Menjadi Mahasiswa, Bukan Sekadar Menjadi Sarjana
U
Umar Syaifudin
Ketua BEM ITBM POLMAN
09 August 2026
•
Dibaca 167 kali
Menjadi mahasiswa adalah sebuah fase yang sering kali dipahami secara sederhana: datang ke kampus, mengikuti perkuliahan, mengerjakan tugas, memperoleh nilai, menyelesaikan skripsi, kemudian mendapatkan gelar sarjana. Seolah-olah perjalanan mahasiswa memiliki garis akhir yang jelas, yaitu wisuda.
Namun, bagi saya, menjadi mahasiswa tidak pernah sesederhana itu. Perguruan tinggi seharusnya bukan hanya tempat seseorang memperoleh gelar akademik, melainkan ruang untuk membentuk cara berpikir, keberanian bersikap, kemampuan membaca persoalan, serta kesadaran untuk mengambil peran di tengah masyarakat. Sebab, ukuran keberhasilan seorang mahasiswa semestinya tidak hanya dilihat dari seberapa tinggi nilai akademiknya, tetapi juga dari seberapa besar ilmu dan pengalaman yang ia miliki mampu memberikan arti bagi lingkungan di sekitarnya. Di sanalah dunia kemahasiswaan menemukan maknanya.
Mahasiswa dan Ruang Pembentukan Diri
Dunia kemahasiswaan adalah ruang yang mempertemukan berbagai gagasan, karakter, latar belakang, dan kepentingan. Di dalamnya mahasiswa belajar berdiskusi, berbeda pendapat, berorganisasi, memimpin, dipimpin, menyampaikan kritik, menerima kritik, bahkan belajar dari kegagalan.
Tidak semua pelajaran tersebut tertulis di dalam silabus perkuliahan. Ada pengetahuan yang hanya dapat ditemukan ketika kita berhadapan langsung dengan persoalan. Ada kedewasaan yang lahir dari perbedaan. Ada kepemimpinan yang tumbuh dari tanggung jawab. Dan ada keberanian yang muncul ketika kita memilih untuk tidak diam terhadap sesuatu yang menurut kita tidak benar.
Karena itu, saya memandang dunia kemahasiswaan bukan sebagai kegiatan tambahan di luar perkuliahan. Ia adalah bagian dari proses pendidikan itu sendiri.
Organisasi mahasiswa, forum diskusi, kegiatan sosial, pengabdian masyarakat, gerakan intelektual, hingga berbagai ruang aktualisasi lainnya seharusnya menjadi laboratorium kehidupan bagi mahasiswa. Di sanalah mahasiswa tidak hanya belajar tentang teori, tetapi juga belajar menerjemahkan teori menjadi tindakan.
Namun, kemahasiswaan juga tidak boleh kehilangan arah. Aktif berorganisasi bukan berarti mengabaikan akademik. Sebaliknya, menjadi mahasiswa yang baik bukan berarti hanya mengejar indeks prestasi sambil menutup mata terhadap persoalan sosial di sekitarnya. Keduanya harus berjalan beriringan. Sebab, mahasiswa membutuhkan kecerdasan untuk berpikir, tetapi juga keberanian untuk bertindak.
Antara Idealisme dan Realitas
Mahasiswa sering disebut sebagai kelompok yang memiliki idealisme. Saya percaya bahwa idealisme memang merupakan salah satu kekuatan terbesar mahasiswa. Tetapi idealisme akan kehilangan makna jika hanya berhenti sebagai slogan. Kita boleh berbicara tentang perubahan, tetapi perubahan membutuhkan kerja. Kita boleh berbicara tentang keadilan, tetapi keadilan membutuhkan keberanian untuk berpihak. Kita boleh berbicara tentang kemajuan, tetapi kemajuan membutuhkan pengetahuan yang diterjemahkan menjadi tindakan.
Di sisi lain, mahasiswa juga tidak boleh terjebak dalam romantisme gerakan. Kita hidup dalam zaman yang berubah sangat cepat. Persoalan masyarakat semakin kompleks. Teknologi berkembang begitu cepat, informasi bergerak tanpa batas, kecerdasan buatan mulai mengubah cara manusia bekerja dan belajar, sementara persoalan sosial, ekonomi, lingkungan, dan pendidikan tetap membutuhkan perhatian. Dalam situasi seperti ini, mahasiswa tidak cukup hanya menjadi pengkritik keadaan. Mahasiswa juga harus mampu menjadi bagian dari solusi.
Kita perlu memiliki keberanian untuk mempertanyakan keadaan, tetapi juga kemampuan untuk menawarkan gagasan. Kita perlu kritis, tetapi tidak kehilangan etika. Kita perlu memiliki idealisme, tetapi tetap berpijak pada realitas.
Menjadi Mahasiswa di Era Digital
Hari ini, generasi mahasiswa hidup dalam ruang yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Informasi dapat diperoleh hanya dalam hitungan detik. Pengetahuan dapat diakses dari berbagai penjuru dunia. Teknologi memberikan begitu banyak kesempatan untuk belajar, berkarya, dan membangun jaringan. Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan tantangan.
Banjir informasi tidak selalu berarti banjir pengetahuan. Banyaknya informasi tidak otomatis membuat seseorang menjadi lebih cerdas. Justru di tengah derasnya arus informasi, mahasiswa dituntut memiliki kemampuan untuk memilah, memverifikasi, menganalisis, dan mempertanggungjawabkan informasi yang dikonsumsi maupun disebarkan. Teknologi seharusnya tidak menjadikan mahasiswa sekadar pengguna.
Mahasiswa harus mampu menjadi pencipta.
Kita tidak boleh hanya menjadi generasi yang sibuk mengonsumsi apa yang dibuat orang lain. Kita harus mulai bertanya: apa yang bisa kita ciptakan dengan pengetahuan yang kita miliki? Apa yang bisa kita selesaikan dengan teknologi? Bagaimana ilmu yang kita pelajari dapat menjawab persoalan masyarakat?. Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting karena masa depan tidak hanya membutuhkan orang-orang yang mampu menggunakan teknologi, tetapi juga manusia yang mampu mengarahkan teknologi untuk kemaslahatan.
Dari Kampus untuk Masyarakat
Pada akhirnya, pendidikan tinggi tidak boleh membuat seseorang semakin jauh dari masyarakat. Semakin tinggi pendidikan seseorang, seharusnya semakin besar pula kesadarannya terhadap persoalan yang ada di sekelilingnya. Mahasiswa berasal dari masyarakat. Biaya pendidikan, fasilitas pendidikan, pengetahuan, bahkan kesempatan untuk belajar merupakan bagian dari ekosistem sosial yang lebih besar. Maka, sangat wajar apabila setelah mendapatkan ilmu, mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk mengembalikan sebagian manfaatnya kepada masyarakat.
Pengabdian tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Ia bisa dimulai dari hal sederhana: membantu masyarakat memahami teknologi, mendampingi anak-anak belajar, membuat kegiatan sosial, mengembangkan potensi ekonomi masyarakat, melakukan riset terhadap persoalan lokal, atau sekadar memiliki kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Yang terpenting bukan seberapa besar tindakan itu terlihat, tetapi seberapa nyata kebermanfaatannya. Sebab, gelar pada akhirnya hanya melekat pada nama. Tetapi kebermanfaatan akan melekat pada kehidupan orang lain.
Menjadi Mahasiswa, Bukan Sekadar Menjadi Sarjana
Bagi saya, menjadi mahasiswa berarti sedang mempersiapkan diri untuk menjadi manusia yang memiliki kapasitas dan kebermanfaatan.
Kita memang harus belajar untuk mendapatkan nilai. Kita harus menyelesaikan tugas. Kita harus mengejar prestasi akademik. Kita harus menyelesaikan pendidikan dan mendapatkan gelar. Tetapi jangan sampai seluruh perjalanan itu hanya berakhir pada selembar ijazah.
Jangan sampai empat tahun atau lebih yang kita habiskan di perguruan tinggi hanya menghasilkan seseorang yang memiliki gelar, tetapi tidak memiliki keberanian untuk berpikir.
Jangan sampai kita menjadi sarjana yang mengetahui banyak hal, tetapi tidak peduli terhadap apa yang terjadi di sekelilingnya. Dan jangan sampai pendidikan yang kita tempuh justru membuat kita lupa kepada mereka yang dahulu berjuang agar kita bisa sampai di titik ini. Karena itu, saya percaya bahwa pertanyaan terpenting bagi seorang mahasiswa bukan hanya, “Gelar apa yang akan saya dapatkan?” Tetapi juga: “Manusia seperti apa yang akan saya menjadi setelah keluar dari kampus ini?” Pertanyaan itulah yang semestinya terus kita bawa selama menjalani kehidupan kemahasiswaan.
Sebuah Refleksi dari Perjalanan Saya
Hari ini, saya mendapatkan amanah untuk berdiri sebagai Presiden Mahasiswa Institut Teknologi dan Bisnis Muhammadiyah Polewali Mandar (ITBM Polman). Di luar kampus, saya juga mendapatkan amanah sebagai Sekretaris Bidang Teknologi Informasi Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah, sebuah amanah yang membawa saya pada ruang-ruang pengabdian yang lebih luas, termasuk menjalankan aktivitas organisasi di Menara 62, Menteng Raya, Jakarta Pusat.
Bagi sebagian orang, posisi tersebut mungkin terlihat sebagai sebuah pencapaian. Tetapi bagi saya, posisi tersebut bukanlah alasan untuk merasa lebih tinggi dari siapa pun. Justru semakin banyak amanah yang diberikan, semakin saya memahami bahwa kepemimpinan bukan tentang seberapa tinggi seseorang berdiri, melainkan seberapa banyak ia mampu membawa manfaat bagi orang lain.
Dan ketika saya melihat perjalanan saya sampai pada titik ini, saya selalu teringat kepada dua orang yang menjadi bagian paling penting dari seluruh perjalanan tersebut: ayah dan ibu saya. Saya adalah anak dari seorang ayah yang dahulu berprofesi sebagai penjual gorengan. Kemudian, beliau beralih profesi menjadi penjual pentol kuah. Setelah itu, beliau kembali beralih profesi menjadi seorang pengepul barang rongsokan.
Ibu saya adalah seorang penjual jamu.
Sejak saya masih kecil hingga hari ini, tidak pernah sedikit pun saya merasa malu dengan profesi kedua orang tua saya. Saya justru belajar bahwa pekerjaan yang dilakukan dengan kejujuran dan ketulusan tidak pernah menjadi sesuatu yang memalukan. Saya melihat sendiri bagaimana tangan orang tua saya bekerja untuk memastikan anaknya tetap bisa berjalan menuju masa depan. Saya melihat bahwa di balik setiap rupiah yang mereka hasilkan, terdapat keringat, waktu, pengorbanan, dan doa.
Karena itu, ketika hari ini saya berdiri sebagai seorang mahasiswa, seorang pemimpin mahasiswa, dan mendapatkan kesempatan untuk belajar serta berorganisasi di ruang yang lebih luas, saya tidak pernah menganggap semua itu sebagai keberhasilan saya seorang diri.
Berdirinya saya di sini adalah bukti keberhasilan dari setiap pekerjaan yang pernah dilakukan oleh kedua orang tua saya.
Jika hari ini saya mampu berbicara tentang pendidikan, kepemimpinan, organisasi, teknologi, dan perubahan, ada dua orang yang terlebih dahulu mengajarkan kepada saya tentang arti perjuangan—bukan melalui teori, tetapi melalui kehidupan mereka sendiri.
Ayah saya mengajarkan bahwa pekerjaan apa pun yang dilakukan dengan halal dan penuh tanggung jawab adalah kehormatan.
Ibu saya mengajarkan bahwa ketekunan tidak membutuhkan panggung untuk menjadi berarti. Dan dari mereka saya belajar bahwa keberhasilan bukan tentang dari mana seseorang berasal, tetapi tentang sejauh mana ia mampu menghargai perjuangan yang membawanya sampai ke tempat ia berdiri hari ini.
Maka, jika suatu hari nanti saya menyandang gelar sarjana, saya berharap gelar itu tidak menjadi akhir dari perjalanan. Saya ingin gelar itu menjadi awal dari tanggung jawab yang lebih besar. Sebab saya ingin percaya bahwa seorang mahasiswa tidak dilahirkan hanya untuk menjadi sarjana. Mahasiswa hadir untuk belajar, berpikir, bergerak, dan memberi arti.
Dan pada akhirnya, pendidikan yang paling berharga bukanlah pendidikan yang hanya mengubah status seseorang dari mahasiswa menjadi sarjana, melainkan pendidikan yang mampu mengubah seorang manusia menjadi pribadi yang lebih berilmu, lebih berani, lebih rendah hati, dan lebih bermanfaat bagi sesamanya.