Logo PWM Sulbar

TIDAK KUTEMUKAN TRADISI KOMUNIKASI ALA MADZHAB ASY'ARIYYAH DI KOMUNITAS MUHAMMADIYAH Catatan Seorang Praktisi Ruqyah Syar'iyyah

U

Ustadz Wawan Rongkop

Kader Muhammadiyah Jogjakarta

14 September 2026 • Dibaca 36 kali
TIDAK KUTEMUKAN TRADISI KOMUNIKASI ALA MADZHAB ASY'ARIYYAH DI KOMUNITAS MUHAMMADIYAH  Catatan Seorang Praktisi Ruqyah Syar'iyyah
Saya adalah anak biologis Muhammadiyah. Saya lahir di rahim keluarga yang berkultur puritanisme. Secara ideologis, saya juga anak ideologis Muhammadiyah. Dalam keseharian, kami sami'na wa atha'na pada apa kata Himpunan Putusan Tarjih. Contoh paling sederhana: soal penetapan 1 Ramadhan. Apa kata Majelis Tarjih, itu yang kami ikuti. Anomali yang saya Temukan Sebagai Praktisi Ruqyah Sejak tahun 2004 hingga kini saya menjadi praktisi ruqyah syar'iyyah. Dari ruang praktik itulah saya menemukan sebuah anomali yang "tidak Muhammadiyah banget". Anomali itu adalah : minimnya kemandirian sebagian orang dalam menemukan kebenaran dan mengambil keputusan. Saya sering menjumpai klien yang datang dengan permintaan-permintaan seperti ini : 1. Minta dibuatkan nama untuk calon cucunya. 2. Minta hari terbaik untuk membongkar rumah. Padahal menurut saya, hari terbaik adalah saat banyak tetangga luang agar dapat dukungan. 3. Minta doa khusus untuk buka usaha. Padahal cukup baca basmalah dan tawakal. 4. Minta dicarikan jodoh untuk adiknya. Minta dicarikan link lowongan kerja. 5. Minta disarankan menikahi perempuan A atau B. 6. Minta pertimbangan, mengambil pekerjaan A atau B. 7. Minta pendapat, menantu sebaiknya kerja di kota A atau B. 8. Minta fatwa praktis mendiamkan tetangga pencuri atau lapor polisi. 9. Minta rekomendasi: melahirkan di klinik mana. 10. Minta saran menikah dulu atau kerja dulu. 11. Minta dipilihkan, cucu sekolah negeri atau yayasan Islam. Catatan Kritis : Akar Kebergantungan Dari sekian banyak perjumpaan itu, saya bertanya. Mengapa mereka tidak memiliki kemandirian bersikap ?. Mengapa kebergantungan pada elit agama, ustadz, kyai, tokoh, begitu besar ?. Lalu saya teringat satu kata kunci : tradisi ilmu kalam golongan Asy'ariyah. Dalam komunitas dengan corak Asy'ariyah, ada kecenderungan bahwa penentu bahagia adalah syaikh. Penentu sukses adalah syekh. Syekh di sini bisa berwujud guru, ustadz atau kyai. Followers Asy'ariyah dalam Menemukan Kebenaran Dalam tradisi ini, kebahagiaan tidak selalu dilihat sebagai hasil dari proses ibadah personal. Datangnya rahmat Allah tidak melulu diukur dari prestasi ibadah individu. Melainkan, rahmat itu diyakini datang melalui tangan-tangan para elit agama : ustadz, kyai, syekh yang setia menemani keseharian mereka. Kebergantungan pada elit agama menjadi hal yang lumrah. Dalam komunikasi publik pun, apa kata kyai/ustadz, mereka nurut. Tradisi komunikasi seperti inilah yang tidak saya jumpai di akar rumput kader Muhammadiyah. Kemandirian sikap, justru yang saya temukan di warga Persyarikatan Muhammadiyah. Apa kata ustadz Muhammadiyah soal siapa yang harus dicoblos di Pilkada, belum tentu akar rumput satu suara. Apa kata tokoh Muhammadiyah soal calon presiden, belum tentu satu hati dengan akar rumput. Keimanan warga Muhammadiyah tidak dikapling oleh leadernya. Kebahagiaan tidak ditentukan oleh tokoh spiritual pembimbingnya. Kesuksesan tidak selalu bergantung pada guru moralnya. Kesehatan jiwa raga tidak terikat apa kata ustadznya. Bahkan untuk hal sepele seperti jodoh dan pekerjaan, mereka tidak memiliki ketergantungan mutlak pada guru. Akibatnya, tradisi-tradisi tertentu menjadi tidak "marketable" di Muhammadiyah. Contoh : tradisi tawasulan. Warga Muhammadiyah lebih percaya diri berdoa langsung kepada Allah, tanpa perantara. Contoh lain : tradisi ziyarah kubur tidak sampai menjadi "memorable" bagi akar rumput masyarakat Muhammadiyah. Penutup Tulisan ini bukan untuk menyalahkan. Ini murni catatan sosiologis dari lapangan. Muhammadiyah mengajarkan kita untuk mandiri dalam berpikir, beramal, dan berdoa. Itulah yang saya rasakan dan saksikan selama ini. Wallahu a'lam bishawab. Istana Atas Telaga, 13 September 2026.
Chat WhatsApp