Tegaskan Perkaderan Adalah Jantung Organisasi, DPD IMM Sulbar: Ideologi Harus Dirawat, Kebangsaan Harus Diteguhkan
PWMSULBAR.ID, Polewali Mandar – Muh. Fadli H. Ketua Bidang Kader Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Sulawesi Barat menegaskan pentingnya merawat ideologi, meneguhkan kebangsaan, dan merekonstruksi peran instruktur dalam melahirkan kader transformatif.
Penegasan itu disampaikan dalam sambutannya pada pembukaan Pelatihan Instruktur Dasar (PID) yang diselenggarakan PC IMM Polewali Mandar Senin, 26 Oktober 2026 di Aula Hotel Hoci Wonomulyo, dengan mengusung tema Merawat Ideologi, Meneguhkan Kebangsaan, dan Merekonstruksi Peran Instruktur dalam Melahirkan Kader Transformatif.
Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa tema yang diangkat bukan sekadar rangkaian kata indah, melainkan refleksi tentang arah perkaderan IMM hari ini.
"Ada tiga hal penting yang perlu kita renungkan bersama. Pertama, merawat ideologi. Kedua, meneguhkan kebangsaan. Ketiga, merekonstruksi peran instruktur," ujarnya.
Ia menjelaskan, IMM bukan sekadar organisasi tempat mahasiswa berkumpul dan melaksanakan berbagai kegiatan. IMM adalah gerakan mahasiswa Islam yang memiliki identitas, nilai, dan cita-cita perjuangan. Ideologi bukan hanya untuk dihafalkan dalam forum perkaderan, tetapi harus menjadi pedoman dalam berpikir, bersikap, dan bertindak.
"Jangan sampai kita berbicara tentang intelektualitas, tetapi kehilangan tradisi membaca dan berpikir kritis. Jangan sampai kita berbicara tentang humanitas, tetapi tidak peka terhadap persoalan kemanusiaan. Jangan sampai kita menyerukan religiositas, tetapi perilaku kita jauh dari nilai-nilai Islam," tegasnya.
Menurutnya, instruktur memiliki tanggung jawab besar. Instruktur bukan sekadar penyampai materi, melainkan penjaga nilai, pengarah proses, dan teladan bagi kader.
Pada poin kedua tentang meneguhkan kebangsaan, ia menekankan bahwa keislaman dan kebangsaan bukan dua hal yang harus dipertentangkan. Kader IMM adalah kader persyarikatan sekaligus bagian dari generasi bangsa yang memiliki tanggung jawab terhadap masa depan Indonesia.
"Kader IMM harus mampu hadir dan mengambil bagian dalam menjawab persoalan daerah. Khususnya di Sulawesi Barat, jangan sampai kita begitu lantang berbicara tentang perubahan di ruang diskusi, tetapi tidak memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat," pesannya.
Sementara pada poin ketiga, ia menjelaskan mengapa peran instruktur perlu direkonstruksi. Tantangan kader hari ini terus berubah akibat perkembangan teknologi, derasnya arus informasi, dan kompleksitas persoalan sosial yang menuntut pendekatan perkaderan yang relevan.
"Rekonstruksi bukan berarti meninggalkan ideologi dan tradisi IMM, tetapi memperkuat cara kita mendidik, membimbing, dan mendampingi kader agar mampu menjawab tantangan zamannya," jelasnya.
Ia menambahkan, keberhasilan instruktur tidak hanya diukur dari seberapa baik menyampaikan materi, tetapi juga dari kemampuannya menumbuhkan kesadaran dan mendorong perubahan dalam diri kader.
Sebagai Ketua Bidang Kader DPD IMM Sulbar, Muh. Fadli H., menegaskan bahwa perkaderan adalah jantung keberlanjutan organisasi. Masa depan IMM tidak hanya ditentukan oleh banyaknya kegiatan, tetapi oleh kualitas kader yang dilahirkan.
Ia berharap seluruh peserta mengikuti PID dengan sungguh-sungguh, tidak hanya mengejar sertifikat, melainkan memahami bahwa menjadi instruktur adalah amanah untuk menentukan kualitas generasi kader IMM berikutnya. Ia juga berharap PC IMM Polewali Mandar terus memperkuat sistem perkaderan yang berkelanjutan.
"Ingatlah, ideologi harus dirawat agar gerakan tidak kehilangan arah, kebangsaan harus diteguhkan agar perjuangan tidak kehilangan orientasi, dan instruktur harus terus bertransformasi agar mampu melahirkan kader yang membawa perubahan," pungkasnya.