Logo PWM Sulbar

MBS At-Tanwir Mamuju Mengukir Jejak di Kemah Santri Muhammadiyah Nasional

Furqan Mawardi

Ketua Lembaga Pengembangan Cabang Ranting Masjid dan Pesantren PWM SULBAR

22 September 2026 • Dibaca 171 kali
MBS At-Tanwir Mamuju Mengukir Jejak di Kemah Santri Muhammadiyah Nasional
Ada rasa bangga yang sulit dijelaskan ketika melihat anak-anak santri membawa nama daerahnya jauh dari kampung halaman. Apalagi ketika yang dibawa bukan sekadar nama pribadi, tetapi nama lembaga, Persyarikatan, dan daerah tempat mereka tumbuh. Itulah yang sedang dilakukan para santri MBS At-Tanwir Mamuju. Dalam Kemah Santri Muhammadiyah (KSM) ke-2 tingkat nasional di Bumi Perkeman Coban Rondo Malang 21-24 September 2026. MBS At-Tanwir Mamuju hadir sebagai satu-satunya pondok Muhammadiyah yang mewakili Sulawesi Barat. Bahkan dari Pulau Sulawesi, hanya dua provinsi yang turut mengirimkan peserta, yakni Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Bagi saya, kehadiran mereka bukan sekadar tentang siapa yang datang dan siapa yang tidak datang. Ada pesan yang jauh lebih besar yg ingin disampaikan.Bahwa santri dari Mamuju juga punya kesempatan untuk berdiri sejajar, belajar, berjejaring, dan membawa nama Sulawesi Barat di ruang nasional. Senin, 21 September 2026, Kemah Santri Muhammadiyah tingkat nasional resmi dibuka. Hadir Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah, bapak Izzul Muslimin, S.IP., hadir membuka kegiatan. Ada empat pesan penting yang disampaikan kepada seluruh peserta.: Pertama, beriman dan bertakwa. Kedua, berakhlakul karimah. Ketiga, memiliki modal ilmu pengetahuan. Dan keempat, memiliki mental dan fisik yang kuat. Empat pesan sederhana, tetapi sesungguhnya menjadi fondasi penting bagi seorang kader. Sebab Muhammadiyah tidak hanya membutuhkan orang pintar. Muhammadiyah membutuhkan orang pintar yang beriman. Tidak hanya membutuhkan orang yang kuat, tetapi juga orang yang berakhlak. Tidak hanya membutuhkan kader yang memiliki pengetahuan, tetapi juga memiliki mental dan fisik untuk menghadapi tantangan zaman. Dari Malang, pesan itu terasa semakin jelas bahwa Muhammadiyah ingin terus mencerahkan semesta dengan kader-kader terbaiknya. Bupati Malang, Drs. H. M. Sanusi, M.M., yang akrab disapa Abah Sanusi, juga hadir memberikan sambutan. Pesannya sederhana tetapi penuh harapan yakni kpd para peserta harus mempersiapkan diri menjadi pemimpin masa depan. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Muhammadiyah yang selama ini ikut mencetak calon-calon pemimpin bangsa. Bagi para santri yang duduk mendengarkan, mungkin kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi siapa tahu, di antara mereka yang hadir di Malang hari itu, kelak ada yang menjadi pemimpin di daerahnya, menjadi guru, dosen, pengusaha, birokrat, ulama, atau bahkan pemimpin Persyarikatan bangsa dan negara. Pesan yang tidak kalah penting datang dari Kementerian Agama. Hadir mewakili Direktorat Jenderal Pesantren, Endi Suhendi, S.Ag., M.A., Kepala Subdirektorat Pendidikan Muadalah dan Pendidikan Diniyah Formal. Pesannya kembali mengingatkan tiga hal: jaga iman dan akhlak, jangan berhenti belajar, dan teruslah memberikan manfaat. Tiga kalimat yang sebenarnya sederhana, tetapi jika benar-benar dijalankan, cukup untuk menjadi bekal seorang santri menghadapi kehidupan. Kemudian tausyiah disampaikan oleh Dr. Syamsudin, M.Ag., Wakil Ketua Bidang Tarjih dan Tajdid, Kepesantrenan, Haji-Umrah. Dari beliau ada pesan yang menarik tentang sosok pemimpin Muhammadiyah masa depan yakni al-qawiyyul amīn. Pemimpin yang kuat sekaligus dapat dipercaya. Ada ketegasan, ada kekuatan, tetapi juga ada kejujuran. Sebab kekuatan tanpa kejujuran bisa menjadi kesombongan. Kejujuran tanpa keberanian bisa membuat seseorang tidak mampu mengambil keputusan. Maka seorang pemimpin harus memiliki keduanya: kuat dan amanah. Di tengah suasana nasional itulah, nama MBS At-Tanwir Mamuju ikut diperkenalkan. Sebagai bagian dari Muhammadiyah Sulawesi Barat. Saya berkesempatan hadir membersamai para peserta dari Sulawesi Barat. Kehadiran ini bukan hanya untuk memastikan mereka tidak merasa sendirian jauh dari Mamuju, tetapi juga menjadi kesempatan untuk memperkenalkan lebih dekat MBS At-Tanwir Mamuju kepada para pimpinan Muhammadiyah yang hadir dari berbagai daerah. Ada kebanggaan tersendiri ketika menyebut: “Ini MBS At-Tanwir Mamuju, dari Sulawesi Barat.” Sederhana memang. Tetapi bagi sebuah lembaga pendidikan yang tumbuh jauh dari pusat Pulau Jawa, kesempatan memperkenalkan diri di forum nasional adalah sesuatu yang sangat berarti. Mungkin perjalanan Mamuju–Malang terasa jauh. Tetapi bagi pendidikan, jarak geografis seharusnya tidak pernah menjadi alasan untuk berhenti bermimpi. Santri-santri MBS At-Tanwir hari ini datang ke Malang bukan hanya membawa tas dan perlengkapan kemah. Mereka membawa nama Mamuju, nama Sulawesi Barat, nama besar Muhammadiyah, dan tentu saja nama MBS At-Tanwir. Mereka datang untuk belajar. Bertemu dengan santri dari berbagai daerah. Mengenal wajah Muhammadiyah yang jauh lebih luas. Dan yang paling penting, belajar bahwa menjadi santri bukan berarti hanya pandai mengaji. Santri juga harus siap menjadi bagian dari masa depan bangsa. Karena itu, saya berharap perjalanan ini tidak berhenti ketika kemah selesai. Jangan sampai setelah kembali ke Mamuju, semua yang didengar hanya menjadi cerita. Bawalah pulang semangatnya. Bawalah pulang ilmunya. Bawalah pulang persaudaraannya. Dan yang paling penting, bawalah pulang perubahan dalam diri. Furqan Mawardi, Ketua Lembaga Pengembangan Cabang Ranting Masjid dan Pesantren PWM SULBAR
Chat WhatsApp