Logo PWM Sulbar

Halaalan Thayyiban : Mengapa Sepakbola Lebih Diterima Dibandingkan Merokok Di Lingkungan Muhammadiyah ?

U

Ustadz Wawan Rongkop

Kader Muhammadiyah Jogjakarta

01 October 2026 • Dibaca 74 kali
Halaalan Thayyiban  : Mengapa Sepakbola Lebih Diterima Dibandingkan Merokok Di Lingkungan Muhammadiyah ?
PWMSULBAR.ID. Setelah mencermati keberadaan klub bola Hizbul Wathan (HW) yang muncul ke permukaan. Jauh sebelum Indonesia merdeka. Serta melihat Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dan Universitas Ahmad Dahlan (UAD) memiliki klub sepakbola kampus. Pernah berlaga di Liga 4 PSSI. Saya merasa memiliki legal standing untuk menuangkan gagasan tentang sepakbola di lingkungan dakwah Muhammadiyah. Kesimpulan saya sederhana. Merokok itu debatable, tapi sepakbola itu marketable di Muhammadiyah. Sebenarnya, banyak kader Muhammadiyah yang perokok berat. Tidak sedikit pula yang menggandrungi tayangan sepakbola. Namun, keduanya memiliki nasib berbeda: 1. Tidak mungkin ada dai Muhammadiyah berani mengisi ceramah di level PRM, PCM, PDM, hingga KOKAM sambil menghisap rokok. 2. Sangat mungkin seorang dai Muhammadiyah menyisipkan cerita sepakbola di tengah ceramah agama dan jamaahpun antusias. 3. Bahkan untuk menjadi menantu tokoh Muhammadiyah, boleh jadi ada syarat tidak tertulis : dia bukan perokok aktif. 4. Sedangkan bagi pria lajang yang ingin menikahi putri kader Muhammadiyah, tidak akan gemetar hanya karena ia memiliki hobi bermain bola. 5. Pokoknya dua kutub beda nasib. 6. Tiada maaf bagi penggemar rokok, masih ada ampunan bagi penggemar bola. Pesan Tersirat Dari Lapangan Hijau. Sesungguhnya, sepakbola bukan sekadar soal menang dan kalah. Ia menitipkan pesan dakwah yang lembut. Pertama, tetaplah optimis. Timnas Denmark pada 1992 sejatinya sudah wassalam. Ia hanya runner-up grup kualifikasi, juara grupnya adalah Yugoslavia. Karena faktor perang Balkan, UEFA mendiskualifikasi Yugoslavia dan Denmark lolos ke putaran final. Dunia tak pernah berharap Denmark bisa bicara banyak. Namun di luar nalar, Denmark melewati fase grup, menang di perempat final dan semifinal. Secara ajaib, di final membuat Jerman menangis. Denmark juara. Lapangan bola berbisik : tetaplah optimis. Meski hari ini sedang gagal. Kedua, berjuanglah sampai menit terakhir. Saya masih mengingat 3 menit krusial Final Liga Champions 1999. Bayern Munchen sudah unggul 1-0 atas Manchester United dan hanya butuh 3 menit lagi untuk juara. Namun MU comeback mencetak dua gol dan berbalik juara. Kisah ini sering saya gunakan untuk memotivasi tamu-tamu saya yang sudah homeless, hopeless, dan speechless. Terkadang orang yang dalam situasi darurat tidak butuh banyak dalil, ia justru butuh pesan sederhana yang menyentuh. Ketiga, kekuatan teamwork. Yunani di Euro 2004 sedang mendidik penduduk bumi tentang kerjasama tim. Timnas Yunani datang dengan kemiskinan skuad, tanpa bintang menonjol. Namun pelatihnya yang berdarah Jerman, Otto Rehhagel, mengajarkan anak asuhnya untuk bermain sebagai tim, bukan individu. Saat bertahan, semua terlibat. Saat menyerang, saling membantu. Hasilnya, Piala Eropa menjadi milik Yunani. Keempat, jangan menyerah saat kembang-kempis. AC Milan sudah unggul 3-0 babak pertama Final Liga Champions 2005. Namun Liverpool menyamakan kedudukan menjadi 3-3 di babak kedua dan akhirnya menang lewat adu penalti. Sepakbola mengajarkan kita untuk tetap optimis . Walaupun perjalanan sedang naik-turun. Kelima, masalah adalah jalan menuju kemenangan. Italia 2006 adalah tim yang compang-camping karena skandal Calciopoli. Juventus dihukum turun kasta ke Serie B, pemain-pemain intinya pindah ke Barcelona dan Madrid. Satu negara geger. Namun justru di tengah badai itulah , mereka meraih Trofi Piala Dunia 2006 di Jerman. Ditambah drama Zidane yang menanduk Materazzi, kisah ini semakin melekat. Lapangan hijau berbisik : terkadang masalah adalah tantangan. Jika sanggup melewatinya, Tuhan telah menyiapkan kesuksesan yang tak terduga. Wallahu a'lam. Istana Atas Telaga, 27 September 2026
Chat WhatsApp