Logo PWM Sulbar

Sekali Dibajak, Hilang Kendali

D

Dr. Ir. H. Muh. Tahir, M.Si.

Dewan Pakar MPI PWM Sulbar

08 August 2026 Dibaca 17 kali
Sekali Dibajak, Hilang Kendali
Zaman now adalah zaman ketika kehidupan kita berpindah ke dalam genggaman. WhatsApp, Facebook, TikTok, Instagram, email, mobile banking, marketplace, hingga berbagai aplikasi pelayanan publik telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Kita tidak hanya menyimpan percakapan di dalamnya, tetapi juga menyimpan identitas, relasi, pekerjaan, bahkan akses terhadap uang. Karena itu, ketika akun dibajak, yang hilang bukan sekadar akun. Yang sedang diperebutkan adalah kendali atas kehidupan digital kita. Kita sering mendengar saudara, teman, dosen, pejabat, pengusaha, bahkan lembaga pendidikan tiba-tiba kehilangan kendali atas WhatsApp atau media sosialnya. Nomornya masih dikenal, fotonya masih sama, tetapi yang berbicara ternyata bukan pemiliknya. Pelaku kemudian menghubungi keluarga dan teman, meminjam uang, meminta transfer, mengirim tautan palsu, atau menawarkan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah dilakukan pemilik akun. Lebih berbahaya lagi, penipuan digital tidak selalu datang dalam bentuk pembajakan akun. Ada phishing, tautan palsu, aplikasi berbahaya, pencurian OTP, manipulasi psikologis, peniruan identitas, rekening palsu, investasi fiktif, hingga rekayasa suara dan gambar menggunakan kecerdasan buatan. Artinya, penipuan kini bukan hanya mencuri barang, tetapi mencuri kepercayaan. Di sinilah kita perlu membedakan antara teknologi dan penyalahgunaan teknologi. Hacker: Keahlian yang Bisa Menjadi Senjata Istilah hacker sering dipahami secara sederhana sebagai orang yang membajak sistem. Padahal, dalam dunia keamanan siber, hacker tidak selalu berarti penjahat. Ada ethical hacker atau white hat yang justru dibayar secara resmi untuk menemukan kelemahan sistem agar dapat diperbaiki. Sebaliknya, black hat hacker menggunakan kemampuan teknis untuk masuk ke sistem tanpa izin, mencuri data, mengambil alih akun, memasang malware, atau memeras korban. Dalam banyak kasus, setelah sistem dikuasai, pelaku meminta pembayaran agar akses dikembalikan atau data tidak disebarkan. Para ahli keamanan siber berulang kali mengingatkan bahwa manusia sering menjadi titik terlemah dalam sistem keamanan. Teknologi boleh canggih, tetapi jika seseorang memberikan OTP, PIN, kata sandi, atau mengklik tautan palsu, pintu keamanan dapat terbuka dari dalam. Karena itu, persoalan terbesar bukan hanya “siapa yang membajak?”, melainkan mengapa kita memberikan jalan untuk dibajak? Ketika Sistem Dibajak, Dana Bisa Ikut Dikuasai Bayangkan sebuah sistem perbankan digital, email, atau telepon seluler kita berhasil dikuasai. Pelaku mungkin tidak langsung mengambil uang. Ia bisa terlebih dahulu mengambil alih email, nomor telepon, atau akun yang menjadi pintu pemulihan. Setelah itu, ia berusaha mendapatkan kode verifikasi, mengganti kata sandi, menguasai akun, lalu masuk ke layanan keuangan yang terhubung. Di sinilah masalah menjadi serius. Akun digital bukan lagi sekadar identitas. Ia adalah kunci. Jika kunci jatuh ke tangan yang salah, rekening, data pribadi, dokumen, komunikasi, bahkan reputasi seseorang dapat ikut terancam. Dalam konteks perusahaan atau perguruan tinggi, dampaknya lebih luas: data mahasiswa, data pegawai, dokumen keuangan, penelitian, surat-menyurat, hingga sistem akademik dapat menjadi sasaran. Maka keamanan digital sesungguhnya bukan sekadar urusan bagian teknologi informasi. Ia adalah urusan seluruh organisasi dan seluruh manusia yang menggunakan teknologi. Implikasinya: Kejahatan Digital Merusak Kepercayaan Penipuan online memiliki implikasi yang jauh lebih dalam daripada kerugian uang. Pertama, kerugian ekonomi. Uang dapat berpindah dalam hitungan detik dan sering kali sulit dikembalikan. Kedua, kerugian data dan privasi. Data pribadi yang bocor dapat digunakan kembali untuk berbagai kejahatan. Ketiga, kerusakan reputasi. Satu pesan dari akun yang dibajak dapat membuat orang lain percaya bahwa pemilik akun sedang menipu atau meminta uang. Keempat, kerusakan psikologis. Korban dapat mengalami ketakutan, malu, kehilangan kepercayaan, bahkan merasa bersala.
Chat WhatsApp