Logo PWM Sulbar

Tanwir, Menyalakan Arah Peradaban

Dr. Ir. H. Muh. Tahir, M.Si.
0 Dibaca
Tanwir, Menyalakan Arah Peradaban

PWMSULBAR.ID - Menyambut Tanwir Muhammadiyah ke-114 di Palu, 13–15 November 2026, harapan besar tertuju pada lahirnya strategi baru untuk menjawab persoalan keumatan, kemanusiaan universal, dan tantangan peradaban. Sebagai warga Muhammadiyah dan simpatisan, kita berharap Tanwir tidak sekadar menjadi forum permusyawaratan, tetapi momentum refleksi, evaluasi, dan pembaruan arah gerakan menuju Muktamar di Medan, November 2027.

Tanwir merupakan permusyawaratan tertinggi Muhammadiyah setelah Muktamar, yang diselenggarakan Pimpinan Pusat sekurang-kurangnya dua kali dalam satu periode kepemimpinan. Forum ini melibatkan unsur PP, PWM, pimpinan organisasi otonom tingkat pusat, serta peninjau. Secara historis, istilah Tanwir mulai digunakan pada 1932, masa KH. Hisyam, dan diresmikan pada Muktamar ke-24 di Banjarmasin tahun 1935. Tradisi ini menegaskan bahwa musyawarah merupakan jantung gerakan Muhammadiyah.

Tanwir bukan forum pemilihan pimpinan pusat. Pemilihan pimpinan dilaksanakan pada Muktamar, sedangkan Tanwir Palu membahas tata tertib pemilihan untuk Muktamar 2027. Perbedaan ini penting dipahami agar Tanwir tetap berada pada hakikatnya: forum strategis untuk membahas arah, kebijakan, dan masa depan Persyarikatan.

Menurut Agung Danarto, Tanwir ke-114 mengagendakan pembahasan Risalah Kesemestaan, AD-ART, program 20 tahun mendatang, serta tata tertib pemilihan pimpinan pusat pada Muktamar. Risalah Kesemestaan menjadi langkah penting dalam internasionalisasi Muhammadiyah, memperluas kontribusi bagi peradaban global, menyiapkan kader berkiprah di tingkat internasional, dan membuka peluang pengembangan Amal Usaha Muhammadiyah di berbagai negara.

Implikasinya, Muhammadiyah dituntut semakin visioner, adaptif, dan berdampak. Evaluasi program harus jujur dan terukur; kaderisasi harus melahirkan pemimpin berintegritas dan berwawasan global; amal usaha harus semakin profesional; serta gerakan harus tetap berpihak pada persoalan nyata umat dan masyarakat. Globalisasi tidak boleh menjauhkan Muhammadiyah dari akar pengabdiannya.

Allah SWT berfirman dalam QS. Asy-Syura ayat 38: “Sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah di antara mereka.” Ayat ini menegaskan bahwa musyawarah bukan sekadar mekanisme organisasi, melainkan nilai luhur untuk melahirkan keputusan yang bijaksana, adil, dan membawa kemaslahatan.

Tanwir Palu harus menghasilkan gagasan yang melampaui rutinitas, kebijakan yang menjawab tantangan zaman, dan program yang menjadi pijakan strategis Muktamar Medan 2027. Muhammadiyah tidak cukup besar dalam jumlah amal usaha; ia harus semakin besar dalam manfaat, pemikiran, dan kontribusi kemanusiaan.

Tanwir bukan sekadar forum berbicara tentang masa depan, melainkan ruang merumuskan masa depan. Dari Palu, Muhammadiyah diharapkan semakin mencerahkan umat, memajukan bangsa, dan menyinari peradaban dunia.

 

Penulis : Dr, H. Muh. Tahir, M.Si.
Rektor Unimaju 

Bagikan Berita Ini:
Chat WhatsApp