Di Mata Manusia Kita Bisa Hebat, tetapi Bagaimana di Mata Allah?
H
H. Ismail Ibrahim, S.Pd.I.,M.Pd.I
Sekretaris PWM Sulbar
08 September 2026
•
Dibaca 77 kali
Manakala ada orang yang dipandang tinggi dan dihormati oleh banyak orang karena kedudukan yang dimilikinya. Ia berada di posisi yang terpandang, hidup dalam kecukupan, dikenal luas, memiliki banyak pengikut, bahkan setiap ucapannya sering mendapat perhatian dan sanjungan. Namanya mudah dikenal, kehadirannya dianggap penting, dan kehidupannya kerap dijadikan ukuran keberhasilan.
Di tengah kehidupan modern, manusia sering menilai seseorang berdasarkan apa yang tampak dari luar. Jabatan menjadi simbol kehormatan, gelar dianggap sebagai tanda kehebatan, kekayaan dijadikan ukuran kesuksesan, kendaraan dan rumah menjadi lambang status sosial, sementara popularitas dan jumlah pengikut seolah-olah menjadi ukuran seberapa berharga seseorang.
Semakin tinggi kedudukannya, semakin besar penghormatan yang diberikan. Semakin banyak hartanya, semakin dianggap berhasil. Semakin luas dikenal, semakin dipandang istimewa. Namun, apakah semua yang terlihat hebat di mata manusia juga berarti mulia di hadapan Allah SWT?
Islam justru datang untuk membongkar cara pandang tersebut. Allah SWT tidak pernah mengatakan bahwa manusia paling mulia adalah yang paling kaya, paling terkenal, paling tinggi jabatannya, atau paling banyak pengikutnya. Allah SWT memberikan ukuran yang sangat jelas:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.”(QS. Al-Hujurat: 13).
Ayat ini menegaskan bahwa standar kemuliaan manusia bukanlah jabatan, kekayaan, keturunan, rupa, popularitas, ataupun jumlah pengikut. Standar kemuliaan adalah ketakwaan. Karena itu, seorang pejabat boleh memiliki kedudukan tinggi, tetapi kedudukan tersebut tidak otomatis membuatnya mulia di sisi Allah. Jabatan adalah amanah yang kelak akan dipertanggungjawabkan. Jika digunakan untuk melayani masyarakat, menegakkan keadilan, melindungi yang lemah, dan memperjuangkan kebaikan, jabatan dapat menjadi jalan menuju kemuliaan. Tetapi jika digunakan untuk kepentingan pribadi, menzalimi orang lain, menyalahgunakan kekuasaan, atau mengambil sesuatu yang bukan haknya, maka jabatan yang membuatnya dihormati manusia justru dapat menjadi sebab kehinaan di hadapan Allah.
Begitu pula dengan harta. Islam tidak melarang seseorang menjadi kaya. Harta bahkan dapat menjadi sarana ibadah apabila diperoleh dengan cara yang halal dan digunakan untuk kemaslahatan. Persoalannya bukan seberapa banyak harta yang kita miliki, tetapi seberapa kuat harta itu menguasai hati kita. Apakah kekayaan membuat kita semakin bersyukur dan gemar berbagi, atau justru membuat kita sombong, kikir, dan memandang rendah orang lain? Sebab seseorang bisa saja miskin secara materi, tetapi kaya dengan hati yang penuh syukur. Sebaliknya, seseorang bisa memiliki kekayaan yang berlimpah, tetapi hidup dalam kemiskinan spiritual karena tidak pernah merasa cukup.
Demikian pula dengan ilmu dan gelar. Seseorang mungkin dipanggil ustaz, guru, kiai, doktor, profesor, pemimpin, atau tokoh masyarakat. Semua itu adalah kemuliaan apabila disertai ketakwaan, keikhlasan, dan tanggung jawab. Namun, gelar yang tinggi tidak otomatis membuat hati menjadi tinggi di hadapan Allah. Ilmu seharusnya melahirkan kerendahan hati, bukan kesombongan; melahirkan pelayanan, bukan merasa paling benar; dan melahirkan amal, bukan sekadar kebanggaan atas apa yang diketahui.
Pada zaman sekarang, ukuran kemuliaan juga semakin sering dikaitkan dengan popularitas dan jumlah pengikut di media sosial. Seseorang merasa berhasil ketika videonya viral, unggahannya mendapatkan ribuan komentar, atau jumlah pengikutnya terus bertambah. Tidak ada yang salah dengan popularitas selama digunakan untuk kebaikan. Namun kita harus berhati-hati agar tidak terjebak pada keinginan untuk terlihat baik daripada benar-benar menjadi baik. Jangan sampai kita lebih sibuk membangun citra daripada membangun karakter, lebih sibuk memperindah unggahan daripada memperbaiki ibadah, dan lebih takut kehilangan pengikut daripada kehilangan keikhlasan. Rasulullah SAW telah mengingatkan bahwa ukuran Allah sangat berbeda dengan ukuran manusia:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَىٰ صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَٰكِنْ يَنْظُرُ إِلَىٰ قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim).
Hadis ini seharusnya menjadi cermin bagi kita. Manusia melihat penampilan, Allah melihat hati. Manusia melihat apa yang kita tampilkan, Allah mengetahui apa yang kita sembunyikan. Manusia menilai pencapaian, Allah menilai keikhlasan dan amal. Karena itu, jangan terlalu bangga ketika manusia memuji kita, sebab mereka hanya mengetahui apa yang tampak. Allah mengetahui seluruh keadaan kita, bahkan niat yang tidak pernah kita ungkapkan kepada siapa pun.
Jangan pula terlalu kecewa ketika manusia tidak menghargai kita. Bisa jadi kebaikan yang kita lakukan tidak pernah diketahui manusia, tetapi Allah mengetahuinya. Bisa jadi amal yang kita anggap kecil justru menjadi sebab Allah memberikan kemuliaan kepada kita. Tidak semua kebaikan harus diketahui manusia. Tidak semua perjuangan harus mendapatkan tepuk tangan. Tidak semua amal harus mendapatkan penghargaan.
Kisah Bilal bin Rabah RA memberikan pelajaran yang sangat kuat tentang hal ini. Bilal bukanlah bangsawan. Ia bukan orang kaya dan tidak memiliki kedudukan sosial yang tinggi. Bahkan dalam masyarakat Makkah sebelum Islam, ia berada dalam posisi sebagai seorang budak. Namun ketika cahaya Islam menyentuh hatinya, Bilal memilih iman dan mempertahankannya meskipun harus menghadapi penyiksaan yang sangat berat. Dalam kondisi disiksa, Bilal tetap teguh dan mengucapkan:
أَحَدٌ، أَحَدٌ
“Yang Maha Esa, Yang Maha Esa.”
Manusia mungkin memandang Bilal rendah karena status sosialnya. Tetapi Allah mengangkat derajatnya karena iman dan ketakwaannya. Bilal kemudian menjadi salah satu sahabat Rasulullah SAW yang mulia dan dipercaya menjadi muazin. Dari seorang budak yang dipandang rendah oleh manusia, Bilal menjadi manusia yang dikenang sepanjang sejarah Islam.
Inilah bukti bahwa ukuran manusia tidak selalu sama dengan ukuran Allah.
Karena itu, jangan pernah meremehkan seseorang hanya karena pekerjaannya sederhana. Jangan memandang rendah orang karena pakaiannya biasa. Jangan merasa lebih tinggi karena memiliki gelar. Jangan merasa lebih hebat karena memiliki jabatan. Jangan merasa lebih mulia karena memiliki harta. Bisa jadi orang yang kita pandang sebelah mata justru jauh lebih tinggi kedudukannya di sisi Allah.
Ada orang yang tidak terkenal, tetapi setiap hari menjaga salatnya. Ada yang tidak memiliki jabatan, tetapi sangat amanah dalam pekerjaannya. Ada yang hidup sederhana, tetapi tangannya selalu ringan membantu orang lain. Ada yang tidak pernah muncul di media sosial, tetapi lisannya senantiasa berzikir dan hatinya selalu takut kepada Allah. Mereka mungkin tidak terkenal di bumi, tetapi boleh jadi sangat dikenal di langit.
Di sinilah kita perlu bertanya kepada diri sendiri: Untuk siapa sebenarnya kita hidup? Apakah kita hidup untuk mendapatkan pujian manusia, atau untuk mendapatkan ridha Allah? Apakah kita bekerja agar dianggap hebat, atau agar pekerjaan kita menjadi amal yang bermanfaat? Apakah kita mencari jabatan agar dihormati, atau bersedia memikul amanah dan melayani orang lain?
Sebab ada perbedaan besar antara ingin menjadi terkenal dan ingin menjadi bermanfaat. Orang yang mengejar popularitas bertanya, “Berapa banyak orang yang mengenal saya?” Sementara orang yang ingin bermanfaat bertanya, “Berapa banyak orang yang dapat merasakan kebaikan dari kehadiran saya?”
Ada pula perbedaan antara ingin dihormati dan layak dipercaya. Dihormati bisa diperoleh karena jabatan, harta, atau kekuasaan. Tetapi kepercayaan hanya dapat dibangun melalui kejujuran, amanah, konsistensi, dan akhlak.
Maka jangan terlalu sibuk mengejar agar manusia mengatakan, “Dia orang hebat.” Lebih baik kita berusaha menjadi manusia yang ketika tidak ada seorang pun yang melihat, kita tetap memilih kejujuran. Ketika ada kesempatan untuk berbuat curang, kita tetap memilih amanah. Ketika memiliki kekuasaan, kita tetap memilih keadilan. Ketika memiliki harta, kita tetap memilih berbagi. Dan ketika memperoleh pujian, kita tetap rendah hati. Sebab kemuliaan sejati terlihat bukan ketika kita sedang dipuji, tetapi ketika kita memiliki kesempatan untuk berbuat salah dan memilih untuk tetap berada di jalan Allah.
Pada akhirnya, semua yang kita banggakan akan memiliki batas. Jabatan akan berakhir. Harta akan ditinggalkan. Popularitas akan berlalu. Kekuasaan akan berpindah. Tubuh akan menua. Nama yang hari ini ramai disebut suatu saat mungkin tidak lagi diingat.
Ketika saat itu tiba, kita tidak akan membawa jumlah pengikut, jabatan, gelar, kendaraan, rumah, atau kekayaan. Yang akan menemani kita adalah iman dan amal yang kita persiapkan selama hidup. Maka pertanyaan terbesar dalam kehidupan bukanlah, “Seberapa terkenal saya?” tetapi “Seberapa dekat saya dengan Allah?” Bukan, “Berapa banyak orang yang menghormati saya?” tetapi “Apakah saya sudah menjadi manusia yang dapat dipercaya?” Bukan pula, “Berapa banyak harta yang saya miliki?” tetapi “Dari mana harta itu saya peroleh dan untuk apa saya gunakan?” Dan bukan, “Apa kata manusia tentang saya?” tetapi “Apa yang Allah nilai dari diri saya?”
Karena itu, mari kita berhenti sejenak mengejar kemuliaan yang hanya terlihat di mata manusia. Mari kita lebih serius memperbaiki hati, ibadah, akhlak, kejujuran, amanah, dan ketakwaan. Sebab orang yang benar-benar mulia tidak selalu sibuk membuktikan bahwa dirinya mulia. Ia berbuat baik meskipun tidak dipuji, membantu meskipun tidak difoto, bekerja dengan jujur meskipun tidak diawasi, dan tetap rendah hati meskipun memiliki kekuasaan.
Maka, jika suatu hari kita tidak dipuji, jangan berhenti berbuat baik. Jika tidak dihargai, jangan berhenti menjadi orang baik. Jika tidak dikenal, jangan merasa hidup kita tidak berarti. Allah mengetahui setiap langkah, setiap air mata, setiap pengorbanan, dan setiap kebaikan yang mungkin tidak pernah diketahui manusia.
Boleh jadi nama kita tidak terkenal di bumi, tetapi Allah mengenal kita. Boleh jadi manusia tidak mengingat kebaikan kita, tetapi Allah tidak pernah melupakannya. Boleh jadi kita tidak memiliki kedudukan tinggi di tengah manusia, tetapi Allah meninggikan derajat kita karena ketakwaan. Inilah kemuliaan yang sesungguhnya: bukan ketika manusia memandang kita tinggi, tetapi ketika Allah meridai kita.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الْمُتَّقِينَ، وَارْزُقْنَا إِخْلَاصَ الْقَلْبِ، وَصَلَاحَ الْعَمَلِ، وَحُسْنَ الْخُلُقِ
“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang bertakwa, anugerahkan kepada kami keikhlasan hati, amal yang baik, dan akhlak yang mulia.”
Pada akhirnya, kita tidak perlu menjadi terkenal untuk menjadi mulia. Kita tidak harus memiliki jabatan tinggi untuk menjadi berharga. Kita tidak harus memiliki banyak harta untuk menjadi berarti. Cukuplah menjadi hamba yang bertakwa, karena manusia mungkin hanya mengenal nama kita, tetapi Allah mengetahui seluruh diri kita. Kemuliaan sejati tidak membutuhkan tepuk tangan manusia. Ia hanya membutuhkan keikhlasan di hadapan Allah. Wallahu’alam !