Logo PWM Sulbar

SABACA: Komunitas Mahasiswa Kritis Polman Hidupkan Budaya Literasi di Alun-Alun Wonomulyo

MUHAMMADIYAH
0 Dibaca
SABACA: Komunitas Mahasiswa Kritis Polman Hidupkan Budaya Literasi di Alun-Alun Wonomulyo
PWMSULBAR.ID - Polewali Mandar, 5 September 2026 — Sejumlah mahasiswa bersama anak-anak dan masyarakat tampak membaca buku di kawasan Alun-Alun Wonomulyo, Masjid Merdeka, pada Sabtu (5/9/2026) sore. Kegiatan tersebut merupakan SABACA (Sabtu Membaca) yang digagas oleh Komunitas Mahasiswa Kritis Polewali Mandar sebagai upaya menghidupkan kembali budaya membaca dan berpikir kritis di tengah masyarakat. Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 15.00 WITA itu dikemas dalam bentuk lapak baca terbuka. Berbagai buku disediakan untuk dibaca secara bebas, mulai dari buku sejarah, sosial, politik, hingga buku-buku yang membahas persoalan kehidupan masyarakat. Mahasiswa ITBM Polman, Nasrul, mengatakan kegiatan tersebut berangkat dari keresahan terhadap fenomena penggunaan teknologi yang semakin mendominasi kehidupan mahasiswa dan masyarakat. “Melihat fenomena hari ini, mahasiswa dan masyarakat telah dininabobokan oleh teknologi. Mahasiswa hari ini tidak lagi dipermudah oleh teknologi, melainkan diperbudak,” ujar Nasrul. Menurutnya, perkembangan teknologi yang tidak diimbangi dengan budaya literasi dapat membuat mahasiswa dan masyarakat semakin jauh dari kebiasaan membaca secara mendalam. Karena itu, Komunitas Mahasiswa Kritis Polman mencoba mengambil langkah awal melalui kegiatan SABACA. “Budaya-budaya literasi hari ini bisa kita bilang hanya segelintir orang yang melek akan hal itu. Komunitas Mahasiswa Kritis Polman hadir mengadakan lapak baca untuk memulai langkah awal memperbaiki budaya membaca,” lanjutnya. Nasrul menjelaskan, pemilihan buku dalam lapak baca tersebut juga memiliki alasan tersendiri. Sebagian besar buku yang disediakan merupakan literatur sejarah. Menurutnya, sejarah menjadi salah satu pintu untuk memahami berbagai persoalan yang terjadi pada masa kini. “Berangkat dari sejarah, kita bisa mengetahui kejadian aktual hari ini dan melihat apakah ada kaitannya dengan masa lampau,” jelasnya. Selain buku sejarah, lapak baca tersebut juga menyediakan sejumlah buku yang membahas persoalan sosial dan politik. Literatur tersebut diharapkan dapat membuka ruang refleksi bagi pembaca mengenai berbagai persoalan yang masih terjadi di tengah masyarakat, seperti kemiskinan, ketidakadilan, hingga persoalan anak tidak sekolah (ATS) dan anak putus sekolah (APS). Bagi Komunitas Mahasiswa Kritis Polman, membaca tidak berhenti pada aktivitas memahami tulisan dalam buku. Membaca juga menjadi bagian dari proses memahami realitas sosial dan membangun kesadaran untuk melihat berbagai persoalan secara lebih kritis. Melalui SABACA, komunitas tersebut berharap ruang-ruang literasi dapat terus tumbuh dan menjadi wadah bagi mahasiswa maupun masyarakat untuk bertemu, membaca, berdiskusi, serta bertukar gagasan. SABACA pun menjadi langkah kecil untuk melawan budaya instan: mengembalikan buku ke ruang publik dan menjadikan membaca sebagai bagian dari gerakan kesadaran mahasiswa dan masyarakat. Laporan : Salman Mahasiswa ITBM Polman.
Bagikan Berita Ini:
Chat WhatsApp