Logo PWM Sulbar

Jabatan Berakhir, Keberkahan Jangan Berakhir

H

H. Ismail Ibrahim, M.Pd.I.

Sekretaris BPH ITBM Polewali Mandar

28 August 2026 Dibaca 34 kali
Jabatan Berakhir, Keberkahan Jangan Berakhir
Satu hal yang sering kita lupakan dalam menjalani kehidupan: tidak ada yang benar-benar kekal di dunia ini. Jabatan bisa berakhir, harta bisa berkurang, kedudukan bisa berubah, bahkan orang-orang yang hari ini begitu dekat dengan kita pun suatu saat bisa pergi. Karena itu, yang semestinya kita kejar bukan hanya jabatan yang tinggi, penghasilan yang besar, atau penghormatan dari manusia, tetapi bagaimana agar kehidupan kita tetap berada dalam keberkahan Allah. Salah satu bekal yang paling penting untuk menjaga keberkahan itu adalah ketakwaan. Dengan takwa, kita belajar menerima ketika Allah memberi, belajar bersabar ketika Allah mengambil, dan belajar tetap percaya ketika kehidupan tidak berjalan sesuai dengan apa yang kita harapkan. Sebab, kita harus menyadari bahwa tidak semua yang kita inginkan pasti baik bagi kita, dan tidak semua yang kita kehilangan berarti buruk bagi kita. Kadang-kadang Allah memberikan sesuatu untuk menguji rasa syukur kita, dan pada kesempatan lain Allah mengambil sesuatu untuk menguji kesabaran kita. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mengukur keberhasilan seseorang dari jabatan yang dimilikinya. Semakin tinggi jabatannya, semakin besar pula penghormatan yang diberikan kepadanya. Ketika seseorang menjadi pimpinan, misalnya, banyak orang datang, menyapa, menghormati, bahkan menunggu keputusan darinya. Namun, pertanyaannya, apakah keadaan seperti itu akan berlangsung selamanya? Tentu tidak. Hari ini seseorang bisa menjadi pimpinan, tetapi beberapa tahun kemudian posisinya bisa berganti. Hari ini seseorang duduk di kursi kekuasaan, tetapi suatu saat ia pasti akan meninggalkan kursi tersebut. Hari ini namanya disebut dengan gelar dan penghormatan, tetapi ketika jabatannya berakhir, bisa jadi semua itu ikut berubah. Karena itulah kita perlu memahami bahwa jabatan sebenarnya bukanlah milik kita. Jabatan hanyalah amanah yang Allah titipkan untuk waktu tertentu. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ ۖ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ “Katakanlah: Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau memberikan kerajaan kepada siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau mencabut kerajaan dari siapa yang Engkau kehendaki. Engkau memuliakan siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau menghinakan siapa yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mulah segala kebajikan. Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Ali 'Imran: 26). Kalau kita benar-benar memahami ayat ini, sebenarnya tidak ada alasan bagi seseorang untuk terlalu sombong ketika mendapatkan jabatan. Sebab jabatan itu datang atas izin Allah. Dan ketika jabatan tersebut berakhir, kepergiannya pun terjadi atas izin Allah. Jadi, ketika berada di atas, jangan merasa bahwa kita akan selamanya berada di atas. Dan ketika berada di bawah, jangan merasa bahwa kehidupan kita telah berakhir. Justru, menurut saya, karakter seseorang sering kali terlihat bukan ketika ia mendapatkan jabatan, tetapi ketika jabatannya berakhir. Ketika masih memiliki kekuasaan, mungkin mudah bagi seseorang untuk merasa penting. Banyak orang datang, banyak orang menghormati, dan banyak keputusan bergantung kepadanya. Tetapi ketika jabatan itu sudah tidak ada, apakah ia masih bisa tetap rendah hati? Apakah ia masih mau menyapa orang-orang yang dulu berada di bawahnya? Apakah ia masih mau membantu meskipun sudah tidak memiliki kewenangan? Di situlah nilai seseorang sebenarnya terlihat. Sebab jabatan seharusnya tidak membuat seseorang merasa lebih tinggi daripada orang lain. Justru semakin tinggi jabatan, semakin besar pula amanah yang harus dipikul. Rasulullah ﷺ bersabda: كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini mengingatkan kita bahwa kepemimpinan bukan hanya milik mereka yang memiliki jabatan formal. Seorang pimpinan memiliki amanah terhadap bawahannya. Seorang ayah memiliki amanah terhadap keluarganya. Seorang ibu memiliki amanah terhadap keluarganya. Bahkan setiap kita memiliki amanah atas apa pun yang Allah titipkan kepada kita. Karena itu, jangan sampai jabatan membuat kita lupa kepada Allah. Jangan sampai kursi membuat kita merasa lebih tinggi daripada orang lain. Jangan sampai kekuasaan membuat kita mudah merendahkan orang yang berada di bawah kita. Sebab suatu saat kursi itu akan kosong, jabatan itu akan berakhir, dan yang tersisa adalah bagaimana kita mempertanggungjawabkan amanah tersebut di hadapan Allah. Ada orang yang ketika jabatannya berakhir merasa sangat kehilangan. Ia merasa kehormatannya ikut hilang. Ia merasa dirinya tidak lagi penting. Bahkan ada yang merasa hidupnya tidak lagi memiliki arti karena tidak lagi memiliki kedudukan seperti sebelumnya. Padahal, apakah benar kehilangan jabatan berarti kehilangan kemuliaan? Belum tentu. Bisa jadi justru setelah jabatan itu berakhir, seseorang mendapatkan sesuatu yang selama ini tidak ia miliki. Ia menjadi lebih dekat dengan keluarganya. Ia memiliki lebih banyak waktu untuk beribadah. Ia kembali rajin ke masjid. Ia lebih sering membaca Al-Qur'an. Ia memiliki waktu untuk bersujud lebih lama dan lebih banyak mengingat Allah. Kalau ternyata setelah kehilangan jabatan seseorang menjadi lebih dekat kepada Allah, bukankah mungkin kehilangan tersebut justru merupakan bentuk kebaikan? Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 216). Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa manusia sering kali hanya melihat sesuatu dari sisi yang terlihat saat ini. Kita melihat kehilangan sebagai kesedihan, sementara Allah mengetahui apa yang ada di balik kehilangan tersebut. Bisa jadi Allah mengambil jabatan karena ingin menyelamatkan kita dari kesombongan. Bisa jadi Allah mengurangi penghasilan karena ingin mengajarkan kita untuk lebih bersyukur. Bisa jadi Allah mengubah jalan kehidupan kita karena ada jalan lain yang lebih baik. Dan bisa jadi Allah sedang mengingatkan kita bahwa kehidupan dunia ini bukanlah tujuan akhir. Karena itu, menurut saya, ada satu hal yang seharusnya lebih kita khawatirkan daripada kehilangan jabatan, yaitu kehilangan keberkahan. Jabatan bisa berakhir dan kita masih bisa mencari pekerjaan lain. Kedudukan bisa hilang dan Allah masih bisa memberikan kesempatan yang lain. Penghasilan bisa berkurang dan Allah masih bisa membuka pintu rezeki dari arah yang tidak pernah kita sangka. Tetapi ketika keberkahan dicabut, kehidupan yang secara lahiriah terlihat berlimpah pun bisa terasa kosong. Kita bisa memiliki banyak uang tetapi tidak memiliki ketenangan. Kita bisa memiliki rumah besar tetapi tidak merasakan kedamaian di dalamnya. Kita bisa memiliki pekerjaan yang bagus tetapi setiap hari hati terasa gelisah. Kita bisa memiliki jabatan tinggi tetapi tidak merasakan kebahagiaan. Kita bisa memiliki makanan yang berlimpah tetapi tidak lagi merasakan nikmatnya. Bahkan kita bisa memiliki keluarga yang lengkap tetapi hati terasa jauh dari orang-orang yang kita cintai. Inilah yang menurut saya perlu kita renungkan. Banyak belum tentu berkah, dan sedikit belum tentu tidak berkah. Ada orang yang penghasilannya sederhana, tetapi setiap pulang ke rumah hatinya tenang. Ada keluarga yang rumahnya tidak besar, tetapi di dalamnya terdengar suara Al-Qur'an dan anak-anak tumbuh dalam ketaatan. Ada orang yang jabatannya tidak tinggi, tetapi kehadirannya selalu memberikan manfaat kepada orang lain. Secara duniawi mungkin mereka terlihat biasa saja. Tetapi bisa jadi kehidupan mereka jauh lebih berkah. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ “Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi.” (QS. Al-A'raf: 96). Ayat ini menurut saya sangat jelas mengingatkan bahwa keberkahan tidak hanya berkaitan dengan seberapa banyak yang kita miliki. Keberkahan juga berkaitan dengan iman, ketakwaan, dan bagaimana kita menggunakan apa yang Allah berikan. Karena itu, ketika mendapatkan penghasilan, jangan hanya bertanya, “Berapa banyak yang saya dapatkan?” tetapi tanyakan juga, “Dari mana penghasilan ini berasal dan untuk apa saya menggunakannya?” Ketika mendapatkan jabatan, jangan hanya bertanya, “Seberapa tinggi posisi saya?” tetapi tanyakan, “Apakah saya sudah berlaku adil? Apakah saya sudah menjalankan amanah? Apakah keberadaan saya membawa manfaat bagi orang lain?” Begitu pula ketika Allah memberikan keluarga. Jangan hanya merasa bangga karena memiliki keluarga, tetapi tanyakan kepada diri sendiri, “Apakah rumah tangga saya sudah menjadi tempat tumbuhnya ketenangan, kasih sayang, dan ketaatan kepada Allah?” Sebab pada akhirnya, keberkahan tidak selalu terlihat dalam bentuk kemewahan. Kadang keberkahan hadir dalam bentuk hati yang tenang, keluarga yang rukun, tubuh yang sehat, rezeki yang halal, anak-anak yang baik, dan kemampuan untuk tetap bersyukur meskipun hidup tidak selalu berjalan sesuai keinginan. Lalu bagaimana kalau suatu hari kita merasa kehidupan mulai kehilangan ketenangan? Menurut saya, jangan buru-buru menyalahkan keadaan. Jangan langsung menganggap bahwa masalahnya selalu karena pekerjaan, keluarga, ekonomi, atau orang lain. Cobalah kita berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri: jangan-jangan ada yang perlu kita perbaiki dalam hubungan kita dengan Allah? Barangkali shalat kita mulai tidak terjaga. Barangkali Al-Qur'an mulai jarang kita baca. Barangkali lisan kita terlalu mudah menyakiti orang lain. Barangkali ada hak orang lain yang belum kita tunaikan. Barangkali ada rezeki yang kita dapatkan dengan cara yang tidak benar. Atau mungkin ada dosa yang terus kita lakukan, tetapi belum benar-benar kita tinggalkan. Allah berfirman: أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra'd: 28). Maka ketika hati terasa gelisah, mungkin sudah waktunya kita kembali kepada Allah. Ketika hidup terasa berat, perbanyak sujud. Ketika rezeki terasa sempit, perbanyak istighfar. Ketika hati dipenuhi kekecewaan, perbanyak mengingat Allah. Jangan sampai kita mencari ketenangan ke mana-mana, tetapi lupa kepada sumber ketenangan itu sendiri. Pada akhirnya, kita semua akan meninggalkan jabatan. Kita akan meninggalkan harta. Kita akan meninggalkan rumah. Kita akan meninggalkan pekerjaan. Dan pada waktunya, kita juga akan meninggalkan dunia ini. Yang akan kita bawa bukanlah jabatan, bukan pula pangkat dan kekayaan. Yang akan kita bawa adalah amal kita. Karena itu, saya kira kita tidak perlu terlalu bangga ketika mendapatkan jabatan dan tidak perlu terlalu hancur ketika kehilangan jabatan. Selama kita masih memiliki iman, masih bisa bersujud, masih bisa bertaubat, dan masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri, berarti kita belum kehilangan segalanya. Jabatan boleh berakhir, tetapi keberkahan jangan sampai berakhir. Pangkat boleh hilang, tetapi iman jangan sampai hilang. Harta boleh berkurang, tetapi rasa syukur jangan sampai berkurang. Manusia boleh melupakan kita, tetapi jangan sampai kita melupakan Allah. Sebab pada akhirnya, yang membuat hidup kita berharga bukanlah seberapa tinggi jabatan yang pernah kita miliki, tetapi seberapa amanah kita ketika dipercaya, seberapa rendah hati kita ketika berada di atas, seberapa sabar kita ketika diuji, dan seberapa dekat kita dengan Allah dalam setiap keadaan. Mudah-mudahan kita menjadi orang-orang yang ketika diberi mampu bersyukur, ketika dipercaya mampu menjaga amanah, ketika kehilangan mampu bersabar, dan ketika jabatan berakhir tetap memiliki sesuatu yang jauh lebih berharga daripada jabatan itu sendiri: iman, ketenangan, dan keberkahan hidup. Wallāhu a‘lamu bish-shawāb.
Chat WhatsApp