Logo PWM Sulbar

Gagasan & Opini

Kumpulan pemikiran, gagasan, dan artikel dari para tokoh serta kader.

Salah Jabatan, Hancur Organisasi
31 Aug 2026 23 views

Salah Jabatan, Hancur Organisasi

Manajemen talenta bukan sekadar urusan menempatkan pegawai di meja kerja. Ia adalah seni membaca manusia secara utuh. Ia proses merencanakan, mengorganisir, menempatkan, mengembangkan, dan mengawasi sumber daya manusia agar tepat posisi, tepat fungsi, tepat kinerja, lalu tumbuh menjadi kekuatan unggul organisasi. Sayangnya, banyak organisasi masih sibuk mengurus kursi, bukan kapasitas. Yang diprioritaskan kedekatan, bukan kompetensi. Yang dipilih bukan yang paling mampu, tetapi yang paling disukai. Dari sinilah kehancuran perlahan dimulai. Manusia adalah aset paling mahal di muka bumi. Lebih mahal dari gedung, mesin, bahkan teknologi supercanggih sekalipun. Sebab manusia bukan hanya memiliki kecerdasan, tetapi juga rasa, nurani, spiritualitas, intuisi, empati, cinta, dan kemampuan melahirkan peradaban baru. AI hanyalah kecerdasan buatan. Ia cepat menghitung, tetapi tidak punya hati. Ia bisa menulis puisi, tetapi tidak pernah menangis. Ia bisa membaca data, tetapi tidak bisa mencintai ibunya. AI lahir dari otak manusia, bukan sebaliknya. Maka sehebat apa pun robot diciptakan, manusia tetap pusat utama peradaban. Allah SWT bahkan menegaskan kemuliaan manusia dalam Al-Qur’an:“Dan sungguh Kami telah memuliakan anak cucu Adam.”(QS. Al-Isra: 70) Karena itu, kesalahan terbesar organisasi modern hari ini bukan kekurangan teknologi, tetapi kegagalan membaca manusia. Dalam dunia kerja, kualitas SDM umumnya terbagi dalam tiga level. Pertama, tenaga kerja kasar. Keterampilannya rendah dan lebih mengandalkan tenaga otot daripada kemampuan berpikir. Pendidikan umumnya tidak tamat SD hingga SLTP. Kedua, tenaga kerja semi terampil. Mereka memiliki kemampuan dasar atau menengah, lulusan SMA/SMK hingga diploma awal. Mereka mulai memahami sistem kerja, tetapi masih membutuhkan arahan teknis. Ketiga, tenaga kerja terampil tinggi. Mereka dibentuk oleh pendidikan linear, pelatihan, pengalaman panjang, dan kemampuan adaptasi tinggi. Kelompok inilah yang biasanya menjadi motor inovasi organisasi. Di sinilah pentingnya mapping talent. Organisasi harus mampu membedah SDM secara detail: bakatnya, minatnya, temperamennya, pengalaman kerjanya, kompetensinya, hingga potensi masa depannya. Hasil pemetaan itulah yang melahirkan profil lengkap seseorang, sehingga analisis jabatan, penempatan kerja, dan prospek karier menjadi tepat sasaran. Namun masalah besar muncul ketika pemetaan talenta hanya dijadikan formalitas administrasi. Kertas asesmen terlihat rapi. Grafik kompetensi tampak indah. Tetapi keputusan akhirnya tetap subjektif. Penempatan lebih banyak memakai “rasa suka”, bukan data. Akibatnya, organisasi berjalan lambat seperti mobil mewah yang salah isi bahan bakar, Orang cerdas ditempatkan di posisi mati. Orang lemah strategi memimpin organisasi besar. Orang inovatif malah dipinggirkan. Akhirnya pekerjaan tidak tuntas, kreativitas mati, biaya organisasi membengkak, tetapi hasil minim. Input besar, output kecil. Lebih tragis lagi, organisasi kehilangan daya saing dan mulai tertinggal. Rasulullah SAW telah mengingatkan jauh sebelum teori manajemen modern lahir:“Apabila suatu urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancurannya.” (HR. Bukhari) Hadis ini bukan hanya soal agama, tetapi fondasi besar manajemen talenta dunia. Penelitian McKinsey & Company menyebutkan bahwa organisasi dengan sistem talenta yang kuat memiliki produktivitas dan inovasi jauh lebih tinggi dibanding organisasi yang mengabaikan kompetensi. Studi Harvard Business Review juga menunjukkan bahwa salah penempatan SDM menjadi penyebab utama rendahnya performa organisasi dan tingginya biaya operasional. Jurnal Human Resource Management Review menjelaskan bahwa organisasi unggul lahir dari integrasi antara talent mapping, pengembangan kompetensi, dan sistem merit yang objektif. Sementara penelitian Indonesia dalam jurnal Jurnal Manajemen SDM Indonesia menunjukkan bahwa birokrasi dan organisasi yang berbasis kedekatan personal cenderung mengalami stagnasi inovasi serta rendahnya kualitas pelayanan publik. Kita bisa belajar dari Singapura. Negara kecil itu nyaris tidak punya sumber tambang besar, hutan luas, sungai raksasa, atau lahan pertanian luas. Tetapi mereka memahami satu rahasia: manusia adalah tambang paling berharga. Mantan pemimpin Lee Kuan Yew pernah menegaskan bahwa kekuatan utama Singapura hanyalah manusia. Karena itu mereka membangun sistem pendidikan ketat, birokrasi profesional, meritokrasi kuat, dan budaya kerja berbasis kompetensi. Hasilnya luar biasa. Hampir semua perusahaan global membuka kantor regional di Singapura. Dunia datang bukan karena mereka punya gunung emas, tetapi karena mereka punya manusia unggul. Sementara banyak negeri kaya sumber daya justru tertinggal karena salah mengelola manusia. Kita terlalu sibuk mencari investasi, tetapi lupa membangun kualitas SDM. Kita bangga gedung tinggi, tetapi lupa mengisi ruangan dengan orang yang tepat. Kita mengukur kemajuan dari proyek fisik, padahal masa depan bangsa sebenarnya ditentukan oleh kualitas otak, karakter, dan integritas manusianya. Implikasinya sangat besar. Jika manajemen talenta salah, organisasi akan mengalami pemborosan permanen. Konflik internal meningkat. Produktivitas turun. Inovasi mati. Pegawai hebat memilih keluar. Yang tersisa hanyalah budaya asal bapak senang. Tetapi jika talenta dikelola benar, organisasi akan melompat jauh. Keputusan cepat. Inovasi tumbuh. Biaya lebih efisien. Kinerja meningkat. Dan yang paling penting, organisasi memiliki regenerasi pemimpin yang sehat.Karena itu, langkah proaktif harus segera dilakukan.Pertama, lakukan talent mapping berbasis data dan psikometri, bukan sekadar formalitas dokumen. Kedua, bangun sistem meritokrasi yang objektif dan transparan. Ketiga, tempatkan SDM sesuai kompetensi inti, bukan kedekatan emosional. Keempat, integrasikan kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual dalam pengembangan SDM. Kelima, jadikan pelatihan sebagai investasi strategis, bukan kegiatan seremonial penghabisan anggaran.Keenam, manfaatkan AI sebagai alat bantu analisis, bukan pengganti kemanusiaan. Sebab masa depan organisasi tidak ditentukan siapa yang paling kuat berbicara, tetapi siapa yang paling tepat ditempatkan. Dan bangsa besar bukan bangsa yang kaya sumber daya alam, tetapi bangsa yang mampu menemukan manusia terbaiknya, lalu menaruhnya di tempat yang tepat.

D

Dr. Ir. H. Muh. Tahir, M.Si.

Rektor UNIMAJU

Jabatan Berakhir, Keberkahan Jangan Berakhir
28 Aug 2026 33 views

Jabatan Berakhir, Keberkahan Jangan Berakhir

Satu hal yang sering kita lupakan dalam menjalani kehidupan: tidak ada yang benar-benar kekal di dunia ini. Jabatan bisa berakhir, harta bisa berkurang, kedudukan bisa berubah, bahkan orang-orang yang hari ini begitu dekat dengan kita pun suatu saat bisa pergi. Karena itu, yang semestinya kita kejar bukan hanya jabatan yang tinggi, penghasilan yang besar, atau penghormatan dari manusia, tetapi bagaimana agar kehidupan kita tetap berada dalam keberkahan Allah. Salah satu bekal yang paling penting untuk menjaga keberkahan itu adalah ketakwaan. Dengan takwa, kita belajar menerima ketika Allah memberi, belajar bersabar ketika Allah mengambil, dan belajar tetap percaya ketika kehidupan tidak berjalan sesuai dengan apa yang kita harapkan. Sebab, kita harus menyadari bahwa tidak semua yang kita inginkan pasti baik bagi kita, dan tidak semua yang kita kehilangan berarti buruk bagi kita. Kadang-kadang Allah memberikan sesuatu untuk menguji rasa syukur kita, dan pada kesempatan lain Allah mengambil sesuatu untuk menguji kesabaran kita. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mengukur keberhasilan seseorang dari jabatan yang dimilikinya. Semakin tinggi jabatannya, semakin besar pula penghormatan yang diberikan kepadanya. Ketika seseorang menjadi pimpinan, misalnya, banyak orang datang, menyapa, menghormati, bahkan menunggu keputusan darinya. Namun, pertanyaannya, apakah keadaan seperti itu akan berlangsung selamanya? Tentu tidak. Hari ini seseorang bisa menjadi pimpinan, tetapi beberapa tahun kemudian posisinya bisa berganti. Hari ini seseorang duduk di kursi kekuasaan, tetapi suatu saat ia pasti akan meninggalkan kursi tersebut. Hari ini namanya disebut dengan gelar dan penghormatan, tetapi ketika jabatannya berakhir, bisa jadi semua itu ikut berubah. Karena itulah kita perlu memahami bahwa jabatan sebenarnya bukanlah milik kita. Jabatan hanyalah amanah yang Allah titipkan untuk waktu tertentu. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ ۖ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ “Katakanlah: Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau memberikan kerajaan kepada siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau mencabut kerajaan dari siapa yang Engkau kehendaki. Engkau memuliakan siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau menghinakan siapa yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mulah segala kebajikan. Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Ali 'Imran: 26). Kalau kita benar-benar memahami ayat ini, sebenarnya tidak ada alasan bagi seseorang untuk terlalu sombong ketika mendapatkan jabatan. Sebab jabatan itu datang atas izin Allah. Dan ketika jabatan tersebut berakhir, kepergiannya pun terjadi atas izin Allah. Jadi, ketika berada di atas, jangan merasa bahwa kita akan selamanya berada di atas. Dan ketika berada di bawah, jangan merasa bahwa kehidupan kita telah berakhir. Justru, menurut saya, karakter seseorang sering kali terlihat bukan ketika ia mendapatkan jabatan, tetapi ketika jabatannya berakhir. Ketika masih memiliki kekuasaan, mungkin mudah bagi seseorang untuk merasa penting. Banyak orang datang, banyak orang menghormati, dan banyak keputusan bergantung kepadanya. Tetapi ketika jabatan itu sudah tidak ada, apakah ia masih bisa tetap rendah hati? Apakah ia masih mau menyapa orang-orang yang dulu berada di bawahnya? Apakah ia masih mau membantu meskipun sudah tidak memiliki kewenangan? Di situlah nilai seseorang sebenarnya terlihat. Sebab jabatan seharusnya tidak membuat seseorang merasa lebih tinggi daripada orang lain. Justru semakin tinggi jabatan, semakin besar pula amanah yang harus dipikul. Rasulullah ﷺ bersabda: كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini mengingatkan kita bahwa kepemimpinan bukan hanya milik mereka yang memiliki jabatan formal. Seorang pimpinan memiliki amanah terhadap bawahannya. Seorang ayah memiliki amanah terhadap keluarganya. Seorang ibu memiliki amanah terhadap keluarganya. Bahkan setiap kita memiliki amanah atas apa pun yang Allah titipkan kepada kita. Karena itu, jangan sampai jabatan membuat kita lupa kepada Allah. Jangan sampai kursi membuat kita merasa lebih tinggi daripada orang lain. Jangan sampai kekuasaan membuat kita mudah merendahkan orang yang berada di bawah kita. Sebab suatu saat kursi itu akan kosong, jabatan itu akan berakhir, dan yang tersisa adalah bagaimana kita mempertanggungjawabkan amanah tersebut di hadapan Allah. Ada orang yang ketika jabatannya berakhir merasa sangat kehilangan. Ia merasa kehormatannya ikut hilang. Ia merasa dirinya tidak lagi penting. Bahkan ada yang merasa hidupnya tidak lagi memiliki arti karena tidak lagi memiliki kedudukan seperti sebelumnya. Padahal, apakah benar kehilangan jabatan berarti kehilangan kemuliaan? Belum tentu. Bisa jadi justru setelah jabatan itu berakhir, seseorang mendapatkan sesuatu yang selama ini tidak ia miliki. Ia menjadi lebih dekat dengan keluarganya. Ia memiliki lebih banyak waktu untuk beribadah. Ia kembali rajin ke masjid. Ia lebih sering membaca Al-Qur'an. Ia memiliki waktu untuk bersujud lebih lama dan lebih banyak mengingat Allah. Kalau ternyata setelah kehilangan jabatan seseorang menjadi lebih dekat kepada Allah, bukankah mungkin kehilangan tersebut justru merupakan bentuk kebaikan? Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 216). Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa manusia sering kali hanya melihat sesuatu dari sisi yang terlihat saat ini. Kita melihat kehilangan sebagai kesedihan, sementara Allah mengetahui apa yang ada di balik kehilangan tersebut. Bisa jadi Allah mengambil jabatan karena ingin menyelamatkan kita dari kesombongan. Bisa jadi Allah mengurangi penghasilan karena ingin mengajarkan kita untuk lebih bersyukur. Bisa jadi Allah mengubah jalan kehidupan kita karena ada jalan lain yang lebih baik. Dan bisa jadi Allah sedang mengingatkan kita bahwa kehidupan dunia ini bukanlah tujuan akhir. Karena itu, menurut saya, ada satu hal yang seharusnya lebih kita khawatirkan daripada kehilangan jabatan, yaitu kehilangan keberkahan. Jabatan bisa berakhir dan kita masih bisa mencari pekerjaan lain. Kedudukan bisa hilang dan Allah masih bisa memberikan kesempatan yang lain. Penghasilan bisa berkurang dan Allah masih bisa membuka pintu rezeki dari arah yang tidak pernah kita sangka. Tetapi ketika keberkahan dicabut, kehidupan yang secara lahiriah terlihat berlimpah pun bisa terasa kosong. Kita bisa memiliki banyak uang tetapi tidak memiliki ketenangan. Kita bisa memiliki rumah besar tetapi tidak merasakan kedamaian di dalamnya. Kita bisa memiliki pekerjaan yang bagus tetapi setiap hari hati terasa gelisah. Kita bisa memiliki jabatan tinggi tetapi tidak merasakan kebahagiaan. Kita bisa memiliki makanan yang berlimpah tetapi tidak lagi merasakan nikmatnya. Bahkan kita bisa memiliki keluarga yang lengkap tetapi hati terasa jauh dari orang-orang yang kita cintai. Inilah yang menurut saya perlu kita renungkan. Banyak belum tentu berkah, dan sedikit belum tentu tidak berkah. Ada orang yang penghasilannya sederhana, tetapi setiap pulang ke rumah hatinya tenang. Ada keluarga yang rumahnya tidak besar, tetapi di dalamnya terdengar suara Al-Qur'an dan anak-anak tumbuh dalam ketaatan. Ada orang yang jabatannya tidak tinggi, tetapi kehadirannya selalu memberikan manfaat kepada orang lain. Secara duniawi mungkin mereka terlihat biasa saja. Tetapi bisa jadi kehidupan mereka jauh lebih berkah. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ “Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi.” (QS. Al-A'raf: 96). Ayat ini menurut saya sangat jelas mengingatkan bahwa keberkahan tidak hanya berkaitan dengan seberapa banyak yang kita miliki. Keberkahan juga berkaitan dengan iman, ketakwaan, dan bagaimana kita menggunakan apa yang Allah berikan. Karena itu, ketika mendapatkan penghasilan, jangan hanya bertanya, “Berapa banyak yang saya dapatkan?” tetapi tanyakan juga, “Dari mana penghasilan ini berasal dan untuk apa saya menggunakannya?” Ketika mendapatkan jabatan, jangan hanya bertanya, “Seberapa tinggi posisi saya?” tetapi tanyakan, “Apakah saya sudah berlaku adil? Apakah saya sudah menjalankan amanah? Apakah keberadaan saya membawa manfaat bagi orang lain?” Begitu pula ketika Allah memberikan keluarga. Jangan hanya merasa bangga karena memiliki keluarga, tetapi tanyakan kepada diri sendiri, “Apakah rumah tangga saya sudah menjadi tempat tumbuhnya ketenangan, kasih sayang, dan ketaatan kepada Allah?” Sebab pada akhirnya, keberkahan tidak selalu terlihat dalam bentuk kemewahan. Kadang keberkahan hadir dalam bentuk hati yang tenang, keluarga yang rukun, tubuh yang sehat, rezeki yang halal, anak-anak yang baik, dan kemampuan untuk tetap bersyukur meskipun hidup tidak selalu berjalan sesuai keinginan. Lalu bagaimana kalau suatu hari kita merasa kehidupan mulai kehilangan ketenangan? Menurut saya, jangan buru-buru menyalahkan keadaan. Jangan langsung menganggap bahwa masalahnya selalu karena pekerjaan, keluarga, ekonomi, atau orang lain. Cobalah kita berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri: jangan-jangan ada yang perlu kita perbaiki dalam hubungan kita dengan Allah? Barangkali shalat kita mulai tidak terjaga. Barangkali Al-Qur'an mulai jarang kita baca. Barangkali lisan kita terlalu mudah menyakiti orang lain. Barangkali ada hak orang lain yang belum kita tunaikan. Barangkali ada rezeki yang kita dapatkan dengan cara yang tidak benar. Atau mungkin ada dosa yang terus kita lakukan, tetapi belum benar-benar kita tinggalkan. Allah berfirman: أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra'd: 28). Maka ketika hati terasa gelisah, mungkin sudah waktunya kita kembali kepada Allah. Ketika hidup terasa berat, perbanyak sujud. Ketika rezeki terasa sempit, perbanyak istighfar. Ketika hati dipenuhi kekecewaan, perbanyak mengingat Allah. Jangan sampai kita mencari ketenangan ke mana-mana, tetapi lupa kepada sumber ketenangan itu sendiri. Pada akhirnya, kita semua akan meninggalkan jabatan. Kita akan meninggalkan harta. Kita akan meninggalkan rumah. Kita akan meninggalkan pekerjaan. Dan pada waktunya, kita juga akan meninggalkan dunia ini. Yang akan kita bawa bukanlah jabatan, bukan pula pangkat dan kekayaan. Yang akan kita bawa adalah amal kita. Karena itu, saya kira kita tidak perlu terlalu bangga ketika mendapatkan jabatan dan tidak perlu terlalu hancur ketika kehilangan jabatan. Selama kita masih memiliki iman, masih bisa bersujud, masih bisa bertaubat, dan masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri, berarti kita belum kehilangan segalanya. Jabatan boleh berakhir, tetapi keberkahan jangan sampai berakhir. Pangkat boleh hilang, tetapi iman jangan sampai hilang. Harta boleh berkurang, tetapi rasa syukur jangan sampai berkurang. Manusia boleh melupakan kita, tetapi jangan sampai kita melupakan Allah. Sebab pada akhirnya, yang membuat hidup kita berharga bukanlah seberapa tinggi jabatan yang pernah kita miliki, tetapi seberapa amanah kita ketika dipercaya, seberapa rendah hati kita ketika berada di atas, seberapa sabar kita ketika diuji, dan seberapa dekat kita dengan Allah dalam setiap keadaan. Mudah-mudahan kita menjadi orang-orang yang ketika diberi mampu bersyukur, ketika dipercaya mampu menjaga amanah, ketika kehilangan mampu bersabar, dan ketika jabatan berakhir tetap memiliki sesuatu yang jauh lebih berharga daripada jabatan itu sendiri: iman, ketenangan, dan keberkahan hidup. Wallāhu a‘lamu bish-shawāb.

H

H. Ismail Ibrahim, M.Pd.I.

Sekretaris BPH ITBM Polewali Mandar

2045: Indonesia Jangan Cuma Jadi Pasar
28 Aug 2026 22 views

2045: Indonesia Jangan Cuma Jadi Pasar

Kita harus berani melihat Indonesia jauh melampaui hari ini. Tahun 2030, 2035, hingga 2045 bukan sekadar deretan angka, melainkan perjalanan menuju masa depan yang sedang kita bentuk. Pertanyaannya sederhana tetapi menentukan: ketika dunia berubah, Indonesia akan menjadi pencipta atau hanya pengguna ciptaan bangsa lain? Jepang memiliki otomotif, Korea Selatan memiliki Samsung dan ekosistem teknologinya, China kuat dalam manufaktur dan produksi massal, Eropa berkembang dalam teknologi digital dan kecerdasan buatan, sementara negara-negara lain terus berlomba menemukan sesuatu yang baru. Lalu apa yang akan menjadi tanda tangan Indonesia? Jangan sampai yang paling menonjol justru energi kita habis untuk saling curiga, saling menjatuhkan dan mempertentangkan kelompok hanya karena berbeda pilihan dan kepentingan. Politik boleh berbeda, tetapi masa depan bangsa harus menjadi kepentingan bersama. Karena itu, Indonesia harus mengubah budaya dari debat menjadi riset, dari riset menjadi inovasi, dari inovasi menjadi produk, dan dari produk menjadi kekuatan bangsa. Riset tidak boleh berhenti sebagai laporan dan jurnal. Ia harus menjawab persoalan nyata, melahirkan teknologi, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan produktivitas dan menghasilkan sesuatu yang dapat digunakan serta dibanggakan dunia. Sejarah membuktikan bahwa teknologi besar tidak lahir sekaligus sempurna. Komputer generasi awal membutuhkan ruang besar dan perangkat yang sangat banyak; kini kemampuan komputasi berada dalam laptop, tablet bahkan telepon genggam. Setiap generasi mengambil hasil generasi sebelumnya, memperbaiki kekurangannya, mengecilkan ukurannya, meningkatkan kecepatannya dan memperluas manfaatnya. Begitulah peradaban maju: generasi tidak mengulang, tetapi meneruskan dan melompat. Thomas Alva Edison pun mengajarkan hal yang sama. Ia membangun laboratorium, melakukan percobaan berulang, menghadapi kegagalan, memperbaiki temuan dan mengubah gagasan menjadi teknologi. Dari Edison hingga revolusi digital dan AI, sejarah ilmu pengetahuan menunjukkan bahwa penemuan lahir dari rasa ingin tahu yang panjang, eksperimen yang tekun dan keberanian untuk gagal. Tidak ada negara maju karena hanya pandai membeli teknologi; negara maju karena mampu menciptakan, menguasai dan mengembangkan teknologi. Maka slogan bahwa Indonesia mampu menjadi negara maju harus diterjemahkan menjadi pekerjaan nyata: memperkuat sekolah dan perguruan tinggi, membangun laboratorium, menyiapkan peneliti dan teknisi, mempertemukan kampus dengan industri, membiayai riset, melindungi inovasi dan membuka pasar bagi produk hasil penelitian. Kekayaan alam Indonesia harus menjadi bahan bakar lahirnya teknologi, bukan sekadar bahan mentah yang kemudian kita beli kembali dalam bentuk produk bernilai tinggi. Kita membutuhkan peta jalan yang melampaui masa jabatan. Apa yang harus ditemukan pada 2030? Apa yang harus menjadi kekuatan teknologi pada 2035? Apa yang harus menjadi karya Indonesia pada 2045? Setiap generasi harus menanam, generasi berikutnya merawat, generasi sesudahnya memanen lalu menanam kembali. Rencana besar tidak boleh mati bersama pergantian pemimpin. Bagi generasi yang mulai memasuki penghujung masa kerja dan usia pengabdian, pertanyaan terpenting bukan lagi berapa lama kita memegang jabatan, tetapi apa yang kita tinggalkan setelah jabatan berakhir. Gedung dapat tua, jabatan berganti, usia berlalu, tetapi gagasan, ilmu, riset dan inovasi dapat hidup jauh lebih panjang daripada penciptanya. Karena itu, warisan terbaik bukan sekadar posisi yang pernah kita duduki, melainkan generasi yang kita siapkan untuk melampaui kita. Indonesia masih membutuhkan banyak ciptaan: pertanian, pangan, kesehatan, energi, kelautan, pendidikan, industri, teknologi digital, AI, lingkungan dan berbagai sektor kehidupan. Kita tidak kekurangan masalah; yang harus diperkuat adalah keberanian mengubah masalah menjadi peluang riset dan inovasi. Maka mulai sekarang, jangan hanya bertanya siapa yang berkuasa, tetapi bertanyalah apa yang kita ciptakan. Jangan hanya sibuk mempertahankan kelompok, tetapi bangun ekosistem yang memungkinkan anak-anak bangsa menemukan sesuatu yang belum pernah ada. Sebab 2045 akan datang tanpa menunggu kita siap. Ketika saat itu tiba, sejarah akan bertanya: Indonesia menjadi apa?.

D

Dr. Ir. H. Muh. Tahir, M.Si.

Rektor UNIMAJU

Bukan Sekedar Rajin Beribadah, Tetapi Meneladani Akhlak Rasulullah SAW
25 Aug 2026 31 views

Bukan Sekedar Rajin Beribadah, Tetapi Meneladani Akhlak Rasulullah SAW

Sering kali kita mengukur kesalehan seseorang dari apa yang terlihat: seberapa rajin ia shalat, seberapa sering ia membaca Al-Qur'an, atau seberapa banyak ia bersedekah. Padahal, menurut saya, kesalehan tidak berhenti pada aktivitas ibadah yang tampak. Kesalehan juga seharusnya tercermin dalam akhlak, cara berpikir, dan bagaimana seseorang memperlakukan orang lain. Kedekatan seseorang dengan Allah SWT seharusnya tercermin dalam sikapnya sehari-hari. Semakin dekat kepada-Nya, ia seharusnya semakin mampu menjaga perkataan, mengendalikan emosi, menghormati orang lain, dan berbuat adil. Dengan demikian, ibadah bukan hanya tentang seberapa banyak yang kita lakukan, tetapi tentang seberapa jauh ibadah itu membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik. Rasulullah SAW bersabda: إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.”(HR. Ahmad). Hadis tersebut menunjukkan betapa pentingnya akhlak dalam ajaran Islam. Rasulullah SAW tidak hanya datang untuk mengajarkan manusia tentang ibadah, tetapi juga untuk menyempurnakan akhlak manusia. Menurut saya, pesan ini sangat relevan dengan kehidupan kita saat ini. Kita hidup di tengah masyarakat yang semakin mudah berkomunikasi, tetapi pada saat yang sama juga semakin mudah terjadi konflik. Media sosial, misalnya, membuat seseorang dapat menyampaikan pendapat dengan cepat. Sayangnya, kebebasan berbicara sering tidak diikuti dengan kemampuan menjaga lisan. Perbedaan pendapat dapat berubah menjadi saling menghina, kritik berubah menjadi serangan pribadi, dan persoalan kecil berkembang menjadi permusuhan. Padahal, Islam mengajarkan bahwa menjaga lisan merupakan bagian penting dari keimanan. Rasulullah SAW bersabda: مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam.” (Muttafaq 'alaih). Hadis ini mengingatkan kita bahwa kemampuan berbicara bukan berarti kita harus selalu berbicara. Di zaman ketika satu ucapan dapat dengan mudah tersebar kepada banyak orang, kita perlu lebih bijak dalam menggunakan lisan. Ada kalanya perbedaan cukup dihargai tanpa harus diperdebatkan, dan ada kalanya kesalahan orang lain lebih baik ditutupi daripada diumbar. Kadang-kadang, diam bukan berarti kita tidak memiliki pendapat. Diam justru bisa menjadi bentuk kedewasaan ketika kita sadar bahwa perkataan kita hanya akan memperburuk keadaan. Selain menjaga lisan, akhlak juga terlihat dari kemampuan seseorang mengendalikan amarah. Ketika diperlakukan buruk, secara manusiawi kita tentu ingin membalas. Ketika dihina, kita ingin menghina kembali. Ketika disakiti, kita ingin memberikan rasa sakit yang sama. Namun, Islam mengajarkan kita untuk mengambil jalan yang lebih mulia. Allah SWT berfirman: وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ “Yaitu orang-orang yang menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali 'Imran: 134). Oleh karena itu memaafkan bukan tanda kelemahan. Justru memaafkan membutuhkan kekuatan hati. Seseorang yang mampu membalas tetapi memilih menahan diri karena mengharap ridha Allah menunjukkan bahwa dirinya mampu mengendalikan hawa nafsu. Akhlak juga berkaitan erat dengan keadilan. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali mudah bersikap adil ketika yang melakukan kesalahan adalah orang lain. Namun, keadaan menjadi berbeda ketika yang salah adalah teman, keluarga, atau kelompok kita sendiri. Islam mengajarkan bahwa keadilan tidak boleh bergantung pada hubungan pribadi. Allah SWT berfirman dalam QS. An-Nisa ayat 135 agar orang-orang beriman menjadi penegak keadilan, bahkan jika keadilan tersebut harus diterapkan terhadap diri sendiri, orang tua, atau kerabat. inilah salah satu bentuk akhlak yang semakin penting untuk kita bangun. Jangan membela seseorang hanya karena dia adalah teman kita. Jangan membenarkan kesalahan hanya karena dilakukan oleh keluarga sendiri. Kebenaran tetap harus menjadi kebenaran, dan kesalahan tetap harus diakui sebagai kesalahan. Islam juga mengingatkan bahwa kemuliaan manusia bukan ditentukan oleh harta, jabatan, keturunan, suku, maupun popularitas. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 13 bahwa manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar saling mengenal, sedangkan yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sebab itu, menurut saya, tidak ada alasan bagi seorang Muslim untuk merasa lebih tinggi hanya karena memiliki kekayaan, jabatan, pendidikan, atau status sosial yang lebih baik. Semua itu hanyalah titipan. Ukuran kemuliaan yang sebenarnya adalah ketakwaan, dan ketakwaan tersebut seharusnya terlihat dalam akhlak. Jika kita ingin melihat contoh akhlak yang sempurna, maka Rasulullah SAW adalah teladan utama. Allah SWT bahkan memberikan kesaksian dalam QS. Al-Qalam ayat 4: وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ “Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.” Rasulullah SAW tidak hanya mengajarkan akhlak melalui perkataan, tetapi juga menunjukkannya melalui tindakan. Beliau menyayangi keluarga, menghormati orang lain, peduli kepada orang miskin, membantu orang yang membutuhkan, memaafkan orang yang menyakitinya, dan tetap berlaku adil. Karena itu, menurut saya, mengatakan bahwa kita mencintai Rasulullah SAW seharusnya memiliki konsekuensi dalam kehidupan sehari-hari. Kecintaan kepada beliau tidak cukup hanya ditunjukkan melalui ucapan dan shalawat, tetapi juga melalui usaha untuk meneladani akhlaknya. Percuma seseorang mengaku mencintai Rasulullah SAW jika lisannya masih senang menyakiti orang lain. Percuma mengaku rajin beribadah jika hatinya dipenuhi iri dan dendam. Dan menjadi kurang bermakna ketika seseorang terlihat saleh di tempat ibadah, tetapi orang-orang terdekatnya justru merasa takut, tertekan, atau tidak nyaman berada di dekatnya. Menurut saya, persoalan inilah yang perlu kita renungkan. Jangan sampai kesalehan kita hanya terlihat secara pribadi, tetapi tidak memberikan manfaat bagi orang lain. Ibadah seharusnya melahirkan kejujuran. Ibadah seharusnya melahirkan kesabaran. Ibadah seharusnya membuat seseorang lebih mudah memaafkan. Ibadah seharusnya membuat seseorang lebih amanah, lebih rendah hati, lebih peduli, dan lebih mampu menjaga perasaan orang lain. Bahkan, akhlak yang baik dapat menjadi bentuk dakwah yang sangat kuat. Ketika seseorang berlaku jujur, orang lain akan melihat nilai Islam. Ketika seseorang amanah, suka menolong, menghormati orang tua, menjaga lisan, dan berlaku adil, orang lain dapat merasakan keindahan Islam tanpa harus mendengar ceramah yang panjang. Pada akhirnya, menurut saya, menjadi Muslim yang baik bukan sekadar tentang seberapa rajin kita beribadah, tetapi tentang bagaimana ibadah tersebut membentuk diri kita. Kita perlu bertanya kepada diri sendiri: apakah keluarga kita merasakan kelembutan dari diri kita? Apakah pasangan kita merasa aman dan dihargai? Apakah anak-anak kita merasakan kasih sayang? Apakah tetangga merasa nyaman bertetangga dengan kita? Apakah teman-teman merasa aman mempercayai kita? Jika jawabannya belum, mungkin ada yang perlu kita perbaiki. Sebab, meneladani Rasulullah SAW bukan hanya dengan mengagumi kehidupan beliau, tetapi dengan berusaha menghadirkan akhlak beliau dalam kehidupan kita sendiri. Rajin beribadah adalah sebuah kebaikan. Namun, menjadikan ibadah sebagai jalan untuk memperbaiki akhlak adalah sebuah keharusan. Pada akhirnya, yang kita harapkan bukan hanya menjadi orang yang banyak ibadahnya, tetapi juga menjadi orang yang baik perkataannya, baik hatinya, baik perilakunya, dan membawa manfaat bagi orang-orang di sekitarnya. Sebab, semakin dekat kita kepada Allah, semestinya semakin indah pula akhlak kita kepada manusia.

H

H. Ismail Ibrahim, S.Pd.I.,M.Pd.I.

Sekretaris PWM Sulbar

Ketika Dosa Mengguncang Bumi: Kemaksiatan, Musibah, dan Hilangnya Keberkahan
19 Aug 2026 42 views

Ketika Dosa Mengguncang Bumi: Kemaksiatan, Musibah, dan Hilangnya Keberkahan

Oleh : H. Ismail Ibrahim, S.Pd,I.,M.Pd.I Sekretaris PW Muhammadiyah Sulbar مِنْ تَأْثِيرِ الْمَعَاصِي فِي الْأَرْضِ: مَا يَحِلُّ بِهَا مِنَ الْخَسْفِ وَالزَّلَازِلِ وَمَحْقِ بَرَكَتِهَا "Di antara pengaruh kemaksiatan terhadap bumi adalah apa yang menimpanya berupa amblesnya bumi, gempa bumi, dan hilangnya keberkahannya." Sumber: Imām Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Ad-Dā’u wad-Dawā’, Juz 1, Halaman 160 Penjelasan: مِنْ تَأْثِيرِ الْمَعَاصِي — Dari pengaruh kemaksiatan Kata al-ma'āṣī adalah bentuk jamak dari ma'ṣiyah, yaitu segala perbuatan yang melanggar perintah Allah — baik dosa besar maupun dosa kecil, baik yang tersembunyi maupun yang dilakukan secara terang-terangan. Imam Ibnu Qayyim menegaskan: kemaksiatan bukan sekadar mendatangkan dosa bagi pelakunya semata, melainkan berdampak luas hingga ke alam semesta. Dosa itu ibarat racun yang tidak hanya merusak pelakunya, tetapi juga merembes ke lingkungan, ke bumi, dan ke kehidupan bersama. Ketika maksiat menumpuk, bumi pun ikut "sakit" dan "memberontak" karena tidak tahan memikul beban kemaksiatan hamba-hamba-Nya. Penjelasan: فِي الْأَرْضِ — terhadap bumi Bumi bukan sekadar tanah tempat berpijak. Bumi adalah makhluk yang disucikan dan mengenal Allah, sebagaimana tercantum dalam Al-Qur'an: ﴿تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ﴾ "Langit dan bumi serta seluruh yang ada di dalamnya bertasbih kepada-Nya." (QS. Al-Isrā': 44) Ketika di atasnya banyak terjadi kemaksiatan, bumi ikut terganggu kesuciannya. Ia seakan-akan "tidak ridha" dan "mengguncang" — sebagai bentuk protes dan peringatan dari Allah, agar manusia sadar dan kembali kepada-Nya. Penjelasan: مَا يَحِلُّ بِهَا — apa yang menimpanya / turun kepadanya Kata yaḥillu bermakna "turun dan menetap" — artinya bencana-bencana itu bukan kebetulan semata, melainkan datang sebagai akibat yang pantas diterima karena tumpukan dosa. Bencana itu seakan "turun dan menetap" di bumi yang penduduknya melalaikan ketaatan kepada Allah. Penjelasan: مِنَ الْخَسْفِ — berupa terbenam/amblesnya bumi Al-khasfu adalah peristiwa bumi yang amblas atau terbenam ke dalam. Ini adalah salah satu bentuk hukuman Allah pada umat-umat terdahulu. Al-Qur'an menyebutkan: ﴿فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الْأَرْضَ﴾ "Maka Kami amblaskan dia dan rumahnya ke dalam bumi." (QS. Al-Qaṣaṣ: 81) Ini menunjukkan bahwa kemaksiatan dapat menghilangkan kestabilan bumi — tanah yang semula aman menapak, bisa tiba-tiba amblas. Penjelasan: وَالزَّلَازِلِ — dan gempa bumi Az-zalāzil adalah guncangan hebat yang menggetarkan bumi. Gempa dalam pandangan Ibnu Qayyim adalah peringatan Allah yang penuh kasih sekaligus teguran yang menggetarkan hati — agar manusia sadar bahwa kekuasaan mereka tiada apa-apa di hadapan Allah. Ketika manusia merasa aman, lupa bersyukur, dan berbuat sewenang-wenang, Allah menggetarkan bumi untuk mengingatkan: kekuasaan sesungguhnya milik Allah semata. Guncangan itu bukan tanpa alasan. Ia datang ketika keburukan merajalela, keadilan hilang, riba merajalela, kemaksiatan dilakukan secara terbuka tanpa rasa malu kepada Allah. Maka Allah memperingatkan: Bertobatlah, sebelum bumi ini menjadi saksi sekaligus hukuman bagimu. Penjelasan: وَمَحْقِ بَرَكَتِهَا — dan hilangnya keberkahannya Maḥqu barakatihā artinya: keberkahan bumi dicabut, perlahan-lahan hilang sampai habis. Tanah tetap tanah, air tetap air, namun tidak lagi membawa manfaat dan ketenangan. Hasil panen sedikit meski tanam banyak. Hujan turun tapi tidak menumbuhkan tanaman. Uang banyak tapi tidak cukup. Waktu berlalu namun tidak berkah. Semua tampak ada, namun esensi kebaikannya hilang — itulah akibat kemaksiatan. Keberkahan itu menempel pada ketaatan; ketika ketaatan hilang, keberkahan pun ikut dicabut oleh Allah. Imam Ibnu Qayyim mengajarkan kepada kita: bumi ikut menderita karena dosa kita. - Jika kita menjauhi larangan Allah → bumi menjadi tenang, berkah, dan aman. ​ - Jika kita menumpuk dosa → bumi ikut "mengguncang", kehilangan berkah, dan menampakkan tanda-tanda murka Allah. Maka setiap kali gempa terjadi, atau ketika berkah kehidupan berkurang, janganlah hanya menyalahkan alam atau cuaca. Tataplah ke dalam hati: Apa yang telah kami perbuat? Apakah kami telah banyak melanggar perintah Allah? Pesan beliau sangat dalam: Bumi itu terpelihara oleh ketaatan penghuninya. Jika penghuninya berbuat maksiat, maka bumi pun kehilangan pelindungnya — lalu guncangan, amblas, dan hilangnya berkah pun datang sebagai teguran Allah. Maka bertaubatlah selagi masih ada waktu. Perbaikilah diri, perbanyaklah ketaatan, sembunyikanlah keburukan, dan sebarkanlah kebaikan. Karena keselamatan bumi dan keselamatan diri kita — semuanya bergantung pada kembali kepada Allah dengan hati yang tulus

R

Refleksi

H.Ismail Ibrahim, M.Pd.I. - Sekretaris PWM Sulbar

Menjadi Mahasiswa, Bukan Sekadar Menjadi Sarjana
09 Aug 2026 167 views

Menjadi Mahasiswa, Bukan Sekadar Menjadi Sarjana

Menjadi mahasiswa adalah sebuah fase yang sering kali dipahami secara sederhana: datang ke kampus, mengikuti perkuliahan, mengerjakan tugas, memperoleh nilai, menyelesaikan skripsi, kemudian mendapatkan gelar sarjana. Seolah-olah perjalanan mahasiswa memiliki garis akhir yang jelas, yaitu wisuda. Namun, bagi saya, menjadi mahasiswa tidak pernah sesederhana itu. Perguruan tinggi seharusnya bukan hanya tempat seseorang memperoleh gelar akademik, melainkan ruang untuk membentuk cara berpikir, keberanian bersikap, kemampuan membaca persoalan, serta kesadaran untuk mengambil peran di tengah masyarakat. Sebab, ukuran keberhasilan seorang mahasiswa semestinya tidak hanya dilihat dari seberapa tinggi nilai akademiknya, tetapi juga dari seberapa besar ilmu dan pengalaman yang ia miliki mampu memberikan arti bagi lingkungan di sekitarnya. Di sanalah dunia kemahasiswaan menemukan maknanya. Mahasiswa dan Ruang Pembentukan Diri Dunia kemahasiswaan adalah ruang yang mempertemukan berbagai gagasan, karakter, latar belakang, dan kepentingan. Di dalamnya mahasiswa belajar berdiskusi, berbeda pendapat, berorganisasi, memimpin, dipimpin, menyampaikan kritik, menerima kritik, bahkan belajar dari kegagalan. Tidak semua pelajaran tersebut tertulis di dalam silabus perkuliahan. Ada pengetahuan yang hanya dapat ditemukan ketika kita berhadapan langsung dengan persoalan. Ada kedewasaan yang lahir dari perbedaan. Ada kepemimpinan yang tumbuh dari tanggung jawab. Dan ada keberanian yang muncul ketika kita memilih untuk tidak diam terhadap sesuatu yang menurut kita tidak benar. Karena itu, saya memandang dunia kemahasiswaan bukan sebagai kegiatan tambahan di luar perkuliahan. Ia adalah bagian dari proses pendidikan itu sendiri. Organisasi mahasiswa, forum diskusi, kegiatan sosial, pengabdian masyarakat, gerakan intelektual, hingga berbagai ruang aktualisasi lainnya seharusnya menjadi laboratorium kehidupan bagi mahasiswa. Di sanalah mahasiswa tidak hanya belajar tentang teori, tetapi juga belajar menerjemahkan teori menjadi tindakan. Namun, kemahasiswaan juga tidak boleh kehilangan arah. Aktif berorganisasi bukan berarti mengabaikan akademik. Sebaliknya, menjadi mahasiswa yang baik bukan berarti hanya mengejar indeks prestasi sambil menutup mata terhadap persoalan sosial di sekitarnya. Keduanya harus berjalan beriringan. Sebab, mahasiswa membutuhkan kecerdasan untuk berpikir, tetapi juga keberanian untuk bertindak. Antara Idealisme dan Realitas Mahasiswa sering disebut sebagai kelompok yang memiliki idealisme. Saya percaya bahwa idealisme memang merupakan salah satu kekuatan terbesar mahasiswa. Tetapi idealisme akan kehilangan makna jika hanya berhenti sebagai slogan. Kita boleh berbicara tentang perubahan, tetapi perubahan membutuhkan kerja. Kita boleh berbicara tentang keadilan, tetapi keadilan membutuhkan keberanian untuk berpihak. Kita boleh berbicara tentang kemajuan, tetapi kemajuan membutuhkan pengetahuan yang diterjemahkan menjadi tindakan. Di sisi lain, mahasiswa juga tidak boleh terjebak dalam romantisme gerakan. Kita hidup dalam zaman yang berubah sangat cepat. Persoalan masyarakat semakin kompleks. Teknologi berkembang begitu cepat, informasi bergerak tanpa batas, kecerdasan buatan mulai mengubah cara manusia bekerja dan belajar, sementara persoalan sosial, ekonomi, lingkungan, dan pendidikan tetap membutuhkan perhatian. Dalam situasi seperti ini, mahasiswa tidak cukup hanya menjadi pengkritik keadaan. Mahasiswa juga harus mampu menjadi bagian dari solusi. Kita perlu memiliki keberanian untuk mempertanyakan keadaan, tetapi juga kemampuan untuk menawarkan gagasan. Kita perlu kritis, tetapi tidak kehilangan etika. Kita perlu memiliki idealisme, tetapi tetap berpijak pada realitas. Menjadi Mahasiswa di Era Digital Hari ini, generasi mahasiswa hidup dalam ruang yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Informasi dapat diperoleh hanya dalam hitungan detik. Pengetahuan dapat diakses dari berbagai penjuru dunia. Teknologi memberikan begitu banyak kesempatan untuk belajar, berkarya, dan membangun jaringan. Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan tantangan. Banjir informasi tidak selalu berarti banjir pengetahuan. Banyaknya informasi tidak otomatis membuat seseorang menjadi lebih cerdas. Justru di tengah derasnya arus informasi, mahasiswa dituntut memiliki kemampuan untuk memilah, memverifikasi, menganalisis, dan mempertanggungjawabkan informasi yang dikonsumsi maupun disebarkan. Teknologi seharusnya tidak menjadikan mahasiswa sekadar pengguna. Mahasiswa harus mampu menjadi pencipta. Kita tidak boleh hanya menjadi generasi yang sibuk mengonsumsi apa yang dibuat orang lain. Kita harus mulai bertanya: apa yang bisa kita ciptakan dengan pengetahuan yang kita miliki? Apa yang bisa kita selesaikan dengan teknologi? Bagaimana ilmu yang kita pelajari dapat menjawab persoalan masyarakat?. Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting karena masa depan tidak hanya membutuhkan orang-orang yang mampu menggunakan teknologi, tetapi juga manusia yang mampu mengarahkan teknologi untuk kemaslahatan. Dari Kampus untuk Masyarakat Pada akhirnya, pendidikan tinggi tidak boleh membuat seseorang semakin jauh dari masyarakat. Semakin tinggi pendidikan seseorang, seharusnya semakin besar pula kesadarannya terhadap persoalan yang ada di sekelilingnya. Mahasiswa berasal dari masyarakat. Biaya pendidikan, fasilitas pendidikan, pengetahuan, bahkan kesempatan untuk belajar merupakan bagian dari ekosistem sosial yang lebih besar. Maka, sangat wajar apabila setelah mendapatkan ilmu, mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk mengembalikan sebagian manfaatnya kepada masyarakat. Pengabdian tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Ia bisa dimulai dari hal sederhana: membantu masyarakat memahami teknologi, mendampingi anak-anak belajar, membuat kegiatan sosial, mengembangkan potensi ekonomi masyarakat, melakukan riset terhadap persoalan lokal, atau sekadar memiliki kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Yang terpenting bukan seberapa besar tindakan itu terlihat, tetapi seberapa nyata kebermanfaatannya. Sebab, gelar pada akhirnya hanya melekat pada nama. Tetapi kebermanfaatan akan melekat pada kehidupan orang lain. Menjadi Mahasiswa, Bukan Sekadar Menjadi Sarjana Bagi saya, menjadi mahasiswa berarti sedang mempersiapkan diri untuk menjadi manusia yang memiliki kapasitas dan kebermanfaatan. Kita memang harus belajar untuk mendapatkan nilai. Kita harus menyelesaikan tugas. Kita harus mengejar prestasi akademik. Kita harus menyelesaikan pendidikan dan mendapatkan gelar. Tetapi jangan sampai seluruh perjalanan itu hanya berakhir pada selembar ijazah. Jangan sampai empat tahun atau lebih yang kita habiskan di perguruan tinggi hanya menghasilkan seseorang yang memiliki gelar, tetapi tidak memiliki keberanian untuk berpikir. Jangan sampai kita menjadi sarjana yang mengetahui banyak hal, tetapi tidak peduli terhadap apa yang terjadi di sekelilingnya. Dan jangan sampai pendidikan yang kita tempuh justru membuat kita lupa kepada mereka yang dahulu berjuang agar kita bisa sampai di titik ini. Karena itu, saya percaya bahwa pertanyaan terpenting bagi seorang mahasiswa bukan hanya, “Gelar apa yang akan saya dapatkan?” Tetapi juga: “Manusia seperti apa yang akan saya menjadi setelah keluar dari kampus ini?” Pertanyaan itulah yang semestinya terus kita bawa selama menjalani kehidupan kemahasiswaan. Sebuah Refleksi dari Perjalanan Saya Hari ini, saya mendapatkan amanah untuk berdiri sebagai Presiden Mahasiswa Institut Teknologi dan Bisnis Muhammadiyah Polewali Mandar (ITBM Polman). Di luar kampus, saya juga mendapatkan amanah sebagai Sekretaris Bidang Teknologi Informasi Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah, sebuah amanah yang membawa saya pada ruang-ruang pengabdian yang lebih luas, termasuk menjalankan aktivitas organisasi di Menara 62, Menteng Raya, Jakarta Pusat. Bagi sebagian orang, posisi tersebut mungkin terlihat sebagai sebuah pencapaian. Tetapi bagi saya, posisi tersebut bukanlah alasan untuk merasa lebih tinggi dari siapa pun. Justru semakin banyak amanah yang diberikan, semakin saya memahami bahwa kepemimpinan bukan tentang seberapa tinggi seseorang berdiri, melainkan seberapa banyak ia mampu membawa manfaat bagi orang lain. Dan ketika saya melihat perjalanan saya sampai pada titik ini, saya selalu teringat kepada dua orang yang menjadi bagian paling penting dari seluruh perjalanan tersebut: ayah dan ibu saya. Saya adalah anak dari seorang ayah yang dahulu berprofesi sebagai penjual gorengan. Kemudian, beliau beralih profesi menjadi penjual pentol kuah. Setelah itu, beliau kembali beralih profesi menjadi seorang pengepul barang rongsokan. Ibu saya adalah seorang penjual jamu. Sejak saya masih kecil hingga hari ini, tidak pernah sedikit pun saya merasa malu dengan profesi kedua orang tua saya. Saya justru belajar bahwa pekerjaan yang dilakukan dengan kejujuran dan ketulusan tidak pernah menjadi sesuatu yang memalukan. Saya melihat sendiri bagaimana tangan orang tua saya bekerja untuk memastikan anaknya tetap bisa berjalan menuju masa depan. Saya melihat bahwa di balik setiap rupiah yang mereka hasilkan, terdapat keringat, waktu, pengorbanan, dan doa. Karena itu, ketika hari ini saya berdiri sebagai seorang mahasiswa, seorang pemimpin mahasiswa, dan mendapatkan kesempatan untuk belajar serta berorganisasi di ruang yang lebih luas, saya tidak pernah menganggap semua itu sebagai keberhasilan saya seorang diri. Berdirinya saya di sini adalah bukti keberhasilan dari setiap pekerjaan yang pernah dilakukan oleh kedua orang tua saya. Jika hari ini saya mampu berbicara tentang pendidikan, kepemimpinan, organisasi, teknologi, dan perubahan, ada dua orang yang terlebih dahulu mengajarkan kepada saya tentang arti perjuangan—bukan melalui teori, tetapi melalui kehidupan mereka sendiri. Ayah saya mengajarkan bahwa pekerjaan apa pun yang dilakukan dengan halal dan penuh tanggung jawab adalah kehormatan. Ibu saya mengajarkan bahwa ketekunan tidak membutuhkan panggung untuk menjadi berarti. Dan dari mereka saya belajar bahwa keberhasilan bukan tentang dari mana seseorang berasal, tetapi tentang sejauh mana ia mampu menghargai perjuangan yang membawanya sampai ke tempat ia berdiri hari ini. Maka, jika suatu hari nanti saya menyandang gelar sarjana, saya berharap gelar itu tidak menjadi akhir dari perjalanan. Saya ingin gelar itu menjadi awal dari tanggung jawab yang lebih besar. Sebab saya ingin percaya bahwa seorang mahasiswa tidak dilahirkan hanya untuk menjadi sarjana. Mahasiswa hadir untuk belajar, berpikir, bergerak, dan memberi arti. Dan pada akhirnya, pendidikan yang paling berharga bukanlah pendidikan yang hanya mengubah status seseorang dari mahasiswa menjadi sarjana, melainkan pendidikan yang mampu mengubah seorang manusia menjadi pribadi yang lebih berilmu, lebih berani, lebih rendah hati, dan lebih bermanfaat bagi sesamanya.

U

Umar Syaifudin

Ketua BEM ITBM POLMAN

Saatnya Lahirkan Teori Baru Ekonomi Manajemen
08 Aug 2026 30 views

Saatnya Lahirkan Teori Baru Ekonomi Manajemen

Peradaban tidak dibangun oleh banyaknya manusia yang menguasai ilmu, tetapi oleh sedikit orang yang melahirkan ilmu baru. Jabatan akan berakhir, kekuasaan akan berganti, dan kekayaan akan berpindah tangan. Namun, pemikiran yang benar akan terus hidup, menembus ruang dan waktu, memengaruhi kebijakan, menggerakkan organisasi, dan mengubah cara manusia memahami dunia. Di situlah hakikat seorang ilmuwan; bukan sekadar pencari pengetahuan, melainkan pencipta arah peradaban. Seorang ahli ekonomi manajemen tidak cukup menguasai teori, tetapi dituntut melahirkan teori. Ia tidak berhenti menjelaskan fenomena, melainkan menghadirkan cara pandang baru yang mampu menyelesaikan persoalan manusia. Ukuran keberhasilannya bukan banyaknya tulisan yang diterbitkan, melainkan seberapa jauh gagasannya digunakan, dikembangkan, dan diwariskan oleh generasi berikutnya. Sejarah telah memperlihatkan bagaimana satu pemikiran mampu mengubah dunia. Peter Drucker mengangkat manusia sebagai pusat organisasi modern. Michael Porter menunjukkan bahwa keunggulan kompetitif menjadi fondasi memenangkan persaingan. Gary Becker menegaskan bahwa investasi terbesar berada pada kualitas manusia melalui konsep human capital. Amartya Sen mengembalikan makna pembangunan kepada kebebasan dan kemampuan manusia untuk hidup bermartabat. Joseph Stiglitz membuktikan bahwa informasi yang tidak seimbang dapat melahirkan ketidakadilan ekonomi. Mereka dikenang bukan karena gelarnya, melainkan karena teorinya tetap hidup dan terus digunakan hingga hari ini. Pelajaran terbesar dari para pemikir dunia adalah bahwa ilmu pengetahuan berkembang ketika seseorang berani melampaui zamannya. Teori lahir bukan dari ruang yang nyaman, tetapi dari keberanian mempertanyakan apa yang selama ini dianggap benar. Karena itu, bangsa yang hanya mengutip teori akan selalu menjadi pengikut, sedangkan bangsa yang melahirkan teori akan menjadi penentu arah peradaban. Indonesia memiliki semua prasyarat untuk menjadi pusat lahirnya gagasan baru. Keragaman sosial, kekayaan budaya, potensi sumber daya alam, perkembangan ekonomi digital, bonus demografi, hingga tantangan keberlanjutan merupakan laboratorium ilmiah yang tidak dimiliki banyak negara. Yang dibutuhkan bukan sekadar penelitian, tetapi keberanian merumuskan teori yang lahir dari pengalaman Indonesia dan dapat menjelaskan persoalan dunia. Di sinilah saya memandang Manajemen Talenta Berbasis Ecodesign sebagai salah satu peluang strategis. Talenta tidak lagi dimaknai hanya sebagai modal produktivitas organisasi, tetapi sebagai kekuatan yang menyatukan kecerdasan manusia, teknologi, etika, inovasi, dan keberlanjutan lingkungan. Masa depan ekonomi tidak cukup dibangun oleh efisiensi, tetapi oleh keseimbangan antara kemajuan ekonomi, kelestarian alam, dan kemuliaan manusia. Ketika talenta tumbuh bersama nilai-nilai keberlanjutan, organisasi tidak hanya menciptakan keuntungan, tetapi juga membangun kehidupan. Mewujudkan gagasan tersebut memerlukan komitmen jangka panjang. Teori harus diperkuat oleh riset yang konsisten, dipublikasikan dalam jurnal bereputasi internasional, dituangkan dalam buku berbahasa Indonesia dan Inggris, serta diuji melalui kolaborasi ilmiah lintas negara. Dengan proses yang berkelanjutan selama lima hingga sepuluh tahun, sebuah gagasan memiliki peluang berkembang menjadi rujukan akademik dan kebijakan di tingkat global. Implikasinya sangat besar. Indonesia tidak lagi sekadar menjadi pengguna teori ekonomi manajemen, tetapi menjadi penyumbang pemikiran bagi dunia. Perguruan tinggi akan menjadi pusat penciptaan ilmu, pemerintah memperoleh landasan ilmiah yang lebih kuat dalam merumuskan kebijakan, dunia usaha mendapatkan model manajemen yang lebih adaptif, sementara masyarakat memperoleh manfaat dari pembangunan yang lebih berkeadilan dan berkelanjutan. Pada saat yang sama, dunia memperoleh perspektif baru yang lahir dari pengalaman negara berkembang yang kaya akan keragaman sosial, budaya, dan lingkungan. Pada akhirnya, ukuran seorang ilmuwan bukanlah banyaknya karya yang ditulis ataupun tingginya angka sitasi. Semua itu hanyalah jejak administratif dari sebuah perjalanan intelektual. Ukuran yang sesungguhnya adalah ketika pemikirannya menjadi rujukan, teorinya membimbing keputusan, idenya melahirkan perubahan, dan ilmunya terus memberi manfaat jauh setelah dirinya tiada. Masa depan Indonesia tidak cukup ditopang oleh kekayaan alam atau besarnya jumlah penduduk. Masa depan Indonesia akan ditentukan oleh keberanian melahirkan pemikiran yang mampu mengubah dunia. Sebab, bangsa yang besar bukanlah bangsa yang paling banyak membaca teori, melainkan bangsa yang mampu melahirkan teori yang dibaca oleh dunia. Di sanalah sitasi berakhir, tetapi peradaban dimulai.

D

Dr. Ir. H. Muh. Tahir, M.Si.

Rektor Unimaju

Talenta Yang Tak Pernah Pensiun
08 Aug 2026 28 views

Talenta Yang Tak Pernah Pensiun

Sejak kecil, banyak di antara kita telah membawa benih talenta yang berbeda. Ada yang mencintai berkebun dan bertani, menikmati keindahan seni membaca Al-Qur'an, gemar membaca buku sosiologi, psikologi, motivasi, hingga kepemimpinan. Semua itu bukan sekadar hobi, melainkan investasi karakter yang perlahan membentuk jati diri. Howard Gardner menyebutnya sebagai multiple intelligences, yaitu setiap manusia memiliki lebih dari satu kecerdasan yang berkembang melalui minat, latihan, dan pengalaman. Talenta alamiah kemudian diperkaya oleh perjalanan hidup. Selama menjadi aparatur negara, misalnya, kita memperoleh pengalaman dalam mengelola penempatan sumber daya manusia, kewirausahaan, pelatihan keterampilan teknis, penempatan tenaga kerja, perdagangan, penyusunan anggaran RAB , hingga pengelolaan administrasi dan pelaporan proyek. Semua pengalaman itu adalah modal intelektual yang sangat berharga. Sayangnya, banyak pengalaman berhenti bersama masa jabatan, padahal seharusnya diubah menjadi buku, artikel, novel, atau karya ilmiah yang terus mengalir manfaatnya.Allah Swt. mengingatkan:"Maka apabila engkau telah selesai dari suatu urusan, tetaplah bekerja keras untuk urusan yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap." (QS. Al-Insyirah: 7–8). Ayat ini mengajarkan bahwa kehidupan tidak mengenal masa berhenti berkarya. Yang berubah bukan semangatnya, melainkan bentuk pengabdiannya. Ketika tenaga mulai berkurang, karya intelektual justru harus semakin bertambah. Dalam dunia kepemimpinan, memiliki banyak talenta adalah sebuah keunggulan. Robert Katz menjelaskan bahwa pemimpin memerlukan keterampilan teknis, hubungan antarmanusia, dan kemampuan konseptual. Peter Drucker bahkan menegaskan bahwa pemimpin tidak harus menjadi ahli dalam semua bidang, tetapi harus mampu memahami banyak disiplin agar dapat mengarahkan para ahlinya. Karena itu, multitalenta merupakan kekuatan ketika kita masih memimpin organisasi. Namun, kehidupan memiliki fase. Jabatan akan berakhir, regenerasi akan berjalan, dan usia akan mengubah cara kita berkarya. Pada tahap ini, keluasan perlu berubah menjadi kedalaman. Cal Newport dalam konsep Deep Work menunjukkan bahwa karya terbesar lahir dari fokus yang mendalam, bukan dari kesibukan yang tersebar ke mana-mana. Lalu, talenta mana yang paling layak dipertahankan? Misalnya berkebun dan bertani tetap penting sebagai sumber pangan dan kesehatan. manajemen sumber daya dapat menjadi ruang konsultasi dan pelatihan. Namun, bila dicari talenta yang paling adaptif hingga usia lanjut, dapat dikerjakan secara mandiri, menghasilkan nilai ekonomi sekaligus pahala, maka perpaduan keahlian misalnya komunikasi, tilawah Al-Qur'an, psikologi, dan menulis adalah pilihan yang paling kokoh. Contohnya, seorang penulis dapat mengubah pengalaman puluhan tahun menjadi buku tentang kepemimpinan, Manajemen SDM, pendidikan, atau tafsir sosial Al-Qur'an. Seorang komunikator dapat menyampaikan gagasan melalui ceramah, pelatihan, media digital, dan kelas daring. Seorang pengkaji dapat membaca kitab-kitab klasik, memahami filsafat dunia, lalu mengolahnya menjadi pemikiran kontemporer yang relevan dengan persoalan masyarakat. Di sinilah ilmu tidak hanya disimpan, tetapi dihidupkan. Sejarah membuktikan bahwa karya lebih panjang usianya daripada jabatan. Ibn Khaldun dikenang karena Muqaddimah, bukan karena kedudukannya. Peter Drucker tetap memengaruhi dunia melalui gagasan yang ditulisnya. Demikian pula banyak ulama besar yang hingga kini tetap mengajar umat melalui kitab-kitab mereka, meskipun mereka telah lama wafat. Implikasinya sangat jelas. Kita tidak perlu meninggalkan seluruh talenta, tetapi mengintegrasikannya ke dalam satu misi besar. Pengalaman bertani memberi kearifan, manajemen SDM memberi landasan ilmiah, psikologi membantu memahami manusia, komunikasi teknik menyampaikan gagasan, sedangkan Al-Qur'an menjadi sumber nilai. Seluruhnya dipadukan menjadi buku, artikel, pelatihan, dakwah, dan pendidikan yang terus memberi manfaat. Jalan tengah inilah yang paling berkelanjutan. Kita tetap produktif tanpa bergantung pada jabatan, tetap memperoleh penghasilan melalui karya intelektual, pelatihan, konsultasi, dan penerbitan buku, sekaligus menanam amal jariyah melalui ilmu yang terus dipelajari dan diamalkan. Terjun kerja adalah waktu mengumpulkan banyak talenta. Masa memimpin adalah waktu memadukan banyak talenta. Masa tua adalah waktu memusatkan seluruh pengalaman ke dalam satu karya besar yang menjadi warisan peradaban. Karena itu, strategi terbaik adalah terus membaca, memperdalam Al-Qur'an, mengasah komunikasi, memperkaya psikologi, dan menulis secara konsisten dengan menjadikan manajemen sumber daya manusia sebagai bidang utama. Dari sanalah lahir buku-buku yang menghubungkan ilmu modern, nilai-nilai Islam, dan pengalaman nyata kehidupan. Pada akhirnya, manusia tidak dikenang karena lamanya menduduki jabatan, tetapi karena panjangnya manfaat yang ditinggalkan. Jabatan memiliki masa akhir, sedangkan ilmu dan karya yang bermanfaat akan terus hidup, mengalirkan rezeki, pahala, dan kemuliaan bagi pemiliknya.

D

Dr. Ir. H. Muh. Tahir, M.Si.

Rektor Unimaju

Sekali Dibajak, Hilang Kendali
08 Aug 2026 17 views

Sekali Dibajak, Hilang Kendali

Zaman now adalah zaman ketika kehidupan kita berpindah ke dalam genggaman. WhatsApp, Facebook, TikTok, Instagram, email, mobile banking, marketplace, hingga berbagai aplikasi pelayanan publik telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Kita tidak hanya menyimpan percakapan di dalamnya, tetapi juga menyimpan identitas, relasi, pekerjaan, bahkan akses terhadap uang. Karena itu, ketika akun dibajak, yang hilang bukan sekadar akun. Yang sedang diperebutkan adalah kendali atas kehidupan digital kita. Kita sering mendengar saudara, teman, dosen, pejabat, pengusaha, bahkan lembaga pendidikan tiba-tiba kehilangan kendali atas WhatsApp atau media sosialnya. Nomornya masih dikenal, fotonya masih sama, tetapi yang berbicara ternyata bukan pemiliknya. Pelaku kemudian menghubungi keluarga dan teman, meminjam uang, meminta transfer, mengirim tautan palsu, atau menawarkan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah dilakukan pemilik akun. Lebih berbahaya lagi, penipuan digital tidak selalu datang dalam bentuk pembajakan akun. Ada phishing, tautan palsu, aplikasi berbahaya, pencurian OTP, manipulasi psikologis, peniruan identitas, rekening palsu, investasi fiktif, hingga rekayasa suara dan gambar menggunakan kecerdasan buatan. Artinya, penipuan kini bukan hanya mencuri barang, tetapi mencuri kepercayaan. Di sinilah kita perlu membedakan antara teknologi dan penyalahgunaan teknologi. Hacker: Keahlian yang Bisa Menjadi Senjata Istilah hacker sering dipahami secara sederhana sebagai orang yang membajak sistem. Padahal, dalam dunia keamanan siber, hacker tidak selalu berarti penjahat. Ada ethical hacker atau white hat yang justru dibayar secara resmi untuk menemukan kelemahan sistem agar dapat diperbaiki. Sebaliknya, black hat hacker menggunakan kemampuan teknis untuk masuk ke sistem tanpa izin, mencuri data, mengambil alih akun, memasang malware, atau memeras korban. Dalam banyak kasus, setelah sistem dikuasai, pelaku meminta pembayaran agar akses dikembalikan atau data tidak disebarkan. Para ahli keamanan siber berulang kali mengingatkan bahwa manusia sering menjadi titik terlemah dalam sistem keamanan. Teknologi boleh canggih, tetapi jika seseorang memberikan OTP, PIN, kata sandi, atau mengklik tautan palsu, pintu keamanan dapat terbuka dari dalam. Karena itu, persoalan terbesar bukan hanya “siapa yang membajak?”, melainkan mengapa kita memberikan jalan untuk dibajak? Ketika Sistem Dibajak, Dana Bisa Ikut Dikuasai Bayangkan sebuah sistem perbankan digital, email, atau telepon seluler kita berhasil dikuasai. Pelaku mungkin tidak langsung mengambil uang. Ia bisa terlebih dahulu mengambil alih email, nomor telepon, atau akun yang menjadi pintu pemulihan. Setelah itu, ia berusaha mendapatkan kode verifikasi, mengganti kata sandi, menguasai akun, lalu masuk ke layanan keuangan yang terhubung. Di sinilah masalah menjadi serius. Akun digital bukan lagi sekadar identitas. Ia adalah kunci. Jika kunci jatuh ke tangan yang salah, rekening, data pribadi, dokumen, komunikasi, bahkan reputasi seseorang dapat ikut terancam. Dalam konteks perusahaan atau perguruan tinggi, dampaknya lebih luas: data mahasiswa, data pegawai, dokumen keuangan, penelitian, surat-menyurat, hingga sistem akademik dapat menjadi sasaran. Maka keamanan digital sesungguhnya bukan sekadar urusan bagian teknologi informasi. Ia adalah urusan seluruh organisasi dan seluruh manusia yang menggunakan teknologi. Implikasinya: Kejahatan Digital Merusak Kepercayaan Penipuan online memiliki implikasi yang jauh lebih dalam daripada kerugian uang. Pertama, kerugian ekonomi. Uang dapat berpindah dalam hitungan detik dan sering kali sulit dikembalikan. Kedua, kerugian data dan privasi. Data pribadi yang bocor dapat digunakan kembali untuk berbagai kejahatan. Ketiga, kerusakan reputasi. Satu pesan dari akun yang dibajak dapat membuat orang lain percaya bahwa pemilik akun sedang menipu atau meminta uang. Keempat, kerusakan psikologis. Korban dapat mengalami ketakutan, malu, kehilangan kepercayaan, bahkan merasa bersala.

D

Dr. Ir. H. Muh. Tahir, M.Si.

Dewan Pakar MPI PWM Sulbar

Chat WhatsApp