Logo PWM Sulbar

26 Oktober 1929: Satu Tanggal, Tiga Pelajaran Peradaban - Dari Wall Street, Yerusalem, hingga Campalagian

MUHAMMADIYAH
0 Dibaca
26 Oktober 1929: Satu Tanggal, Tiga Pelajaran Peradaban - Dari Wall Street, Yerusalem, hingga Campalagian

PWMSULBAR.ID - Oktober 1929 adalah bulan yang menentukan dalam sejarah dunia. Di bulan itulah, tiga peristiwa besar terjadi hampir bersamaan, yang menghubungkan Amerika, Palestina, dan sebuah kampung kecil bernama Tjampalagian yang kini menjadi Campalagian, Sulawesi Barat.

Pada Oktober 1929, Amerika Serikat mengalami peristiwa paling kelam dalam sejarah ekonominya. Pada 24 Oktober 1929 yang dikenang sebagai "Black Thursday" (Kamis Hitam), pasar saham Wall Street di New York runtuh. Sebanyak 12,9 juta saham diperdagangkan dalam kepanikan. Lima hari kemudian, pada 29 Oktober 1929 atau "Black Tuesday (Selasa Hitam)", 16,4 juta saham diperdagangkan dan harga-harga di NYSE berjatuhan ke titik terendah yang tidak pernah terjadi sebelumnya.

Itulah awal dari Great Depression atau Depresi Besar 1929. Depresi ini menjalar ke seluruh dunia, termasuk Hindia Belanda. Harga kopra, karet, dan gula anjlok. Rakyat pribumi menderita.

Selain Peristiwa “Great Deppression” di Amerika Serikan Perempuan Palestina di hari Sabtu tanggal 26 Oktober 1929 mengadakan Kongres Perempuan Palesitina pertama atau yang dikelanal dengan First Palestine Arab Women's Congress di Yerusalem (Al-Quds).

Arab Women's Association of Palestine / Executive Committee of Arab Women. Ini adalah acara perdana mereka dan menjadi katalis politik perempuan Palestina.

Sebanyak 200 hingga 300 perempuan dari seluruh Palestina, Muslim dan Kristen, mewakili berbagai kota. Di antaranya istri-istri tokoh nasional seperti Wahida al-Khalidi dan Amina al-Husseini, dipimpin oleh Salma al-Husseini. 

Kongres ini yang dipicu oleh kerusuhan Tembok Ratapan (Western Wall) pada Agustus 1929, di mana terjadi bentrokan yang menewaskan 133 Yahudi dan 116 Arab, serta penangkapan 1.300 orang Arab dan vonis mati. Mengakibatkan para Perempuan memutuskan untuk bertindak.

Dalam Kongres tersebut mereka membuat empat Tuntutan Kongres:

  1. Menolak Deklarasi Balfour
  2. Menolak imigrasi Zionis ke Palestina
  3. Menolak kekerasan polisi Inggris dan Ordinance Hukuman Kolektif
  4. Menuntut perlakuan adil untuk tahanan Palestina

Dalam aksi yang sangat terorganisir. Setelah kongres, delegasi perempuan naik mobil konvoi membunyikan klakson ke kediaman High Commissioner Inggris di Yerusalem untuk menyerahkan resolusi, lalu mengunjungi konsul-konsul asing. Mereka menekankan protes damai dengan sit-in dan telegram. 

Kongres ini dianggap sebagai awal gerakan perempuan modern Palestina, dan kini setiap 26 Oktober diperingati sebagai Hari Nasional Perempuan Palestina.

Di waktu yang bersamaan, pada 26 Oktober 1929, ribuan kilometer dari New York dan Yerusalem, sebuah foto bersejarah diambil di Sulawesi.

Foto dengan papan tulis berdiri tegak bertuliskan "Groep Moehammadijah - Tjampalagian - 26/10-'29" menjadi tonggak awal gerakan Muhammadiyah di Sulawesi. Foto tersebut mendokumentasikan Utusan Hoofdbestuur (Pimpinan Pusat) Muhammadiyah bersama pengurus Muhammadiyah Cabang Tjampalagian, yang kini adalah Campalagian, Sulawesi Barat.

Dalam foto tersebut tampak H.M. Yunus Anis, utusan Pimpinan Pusat yang duduk mengenakan peci hitam dan sarung, yang kelak menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah. Di sampingnya ada KH. Abdullah, yang kemudian tercatat sebagai Consul (Ketua) Muhammadiyah Celebes Selatan pertama periode 1931-1938.

Peristiwa ini terjadi hanya 17 tahun setelah KH. Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah di Kauman Yogyakarta pada 18 November 1912. Di foto itu, mereka menyebutnya "Groep" yang kini kita kenal sebagai Ranting.

Dari Ketiga kejadian diatas yang terjadi dalam waktu yang bersamaan, 26 Oktober 1929 - Satu Tanggal, Tiga Pelajaran Peradaban

Tanggal 26 Oktober 1929 bukan tanggal biasa. Di hari itu, tiga peristiwa besar dunia terjadi bersamaan, yang menjadi cermin bagi kita di Sulawesi Barat hari ini.

1. Di Amerika Dunia Runtuh (Great Depression)

Pada 24 Oktober 1929, Bursa Wall Street runtuh. Dunia masuk ke Depresi Besar terparah dalam sejarah. Harga kopra, karet, dan gula Hindia Belanda anjlok. Rakyat miskin semakin miskin. Ini adalah simbol kegagalan sistem ekonomi kapitalisme tanpa moral.

2. Di Palestina Perempuan Bangkit

Pada 26 Oktober 1929, 300 perempuan Muslim dan Kristen Palestina berkongres untuk pertama kalinya di Yerusalem. Mereka menolak Deklarasi Balfour dan penjajahan Inggris. Ini adalah simbol kekuatan moral dan keberanian sipil melawan penjajahan.

3. Di Campalagian Muhammadiyah Tegak

Pada 26 Oktober 1929, hanya 17 tahun setelah Persyarikatan Muhammadiyah didirikan KH. Ahmad Dahlan di Kauman Yogyakarta pada 18 November 1912, di Tjampalagian (kini Campalagian, Sulbar), Utusan Hoofdbestuur Muhammadiyah berfoto bersama pengurus (groep) kini disebut ranting. Di saat ekonomi dunia hancur dan penjajahan merajalela, mereka justru mengukuhkan organisasi dakwah dan pendidikan. Ini adalah simbol ketahanan dan visi jangka panjang Islam Berkemajuan.

Ketika sistem ekonomi dunia hancur, dan ketika penjajahan merajalela di Palestina, jawaban umat Islam di sebuah kampung kecil di Mandar bukanlah putus asa, melainkan Organisasi.

Depresi Besar mengajarkan kita bahwa harta bisa hilang dalam sehari. Kongres Palestina mengajarkan bahwa penjajahan harus dilawan bersama. Dan foto Tjampalagian mengajarkan bahwa membangun sekolah, masjid, dan persyarikatan adalah cara terbaik untuk bertahan dari krisis apapun.

Foto 26 Oktober 1929 itu adalah bukti: Muhammadiyah di Sulawesi Barat lahir di tengah badai krisis dunia, namun tetap tegak hingga hampir 100 tahun. Itulah warisan yang harus kita jaga hari ini.

Tulisan ini disusun dari berbagai sumber

Penyusun : Agung Mansur

Bagikan Berita Ini:
Chat WhatsApp