus selalu berbicara. Di zaman ketika satu ucapan dapat dengan mudah tersebar kepada banyak orang, kita perlu lebih bijak dalam menggunakan lisan. Ada kalanya perbedaan cukup dihargai tanpa harus diperdebatkan, dan ada kalanya kesalahan orang lain lebih baik ditutupi daripada diumbar. Kadang-kadang, diam bukan berarti kita tidak memiliki pendapat. Diam justru bisa menjadi bentuk kedewasaan ketika kita sadar bahwa perkataan kita hanya akan memperburuk keadaan.
Selain menjaga lisan, akhlak juga terlihat dari kemampuan seseorang mengendalikan amarah. Ketika diperlakukan buruk, secara manusiawi kita tentu ingin membalas. Ketika dihina, kita ingin menghina kembali. Ketika disakiti, kita ingin memberikan rasa sakit yang sama. Namun, Islam mengajarkan kita untuk mengambil jalan yang lebih mulia.
Allah SWT berfirman:
وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“Yaitu orang-orang yang menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali 'Imran: 134).
Oleh karena itu memaafkan bukan tanda kelemahan. Justru memaafkan membutuhkan kekuatan hati. Seseorang yang mampu membalas tetapi memilih menahan diri karena mengharap ridha Allah menunjukkan bahwa dirinya mampu mengendalikan hawa nafsu. Akhlak juga berkaitan erat dengan keadilan. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali mudah bersikap adil ketika yang melakukan kesalahan adalah orang lain. Namun, keadaan menjadi berbeda ketika yang salah adalah teman, keluarga, atau kelompok kita sendiri.
Islam mengajarkan bahwa keadilan tidak boleh bergantung pada hubungan pribadi. Allah SWT berfirman dalam QS. An-Nisa ayat 135 agar orang-orang beriman menjadi penegak keadilan, bahkan jika keadilan tersebut harus diterapkan terhadap diri sendiri, orang tua, atau kerabat. inilah salah satu bentuk akhlak yang semakin penting untuk kita bangun. Jangan membela seseorang hanya karena dia adalah teman kita. Jangan membenarkan kesalahan hanya karena dilakukan oleh keluarga sendiri. Kebenaran tetap harus menjadi kebenaran, dan kesalahan tetap harus diakui sebagai kesalahan.
Islam juga mengingatkan bahwa kemuliaan manusia bukan ditentukan oleh harta, jabatan, keturunan, suku, maupun popularitas. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 13 bahwa manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar saling mengenal, sedangkan yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sebab itu, menurut saya, tidak ada alasan bagi seorang Muslim untuk merasa lebih tinggi hanya karena memiliki kekayaan, jabatan, pendidikan, atau status sosial yang lebih baik. Semua itu hanyalah titipan. Ukuran kemuliaan yang sebenarnya adalah ketakwaan, dan ketakwaan tersebut seharusnya terlihat dalam akhlak.
Jika kita ingin melihat contoh akhlak yang sempurna, maka Rasulullah SAW adalah teladan utama. Allah SWT bahkan memberikan kesaksian dalam QS. Al-Qalam ayat 4:
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.”
Rasulullah SAW tidak hanya mengajarkan akhlak melalui perkataan, tetapi juga menunjukkannya melalui tindakan. Beliau menyayangi keluarga, menghormati orang lain, peduli kepada orang miskin, membantu orang yang membutuhkan, memaafkan orang yang menyakitinya, dan tetap berlaku adil.
Karena itu, menurut saya, mengatakan bahwa kita mencintai Rasulullah SAW seharusnya memiliki konsekuensi dalam kehidupan sehari-hari. Kecintaan kepada beliau tidak cukup hanya ditunjukkan melalui ucapan dan shalawat, tetapi juga melalui usaha untuk meneladani akhlaknya. Percuma seseorang mengaku mencintai Rasulullah SAW jika lisannya masih senang menyakiti orang lain. Percuma mengaku rajin beribadah jika hatinya dipenuhi iri dan dendam. Dan menjadi kurang bermakna ketika seseorang terlihat saleh di tempat ibadah, tetapi orang-orang terdekatnya justru merasa takut, tertekan, atau tidak nyaman berada di dekatnya. Menurut saya, persoalan inilah yang perlu kita renungkan. Jangan sampai kesalehan kita hanya terlihat secara pribadi, tetapi tidak memberikan manfaat bagi orang lain.
Ibadah seharusnya melahirkan kejujuran. Ibadah seharusnya melahirkan kesabaran. Ibadah seharusnya membuat seseorang lebih mudah memaafkan. Ibadah seharusnya membuat seseorang lebih amanah, lebih rendah hati, lebih peduli, dan lebih mampu menjaga perasaan orang lain.
Bahkan, akhlak yang baik dapat menjadi bentuk dakwah yang sangat kuat. Ketika seseorang berlaku jujur, orang lain akan melihat nilai Islam. Ketika seseorang amanah, suka menolong, menghormati orang tua, menjaga lisan, dan berlaku adil, orang lain dapat merasakan keindahan Islam tanpa harus mendengar ceramah yang panjang.
Pada akhirnya, menurut saya, menjadi Muslim yang baik bukan sekadar tentang seberapa rajin kita beribadah, tetapi tentang bagaimana ibadah tersebut membentuk diri kita.
Kita perlu bertanya kepada diri sendiri: apakah keluarga kita merasakan kelembutan dari diri kita? Apakah pasangan kita merasa aman dan dihargai? Apakah anak-anak kita merasakan kasih sayang? Apakah tetangga merasa nyaman bertetangga dengan kita? Apakah teman-teman merasa aman mempercayai kita? Jika jawabannya belum, mungkin ada yang perlu kita perbaiki.
Sebab, meneladani Rasulullah SAW bukan hanya dengan mengagumi kehidupan beliau, tetapi dengan berusaha menghadirkan akhlak beliau dalam kehidupan kita sendiri. Rajin beribadah adalah sebuah kebaikan. Namun, menjadikan ibadah sebagai jalan untuk memperbaiki akhlak adalah sebuah keharusan.
Pada akhirnya, yang kita harapkan bukan hanya menjadi orang yang banyak ibadahnya, tetapi juga menjadi orang yang baik perkataannya, baik hatinya, baik perilakunya, dan membawa manfaat bagi orang-orang di sekitarnya. Sebab, semakin dekat kita kepada Allah, semestinya semakin indah pula akhlak kita kepada manusia.