Ketika Dosa Mengguncang Bumi: Kemaksiatan, Musibah, dan Hilangnya Keberkahan
R
Refleksi
H.Ismail Ibrahim, M.Pd.I. - Sekretaris PWM Sulbar
19 August 2026
•
Dibaca 42 kali
Oleh : H. Ismail Ibrahim, S.Pd,I.,M.Pd.I
Sekretaris PW Muhammadiyah Sulbar
مِنْ تَأْثِيرِ الْمَعَاصِي فِي الْأَرْضِ: مَا يَحِلُّ بِهَا مِنَ الْخَسْفِ وَالزَّلَازِلِ وَمَحْقِ بَرَكَتِهَا
"Di antara pengaruh kemaksiatan terhadap bumi adalah apa yang menimpanya berupa amblesnya bumi, gempa bumi, dan hilangnya keberkahannya."
Sumber: Imām Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Ad-Dā’u wad-Dawā’, Juz 1, Halaman 160
Penjelasan:
مِنْ تَأْثِيرِ الْمَعَاصِي — Dari pengaruh kemaksiatan
Kata al-ma'āṣī adalah bentuk jamak dari ma'ṣiyah, yaitu segala perbuatan yang melanggar perintah Allah — baik dosa besar maupun dosa kecil, baik yang tersembunyi maupun yang dilakukan secara terang-terangan.
Imam Ibnu Qayyim menegaskan: kemaksiatan bukan sekadar mendatangkan dosa bagi pelakunya semata, melainkan berdampak luas hingga ke alam semesta. Dosa itu ibarat racun yang tidak hanya merusak pelakunya, tetapi juga merembes ke lingkungan, ke bumi, dan ke kehidupan bersama. Ketika maksiat menumpuk, bumi pun ikut "sakit" dan "memberontak" karena tidak tahan memikul beban kemaksiatan hamba-hamba-Nya.
Penjelasan:
فِي الْأَرْضِ — terhadap bumi
Bumi bukan sekadar tanah tempat berpijak. Bumi adalah makhluk yang disucikan dan mengenal Allah, sebagaimana tercantum dalam Al-Qur'an:
﴿تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ﴾
"Langit dan bumi serta seluruh yang ada di dalamnya bertasbih kepada-Nya." (QS. Al-Isrā': 44)
Ketika di atasnya banyak terjadi kemaksiatan, bumi ikut terganggu kesuciannya. Ia seakan-akan "tidak ridha" dan "mengguncang" — sebagai bentuk protes dan peringatan dari Allah, agar manusia sadar dan kembali kepada-Nya.
Penjelasan:
مَا يَحِلُّ بِهَا — apa yang menimpanya / turun kepadanya
Kata yaḥillu bermakna "turun dan menetap" — artinya bencana-bencana itu bukan kebetulan semata, melainkan datang sebagai akibat yang pantas diterima karena tumpukan dosa. Bencana itu seakan "turun dan menetap" di bumi yang penduduknya melalaikan ketaatan kepada Allah.
Penjelasan:
مِنَ الْخَسْفِ — berupa terbenam/amblesnya bumi
Al-khasfu adalah peristiwa bumi yang amblas atau terbenam ke dalam. Ini adalah salah satu bentuk hukuman Allah pada umat-umat terdahulu. Al-Qur'an menyebutkan:
﴿فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الْأَرْضَ﴾
"Maka Kami amblaskan dia dan rumahnya ke dalam bumi." (QS. Al-Qaṣaṣ: 81)
Ini menunjukkan bahwa kemaksiatan dapat menghilangkan kestabilan bumi — tanah yang semula aman menapak, bisa tiba-tiba amblas.
Penjelasan:
وَالزَّلَازِلِ — dan gempa bumi
Az-zalāzil adalah guncangan hebat yang menggetarkan bumi. Gempa dalam pandangan Ibnu Qayyim adalah peringatan Allah yang penuh kasih sekaligus teguran yang menggetarkan hati — agar manusia sadar bahwa kekuasaan mereka tiada apa-apa di hadapan Allah. Ketika manusia merasa aman, lupa bersyukur, dan berbuat sewenang-wenang, Allah menggetarkan bumi untuk mengingatkan: kekuasaan sesungguhnya milik Allah semata.
Guncangan itu bukan tanpa alasan. Ia datang ketika keburukan merajalela, keadilan hilang, riba merajalela, kemaksiatan dilakukan secara terbuka tanpa rasa malu kepada Allah. Maka Allah memperingatkan: Bertobatlah, sebelum bumi ini menjadi saksi sekaligus hukuman bagimu.
Penjelasan:
وَمَحْقِ بَرَكَتِهَا — dan hilangnya keberkahannya
Maḥqu barakatihā artinya: keberkahan bumi dicabut, perlahan-lahan hilang sampai habis. Tanah tetap tanah, air tetap air, namun tidak lagi membawa manfaat dan ketenangan.
Hasil panen sedikit meski tanam banyak. Hujan turun tapi tidak menumbuhkan tanaman. Uang banyak tapi tidak cukup. Waktu berlalu namun tidak berkah. Semua tampak ada, namun esensi kebaikannya hilang — itulah akibat kemaksiatan. Keberkahan itu menempel pada ketaatan; ketika ketaatan hilang, keberkahan pun ikut dicabut oleh Allah.
Imam Ibnu Qayyim mengajarkan kepada kita: bumi ikut menderita karena dosa kita.
- Jika kita menjauhi larangan Allah → bumi menjadi tenang, berkah, dan aman.
- Jika kita menumpuk dosa → bumi ikut "mengguncang", kehilangan berkah, dan menampakkan tanda-tanda murka Allah.
Maka setiap kali gempa terjadi, atau ketika berkah kehidupan berkurang, janganlah hanya menyalahkan alam atau cuaca. Tataplah ke dalam hati: Apa yang telah kami perbuat? Apakah kami telah banyak melanggar perintah Allah?
Pesan beliau sangat dalam: Bumi itu terpelihara oleh ketaatan penghuninya. Jika penghuninya berbuat maksiat, maka bumi pun kehilangan pelindungnya — lalu guncangan, amblas, dan hilangnya berkah pun datang sebagai teguran Allah.
Maka bertaubatlah selagi masih ada waktu. Perbaikilah diri, perbanyaklah ketaatan, sembunyikanlah keburukan, dan sebarkanlah kebaikan. Karena keselamatan bumi dan keselamatan diri kita — semuanya bergantung pada kembali kepada Allah dengan hati yang tulus