Logo PWM Sulbar

Literasi: Dari Membaca Ke Solusi

D

Dr. Ir. H. Muh. Tahir, M.Si.

Rektor Universitas Muhammadiyah Mamuju

18 September 2026 Dibaca 16 kali
Literasi: Dari Membaca Ke Solusi
PWMSULBAR.ID - Literasi kembali penting bukan sekadar karena orang perlu bisa membaca, tetapi karena bangsa yang membaca sedang membangun cara berpikirnya. Membaca melatih manusia menerima informasi, menghubungkan pengetahuan, mempertanyakan kebenaran, menemukan pola, lalu melahirkan gagasan. Jika membaca menjadi budaya, kecerdasan tidak lagi hanya milik individu, ia berubah menjadi kecerdasan kolektif bangsa. Al-Qur’an bahkan membuka risalahnya dengan perintah intelektual: “Iqra’ bacalah!” (QS. Al-‘Alaq: 1). Membaca bukan hanya aktivitas mata, tetapi aktivitas akal dan hati untuk memahami tanda-tanda Allah. Karena itu, masyarakat yang menjadikan membaca sebagai kebiasaan sesungguhnya sedang membangun fondasi peradabannya. Belajar dari Bangsa Lain Ketika berjalan di Teheran, Iran, kita dapat menemukan pemandangan menarik: ruang-ruang publik, taman, pusat perbelanjaan, dan fasilitas pendidikan dimanfaatkan masyarakat untuk membaca dan belajar. Di Jepang, budaya membaca tumbuh bersama disiplin belajar; perpustakaan dan toko buku menjadi bagian dari ekosistem pengetahuan. Di Finlandia, perpustakaan diposisikan sebagai ruang publik untuk belajar. Di Korea Selatan, pembangunan pendidikan, riset, dan teknologi berjalan beriringan dengan budaya belajar yang kuat. Tentu, kemajuan suatu negara tidak dapat dijelaskan hanya oleh budaya membaca. Ada banyak faktor lain: pendidikan, institusi, ekonomi, teknologi, kebijakan, dan kualitas sumber daya manusia. Namun satu hal jelas: bangsa maju membutuhkan masyarakat yang menghargai pengetahuan. Tangga Literasi Masalah kita bukan semata berapa banyak orang yang bisa membaca, melainkan berapa banyak yang terus membaca, apa yang dibaca, seberapa dalam dibaca, lalu apa yang dihasilkan dari bacaannya. Perjalanan intelektual sebenarnya dapat dibayangkan sebagai tangga. Pertama, tidak berminat membaca. Kedua, mulai membaca apa saja. Ketiga, berubah menjadi pembaca fokus: memilih bidang tertentu dan mendalaminya. Keempat, mulai meneliti, tidak puas hanya mengetahui apa kata orang. Kelima, menulis dan menghasilkan pengetahuan. Dan puncaknya, menjadi problem solver: menggunakan pengetahuan, riset, dan pengalaman untuk menawarkan jalan keluar atas persoalan nyata. Di sinilah posisi seorang pakar. Pakar bukan sekadar orang yang mengetahui banyak hal. Pakar adalah orang yang mendalami bidang tertentu, menghasilkan pengetahuan, mampu membaca persoalan secara sistematis, dan memberikan alternatif solusi yang dapat dipertanggungjawabkan. Maka ukuran intelektualitas bukan panjangnya daftar gelar, tetapi seberapa besar pengetahuan mampu mengubah masalah menjadi solusi. Jebakan Scrolling dan Pentingnya Pohon Ilmu Lalu bagaimana dengan literasi digital? Teknologi seharusnya menjadi jalan tol pengetahuan, bukan sekadar jalan raya tempat kita terus menggulir layar. Media sosial memang mempercepat akses informasi, tetapi sebagian besar kontennya dirancang singkat dan mudah dikonsumsi. Kita dapat mengetahui banyak hal dalam beberapa menit, tetapi belum tentu memahami satu hal secara mendalam. Di sinilah bahayanya scrolling tanpa pendalaman. Kita merasa banyak tahu karena setiap detik menemukan informasi baru, padahal pengetahuan kita mungkin hanya berupa serpihan. Algoritma memberi kita informasi yang cepat; literasi mendalam memberi kita pemahaman. Karena itu, literasi digital harus naik kelas: dari content consumer menjadi knowledge seeker, dari scrolling menjadi searching, dari searching menjadi studying, dari studying menjadi researching, lalu dari researching menjadi creating and solving. Buku, jurnal ilmiah, laporan riset, dan repositori akademik tetap penting karena menyediakan ruang bagi pembacaan yang lebih panjang, sistematis, dan komprehensif. Digitalisasi tidak menggantikan membaca mendalam; ia seharusnya mempercepat manusia menemukan bahan untuk membaca lebih mendalam. Menariknya, perpustakaan menggunakan sistem Dewey Decimal Classification (DDC) yang mengelompokkan pengetahuan ke dalam sepuluh kelas utama. Bagi seorang peneliti, ini bukan sekadar sistem menata buku. DDC mengajarkan sebuah disiplin intelektual: ketika saya sedang membaca, sebenarnya saya sedang berdiri di pohon ilmu yang mana? Misalnya seseorang meneliti kepemimpinan. Ia tidak cukup mengatakan, “Saya meneliti kepemimpinan.” Ia perlu mengetahui bahwa kepemimpinan berada dalam rumpun ilmu sosial, kemudian masuk ke organisasi, manajemen, perilaku organisasi, hingga variabel spesifik yang ditelitinya. Semakin jelas posisi keilmuannya, semakin tajam pula pertanyaan risetnya. Penutup: Dari Informasi ke Solusi Inilah implikasi terbesar literasi: membaca bukan tujuan akhir, membaca adalah pintu masuk menuju spesialisasi, riset, tulisan, keahlian, dan solusi. Maka perguruan tinggi jangan hanya menghasilkan mahasiswa yang lulus ujian, tetapi manusia yang mampu membaca persoalan. Dosen jangan hanya mengejar penyampaian materi, tetapi membangun budaya membaca, meneliti, menulis, dan memecahkan masalah. Perpustakaan jangan hanya menjadi gudang buku, tetapi menjadi jantung intelektual kampus. Dan setiap individu perlu memilih satu pertanyaan sederhana: “Bidang apa yang sungguh-sungguh ingin saya kuasai?” Setelah itu, bacalah setiap hari. Pilih bidang. Petakan pohon ilmunya. Baca buku dasar. Lanjutkan dengan jurnal mutakhir. Temukan research gap. Teliti persoalan. Tulis hasilnya. Gunakan ilmu itu untuk menyelesaikan masalah masyarakat. Sebab Allah tidak hanya meninggikan orang yang beriman, tetapi juga orang yang diberi ilmu: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11). Akhirnya, bangsa tidak akan menjadi cerdas hanya karena memiliki banyak informasi. Bangsa menjadi cerdas ketika informasi berubah menjadi pengetahuan, pengetahuan berubah menjadi keahlian, keahlian berubah menjadi inovasi, dan inovasi menghadirkan solusi.Maka mari berhenti bertanya, “Berapa banyak yang sudah saya baca?” Mulailah bertanya: “Setelah membaca, masalah apa yang mampu saya pecahkan?” Itulah literasi yang melahirkan peradaban. Penulis : Dr. H. Muh. Tahir, M.Si. - Rektor Universitas Muhammadiyah Mamuju, Dewan Pakar Majelis Pustaka & Informasi PWM Sulawesi Barat
Chat WhatsApp