Logo PWM Sulbar

SALAHKAH AKU MENCINTAI PANGERAN DIPONEGORO? Sebuah Upaya Mendamaikan Epistemologi Bayyani dan Irfani

U

Ustadz Wawan Rongkop

Kader Muhammadiyah Jogjakarta

13 September 2026 • Dibaca 54 kali
SALAHKAH AKU MENCINTAI PANGERAN DIPONEGORO? Sebuah Upaya Mendamaikan Epistemologi Bayyani dan Irfani
Saya terlahir "ceprot", bukan di ruang hampa kebudayaan. Saya lahir dan besar di lingkungan keluarga yang secara antropologis bisa disebut kaum puritan : Muhammadiyah. Namun sejak SD, saya sudah bersinggungan dengan tradisi lain. Guru SD saya adalah seorang Nahdliyyin tulen. Benturan antara tradisi puritan dan tradisional itu mewarnai cara saya memandang keberagamaan. Sejak kecil saya belajar bahwa orang beragama itu tidak hitam-putih an sich. Perjalanan itu kemudian menempatkan saya di sebuah ruang tengah. Meminjam istilah dalam disertasi doktoral Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan di Sosiologi UGM, saya termasuk dalam klasifikasi "MuNU" - kader Muhammadiyah yang juga memahami dan menghargai tradisi NU. Belajar dari Prof. Dr. Dudung Abdurrahman: Muhammadiyah 24 Karat yang Objektif Pertemuan yang paling membekas bagi saya adalah dengan Prof. Dr. Dudung Abdurrahman saat kuliah. Beliau adalah contoh nyata kader Muhammadiyah 24 karat yang mampu hidup di dua dunia. Dunia Privat : Dalam masalah fiqih, beliau teguh berpegang pada apa yang diputuskan dalam Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah. Dunia Publik/Akademik: Sebagai dosen, beliau mengedepankan objektivitas dalam membaca teks dan fenomena. Rasa penasaran akademik membawanya pada kajian esoterisme Islam, khususnya Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah di Suryalaya, Tasikmalaya. Untuk tesis S2-nya di UGM, beliau harus melakukan inhern-involved. Syaratnya: login atau berbaiat sebagai pengikut tarekat tersebut. Hasilnya, tesis selesai dengan sempurna. Secara privat beliau tetap Muhammadiyah. Secara akademis beliau mampu masuk dan memahami dunia tasawuf dari dalam. Dari guru saya inilah saya belajar: tetap bermuhammadiyah tanpa harus membatasi diri untuk memahami yang lain. Nasab, Kultur, dan Tiga Epistemologi dalam Diri Saya Saya menyadari ada tiga kutub yang membentuk cara berpikir saya. Pertama, Kultur Puritan. Saya besar di keluarga Muhammadiyah yang mengajarkan pemurnian Islam. Kedua, Epistemologi Burhani. Pergaulan sekolah dan kampus memperkenalkan saya pada ilmu eksakta dan humaniora. Cara berpikir rasional, berbasis penelitian dan pembuktian. Ketiga, Nasab dan Sinkretisme. Garis ayah saya tersambung ke Hamengkubuwono II Yogyakarta. Garis ibu saya tersambung ke Mangkunegara I Solo. Dalam tradisi keraton Jawa, yang menonjol bukanlah fiqih oriented, melainkan sinkretisme Islam. Sebuah pendekatan yang mengambil jarak dari jurisprudensi dan mendekat ke esoterisme, ke dunia batin. Tiga kutub inilah yang akhirnya membuat saya menemukan clue untuk bersikap. Berbaik Sangka pada Amaliyah Lain Saya memiliki kemampuan untuk berbaik sangka pada amaliyah NU, walaupun saya bukan NU. Secara akademik, hal ini mendorong saya untuk terus belajar tentang mereka. Tentang fiqih Syafi'i yang menjadi pilihan madzhab mereka. Tentang akidah Asy'ariyah yang menjadi cara mereka bertauhid. Tentang Imam Ghazali dan Junaid Al-Baghdadi yang menjadi pengisi ruang batin mereka. Saya bukan pengamal rutinan maulidan. Tapi saya nyaman mempelajari kitab-kitab mereka : Diba'i, Simtudduror, Raatibul Haddad, Barzanji, dan lainnya. Prinsip saya sederhana : Yang tidak saya lakukan, belum tentu salah. Meluruskan Nada Miring pada Dunia Sufistik Tidak bisa dipungkiri, di komunitas puritan seperti Muhammadiyah dan Salafi, dunia sufi sering dijauhi. Bahkan ada persepsi : tidak ada maaf bagi kader Muhammadiyah yang membicarakan dunia sufi di grup WA. Atau yang memiliki buku Imam Ghazali dan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani. Tapi perspektif historis membuat saya open minded. Prof. Dr. Sartono Kartodirjo, sejarawan besar asal Wonogiri, dalam disertasinya di Belanda meneliti Pemberontakan Petani Banten 1888. Siapa pelakunya ?. Para pengikut Tarekat Naqsyabandiyah dan Qadiriyah. Padahal tarekat dikenal sebagai komunitas yang menjauhi dunia, sibuk membersihkan hati. Tapi ketika penjajah VOC datang, mereka justru bangkit berjihad. Kalah atau menang bukan soalnya. Yang penting : mereka wafat sebagai mujahidin. Bumi Banten berdiri di atas semangat jihad mereka abad ke-19. Dari sini saya mencatat : Mereka bukan public enemy. Mereka adalah public bestie bagi NKRI. Jika demikian, tidak sepantasnya kita nyinyir pada preferensi ibadah mereka. Saya tidak harus menjadi pengikut tarekat. Tapi saya wajib mengapresiasi keringat jihad mereka. Pangeran Diponegoro : Simbol Perpaduan Fiqih dan Tasawuf Di titik inilah kekaguman saya sampai pada sosok Pangeran Diponegoro. Saya memiliki nasab ke Hamengkubuwono II. Pangeran Diponegoro berasal dari inner circle Keraton Mataram Islam Yogyakarta. Bagi saya, perjuangan Diponegoro adalah bukti nyata perpaduan dua epistemologi : Epistemologi Bayyani : Semangat jihadnya berakar dari fiqih. Fiqih Siyasah. Fiqih Jihad. Ia muslim dan VOC adalah penjajah kafir. Epistemologi Irfani : Semangatnya juga berakar dari bait-bait Kitab Burdah. Ditarik dari mata air dunia sufistik dan tasawuf. Menurut tutur Ustadz Salim A. Fillah, Perang Jawa 1825-1830 membuat kas Belanda dan VOC di Batavia bangkrut. Begitu banyak tentara Kumpeni yang tewas, hingga keuangan menipis. Akibatnya, pasukan Belanda yang sedang menjajah Belgia harus ditarik pulang. Dan pada abad 19 itu, Belgia pun merdeka. Artinya, kemerdekaan Belgia pun ada berkahnya dari Perang Jawa yang dipimpin Diponegoro. Penutup Dari sinilah saya menemukan kedamaian. Saya tetap menjadi kader Muhammadiyah. Tapi saya juga tidak menutup diri untuk mencintai sejarah, mencintai Pangeran Diponegoro Serta menghargai khazanah tasawuf yang pernah menggerakkan jihad para ulama dan raja-raja Nusantara. Karena pada akhirnya, Islam Nusantara ini besar bukan hanya dengan dalil, tapi juga dengan hati. Bukan hanya dengan burhani, tapi juga dengan Irfani. Wallahu a'lam bishawab. Istana Atas Telaga, 12 September 2026
Chat WhatsApp