Teologi Al-Ma'un Di Tengah Tiga Trauma Politik Bangsa
U
Ustadz Wawan Rongkop
Kader Muhammadiyah Jogjakarta
26 September 2026
•
Dibaca 84 kali
PWMSULBAR.ID, Tiga kali Indonesia mengalami trauma politik besar. Dan tiga kali pula Teologi Al-Ma'un yang diwariskan K.H. Ahmad Dahlan membuktikan ketahanannya.
Catatan sejarah menunjukkan, setidaknya ada tiga fase kritis yang menguji daya tahan bangsa ini : pertama, transisi berdarah dari Orde Lama ke Orde Baru . Kedua, kejatuhan Orde Baru menuju Reformasi . Dan ketiga, anomali reformasi itu sendiri.
Di setiap fase itu, negara limbung di level atas. Namun di level bawah, kerja-kerja kemanusiaan Muhammadiyah tetap berjalan.
Trauma Pertama: Kejatuhan Soekarno
Akhir kepemimpinan Soekarno tidak bisa dilepaskan dari perebutan sumber daya global. Dalam banyak literatur, pembunuhan John F. Kennedy oleh CIA dikaitkan dengan penolakannya terhadap penguasaan tambang emas di Irian Jaya oleh Amerika.
Pola yang sama berulang pada Soekarno. Penolakannya terhadap agenda penguasaan tambang tersebut , berujung pada kejatuhannya.
Soeharto kemudian menerima pinangan untuk menjadi Presiden kedua. Namun pinangan itu mensyaratkan tumbal : kontrak penguasaan tambang emas Irian Jaya oleh Amerika selama 50 tahun. Transisi Orde Lama ke Orde Baru pun ditebus dengan tumbal yang mengerikan.
Trauma Kedua: Kejatuhan Soeharto
Krisis Moneter 1997 menjadi penanda berakhirnya Orde Baru. Krisis ini tidak tunggal. Ada andil spekulan global seperti George Soros yang berafiliasi dengan Partai Demokrat Amerika . Partai tempat Bill Clinton dan Obama bernaung.
Kita mengenang B.J. Habibie sebagai tokoh jenius yang berhasil menjinakkan dolar. Namun persoalannya tidak sesederhana itu.
Asing membiarkan dollar hancur dan Indonesia sejenak bahagia. Tetapi ada tumbalnya. Tumbal pertama, IMF leluasa menggurita di Indonesia sejak 1997 hingga kini. Tumbal kedua, industri strategis pesawat terbang buatan Habibie dihentikan produksinya. Ironisnya, beberapa tahun kemudian sebuah pesawat kita hanya dibarter dengan beras dari Thailand. Barter politis yang menyakitkan.
Tumbal berikutnya menyusul : impor susu yang mematikan peternak sapi lokal, dan lepasnya Timor-Timur dari pangkuan Ibu Pertiwi.
Trauma Ketiga: Anomali Reformasi dan Pertaubatan Sang Kesatria
Reformasi mengubah segalanya. Jika sebelumnya Bupati, Gubernur, hingga Presiden dipilih oleh legislatif, orde reformasi mengubahnya menjadi pemilihan langsung. Hasilnya, negara dipenuhi raja-raja kecil di daerah. Aliran APBD dan APBN justru memproduksi koruptor-koruptor baru.
Kebebasan pers yang diharapkan menjadi penawar, ternyata tidak mengurangi angka korupsi. Amandemen UUD 1945 yang begitu masif juga tidak serta-merta membuat Indonesia lebih baik.
Di titik inilah kita menyaksikan pertaubatan politis seorang kesatria. Prof. Amien Rais, tokoh sentral Reformasi . Secara terbuka meminta maaf kepada Jenderal Try Sutrisno, mantan Wakil Presiden. Apa yang diperjuangkan di MPR saat itu, ternyata diselewengkan oleh generasi setelahnya. Kesaksian ini saya peroleh dari penuturan Jenderal Purnawirawan Kiki Syahnakri pada sebuah podcast.
Al-Ma'un Sebagai Mobil Damkar
Lantas apa relevansi Teologi Al-Ma'un ?
Teologi Al-Ma'un adalah kecerdasan adversitas. Sebuah kecerdasan yang dirancang K.H. Ahmad Dahlan untuk mengubah kecerdasan personal menjadi kecerdasan sosial yang adaptif dan solutif.
Wujudnya nyata pada tahun 1965, ketika KOKAM Muhammadiyah berdiri bersama umat Islam dan RPKAD menumpas G30S/PKI.
Wujudnya terus bereinkarnasi dalam dua dasawarsa terakhir melalui lahirnya MDMC, Lazismu, dan berbagai amal usaha lainnya. Ini meneguhkan satu prinsip: apapun yang terjadi di level government, Muhammadiyah konsisten merawat citizen.
Donasi untuk gempa Aceh, gempa Palu, banjir Cianjur, gempa NTT, dan berbagai bencana lainnya tidak lahir dari ruang kosong. Ia lahir dari pikiran teologis sekaligus aksiologis K.H. Ahmad Dahlan.
Aktivitas pendidikan, dari SD hingga perguruan tinggi Muhammadiyah, tetap the show must go on. Meski ruang politik nasional memanas, dari panasnya G30S/PKI, panasnya kerusuhan Mei 1998, hingga panasnya despotisme anti-meritokrasi di era Jokowi.
Prof. Dien Syamsuddin pernah mengungkapkan data yang mengejutkan : banyak Rumah Sakit PKU Muhammadiyah harus nombok ratusan miliar rupiah saat pandemi Covid-19 . Demi memudahkan layanan BPJS bagi rakyat.
Inilah asbabul nuzul tulisan ini. Pertama, untuk memastikan bahwa ketika terjadi kebakaran di level atas, api itu masih bisa diselamatkan di level bawah.
Kedua, bahwa sekalipun terjadi gempa politik di level elit, Muhammadiyah akan selalu berfungsi sebagai mobil pemadam kebakaran yang cekatan dan gesit.
Penulis adalah Pemerhati Sosial Keagamaan. Tinggal di Istana Atas Telaga.