Konsep Berkah Komunal di Muhammadiyah: Struktural Cerminan Kultural
U
Ustadz Wawan Rongkop
Kader Muhammadiyah Jogjakarta
27 September 2026
•
Dibaca 89 kali
PWMSULBAR.ID - Ada sebuah pertanyaan yang jarang kita ajukan secara serius : mengapa pembangunan di lingkungan Muhammadiyah hampir selalu selesai ?
Pernahkah kita mendengar kasus memalukan anggaran pembangunan TK Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA) ditilep oknum hingga bangunan mangkrak ?, nihil. Sulit menjumpai kasus demikian.
Pernahkah kita mendengar anggaran pembangunan Rumah Sakit PKU Muhammadiyah digelapkan oknum ?, nihil.
Berapa kali kita jumpa anggaran pembangunan SMP atau SMA Muhammadiyah menguap karena ulah oknum ?. Insya Allah, di level yang massif, sulit menjumpai kasus seperti itu.
Begitu pula anggaran pembangunan Gedung Serbaguna atau Masjid Muhammadiyah. Hampir tidak pernah kita dengar menguap.
Apakah Muhammadiyah steril dari oknum ?. Tentu tidak.
Satu dua oknum yang memalukan tetap ada. Satu dua kasus mal-administrasi tetap terjadi. Namun, ia tidak menjadi penyakit menular. Ia tidak membudaya. Ia tidak menjadi sistem.
Fenomena ini baru-baru saja menyadarkan saya, pada sebuah konsep. Tentu berbasis dalil Al-Qur'an. Surat Al-An'am ayat 129, mengilhami saya untuk berprasangka baik. Tentang hubungan pemimpin dan rakyat.
Penguasa dipengaruhi oleh kualitas warganya. Akuntabilitas pemerintah disebabkan oleh ketertiban warganya. Maka, kepemimpinan struktural Muhammadiyah adalah cermin dari kesalehan sosial akar rumput warga Muhammadiyah se-Indonesia.
Inilah yang saya sebut sebagai Berkah Komunal, Bukan Berkah Personal.
Eksistensi TK ABA di sebuah desa bukanlah berkah dari Ustadz A atau B. Melainkan berkah dari komunitas jamaah di desa tersebut yang menjaga amanah.
Eksistensi PKU Muhammadiyah di sebuah kabupaten bukan berkah dari Ustadz C atau D. Tapi berkah dari warga Muhammadiyah satu kabupaten yang patuh iuran, patuh mengawasi.
Akuntabilitas Universitas Muhammadiyah di sebuah provinsi bukan berkah dari Ustadz E atau F. Melainkan berkah dari civitas akademika yang jumlahnya tak terbatas, saling mengoreksi.
Sampailah pada gongnya : keindahan struktural Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam mengayunkan kebijakan publik, adalah berasal dari feedback akuntabilitas akar rumput masyarakat Muhammadiyah satu negara.
Dari sini saya berkeyakinan, Insya Allah tidak akan ada Indonesia Bubar. Jika Berkah Komunal ini dijaga.
Indonesia butuh komunitas Salafi Wahabi untuk mencetak kesalehan komunal.
Indonesia butuh ikhtiar dari komunitas MTA Solo untuk mencetak kesejukan komunal.
Indonesia butuh sumbangsih PERSIS untuk mengkondisikan soliditas komunal.
Kita berharap pesantren Hidayatullah menjadi gudang penghasil kesejukan Indonesia.
Jutaan pengikut tarekat di NU adalah soko guru penyelamat dari Sabang sampai Merauke.
Jutaan pengikut akidah bercorak Asy'ariyah adalah penjaga nikmat Allah yang ada di perut bumi Indonesia.
Dan doa anak yatim piatu satu negeri adalah alat pancing rahmat Allah.
Kesimpulannya, tulisan ini adalah sebuah harapan. Semoga menjadi jembatan yang menyatukan hati komunitas puritan Indonesia dengan komunitas tradisional. Agar Salafi Wahabi, MTA Solo, PERSIS, Hidayatullah, Al-Irsyad dan Muhammadiyah bisa berpelukan erat dengan jamaah NU.
Aamiin, aamiin, aamiin.
ISTANA ATAS TELAGA, 13 September 2026.