PDM Kabupaten Majene
Kontak & Lokasi
Ketua Umum: Drs. H. Masyruk, M. Mahmud, S.Pd., M.Pd.
Alamat Kantor: Alamat Pimpinan Daerah MuhammadiyJl. Jendral Gatot Subroto No. 46, Pangali-Ali, Kec. Banggae, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat 91412
Hubungi PDM
Telepon: -
Email:
Susunan Pengurus
Drs. H. Darmawan Hafid, M.Ag.
Anggota
Periode: 2022-2027
Drs. Darmansah, M. Hum.
Anggota
Periode: 2022-2027
Thamrin, S.Pd.I.
Anggota
Periode: 2022-2027
Drs. H. Isra Muh. Yusuf
Anggota
Periode: 2022-2027
Muslim, AT. S.Pd., M.Pd.
Anggota
Periode: 2022-2027
Sapiuddin, S.Pd.
Anggota
Periode: 2022-2027
Drs. Rusdi Arsyad, M.Pd.
Anggota
Periode: 2022-2027
Muhammad Basit, S.Pd.
Anggota
Periode: 2022-2027
Hj. Desy Reniyanty, SP.
Anggota
Periode: 2022-2027
Dr. Farhanuddin.,M.Si.
Anggota
Periode: 2022-2027
Sejarah & Catatan Ringkas
Pada tahun 1928, pengurus Muhammadiyah Rappang berhasil mendirikan Muhammadiyah Groep Majene (Mandar) atas prakarsa Haji Zaini yang tak lain adalah Ketua Ketua Muhammadiyah Rappang. Statusnya masih bebentuk “Groep Man¬dar” yang berpusat di Majene. tokoh pertama da¬lam berdirinya Muhammadiyah di Majene “Gorup Mandar” ini ialah Haji Abdul Rahim, H. Djuhaeni, H. Haruna, H. Abdullah Kamma, Hamzah, Abdul Malik dan Mudo. Muhammadiyah Groep (Mandar) Majene ini ada¬lah: Ketua : H. Haruna Wakil Ketua : Muh. Saleh Sekertaris : Useng Nasir Sekertaris II : Djuhaeni Bendahara : H. Abd. Rahim Alhasil dari Kota Rappang, Haji Zaini dan pem¬bantu-pembantunya dalam pengurusan cabang be¬rupaya tanpa henti menyebarkan Muhammadiyah di daerah-daerah sekitarnya walaupun hanya den¬gan berjalan kaki dan terkadang dengan naik kuda karena alat-alat perhubungan waktu itu masih su¬lit. Upaya ini menghasilkan Muhammadiyah Grup Mandar di Majene 1928. Perkembangan selanjutnya disusul Balanipa (Tinambung) Karama. Diantara pelopor itu adalah Rundang turunan ada’ yang banyak mengabdi pada perkembangan organisasi itu. Adapun beberapa an¬ggotanya yang masuk dalam organisasi Kris Muda yaitu KH. Abd. Jalil, H. Abd. Razak, Hamusta Ibrahim dan A. Halim. Selanjutnya, Muhammadiyah lahir di Camplagian 1929 dan Pamboang 1933. Semuanya mempunyai bagian keputrian (Aisyiyah) dan pemu¬da/kepanduan (Hizbul Wathan). Muhammadiyah Grup Mandar lebih menitik be¬ratkan perjuangannya dalam bidang dakwah dan pendidikan. Antara tahun 1929-1933 berdiri be¬berapa sekolah di Mandar yakni Madrasah Ibtidai¬yah, masing-masing di Majene, Karama-Ba’barura (Balanipa), dan Campalagian. Pada tahun 1933 di¬dirikan Madrasah Tsanawiyah di Majene. Sekolah terakhir ini mengalami perkembangan pesat sam¬pai awal masa pendudukan Jepang. Perkembangan itu terjadi berkat bantuan para pedagang dan dedikasi tenaga pengajar berpen¬galaman yang didatangkan dari Jawa dan Sumat¬era, Madrasah Tsanawiyah Majene sangat terkenal di Kawasan Indonesia Timur, ditandai dengan para siswanya yang tidak saja berasal dari wilayah Man¬dar dan Sulawesi Selatan, tetapi juga dari Toli-Toli, Halmahera dan Bima. Pada tahun 1933 Muhammadiyah Pamboang berdiri dan langsung membuka Madrasah Ibtid¬aiyah. Para pelopor antara lain ialah H. Djuhaeni, Darwis, H. Binu Aman, Abd. Djalil Kanna Manusia, H. Tulis, Djuraeba Kanna Marotani. Pada tahun yang sama, didirikan pula Aisyiyah (Muhammadiyah pu¬tri) dan kepanduan Hizbul Wathan dipimpin oleh M. Dahlan Sanoesi dan M. Amin Bien. Selain membuka Madrasah Ibtidaiyah (guru-gurunya antara lain Ki¬yai Abd. Djalil, yang kemudian menjabat Kadhi Cen¬rana, Abd. Malik (Munu) dan H. Amin Bien), juga membuka kursus-kursus, terutama pemberantasan buta huruf untuk wanita Aisyiyah. Pada tahun 1936, Madrasah Diniyah School, set¬ingkat SMTP dibuka Muhammadiyah Pamboang di Pamboang dibawah pimpinan Ustadz H. Darwis Zakaria (Lulusan Al-Azhar Mesir) yang sengaja di-datangkan dari Barat Payakumbuh. Diniyah School hanya sempat menamatkan murid satu periode yai¬tu pada tahun 1941, karena setelah Jepang mema¬suki wilayah Mandar (Pamboang) pada awal tahun 1942, sekolah tersebut ditutup/tidak diluaskan berdiri lagi. Dalam perkembangannya, aktivitas Muhammad¬iyah group Mandar semakin berkembang dan bah¬kan sempat beberapa kali mengadakan konferensi. Konferensi pertama dilakukan pada tahun 1930 yang dilangsungkan di Majene. Konferensi kedua diadakan di Majene pada tahun 1935. Kemudian pada konferesi ke-16 (enam belas) yang diadakan pada tanggal 16 April 1941 menandai terbentukn¬ya Pimpinan Daerah Muhammadiyah Majene dan Pimpinan Daerah Aisyiyah Majene yang terdiri dari dua ranting, yaitu ranting Majene, dan Pamboang. Pada tahun yang sama Pimpinan Daerah Muham¬madiyah Polewali juga terbentuk dengan dua rant¬ing, yaitu ranting Balanipa dan ranting Wonomulyo. Bukti kuat yang mendukung bahwa keberadaan Muhammadiyah telah hadir sebelum kemerdekaan adalah kedatangan Buya Hamka di daerah Majene, pada tahun 1934. Tidak jelas berapa lama Buya Hamka menetap di Tande, Majene. Namun, kepu¬langannya ke Sumetara Barat, diikuti oleh beberapa calon siswa yang akan disekolahkan di Madrasah Thawalib. Sekolah yang didirikan oleh organisasi Thawalib salah satu organisasi pembaharuan Islam di Padang, Sumatera Barat. Salah satu calon siswa yang waktu diikutsertakan ke Padang adalah Ustadz Abd. Rahman Tana (Pak Cilik). Perkembangan Muhammadiyah di Kabupaten Majene ikut mempengaruhi lahirnya gerakan Mu-hammadiyah di tingkat keluarga atau rumpun kel¬uarga. Hal ini disebabkan oleh eratnya hubungan kekerabatan. Sementara itu, posisi Majene sebagai pusat pendidikan dan pemerintahan Belanda kala itu ikut mempengaruhi penyebaran Muhammadi¬yah lebih merata di wilayah Afdeling Mandar. Atas berbagai pengaruh tersebut, muncullah pusat-pu¬sat kegiatan Muhammadiyah misalnya kampung Tande dan Pamboang di Kabupaten Majene, Balani¬pa, Mapilli (Wonomulyo), dan Polewali, di Kabupat¬en Polewali Mandar. Selain itu, pengaruh penting lainnya adalah pro¬gram kolonisasi pemerintah kolonial Belanda yang di mulai pada tahun 1936. Program kolonisasi ini merupakan program perpindahan penduduk dari pulau Jawa untuk membuka lahan pertanian dan perkampungan di Tanah Mandar. Program koloni¬sasi tersebut melahirkan kantong-kantong Muham¬madiyah dikalangan etnis Jawa. Hal tersebut dise¬babkan karena ada sebagian kecil masyarakat Jawa yang waktu itu telah menjadi alumni dari seko¬lah-sekolah Muhammadiyah, seperti dari Muallim¬in Yogyakarta, atau Sekolah Guru Muhammadiyah di daerah tempat mereka tinggal sebelumnya. Pada perkembangan selanjutnya Muhammadi¬yah ikut dikembangkan oleh anggota-anggota Mu-hammadiyah dari etnis Jawa. Profesi mereka yang sebagian besar petani dan selebihnya sebagai guru ini mampu beradaptasi dan berinteraksi dengan an¬ggota Muhammadiyah dari etnis Mandar dan Bugis. Hal ini kemudian memnjadikan Muhammadiyah Mandar secara tidak langsung dapat dinilai sebagai contoh pembauran penduduk yang berhasil secara alamiah, bukan paksaan. Mereka terbuhul oleh se¬mangat ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah jam‘iyah (bersyarikat). Sekat-sekat etnis, kesukuan, kedaer¬ahan serta egoisme profesi dan strata sosial, mam¬pu diredam demi terwujudnya sebuah gerakan kea¬gamaan yang berciri pemurnian dan pembaharuan.