Logo PWM Sulbar

Talenta Yang Tak Pernah Pensiun

D

Dr. Ir. H. Muh. Tahir, M.Si.

Rektor Unimaju

08 August 2026 Dibaca 28 kali
Talenta Yang Tak Pernah Pensiun
Sejak kecil, banyak di antara kita telah membawa benih talenta yang berbeda. Ada yang mencintai berkebun dan bertani, menikmati keindahan seni membaca Al-Qur'an, gemar membaca buku sosiologi, psikologi, motivasi, hingga kepemimpinan. Semua itu bukan sekadar hobi, melainkan investasi karakter yang perlahan membentuk jati diri. Howard Gardner menyebutnya sebagai multiple intelligences, yaitu setiap manusia memiliki lebih dari satu kecerdasan yang berkembang melalui minat, latihan, dan pengalaman. Talenta alamiah kemudian diperkaya oleh perjalanan hidup. Selama menjadi aparatur negara, misalnya, kita memperoleh pengalaman dalam mengelola penempatan sumber daya manusia, kewirausahaan, pelatihan keterampilan teknis, penempatan tenaga kerja, perdagangan, penyusunan anggaran RAB , hingga pengelolaan administrasi dan pelaporan proyek. Semua pengalaman itu adalah modal intelektual yang sangat berharga. Sayangnya, banyak pengalaman berhenti bersama masa jabatan, padahal seharusnya diubah menjadi buku, artikel, novel, atau karya ilmiah yang terus mengalir manfaatnya.Allah Swt. mengingatkan:"Maka apabila engkau telah selesai dari suatu urusan, tetaplah bekerja keras untuk urusan yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap." (QS. Al-Insyirah: 7–8). Ayat ini mengajarkan bahwa kehidupan tidak mengenal masa berhenti berkarya. Yang berubah bukan semangatnya, melainkan bentuk pengabdiannya. Ketika tenaga mulai berkurang, karya intelektual justru harus semakin bertambah. Dalam dunia kepemimpinan, memiliki banyak talenta adalah sebuah keunggulan. Robert Katz menjelaskan bahwa pemimpin memerlukan keterampilan teknis, hubungan antarmanusia, dan kemampuan konseptual. Peter Drucker bahkan menegaskan bahwa pemimpin tidak harus menjadi ahli dalam semua bidang, tetapi harus mampu memahami banyak disiplin agar dapat mengarahkan para ahlinya. Karena itu, multitalenta merupakan kekuatan ketika kita masih memimpin organisasi. Namun, kehidupan memiliki fase. Jabatan akan berakhir, regenerasi akan berjalan, dan usia akan mengubah cara kita berkarya. Pada tahap ini, keluasan perlu berubah menjadi kedalaman. Cal Newport dalam konsep Deep Work menunjukkan bahwa karya terbesar lahir dari fokus yang mendalam, bukan dari kesibukan yang tersebar ke mana-mana. Lalu, talenta mana yang paling layak dipertahankan? Misalnya berkebun dan bertani tetap penting sebagai sumber pangan dan kesehatan. manajemen sumber daya dapat menjadi ruang konsultasi dan pelatihan. Namun, bila dicari talenta yang paling adaptif hingga usia lanjut, dapat dikerjakan secara mandiri, menghasilkan nilai ekonomi sekaligus pahala, maka perpaduan keahlian misalnya komunikasi, tilawah Al-Qur'an, psikologi, dan menulis adalah pilihan yang paling kokoh. Contohnya, seorang penulis dapat mengubah pengalaman puluhan tahun menjadi buku tentang kepemimpinan, Manajemen SDM, pendidikan, atau tafsir sosial Al-Qur'an. Seorang komunikator dapat menyampaikan gagasan melalui ceramah, pelatihan, media digital, dan kelas daring. Seorang pengkaji dapat membaca kitab-kitab klasik, memahami filsafat dunia, lalu mengolahnya menjadi pemikiran kontemporer yang relevan dengan persoalan masyarakat. Di sinilah ilmu tidak hanya disimpan, tetapi dihidupkan. Sejarah membuktikan bahwa karya lebih panjang usianya daripada jabatan. Ibn Khaldun dikenang karena Muqaddimah, bukan karena kedudukannya. Peter Drucker tetap memengaruhi dunia melalui gagasan yang ditulisnya. Demikian pula banyak ulama besar yang hingga kini tetap mengajar umat melalui kitab-kitab mereka, meskipun mereka telah lama wafat. Implikasinya sangat jelas. Kita tidak perlu meninggalkan seluruh talenta, tetapi mengintegrasikannya ke dalam satu misi besar. Pengalaman bertani memberi kearifan, manajemen SDM memberi landasan ilmiah, psikologi membantu memahami manusia, komunikasi teknik menyampaikan gagasan, sedangkan Al-Qur'an menjadi sumber nilai. Seluruhnya dipadukan menjadi buku, artikel, pelatihan, dakwah, dan pendidikan yang terus memberi manfaat. Jalan tengah inilah yang paling berkelanjutan. Kita tetap produktif tanpa bergantung pada jabatan, tetap memperoleh penghasilan melalui karya intelektual, pelatihan, konsultasi, dan penerbitan buku, sekaligus menanam amal jariyah melalui ilmu yang terus dipelajari dan diamalkan. Terjun kerja adalah waktu mengumpulkan banyak talenta. Masa memimpin adalah waktu memadukan banyak talenta. Masa tua adalah waktu memusatkan seluruh pengalaman ke dalam satu karya besar yang menjadi warisan peradaban. Karena itu, strategi terbaik adalah terus membaca, memperdalam Al-Qur'an, mengasah komunikasi, memperkaya psikologi, dan menulis secara konsisten dengan menjadikan manajemen sumber daya manusia sebagai bidang utama. Dari sanalah lahir buku-buku yang menghubungkan ilmu modern, nilai-nilai Islam, dan pengalaman nyata kehidupan. Pada akhirnya, manusia tidak dikenang karena lamanya menduduki jabatan, tetapi karena panjangnya manfaat yang ditinggalkan. Jabatan memiliki masa akhir, sedangkan ilmu dan karya yang bermanfaat akan terus hidup, mengalirkan rezeki, pahala, dan kemuliaan bagi pemiliknya.
Chat WhatsApp