Logo PWM Sulbar

Sumpah Pemuda dan Kemerdekaan Yang Belum Tuntas: Ketika Asap, Kemiskinan, dan Ketidakadilan Menguji Indonesia

MUHAMMADIYAH
0 Dibaca
Sumpah Pemuda dan Kemerdekaan Yang Belum Tuntas: Ketika Asap, Kemiskinan, dan Ketidakadilan Menguji Indonesia

“Katanya Sumpah Pemuda, tapi realitanya?

1928: Satu nusa, satu bangsa, satu bahasa.

2026: Satu nusa dibakar, satu bangsa diadu, satu bahasa dibungkam.

Kalimat ini menjadi tamparan sekaligus refleksi bagi perjalanan bangsa Indonesia. Pada 28 Oktober 1928, para pemuda mengikrarkan Sumpah Pemuda sebagai tekad untuk melampaui perbedaan demi cita-cita Indonesia merdeka. Namun, pada peringatan Sumpah Pemuda 2026, kita perlu bertanya: sudahkah kemerdekaan benar-benar menghadirkan keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia?

Hari ini, kebakaran hutan dan lahan terus menjadi ancaman lingkungan. Kabut asap tidak hanya mengganggu kehidupan masyarakat di dalam negeri, tetapi juga berpotensi melintasi batas negara dan berdampak terhadap negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Banjir bandang, kemiskinan, pengangguran, ketimpangan akses pendidikan, hingga kasus keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) turut menunjukkan bahwa berbagai persoalan mendasar masih membutuhkan penyelesaian serius.

Apa artinya satu tanah air jika hutannya terbakar dan lingkungan hidupnya terancam? Apa artinya satu bangsa jika kemiskinan dan ketidakadilan masih membatasi masa depan rakyat? Dan apa artinya satu bahasa jika suara kritis masyarakat tidak mendapatkan ruang yang semestinya?

Persoalan tersebut bukan sekadar daftar masalah, melainkan ujian terhadap tanggung jawab negara. Pemerintah harus memastikan kebijakan berjalan efektif, lingkungan terlindungi, pendidikan dapat diakses secara adil, lapangan kerja tersedia, dan program publik dilaksanakan dengan aman serta akuntabel. Keberhasilan pembangunan tidak cukup diukur melalui angka dan seremoni, tetapi harus dirasakan dalam kehidupan nyata masyarakat.

Dalam konteks ini, gagasan Tan Malaka tentang kemerdekaan 100% layak menjadi bahan renungan. Kemerdekaan tidak boleh berhenti pada terbebasnya bangsa dari penjajahan, tetapi harus diteruskan menjadi perjuangan menghadirkan kemandirian, keadilan sosial, dan kehidupan yang bermartabat bagi seluruh rakyat.

Kemerdekaan tidak cukup dirayakan melalui pengibaran bendera dan pidato kebangsaan. Kemerdekaan harus dibuktikan ketika rakyat dapat hidup layak, anak-anak memperoleh pendidikan yang baik, pemuda memiliki kesempatan bekerja, lingkungan terjaga, dan masyarakat dapat menyampaikan kritik tanpa takut dibungkam.

Sebagai Bidang Kader DPD Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Sulawesi Barat, kami menegaskan bahwa Sumpah Pemuda bukan sekadar warisan sejarah untuk diperingati setiap tahun. Ia merupakan mandat perjuangan bagi generasi muda untuk menjaga tanah air, memperkuat persatuan, dan mengawal keadilan sosial.

Kader tidak boleh hanya menjadi kader yang fasih berbicara tentang ideologi, tetapi harus membentuk kader yang mampu membaca realitas, berpikir kritis, dan hadir bersama masyarakat dalam memperjuangkan perubahan. Nasionalisme bukan berarti diam ketika persoalan terjadi. Kritik bukan berarti membenci negara. Justru karena mencintai Indonesia, kita harus berani mengingatkan pemerintah agar setiap amanah dijalankan dengan tanggung jawab.

Kami mendesak pemerintah untuk memperkuat pencegahan kebakaran hutan dan penegakan hukum lingkungan, meningkatkan mitigasi bencana, memperluas akses pendidikan, menciptakan lapangan kerja yang bermartabat, menanggulangi kemiskinan secara terukur, serta memastikan keamanan dan pengawasan program MBG. Semua itu membutuhkan tindakan nyata, evaluasi terbuka, dan pertanggungjawaban yang jelas.

Sumpah Pemuda mengajarkan kita tentang satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa. Kini, tugas kita adalah memastikan bahwa persatuan itu tidak berhenti sebagai slogan.

Satu tanah air tidak boleh berarti membiarkan tanahnya rusak. Satu bangsa tidak boleh berarti membiarkan rakyatnya menderita. Satu bahasa tidak boleh berarti membungkam suara kebenaran.

Jangan biarkan Sumpah Pemuda menjadi romantisme sejarah di tengah persoalan bangsa yang belum tuntas. Jangan hanya merayakan persatuan ketika keadilan belum dirasakan. Jangan hanya berbicara tentang kemajuan ketika rakyat masih berjuang untuk kehidupan yang layak.

Sebab, merdeka bukan hanya tentang siapa yang memegang kekuasaan, melainkan tentang apakah rakyat benar-benar merasakan kemerdekaan itu.

Selamat Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2026.

Merawat ideologi, meneguhkan kebangsaan, dan memperjuangkan kemerdekaan yang bermakna bagi seluruh rakyat Indonesia.

Oleh Muh. Fadli H, S.E.

Ketua Bidang Kader DPD Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Sulawesi Barat

Fastabiqul Khairat!

Bagikan Berita Ini:
Chat WhatsApp