Perginya Seorang Penggerak: Mengenang H. Abd. Azis Ghozal
Oleh: Muh. Tahir
PWMSULBAR.ID - Kepergian seseorang yang selama ini hadir dalam banyak ruang perjuangan bukan sekadar kehilangan seorang pribadi. Ada jejak pengabdian yang ikut kita rasakan, ada ruang kebersamaan yang tiba-tiba terasa lengang, dan ada kenangan yang tidak mudah selesai hanya dengan kata-kata.
Begitulah rasa kehilangan ketika mengenang H. Abd. Azis Ghozal, seorang kader Persyarikatan Muhammadiyah yang dikenal aktif, tekun, dan memiliki perhatian besar terhadap gerak langkah Muhammadiyah, khususnya di Polewali Mandar, Sulawesi Barat.
Saya dan banyak kader Muhammadiyah tentu memiliki kenangan masing-masing bersama beliau. Kami sering bertemu dalam berbagai kegiatan Muhammadiyah, baik di tingkat kabupaten, provinsi maupun pusat. Pertemuan-pertemuan itu bukan sekadar pertemuan formal, tetapi menjadi ruang bertukar pikiran, menyambung silaturahmi, dan membicarakan bagaimana Persyarikatan terus bergerak menghadirkan kemajuan.
Salah satu yang menggambarkan kesungguhan beliau adalah ketika menghadiri Tanwir Muhammadiyah di Ambon dengan biaya sendiri. Bagi sebagian orang, mungkin itu hanya sebuah perjalanan menghadiri agenda organisasi. Namun bagi seorang kader, kehadiran tersebut menunjukkan sesuatu yang lebih dalam: kesediaan berkorban, kesungguhan mengikuti dinamika Persyarikatan, dan kecintaan terhadap Muhammadiyah.
Pada periode ini, amanah yang dipercayakan kepada beliau juga tidak sedikit. Beliau dipercaya sebagai Ketua PDM Polewali Mandar, Anggota PWM Sulawesi Barat, serta BPH ITBM Polewali Mandar.
Rangkaian amanah tersebut menunjukkan betapa luas ruang pengabdian yang telah beliau jalani. Karena itu, kepergian beliau bukan kehilangan yang sederhana. Muhammadiyah kehilangan salah satu kader yang mengambil bagian dalam banyak urusan penting Persyarikatan.
Rumah yang Menjadi Ruang Kebersamaan
Ada satu hal yang mungkin sederhana, tetapi justru sangat membekas.
Rumah kediaman H. Abd. Azis Ghozal seakan menjadi salah satu ruang pertemuan informal Muhammadiyah di Polewali Mandar. Banyak teman, kader, dan tokoh Muhammadiyah pernah bertemu, berdiskusi, bahkan beristirahat di rumah beliau. Rumah itu menjadi tempat bertemunya banyak gagasan dan kepentingan Persyarikatan.
Dalam perjalanan sebelumnya, ruang kebersamaan semacam itu juga terasa di rumah H. Muh. Asli Kaduppa (Ketua PDM Polman 2005-2010) dan H. Mansur (Sekretaris PWM Sulbar Pertama), terutama pada periode kepemimpinan Bapak H. Muh. Yusuf Tuali (Ketua PWM Sulbar Pertama). Kini, ketika H. Abd. Azis Ghozal telah pergi, kita kembali menyadari bahwa rumah-rumah semacam itu sesungguhnya bukan hanya bangunan. Ia adalah bagian dari sejarah kecil perjuangan Muhammadiyah — tempat silaturahmi, tempat membicarakan persoalan umat, dan tempat lahirnya berbagai prakarsa.Ketika orangnya telah tiada, suasana itulah yang akan paling dirindukan.
Ketika Kehilangan Menjadi Pesan
Al-Qur'an mengingatkan kita bahwa kehidupan dan kematian adalah bagian dari ketetapan Allah. Allah berfirman:
"Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kemudian hanya kepada Kami kamu dikembalikan." (QS. Al-'Ankabut: 57)
Ayat ini mengajarkan bahwa kematian bukan akhir dari seluruh makna pengabdian. Yang pergi meninggalkan kita, tetapi amal, keteladanan, gagasan, dan kebaikannya dapat terus hidup melalui orang-orang yang meneruskannya.
Karena itu, mengenang H. Abd. Azis Ghozal tidak semestinya berhenti pada kesedihan.
Justru dari kepergian beliau, kita perlu bertanya: apa yang dapat kita lanjutkan dari apa yang telah beliau mulai?
Prakarsa beliau, keaktifannya menghadiri kegiatan Persyarikatan, kesediaannya mengambil amanah, keseriusannya mengurus Muhammadiyah, serta kemauannya hadir dalam berbagai ruang perjuangan adalah teladan yang patut diteruskan.
Muhammadiyah tidak boleh kehilangan semangat hanya karena kehilangan seorang kader. Sebaliknya, kehilangan seorang kader harus menjadi momentum untuk melahirkan kader-kader baru yang lebih kuat, lebih ikhlas, lebih berani mengambil tanggung jawab, dan lebih sungguh-sungguh membangun Persyarikatan.
Sebab Muhammadiyah adalah gerakan yang tidak berhenti pada satu orang. Ia hidup karena ada kader-kader yang terus menyambung estafet perjuangan.
Selamat jalan, H. Abd. Azis Ghozal. Terima kasih atas jejak pengabdian dan keikhlasan yang telah engkau tinggalkan. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadahmu dan menempatkanmu di tempat terbaik di sisi-Nya.
Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.