Logo PWM Sulbar

Gagasan & Opini

Kumpulan pemikiran, gagasan, dan artikel dari para tokoh serta kader.

PTMA Unggul DImulai dari Hati : Kunci Kemajuan Amal Usaha Muhammadiyah
15 Sep 2026 • 53 views

PTMA Unggul DImulai dari Hati : Kunci Kemajuan Amal Usaha Muhammadiyah

Mengurus, mengembangkan, dan memajukan Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (PTMA) tidak cukup dengan jabatan, gedung, anggaran, akreditasi, atau teknologi. Pertanyaan mendasarnya: mengapa ada PTMA yang maju dan berkembang, ada yang berjalan di tempat, bahkan ada yang mundur, kehilangan mahasiswa, hingga harus dilebur atau diambil alih PTMA lain? Jawabannya tidak semata-mata pada modal material, tetapi terutama pada manusia yang mengelolanya dan hati yang menggerakkannya. Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri” (QS. Ar-Ra’d: 11). Maka perubahan PTMA harus dimulai dari perubahan manusia: cara berpikirnya, kompetensinya, integritasnya, profesionalismenya, dan terutama niatnya. Sebagaimana pandangan Prof. Bambang yang pernah saya dengar, jika ingin unggul maka keunggulan harus dimulai dari seluruh mata rantai organisasi: tukang kebersihan, satpam, staf, dosen, program studi, dekan, direktur pascasarjana, lembaga, wakil rektor, rektor, BPH, hingga Persyarikatan, ortom dan siapa pun yang memberi kontribusi serta masukan kepada kampus. Semuanya harus berbobot. Sebab Rektor sehebat apa pun tidak mungkin mengangkat kampus sendirian. PTMA adalah sistem; jika satu mata rantai lemah, keunggulan ikut terganggu. SDM harus unggul, sarana-prasarana harus siap, sistem informasi harus hidup, pelayanan harus cepat, jejaring kemitraan harus luas, tata kelola harus transparan, dan seluruh unsur harus bergerak menuju tujuan yang sama. Karena itu, ketika ada titipan pegawai, dosen, atau unsur tertentu, pertanyaannya bukan siapa yang menitipkan, tetapi apakah orang tersebut mampu membantu memajukan kampus? Seleksi harus berbasis kompetensi, integritas, kebutuhan organisasi, dan komitmen. Jangan sampai orang yang seharusnya menjadi energi kemajuan justru berubah menjadi beban. Amanah yang diberikan harus dikerjakan sungguh-sungguh, bukan sekadar diduduki. Jabatan bukan tempat mencari kenyamanan, tetapi ruang mempertanggungjawabkan kepercayaan. Inilah yang membedakan Amal Usaha Muhammadiyah dari sekadar perguruan tinggi swasta. Ada kata amal sebelum kata usaha. Usaha membutuhkan profesionalisme, tetapi amal membutuhkan keikhlasan. Filosofi KH. Ahmad Dahlan mengajarkan semangat bahwa ketika bergabung dengan Muhammadiyah jangan hanya berpikir bagaimana hidup dari Muhammadiyah, tetapi bagaimana menghidupkan Muhammadiyah. Maka gaji adalah hak, tetapi memberikan nilai yang lebih besar melalui pekerjaan adalah kewajiban moral. Jangan sampai mengambil manfaat dari amal usaha atas nama kepentingan pribadi, karena ketika kepentingan pribadi mengalahkan kepentingan Persyarikatan, ruh keikhlasan mulai runtuh. Profesionalisme tanpa keikhlasan dapat berubah menjadi transaksi; keikhlasan tanpa profesionalisme dapat berubah menjadi ketidakmampuan. PTMA membutuhkan keduanya: hati yang ikhlas dan kerja yang profesional. Allah menegaskan, “Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu pula Rasul-Nya dan orang-orang mukmin” (QS. At-Taubah: 105). Karena itu, ukuran pengabdian bukan seberapa tinggi jabatan seseorang, tetapi seberapa besar amanah yang ditunaikannya dan seberapa nyata manfaat pekerjaannya. Keunggulan juga tidak boleh dipahami sebagai predikat sesaat. Pernah sebuah program studi memperoleh akreditasi baik sekali, tetapi kemudian turun menjadi baik. Ini pelajaran bahwa keunggulan yang tidak dirawat akan menjadi masa lalu. Unggul harus menjadi budaya dan sistem yang berkelanjutan. Kurikulum harus terus dikaji sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi; pembelajaran harus berbasis OBE; dosen harus mengajarkan ilmu terbaru yang lahir dari riset dan dapat diterapkan; penelitian harus menghasilkan pengetahuan dan inovasi; pengabdian harus memberi dampak; AIK harus menjadi karakter, bukan sekadar kegiatan; pelayanan harus cepat dan tepat; sistem informasi harus bekerja; sarana-prasarana harus berfungsi; dan jejaring harus menghasilkan manfaat. Budaya unggul justru terlihat dari hal-hal yang sering dianggap kecil. Ketika mahasiswa membutuhkan kaprodi, apakah kaprodi hadir? Ketika pelayanan akademik dibutuhkan, apakah layanan tersedia tepat waktu? Ketika keamanan diperlukan, apakah satpam berada di tempat? Ketika perpustakaan dibutuhkan, apakah terbuka? Ketika mahasiswa membutuhkan air, listrik, ruang, jaringan internet, atau mikrofon aula, apakah semuanya siap? Ketika sampah berserakan, siapa yang merasa bertanggung jawab? Kampus unggul bukan hanya yang bagus ketika dinilai asesor, tetapi yang bagus setiap hari ketika melayani mahasiswa. Akreditasi adalah hasil; budaya mutu adalah sebab. Maka mari kita bercermin: ketika pertama kali diterima bekerja di Muhammadiyah, kita menyatakan siap mengemban amanah. Banyak yang telah mengikuti Baitul Arqam. Pertanyaannya sekarang, apakah hati kita masih searah dengan amanah awal itu? Apakah kita datang untuk menghidupkan amal usaha atau sekadar mencari nafkah? Apakah kehadiran kita menambah nilai atau menambah masalah? Apakah pekerjaan kita membuat kampus semakin dipercaya masyarakat atau justru sebaliknya? Pertanyaan-pertanyaan ini harus dijawab bukan dengan kata-kata, tetapi dengan kinerja. PTMA yang unggul membutuhkan satu kesadaran kolektif: kampus ini milik perjuangan, bukan milik kepentingan pribadi. BPH, PWM, PDM, ‘Aisyiyah, ortom, pimpinan perguruan tinggi, dosen, tenaga kependidikan, dan seluruh warga Muhammadiyah harus memberi kontribusi terbaik. Kritik harus menjadi energi perbaikan, bukan konflik; masukan harus berkualitas, bukan kepentingan; pengangkatan SDM harus berdasarkan merit, bukan kedekatan; dan setiap amanah harus dikembalikan kepada tujuan utamanya: memajukan Persyarikatan, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan memberi manfaat bagi umat. Implikasinya, PTMA perlu melakukan evaluasi menyeluruh dan berkelanjutan terhadap manusia, sistem, layanan, akademik, AIK, keuangan, sarana-prasarana, teknologi, penelitian, pengabdian, kemitraan, dan budaya organisasi. Setiap unit harus memiliki standar, target, indikator, evaluasi, penghargaan, pembinaan, dan konsekuensi. Orang baik harus diberi ruang berkembang, orang lemah dibina, orang berprestasi diapresiasi, dan amanah yang terus-menerus diabaikan harus ditindak secara organisatoris. Tidak boleh ada budaya “yang penting hadir”; yang dibutuhkan adalah budaya “hadir untuk memberi arti”.Pada akhirnya, PTMA tidak akan unggul hanya karena memiliki banyak doktor, gedung megah, mahasiswa banyak, teknologi canggih, atau akreditasi tinggi. Semua itu hanyalah instrumen. Ruhnya tetap manusia dan hatinya. Jika hati pengelola lurus, niatnya ikhlas, ilmunya kuat, kerjanya profesional, integritasnya terjaga, dan seluruh unsur bergerak dalam satu arah, PTMA akan tumbuh menjadi amal usaha yang berkemajuan. Tetapi jika hati mulai kehilangan amanah, profesionalisme ditinggalkan, kepentingan pribadi mengalahkan kepentingan Persyarikatan, maka sebesar apa pun gedung dan sebaik apa pun predikat akreditasi, kemunduran hanya tinggal menunggu waktu. Karena itu, mari kita kembali kepada niat awal: bekerja bukan sekadar di Muhammadiyah, tetapi bekerja untuk menghidupkan Muhammadiyah; bukan sekadar mempertahankan kampus, tetapi memajukannya; bukan sekadar mengejar unggul, tetapi menjadi unggul yang berkelanjutan. Sebab keunggulan PTMA tidak pertama-tama lahir dari gedung, sistem, atau sertifikat. Keunggulan lahir dari hati, dibuktikan dengan kerja, dirasakan dalam pelayanan, diukur melalui hasil, dan dipertahankan dengan amanah.

D

Dr. Ir. H. Muh. Tahir, M.Si.

Rektor Universitas Muhammadiyah Mamuju

TIDAK KUTEMUKAN TRADISI KOMUNIKASI ALA MADZHAB ASY'ARIYYAH DI KOMUNITAS MUHAMMADIYAH  Catatan Seorang Praktisi Ruqyah Syar'iyyah
14 Sep 2026 • 36 views

TIDAK KUTEMUKAN TRADISI KOMUNIKASI ALA MADZHAB ASY'ARIYYAH DI KOMUNITAS MUHAMMADIYAH Catatan Seorang Praktisi Ruqyah Syar'iyyah

Saya adalah anak biologis Muhammadiyah. Saya lahir di rahim keluarga yang berkultur puritanisme. Secara ideologis, saya juga anak ideologis Muhammadiyah. Dalam keseharian, kami sami'na wa atha'na pada apa kata Himpunan Putusan Tarjih. Contoh paling sederhana: soal penetapan 1 Ramadhan. Apa kata Majelis Tarjih, itu yang kami ikuti. Anomali yang saya Temukan Sebagai Praktisi Ruqyah Sejak tahun 2004 hingga kini saya menjadi praktisi ruqyah syar'iyyah. Dari ruang praktik itulah saya menemukan sebuah anomali yang "tidak Muhammadiyah banget". Anomali itu adalah : minimnya kemandirian sebagian orang dalam menemukan kebenaran dan mengambil keputusan. Saya sering menjumpai klien yang datang dengan permintaan-permintaan seperti ini : 1. Minta dibuatkan nama untuk calon cucunya. 2. Minta hari terbaik untuk membongkar rumah. Padahal menurut saya, hari terbaik adalah saat banyak tetangga luang agar dapat dukungan. 3. Minta doa khusus untuk buka usaha. Padahal cukup baca basmalah dan tawakal. 4. Minta dicarikan jodoh untuk adiknya. Minta dicarikan link lowongan kerja. 5. Minta disarankan menikahi perempuan A atau B. 6. Minta pertimbangan, mengambil pekerjaan A atau B. 7. Minta pendapat, menantu sebaiknya kerja di kota A atau B. 8. Minta fatwa praktis mendiamkan tetangga pencuri atau lapor polisi. 9. Minta rekomendasi: melahirkan di klinik mana. 10. Minta saran menikah dulu atau kerja dulu. 11. Minta dipilihkan, cucu sekolah negeri atau yayasan Islam. Catatan Kritis : Akar Kebergantungan Dari sekian banyak perjumpaan itu, saya bertanya. Mengapa mereka tidak memiliki kemandirian bersikap ?. Mengapa kebergantungan pada elit agama, ustadz, kyai, tokoh, begitu besar ?. Lalu saya teringat satu kata kunci : tradisi ilmu kalam golongan Asy'ariyah. Dalam komunitas dengan corak Asy'ariyah, ada kecenderungan bahwa penentu bahagia adalah syaikh. Penentu sukses adalah syekh. Syekh di sini bisa berwujud guru, ustadz atau kyai. Followers Asy'ariyah dalam Menemukan Kebenaran Dalam tradisi ini, kebahagiaan tidak selalu dilihat sebagai hasil dari proses ibadah personal. Datangnya rahmat Allah tidak melulu diukur dari prestasi ibadah individu. Melainkan, rahmat itu diyakini datang melalui tangan-tangan para elit agama : ustadz, kyai, syekh yang setia menemani keseharian mereka. Kebergantungan pada elit agama menjadi hal yang lumrah. Dalam komunikasi publik pun, apa kata kyai/ustadz, mereka nurut. Tradisi komunikasi seperti inilah yang tidak saya jumpai di akar rumput kader Muhammadiyah. Kemandirian sikap, justru yang saya temukan di warga Persyarikatan Muhammadiyah. Apa kata ustadz Muhammadiyah soal siapa yang harus dicoblos di Pilkada, belum tentu akar rumput satu suara. Apa kata tokoh Muhammadiyah soal calon presiden, belum tentu satu hati dengan akar rumput. Keimanan warga Muhammadiyah tidak dikapling oleh leadernya. Kebahagiaan tidak ditentukan oleh tokoh spiritual pembimbingnya. Kesuksesan tidak selalu bergantung pada guru moralnya. Kesehatan jiwa raga tidak terikat apa kata ustadznya. Bahkan untuk hal sepele seperti jodoh dan pekerjaan, mereka tidak memiliki ketergantungan mutlak pada guru. Akibatnya, tradisi-tradisi tertentu menjadi tidak "marketable" di Muhammadiyah. Contoh : tradisi tawasulan. Warga Muhammadiyah lebih percaya diri berdoa langsung kepada Allah, tanpa perantara. Contoh lain : tradisi ziyarah kubur tidak sampai menjadi "memorable" bagi akar rumput masyarakat Muhammadiyah. Penutup Tulisan ini bukan untuk menyalahkan. Ini murni catatan sosiologis dari lapangan. Muhammadiyah mengajarkan kita untuk mandiri dalam berpikir, beramal, dan berdoa. Itulah yang saya rasakan dan saksikan selama ini. Wallahu a'lam bishawab. Istana Atas Telaga, 13 September 2026.

U

Ustadz Wawan Rongkop

Kader Muhammadiyah Jogjakarta

SALAHKAH AKU MENCINTAI PANGERAN DIPONEGORO? Sebuah Upaya Mendamaikan Epistemologi Bayyani dan Irfani
13 Sep 2026 • 54 views

SALAHKAH AKU MENCINTAI PANGERAN DIPONEGORO? Sebuah Upaya Mendamaikan Epistemologi Bayyani dan Irfani

Saya terlahir "ceprot", bukan di ruang hampa kebudayaan. Saya lahir dan besar di lingkungan keluarga yang secara antropologis bisa disebut kaum puritan : Muhammadiyah. Namun sejak SD, saya sudah bersinggungan dengan tradisi lain. Guru SD saya adalah seorang Nahdliyyin tulen. Benturan antara tradisi puritan dan tradisional itu mewarnai cara saya memandang keberagamaan. Sejak kecil saya belajar bahwa orang beragama itu tidak hitam-putih an sich. Perjalanan itu kemudian menempatkan saya di sebuah ruang tengah. Meminjam istilah dalam disertasi doktoral Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan di Sosiologi UGM, saya termasuk dalam klasifikasi "MuNU" - kader Muhammadiyah yang juga memahami dan menghargai tradisi NU. Belajar dari Prof. Dr. Dudung Abdurrahman: Muhammadiyah 24 Karat yang Objektif Pertemuan yang paling membekas bagi saya adalah dengan Prof. Dr. Dudung Abdurrahman saat kuliah. Beliau adalah contoh nyata kader Muhammadiyah 24 karat yang mampu hidup di dua dunia. Dunia Privat : Dalam masalah fiqih, beliau teguh berpegang pada apa yang diputuskan dalam Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah. Dunia Publik/Akademik: Sebagai dosen, beliau mengedepankan objektivitas dalam membaca teks dan fenomena. Rasa penasaran akademik membawanya pada kajian esoterisme Islam, khususnya Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah di Suryalaya, Tasikmalaya. Untuk tesis S2-nya di UGM, beliau harus melakukan inhern-involved. Syaratnya: login atau berbaiat sebagai pengikut tarekat tersebut. Hasilnya, tesis selesai dengan sempurna. Secara privat beliau tetap Muhammadiyah. Secara akademis beliau mampu masuk dan memahami dunia tasawuf dari dalam. Dari guru saya inilah saya belajar: tetap bermuhammadiyah tanpa harus membatasi diri untuk memahami yang lain. Nasab, Kultur, dan Tiga Epistemologi dalam Diri Saya Saya menyadari ada tiga kutub yang membentuk cara berpikir saya. Pertama, Kultur Puritan. Saya besar di keluarga Muhammadiyah yang mengajarkan pemurnian Islam. Kedua, Epistemologi Burhani. Pergaulan sekolah dan kampus memperkenalkan saya pada ilmu eksakta dan humaniora. Cara berpikir rasional, berbasis penelitian dan pembuktian. Ketiga, Nasab dan Sinkretisme. Garis ayah saya tersambung ke Hamengkubuwono II Yogyakarta. Garis ibu saya tersambung ke Mangkunegara I Solo. Dalam tradisi keraton Jawa, yang menonjol bukanlah fiqih oriented, melainkan sinkretisme Islam. Sebuah pendekatan yang mengambil jarak dari jurisprudensi dan mendekat ke esoterisme, ke dunia batin. Tiga kutub inilah yang akhirnya membuat saya menemukan clue untuk bersikap. Berbaik Sangka pada Amaliyah Lain Saya memiliki kemampuan untuk berbaik sangka pada amaliyah NU, walaupun saya bukan NU. Secara akademik, hal ini mendorong saya untuk terus belajar tentang mereka. Tentang fiqih Syafi'i yang menjadi pilihan madzhab mereka. Tentang akidah Asy'ariyah yang menjadi cara mereka bertauhid. Tentang Imam Ghazali dan Junaid Al-Baghdadi yang menjadi pengisi ruang batin mereka. Saya bukan pengamal rutinan maulidan. Tapi saya nyaman mempelajari kitab-kitab mereka : Diba'i, Simtudduror, Raatibul Haddad, Barzanji, dan lainnya. Prinsip saya sederhana : Yang tidak saya lakukan, belum tentu salah. Meluruskan Nada Miring pada Dunia Sufistik Tidak bisa dipungkiri, di komunitas puritan seperti Muhammadiyah dan Salafi, dunia sufi sering dijauhi. Bahkan ada persepsi : tidak ada maaf bagi kader Muhammadiyah yang membicarakan dunia sufi di grup WA. Atau yang memiliki buku Imam Ghazali dan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani. Tapi perspektif historis membuat saya open minded. Prof. Dr. Sartono Kartodirjo, sejarawan besar asal Wonogiri, dalam disertasinya di Belanda meneliti Pemberontakan Petani Banten 1888. Siapa pelakunya ?. Para pengikut Tarekat Naqsyabandiyah dan Qadiriyah. Padahal tarekat dikenal sebagai komunitas yang menjauhi dunia, sibuk membersihkan hati. Tapi ketika penjajah VOC datang, mereka justru bangkit berjihad. Kalah atau menang bukan soalnya. Yang penting : mereka wafat sebagai mujahidin. Bumi Banten berdiri di atas semangat jihad mereka abad ke-19. Dari sini saya mencatat : Mereka bukan public enemy. Mereka adalah public bestie bagi NKRI. Jika demikian, tidak sepantasnya kita nyinyir pada preferensi ibadah mereka. Saya tidak harus menjadi pengikut tarekat. Tapi saya wajib mengapresiasi keringat jihad mereka. Pangeran Diponegoro : Simbol Perpaduan Fiqih dan Tasawuf Di titik inilah kekaguman saya sampai pada sosok Pangeran Diponegoro. Saya memiliki nasab ke Hamengkubuwono II. Pangeran Diponegoro berasal dari inner circle Keraton Mataram Islam Yogyakarta. Bagi saya, perjuangan Diponegoro adalah bukti nyata perpaduan dua epistemologi : Epistemologi Bayyani : Semangat jihadnya berakar dari fiqih. Fiqih Siyasah. Fiqih Jihad. Ia muslim dan VOC adalah penjajah kafir. Epistemologi Irfani : Semangatnya juga berakar dari bait-bait Kitab Burdah. Ditarik dari mata air dunia sufistik dan tasawuf. Menurut tutur Ustadz Salim A. Fillah, Perang Jawa 1825-1830 membuat kas Belanda dan VOC di Batavia bangkrut. Begitu banyak tentara Kumpeni yang tewas, hingga keuangan menipis. Akibatnya, pasukan Belanda yang sedang menjajah Belgia harus ditarik pulang. Dan pada abad 19 itu, Belgia pun merdeka. Artinya, kemerdekaan Belgia pun ada berkahnya dari Perang Jawa yang dipimpin Diponegoro. Penutup Dari sinilah saya menemukan kedamaian. Saya tetap menjadi kader Muhammadiyah. Tapi saya juga tidak menutup diri untuk mencintai sejarah, mencintai Pangeran Diponegoro Serta menghargai khazanah tasawuf yang pernah menggerakkan jihad para ulama dan raja-raja Nusantara. Karena pada akhirnya, Islam Nusantara ini besar bukan hanya dengan dalil, tapi juga dengan hati. Bukan hanya dengan burhani, tapi juga dengan Irfani. Wallahu a'lam bishawab. Istana Atas Telaga, 12 September 2026

U

Ustadz Wawan Rongkop

Kader Muhammadiyah Jogjakarta

Di Mata Manusia Kita Bisa Hebat, tetapi Bagaimana di Mata Allah?
08 Sep 2026 • 110 views

Di Mata Manusia Kita Bisa Hebat, tetapi Bagaimana di Mata Allah?

Manakala ada orang yang dipandang tinggi dan dihormati oleh banyak orang karena kedudukan yang dimilikinya. Ia berada di posisi yang terpandang, hidup dalam kecukupan, dikenal luas, memiliki banyak pengikut, bahkan setiap ucapannya sering mendapat perhatian dan sanjungan. Namanya mudah dikenal, kehadirannya dianggap penting, dan kehidupannya kerap dijadikan ukuran keberhasilan. Di tengah kehidupan modern, manusia sering menilai seseorang berdasarkan apa yang tampak dari luar. Jabatan menjadi simbol kehormatan, gelar dianggap sebagai tanda kehebatan, kekayaan dijadikan ukuran kesuksesan, kendaraan dan rumah menjadi lambang status sosial, sementara popularitas dan jumlah pengikut seolah-olah menjadi ukuran seberapa berharga seseorang. Semakin tinggi kedudukannya, semakin besar penghormatan yang diberikan. Semakin banyak hartanya, semakin dianggap berhasil. Semakin luas dikenal, semakin dipandang istimewa. Namun, apakah semua yang terlihat hebat di mata manusia juga berarti mulia di hadapan Allah SWT? Islam justru datang untuk membongkar cara pandang tersebut. Allah SWT tidak pernah mengatakan bahwa manusia paling mulia adalah yang paling kaya, paling terkenal, paling tinggi jabatannya, atau paling banyak pengikutnya. Allah SWT memberikan ukuran yang sangat jelas: يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.”(QS. Al-Hujurat: 13). Ayat ini menegaskan bahwa standar kemuliaan manusia bukanlah jabatan, kekayaan, keturunan, rupa, popularitas, ataupun jumlah pengikut. Standar kemuliaan adalah ketakwaan. Karena itu, seorang pejabat boleh memiliki kedudukan tinggi, tetapi kedudukan tersebut tidak otomatis membuatnya mulia di sisi Allah. Jabatan adalah amanah yang kelak akan dipertanggungjawabkan. Jika digunakan untuk melayani masyarakat, menegakkan keadilan, melindungi yang lemah, dan memperjuangkan kebaikan, jabatan dapat menjadi jalan menuju kemuliaan. Tetapi jika digunakan untuk kepentingan pribadi, menzalimi orang lain, menyalahgunakan kekuasaan, atau mengambil sesuatu yang bukan haknya, maka jabatan yang membuatnya dihormati manusia justru dapat menjadi sebab kehinaan di hadapan Allah. Begitu pula dengan harta. Islam tidak melarang seseorang menjadi kaya. Harta bahkan dapat menjadi sarana ibadah apabila diperoleh dengan cara yang halal dan digunakan untuk kemaslahatan. Persoalannya bukan seberapa banyak harta yang kita miliki, tetapi seberapa kuat harta itu menguasai hati kita. Apakah kekayaan membuat kita semakin bersyukur dan gemar berbagi, atau justru membuat kita sombong, kikir, dan memandang rendah orang lain? Sebab seseorang bisa saja miskin secara materi, tetapi kaya dengan hati yang penuh syukur. Sebaliknya, seseorang bisa memiliki kekayaan yang berlimpah, tetapi hidup dalam kemiskinan spiritual karena tidak pernah merasa cukup. Demikian pula dengan ilmu dan gelar. Seseorang mungkin dipanggil ustaz, guru, kiai, doktor, profesor, pemimpin, atau tokoh masyarakat. Semua itu adalah kemuliaan apabila disertai ketakwaan, keikhlasan, dan tanggung jawab. Namun, gelar yang tinggi tidak otomatis membuat hati menjadi tinggi di hadapan Allah. Ilmu seharusnya melahirkan kerendahan hati, bukan kesombongan; melahirkan pelayanan, bukan merasa paling benar; dan melahirkan amal, bukan sekadar kebanggaan atas apa yang diketahui. Pada zaman sekarang, ukuran kemuliaan juga semakin sering dikaitkan dengan popularitas dan jumlah pengikut di media sosial. Seseorang merasa berhasil ketika videonya viral, unggahannya mendapatkan ribuan komentar, atau jumlah pengikutnya terus bertambah. Tidak ada yang salah dengan popularitas selama digunakan untuk kebaikan. Namun kita harus berhati-hati agar tidak terjebak pada keinginan untuk terlihat baik daripada benar-benar menjadi baik. Jangan sampai kita lebih sibuk membangun citra daripada membangun karakter, lebih sibuk memperindah unggahan daripada memperbaiki ibadah, dan lebih takut kehilangan pengikut daripada kehilangan keikhlasan. Rasulullah SAW telah mengingatkan bahwa ukuran Allah sangat berbeda dengan ukuran manusia: إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَىٰ صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَٰكِنْ يَنْظُرُ إِلَىٰ قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim). Hadis ini seharusnya menjadi cermin bagi kita. Manusia melihat penampilan, Allah melihat hati. Manusia melihat apa yang kita tampilkan, Allah mengetahui apa yang kita sembunyikan. Manusia menilai pencapaian, Allah menilai keikhlasan dan amal. Karena itu, jangan terlalu bangga ketika manusia memuji kita, sebab mereka hanya mengetahui apa yang tampak. Allah mengetahui seluruh keadaan kita, bahkan niat yang tidak pernah kita ungkapkan kepada siapa pun. Jangan pula terlalu kecewa ketika manusia tidak menghargai kita. Bisa jadi kebaikan yang kita lakukan tidak pernah diketahui manusia, tetapi Allah mengetahuinya. Bisa jadi amal yang kita anggap kecil justru menjadi sebab Allah memberikan kemuliaan kepada kita. Tidak semua kebaikan harus diketahui manusia. Tidak semua perjuangan harus mendapatkan tepuk tangan. Tidak semua amal harus mendapatkan penghargaan. Kisah Bilal bin Rabah RA memberikan pelajaran yang sangat kuat tentang hal ini. Bilal bukanlah bangsawan. Ia bukan orang kaya dan tidak memiliki kedudukan sosial yang tinggi. Bahkan dalam masyarakat Makkah sebelum Islam, ia berada dalam posisi sebagai seorang budak. Namun ketika cahaya Islam menyentuh hatinya, Bilal memilih iman dan mempertahankannya meskipun harus menghadapi penyiksaan yang sangat berat. Dalam kondisi disiksa, Bilal tetap teguh dan mengucapkan: أَحَدٌ، أَحَدٌ “Yang Maha Esa, Yang Maha Esa.” Manusia mungkin memandang Bilal rendah karena status sosialnya. Tetapi Allah mengangkat derajatnya karena iman dan ketakwaannya. Bilal kemudian menjadi salah satu sahabat Rasulullah SAW yang mulia dan dipercaya menjadi muazin. Dari seorang budak yang dipandang rendah oleh manusia, Bilal menjadi manusia yang dikenang sepanjang sejarah Islam. Inilah bukti bahwa ukuran manusia tidak selalu sama dengan ukuran Allah. Karena itu, jangan pernah meremehkan seseorang hanya karena pekerjaannya sederhana. Jangan memandang rendah orang karena pakaiannya biasa. Jangan merasa lebih tinggi karena memiliki gelar. Jangan merasa lebih hebat karena memiliki jabatan. Jangan merasa lebih mulia karena memiliki harta. Bisa jadi orang yang kita pandang sebelah mata justru jauh lebih tinggi kedudukannya di sisi Allah. Ada orang yang tidak terkenal, tetapi setiap hari menjaga salatnya. Ada yang tidak memiliki jabatan, tetapi sangat amanah dalam pekerjaannya. Ada yang hidup sederhana, tetapi tangannya selalu ringan membantu orang lain. Ada yang tidak pernah muncul di media sosial, tetapi lisannya senantiasa berzikir dan hatinya selalu takut kepada Allah. Mereka mungkin tidak terkenal di bumi, tetapi boleh jadi sangat dikenal di langit. Di sinilah kita perlu bertanya kepada diri sendiri: Untuk siapa sebenarnya kita hidup? Apakah kita hidup untuk mendapatkan pujian manusia, atau untuk mendapatkan ridha Allah? Apakah kita bekerja agar dianggap hebat, atau agar pekerjaan kita menjadi amal yang bermanfaat? Apakah kita mencari jabatan agar dihormati, atau bersedia memikul amanah dan melayani orang lain? Sebab ada perbedaan besar antara ingin menjadi terkenal dan ingin menjadi bermanfaat. Orang yang mengejar popularitas bertanya, “Berapa banyak orang yang mengenal saya?” Sementara orang yang ingin bermanfaat bertanya, “Berapa banyak orang yang dapat merasakan kebaikan dari kehadiran saya?” Ada pula perbedaan antara ingin dihormati dan layak dipercaya. Dihormati bisa diperoleh karena jabatan, harta, atau kekuasaan. Tetapi kepercayaan hanya dapat dibangun melalui kejujuran, amanah, konsistensi, dan akhlak. Maka jangan terlalu sibuk mengejar agar manusia mengatakan, “Dia orang hebat.” Lebih baik kita berusaha menjadi manusia yang ketika tidak ada seorang pun yang melihat, kita tetap memilih kejujuran. Ketika ada kesempatan untuk berbuat curang, kita tetap memilih amanah. Ketika memiliki kekuasaan, kita tetap memilih keadilan. Ketika memiliki harta, kita tetap memilih berbagi. Dan ketika memperoleh pujian, kita tetap rendah hati. Sebab kemuliaan sejati terlihat bukan ketika kita sedang dipuji, tetapi ketika kita memiliki kesempatan untuk berbuat salah dan memilih untuk tetap berada di jalan Allah. Pada akhirnya, semua yang kita banggakan akan memiliki batas. Jabatan akan berakhir. Harta akan ditinggalkan. Popularitas akan berlalu. Kekuasaan akan berpindah. Tubuh akan menua. Nama yang hari ini ramai disebut suatu saat mungkin tidak lagi diingat. Ketika saat itu tiba, kita tidak akan membawa jumlah pengikut, jabatan, gelar, kendaraan, rumah, atau kekayaan. Yang akan menemani kita adalah iman dan amal yang kita persiapkan selama hidup. Maka pertanyaan terbesar dalam kehidupan bukanlah, “Seberapa terkenal saya?” tetapi “Seberapa dekat saya dengan Allah?” Bukan, “Berapa banyak orang yang menghormati saya?” tetapi “Apakah saya sudah menjadi manusia yang dapat dipercaya?” Bukan pula, “Berapa banyak harta yang saya miliki?” tetapi “Dari mana harta itu saya peroleh dan untuk apa saya gunakan?” Dan bukan, “Apa kata manusia tentang saya?” tetapi “Apa yang Allah nilai dari diri saya?” Karena itu, mari kita berhenti sejenak mengejar kemuliaan yang hanya terlihat di mata manusia. Mari kita lebih serius memperbaiki hati, ibadah, akhlak, kejujuran, amanah, dan ketakwaan. Sebab orang yang benar-benar mulia tidak selalu sibuk membuktikan bahwa dirinya mulia. Ia berbuat baik meskipun tidak dipuji, membantu meskipun tidak difoto, bekerja dengan jujur meskipun tidak diawasi, dan tetap rendah hati meskipun memiliki kekuasaan. Maka, jika suatu hari kita tidak dipuji, jangan berhenti berbuat baik. Jika tidak dihargai, jangan berhenti menjadi orang baik. Jika tidak dikenal, jangan merasa hidup kita tidak berarti. Allah mengetahui setiap langkah, setiap air mata, setiap pengorbanan, dan setiap kebaikan yang mungkin tidak pernah diketahui manusia. Boleh jadi nama kita tidak terkenal di bumi, tetapi Allah mengenal kita. Boleh jadi manusia tidak mengingat kebaikan kita, tetapi Allah tidak pernah melupakannya. Boleh jadi kita tidak memiliki kedudukan tinggi di tengah manusia, tetapi Allah meninggikan derajat kita karena ketakwaan. Inilah kemuliaan yang sesungguhnya: bukan ketika manusia memandang kita tinggi, tetapi ketika Allah meridai kita. اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الْمُتَّقِينَ، وَارْزُقْنَا إِخْلَاصَ الْقَلْبِ، وَصَلَاحَ الْعَمَلِ، وَحُسْنَ الْخُلُقِ “Ya Allah, jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang bertakwa, anugerahkan kepada kami keikhlasan hati, amal yang baik, dan akhlak yang mulia.” Pada akhirnya, kita tidak perlu menjadi terkenal untuk menjadi mulia. Kita tidak harus memiliki jabatan tinggi untuk menjadi berharga. Kita tidak harus memiliki banyak harta untuk menjadi berarti. Cukuplah menjadi hamba yang bertakwa, karena manusia mungkin hanya mengenal nama kita, tetapi Allah mengetahui seluruh diri kita. Kemuliaan sejati tidak membutuhkan tepuk tangan manusia. Ia hanya membutuhkan keikhlasan di hadapan Allah. Wallahu’alam !

H

H. Ismail Ibrahim, S.Pd.I.,M.Pd.I

Sekretaris PWM Sulbar

Antara Kesombongan dan Ketundukan kepada Allah
08 Sep 2026 • 63 views

Antara Kesombongan dan Ketundukan kepada Allah

Pernahkah kita berhenti sejenak lalu memandang gunung? Gunung berdiri kokoh, tinggi menjulang, seolah tidak tergoyahkan oleh apa pun. Angin menerpanya, hujan membasahinya, panas menyinarinya, tetapi ia tetap berdiri teguh. Namun, di balik kekokohan gunung itu, Allah ingin mengajarkan kepada manusia sebuah pelajaran yang sangat dalam, yaitu tentang kekuatan, ketundukan, dan bahaya kesombongan. Allah berfirman: وَالْجِبَالَ أَوْتَادًا ۝٧ “Dan gunung-gunung sebagai pasak.”(QS. An-Naba’: 7). Gunung adalah salah satu tanda kebesaran Allah. Ia besar, kuat, kokoh, dan menjulang tinggi. Tetapi sehebat apa pun gunung, ia tetap makhluk Allah. Ia tidak pernah mengaku sebagai pemilik kekuatan. Ia hanya menjalankan apa yang telah Allah tetapkan kepadanya. Di sinilah manusia seharusnya belajar bahwa kita boleh kuat, tetapi jangan sombong; kita boleh tinggi, tetapi jangan merasa lebih tinggi daripada orang lain; kita boleh memiliki kedudukan, tetapi jangan pernah lupa bahwa semua yang kita miliki hanyalah titipan Allah. Bahkan Allah memberikan gambaran yang sangat menyentuh tentang gunung ketika berbicara mengenai Al-Qur’an. Allah berfirman: لَوْ أَنْزَلْنَا هَٰذَا الْقُرْآنَ عَلَىٰ جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ ۚ وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ ۝٢١ “Sekiranya Kami turunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, niscaya kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah karena takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia agar mereka berpikir.” (QS. Al-Hasyr: 21). Perhatikan kalimat terakhir ayat tersebut: لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ, “agar mereka berpikir.” Artinya, Allah tidak sekadar menceritakan tentang gunung, tetapi Allah sedang mengajak kita untuk berpikir tentang diri kita sendiri. Gunung yang begitu besar dan kokoh saja digambarkan akan tunduk ketika berhadapan dengan kebesaran Allah. Lalu bagaimana dengan kita? Kita bukan gunung. Tubuh kita lemah, usia kita terbatas, kesehatan kita bisa hilang kapan saja, dan kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi kepada kita satu jam atau bahkan satu menit yang akan datang. Namun, manusia yang begitu lemah terkadang justru memiliki hati yang keras. Gunung bisa tunduk, tetapi manusia terkadang membangkang. Gunung digambarkan takut kepada Allah, tetapi manusia terkadang berani melakukan maksiat. Gunung kokoh secara fisik, tetapi tetap tunduk kepada Penciptanya, sementara manusia yang lemah secara fisik terkadang justru merasa dirinya kuat dan tidak membutuhkan Allah. Di sinilah kita perlu berhenti dan bertanya kepada diri sendiri: apa sebenarnya yang membuat kita sombong? Apakah karena harta? Apakah karena jabatan? Apakah karena ilmu? Apakah karena kekuasaan? Apakah karena kecantikan, ketampanan, popularitas, atau banyaknya orang yang menghormati kita? Bukankah semuanya hanya titipan? Jabatan yang hari ini kita miliki, suatu saat akan berpindah kepada orang lain. Harta yang hari ini kita kumpulkan, suatu saat akan kita tinggalkan. Kekuatan yang hari ini kita banggakan, suatu saat akan melemah. Wajah yang hari ini kita banggakan, suatu saat akan menua. Nama yang hari ini dikenal banyak orang, suatu saat akan dilupakan. Dan kehidupan yang hari ini kita jalani, suatu saat pasti akan berakhir. Allah mengingatkan kita: وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا ۝٣٧ “Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong. Sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung.” (QS. Al-Isra’: 37). Ayat ini seakan mengingatkan manusia, “Jangan terlalu tinggi menempatkan dirimu. Engkau tidak mampu menembus bumi dan tidak akan mampu mencapai ketinggian gunung. Lalu apa yang membuatmu begitu sombong?” Apa yang hendak kita banggakan? Harta? Bukankah harta bisa hilang? Jabatan? Bukankah jabatan bisa dicabut? Kekuatan? Bukankah tubuh akan melemah? Popularitas? Bukankah suatu saat manusia akan melupakan kita? Allah juga mengingatkan: كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.” (QS. Ali ‘Imran: 185). Ayat ini seharusnya menjadi pengingat bagi kita bahwa tidak ada manusia yang akan hidup selamanya. Raja akan mati, orang kaya akan mati, orang miskin akan mati, orang terkenal akan mati, dan orang yang tidak dikenal pun akan mati. Pada akhirnya, kita semua akan kembali kepada Allah. Karena itu, kemuliaan manusia bukan ditentukan oleh seberapa tinggi ia berdiri di hadapan manusia, tetapi oleh seberapa tunduk ia di hadapan Allah. Salah satu contoh terbesar tentang bahaya kesombongan dapat kita lihat dalam kisah Iblis. Ketika Allah memerintahkan Iblis untuk sujud kepada Adam, Iblis menolak. Ia merasa dirinya lebih baik. Allah mengabadikan perkataannya: قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِّنْهُ ۖ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ ۝١٢ “Ia berkata, ‘Aku lebih baik daripadanya. Engkau menciptakanku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” (QS. Al-A’raf: 12). Perhatikan baik-baik. Kesombongan Iblis muncul dari sebuah perasaan: “Aku lebih baik.” Kalimat ini terlihat sederhana, tetapi sangat berbahaya. Kesombongan tidak selalu muncul dalam bentuk membusungkan dada atau berbicara kasar kepada orang lain. Terkadang kesombongan bersembunyi di dalam hati ketika kita merasa lebih pintar, lebih kaya, lebih saleh, lebih berpengalaman, lebih berjasa, lebih pantas, atau merasa lebih baik daripada orang lain. Padahal kita hanya mengetahui apa yang tampak dari seseorang, sedangkan Allah mengetahui isi hatinya. Kita mungkin melihat kekurangan seseorang, tetapi tidak mengetahui amal baik yang ia sembunyikan. Kita mungkin melihat kesalahannya hari ini, tetapi tidak mengetahui bagaimana akhir kehidupannya. Bisa jadi orang yang kita remehkan justru lebih dekat kepada Allah daripada kita. Bisa jadi orang yang tidak dikenal manusia justru sangat dikenal oleh penghuni langit. Karena itu, jangan terlalu mudah merasa lebih baik daripada orang lain. Ada sebuah kisah inspiratif tentang seorang lelaki yang pernah memiliki kedudukan tinggi. Ia dihormati banyak orang. Ketika berbicara, orang-orang mendengarkan. Ketika memberikan perintah, orang-orang segera melaksanakan. Namun, lama-kelamaan penghormatan itu masuk ke dalam hatinya. Ia mulai merasa dirinya penting dan lebih tinggi daripada orang lain. Ia mulai meremehkan orang miskin, sulit menerima kritik, tidak suka dinasihati, dan merasa keberhasilannya semata-mata karena kecerdasan serta kerja kerasnya sendiri. Sampai suatu hari keadaan berubah. Jabatannya hilang. Orang-orang yang dahulu mengelilinginya mulai pergi. Orang-orang yang dahulu memujinya tidak lagi datang. Harta yang selama ini membuatnya merasa aman ternyata tidak mampu memberikan ketenangan. Ia kemudian duduk sendirian dan merenungkan kehidupannya. Saat itulah ia menangis dan menyadari sesuatu yang sangat dalam: selama ini ia terlalu sibuk meninggikan dirinya di hadapan manusia, tetapi lupa merendahkan dirinya di hadapan Allah. Sejak saat itu ia mulai berubah. Ia memperbaiki shalatnya, belajar meminta maaf, menerima nasihat, menghormati orang-orang yang dahulu ia remehkan, dan membantu orang lain tanpa mencari pujian. Ketika ditanya mengapa ia berubah, ia menjawab, “Dahulu saya ingin dihormati manusia. Sekarang saya ingin mendapatkan ridha Allah.” Kisah tersebut mengajarkan kepada kita bahwa terkadang Allah menghilangkan sesuatu yang kita banggakan bukan untuk menghancurkan kita, tetapi untuk menghancurkan kesombongan yang ada di dalam diri kita. Ada kalanya Allah mengurangi dunia yang kita miliki agar hati kita kembali mengingat siapa sebenarnya yang memberikan semua itu. Allah berfirman: وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ “Dan segala nikmat yang ada padamu adalah dari Allah.” (QS. An-Nahl: 53). Kalau semua nikmat berasal dari Allah, lalu mengapa kita menggunakan pemberian Allah untuk menyombongkan diri di hadapan manusia? Harta berasal dari Allah, ilmu berasal dari Allah, kesehatan berasal dari Allah, jabatan berasal dari Allah, keluarga berasal dari Allah, bahkan kemampuan kita untuk bekerja dan berusaha pun merupakan nikmat dari Allah. Karena itu, ketundukan kepada Allah bukan berarti kelemahan. Justru orang yang mampu tunduk kepada Allah adalah orang yang memiliki kekuatan jiwa. Ia kuat menahan amarah, kuat menolak maksiat, kuat berkata jujur ketika kebohongan menguntungkan dirinya, kuat mengembalikan sesuatu yang bukan miliknya, kuat meminta maaf ketika egonya terluka, dan kuat menerima kebenaran meskipun kebenaran itu datang dari orang yang lebih muda atau lebih rendah kedudukannya. Rasulullah ﷺ bersabda: لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ “Orang yang kuat bukanlah orang yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim). Betapa indah ajaran ini. Dunia sering mengajarkan bahwa orang kuat adalah orang yang mampu mengalahkan orang lain. Namun Islam mengajarkan bahwa kekuatan yang lebih tinggi adalah kemampuan untuk mengalahkan diri sendiri. Mengalahkan orang lain mungkin hanya membutuhkan tenaga, tetapi mengalahkan ego, hawa nafsu, amarah, dan kesombongan membutuhkan kekuatan iman. Maka, marilah kita kembali belajar dari gunung. Gunung itu tinggi, tetapi tidak sombong. Gunung itu kokoh, tetapi tetap tunduk kepada ketetapan Allah. Gunung itu besar, tetapi tidak pernah mengaku sebagai pencipta dirinya sendiri. Demikian pula seharusnya seorang mukmin: kokoh dalam iman, tetapi rendah hati dalam kehidupan; teguh memegang kebenaran, tetapi lembut kepada sesama; kuat menghadapi ujian, tetapi mudah menerima nasihat; tinggi cita-citanya, tetapi rendah hatinya. Jika Allah memberikan ilmu kepada kita, seharusnya kita semakin rendah hati. Jika Allah memberikan harta, seharusnya kita semakin banyak berbagi. Jika Allah memberikan jabatan, seharusnya kita semakin takut menyalahgunakan amanah. Jika Allah memberikan popularitas, seharusnya kita semakin berhati-hati terhadap pujian. Dan jika Allah memberikan kekuatan, seharusnya kekuatan itu kita gunakan untuk melindungi dan membantu, bukan untuk menindas orang lain. Allah berfirman: إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13). Allah tidak mengatakan bahwa yang paling mulia adalah yang paling kaya. Allah tidak mengatakan yang paling mulia adalah yang paling terkenal. Allah tidak mengatakan yang paling mulia adalah yang paling tinggi jabatannya. Tetapi Allah mengatakan bahwa yang paling mulia adalah yang paling bertakwa. Maka jangan hanya meminta kepada Allah agar kita menjadi kuat. Mintalah agar ketika kita kuat, kita tetap rendah hati. Jangan hanya meminta agar Allah mengangkat derajat kita. Mintalah agar ketika derajat kita diangkat, hati kita tetap sujud. Jangan hanya meminta kekayaan, tetapi mintalah agar kekayaan tidak membuat kita lupa kepada Pemberinya. Jangan hanya meminta jabatan, tetapi mintalah agar jabatan tidak membuat kita menzalimi orang lain. Jangan hanya meminta kemenangan, tetapi mintalah agar ketika menang kita tetap mampu menghormati orang yang kalah. Sebab terkadang ujian terbesar bukanlah ketika kita berada dalam kesulitan. Ujian terbesar justru ketika kita berada dalam kenikmatan. Ketika miskin, mungkin kita mudah berdoa, tetapi apakah kita tetap dekat kepada Allah ketika sudah kaya? Ketika tidak memiliki jabatan, mungkin kita mudah rendah hati, tetapi apakah kita tetap rendah hati ketika semua orang menghormati kita? Ketika tidak dikenal, mungkin kita mudah ikhlas, tetapi apakah kita tetap ikhlas ketika banyak orang memuji kita? Pada akhirnya, kita semua akan kembali kepada Allah. Jabatan akan kita tinggalkan, harta akan kita tinggalkan, rumah akan kita tinggalkan, popularitas akan kita tinggalkan, bahkan orang-orang yang kita cintai pun suatu saat akan mengantar kita sampai ke liang lahat lalu kembali meninggalkan kita. Yang akan kita bawa bukanlah seberapa tinggi posisi kita di dunia, melainkan iman dan amal yang kita persembahkan kepada Allah. Karena itu, jangan terlalu sibuk meninggikan nama di dunia sampai lupa meninggikan amal di hadapan Allah. Jangan terlalu sibuk mencari penghormatan manusia sampai lupa mencari ridha Allah. Jangan terlalu takut kehilangan kedudukan di hadapan manusia sampai lupa bahwa yang paling penting adalah kedudukan kita di sisi Allah. Mari kita belajar dari gunung: kokoh dalam iman, teguh dalam kebenaran, sabar menghadapi ujian, tinggi dalam cita-cita tetapi rendah hati dalam kehidupan, kuat menghadapi dunia tetapi tetap tunduk kepada Allah. Dan ketika suatu hari hati kita mulai merasa hebat, ketika kita mulai merasa lebih tinggi daripada orang lain, ketika kita sulit menerima nasihat, mari kita ingat kembali firman Allah: لَوْ أَنْزَلْنَا هَٰذَا الْقُرْآنَ عَلَىٰ جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ “Sekiranya Kami turunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, niscaya kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah karena takut kepada Allah.” (QS. Al-Hasyr: 21). “Jika gunung yang begitu kokoh saja tunduk kepada Allah, mengapa aku yang begitu lemah masih berani menyombongkan diri?” Semoga Allah membersihkan hati kita dari kesombongan yang terlihat maupun yang tersembunyi. Semoga Allah menjadikan kita kuat tanpa menjadi angkuh, tinggi tanpa menjadi sombong, kaya tanpa menjadi lalai, berilmu tanpa merasa paling tahu, dan memiliki kedudukan tanpa merendahkan orang lain. Semoga semakin tinggi kedudukan kita, semakin dalam sujud kita. Semakin banyak harta yang Allah titipkan kepada kita, semakin banyak pula yang kita gunakan untuk kebaikan. Semakin luas ilmu kita, semakin besar pula rasa takut kita kepada Allah. Dan semakin banyak manusia mengenal kita, semakin kita menyadari bahwa yang paling penting bukanlah dikenal oleh manusia, tetapi dikenal dan diridhai oleh Allah. Karena pada akhirnya, kemuliaan manusia bukan terletak pada seberapa tinggi ia berdiri di hadapan manusia, tetapi pada seberapa rendah hatinya ketika bersujud di hadapan Allah. Wallāhu a‘lam bish-shawāb.

H

H. Ismail Ibrahim, S.Pd.I.,M.Pd.I

Sekretaris PWM Sulbar

Perempuan Berkemajuan, Keluarga Tangguh, Masyarakat Berkeadaban : Meneguhkan Dakwah ‘Aisyiyah di Tengah Tantangan Zaman
06 Sep 2026 • 62 views

Perempuan Berkemajuan, Keluarga Tangguh, Masyarakat Berkeadaban : Meneguhkan Dakwah ‘Aisyiyah di Tengah Tantangan Zaman

Di tengah perubahan zaman yang bergerak begitu cepat, perempuan tidak lagi dapat ditempatkan hanya sebagai pelengkap dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Perempuan adalah penggerak perubahan, pendidik generasi, penjaga nilai, sekaligus bagian penting dari proses membangun peradaban. Karena itu, ketika berbicara tentang masa depan umat dan bangsa, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang masa depan perempuan, keluarga, dan generasi yang akan datang. Gagasan “Perempuan Berkemajuan, Keluarga Tangguh, Masyarakat Berkeadaban” bukan sekadar rangkaian kata. Ia merupakan sebuah visi yang sangat relevan dengan tantangan kehidupan hari ini sekaligus memiliki akar yang kuat dalam ajaran Islam dan sejarah panjang gerakan ‘Aisyiyah. Islam sejak awal telah menempatkan perempuan sebagai manusia yang memiliki martabat, tanggung jawab, dan kesempatan yang sama untuk beramal saleh. Allah SwT berfirman: يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13) Ayat ini memberikan fondasi penting bahwa kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh jenis kelamin, status sosial, kekayaan, ataupun jabatan. Kemuliaan ditentukan oleh ketakwaan. Bahkan Al-Qur’an secara tegas menyandingkan laki-laki dan perempuan dalam iman dan amal saleh: إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ... أَعَدَّ اللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا Sungguh, laki-laki dan perempuan Muslim, laki-laki dan perempuan mukmin, ... Allah telah menyediakan bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 35). Maka, menjadi perempuan berkemajuan bukanlah gagasan yang bertentangan dengan Islam. Justru, perempuan yang berilmu, beriman, mandiri, produktif, dan memberikan manfaat adalah bagian dari cita-cita Islam tentang manusia yang berkualitas. Zaman berubah begitu cepat. Teknologi digital membuka kesempatan luas bagi perempuan untuk belajar, bekerja, berwirausaha, membangun jaringan, dan menyuarakan gagasan. Namun pada saat yang sama, perubahan tersebut membawa tantangan baru: banjir informasi, budaya konsumtif, tekanan sosial di media digital, kekerasan berbasis daring, perubahan pola relasi keluarga, hingga tantangan pengasuhan anak. Karena itu, perempuan tidak cukup hanya menjadi pengguna zaman. Perempuan harus mampu membaca, menyaring, dan mengarahkan perubahan. Perempuan berkemajuan bukan hanya perempuan yang memiliki pendidikan tinggi atau karier yang baik. Ia adalah perempuan yang memiliki wawasan luas, keteguhan iman, kemandirian, kepedulian sosial, kemampuan berpikir kritis, dan keberanian menghadirkan kemaslahatan. Rasulullah ﷺ mengajarkan: خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” Semangat ini seharusnya menjadi ruh perempuan berkemajuan. Kemajuan tidak berhenti pada pertanyaan, “Apa yang saya capai?” tetapi bergerak kepada pertanyaan yang lebih besar: “Apa manfaat kehadiran saya bagi keluarga, umat, bangsa, dan kemanusiaan?” Di sinilah dakwah ‘Aisyiyah memiliki posisi yang sangat strategis. Sejak awal berdirinya, ‘Aisyiyah telah menunjukkan bahwa dakwah tidak harus berhenti di mimbar. Dakwah dapat hadir melalui pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, pelayanan sosial, penguatan keluarga, dan berbagai amal usaha yang menyentuh kebutuhan masyarakat. Dakwah yang demikian bukan hanya berbicara tentang kebaikan, tetapi menghadirkan kebaikan dalam kehidupan nyata. Ketika berbicara tentang perempuan berkemajuan dalam Muhammadiyah, kita tidak dapat melupakan Siti Walidah atau Nyai Ahmad Dahlan. Ia hidup pada masa ketika kesempatan perempuan untuk memperoleh pendidikan masih sangat terbatas. Namun keterbatasan zaman tidak membuatnya menyerah pada keadaan. Bersama KH Ahmad Dahlan, ia membangun kesadaran bahwa perempuan harus memperoleh pendidikan agama, pengetahuan, dan keterampilan. Dari ruang-ruang pengajian yang sederhana, gerakan tersebut berkembang menjadi perjuangan sosial yang lebih luas hingga lahir dan berkembangnya ‘Aisyiyah. Yang sangat inspiratif dari perjuangan Nyai Ahmad Dahlan adalah bahwa ia tidak menunggu keadaan menjadi ideal. Ia bergerak dengan apa yang ada, dari tempat yang ada, dan bersama orang-orang yang ada. Inilah pelajaran penting bagi kita hari ini. Perubahan besar tidak selalu dimulai dari gedung megah, jabatan tinggi, atau sumber daya yang berlimpah. Perubahan dapat dimulai dari sebuah rumah, sebuah pengajian, sebuah kelas, atau bahkan dari satu perempuan yang memiliki keberanian untuk mengatakan: “Kita harus melakukan sesuatu.” Nyai Ahmad Dahlan juga menunjukkan bahwa rumah tidak harus menjadi batas bagi pikiran perempuan. Rumah dapat menjadi sekolah pertama bagi peradaban. Dari rumah lahir manusia. Dari rumah tumbuh karakter. Dari rumah pula lahir generasi yang kelak menentukan wajah masyarakat. Karena itu, menjadi perempuan berkemajuan tidak berarti harus meninggalkan keluarga. Sebaliknya, perempuan dapat mengembangkan dirinya sekaligus menjadikan keluarga sebagai basis perjuangan peradaban. Teladan perempuan berkemajuan juga dapat kita lihat pada Aisyah binti Abu Bakar. Aisyah bukan hanya dikenal sebagai istri Rasulullah ﷺ. Ia adalah seorang perempuan berilmu yang menjadi rujukan umat. Ia meriwayatkan banyak hadis dan menjadi tempat bertanya para sahabat mengenai berbagai persoalan agama. Pengetahuannya mencakup persoalan ibadah, keluarga, kehidupan sosial, bahkan berbagai persoalan keilmuan pada zamannya. Kisah Aisyah menunjukkan bahwa perempuan dalam tradisi Islam memiliki ruang untuk belajar, berpikir, mengajar, dan memberikan kontribusi intelektual. Maka, ketika hari ini ‘Aisyiyah mendorong perempuan untuk memperoleh pendidikan, meningkatkan kapasitas, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, sesungguhnya kita sedang meneruskan tradisi Islam yang telah memiliki akar sejarah yang kuat. Sejarah awal ‘Aisyiyah juga memperlihatkan peran penting tokoh seperti Siti Bariyah dan Siti Munjiyah. Mereka adalah bagian dari generasi perempuan yang berani mengambil peran dalam organisasi dan kehidupan publik pada masa ketika ruang perempuan masih sangat terbatas. Siti Munjiyah bahkan dikenal sebagai salah satu tokoh perempuan yang tampil dalam Kongres Perempuan Indonesia Pertama. Kehadiran mereka memberikan pesan penting: perempuan Muslim tidak harus memilih antara kesalehan dan kemajuan. Perempuan dapat menjadi pribadi yang taat beragama sekaligus aktif memperjuangkan pendidikan, keadilan, kemanusiaan, dan kemajuan masyarakat. Kisah mereka juga memberikan pelajaran tentang pentingnya regenerasi. Gerakan tidak boleh hanya menjadi milik generasi lama. Perempuan muda harus diberi ruang untuk belajar, berpikir, memimpin, dan mengambil keputusan. Generasi muda bukan sekadar penerus organisasi. Mereka adalah pemilik masa depan gerakan. Perempuan berkemajuan tidak berarti perempuan harus berjalan sendirian. Kemajuan perempuan harus berjalan beriringan dengan penguatan keluarga. Al-Qur’an mengingatkan: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6). Keluarga bukan hanya tempat memenuhi kebutuhan ekonomi dan biologis. Keluarga adalah tempat pertama untuk belajar tentang iman, kasih sayang, kejujuran, tanggung jawab, penghormatan, dan keadilan. Karena itu, keluarga tangguh bukan keluarga yang tidak pernah menghadapi masalah. Keluarga tangguh adalah keluarga yang mampu menghadapi masalah bersama. Rasulullah ﷺ bersabda: كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini menegaskan bahwa membangun keluarga merupakan tanggung jawab bersama. Bukan hanya ibu. Bukan hanya ayah. Keduanya memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan keluarga yang aman, sehat, dan penuh kasih sayang. Teladan yang sangat kuat tentang keluarga tangguh dapat kita lihat pada Khadijah binti Khuwailid. Ketika Rasulullah ﷺ menerima wahyu pertama dan pulang dalam keadaan ketakutan, Khadijah tidak panik dan tidak menyalahkannya. Ia justru menenangkan Rasulullah dan meyakinkannya bahwa Allah tidak akan menghinakannya. Ia mengingatkan berbagai kebaikan Rasulullah: menyambung silaturahmi, membantu orang miskin, menolong orang lemah, memuliakan tamu, dan membela kebenaran. Khadijah menunjukkan bahwa seorang istri dapat menjadi tempat pulang secara emosional dan spiritual bagi suaminya. Ia bukan sekadar pendamping kehidupan, tetapi mitra perjuangan. Kisah Khadijah mengajarkan bahwa keluarga tangguh dibangun bukan dengan siapa yang paling dominan, tetapi dengan siapa yang paling mampu saling menguatkan. Karena itu, membangun keluarga tangguh bukan berarti mengembalikan perempuan pada peran domestik semata. Yang harus dibangun adalah keluarga yang memungkinkan laki-laki dan perempuan berkembang sekaligus saling mendukung. Rasulullah ﷺ bersabda: خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik kepada keluargaku.” (HR. Tirmidzi) Hadis ini memberikan ukuran yang sangat sederhana tetapi mendalam tentang kualitas keberagamaan seseorang. Kesalehan tidak hanya terlihat dari aktivitas di masjid, banyaknya ceramah, atau kemampuan berbicara tentang agama. Kesalehan juga terlihat dari: Bagaimana seseorang berbicara kepada pasangannya. Bagaimana orang tua memperlakukan anaknya. Bagaimana keluarga menyelesaikan konflik. Bagaimana seorang suami menghargai istrinya. Bagaimana seorang istri menghormati suaminya. Karen itu Agama menghadirkan rasa aman di rumah. Sebab rumah yang penuh ketakutan sulit melahirkan generasi yang tangguh. Kisah Asma binti Abu Bakar juga menunjukkan bahwa perempuan memiliki peran penting dalam perjuangan. Dalam peristiwa hijrah, Asma’ membantu mempersiapkan kebutuhan Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar ketika keduanya berada di Gua Tsur. Ia menggunakan ikat pinggangnya untuk membantu membawa bekal sehingga dikenal dengan julukan Dzatun Nithaqain. Kisah ini menunjukkan bahwa perempuan bukan hanya penonton sejarah. Perempuan adalah pelaku sejarah. Pelajaran ini penting bagi perempuan ‘Aisyiyah hari ini. Jangan menunggu perubahan datang. Jangan menunggu seseorang memberikan ruang. Bangun kemampuan, perluas ilmu, kuatkan jaringan, lalu hadirkan perubahan. Keluarga yang sehat akan menjadi fondasi masyarakat yang sehat. Sebaliknya, kekerasan, diskriminasi, ketidakpedulian, dan ketidakadilan yang dibiarkan dalam keluarga dapat terbawa ke ruang sosial yang lebih luas. Karena itu, perjuangan ‘Aisyiyah untuk keluarga pada hakikatnya adalah perjuangan membangun masyarakat. Allah SwT berfirman: إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ “Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan.” (QS. An-Nahl: 90). Masyarakat berkeadaban bukan hanya masyarakat yang maju secara ekonomi dan teknologi. Ia adalah masyarakat yang menjunjung martabat manusia. Masyarakat yang melindungi anak. Masyarakat yang menghargai perempuan. Masyarakat yang memberikan kesempatan kepada setiap orang untuk berkembang. Masyarakat yang menolak kekerasan. Masyarakat yang peduli kepada kelompok lemah. Dan yang tidak kalah penting, masyarakat yang menjadikan ilmu dan akhlak sebagai fondasi kemajuan. Perempuan dan Laki-laki adalah Mitra dalam Membangun Peradaban. Al-Qur’an memberikan prinsip yang sangat kuat: وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ “Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar.” (QS. At-Taubah: 71). Ayat ini sangat relevan bagi gerakan perempuan. Laki-laki dan perempuan bukan kompetitor dalam melakukan kebaikan. Mereka adalah mitra dalam amar makruf nahi mungkar. Maka memperjuangkan perempuan bukan berarti mempertentangkan perempuan dengan laki-laki. Sebaliknya, yang harus dibangun adalah kemitraan. Perempuan dan laki-laki bersama-sama mendidik anak. Bersama-sama membangun ekonomi keluarga. Bersama-sama menjaga moral masyarakat. Bersama-sama melawan kekerasan. Bersama-sama menghadirkan keadilan. Dan bersama-sama membangun peradaban. Di sinilah dakwah ‘Aisyiyah mendapatkan tantangan sekaligus peluang. Dakwah tidak cukup hanya mengajak masyarakat menjadi baik secara personal. Dakwah harus mampu menjawab persoalan kehidupan. Hari ini, persoalan yang dihadapi perempuan dan keluarga semakin kompleks: • bagaimana mendidik anak di tengah derasnya pengaruh media sosial; • bagaimana membangun keluarga yang sehat secara emosional; • bagaimana mencegah kekerasan terhadap perempuan dan anak; • bagaimana meningkatkan kemandirian ekonomi perempuan; • bagaimana meningkatkan literasi digital; • bagaimana menghadapi perubahan dunia kerja; • bagaimana menjaga kesehatan dan kesejahteraan keluarga; • bagaimana memastikan pendidikan tetap dapat diakses semua kalangan. Karena itu, dakwah ‘Aisyiyah harus terus bergerak dari dakwah bil-lisan menuju dakwah bil-hal—dakwah yang diwujudkan melalui tindakan nyata. Sekolah adalah dakwah. Rumah sakit adalah dakwah. Panti asuhan adalah dakwah. Pemberdayaan ekonomi adalah dakwah. Penguatan keluarga adalah dakwah. Pendampingan perempuan dan anak adalah dakwah. Bahkan ketika seorang kader membantu seorang perempuan memperoleh keterampilan agar mampu mandiri secara ekonomi, sesungguhnya ia sedang menjalankan dakwah. Kita sering mencari tokoh inspiratif hanya di antara nama-nama besar. Padahal di sekitar kita terdapat begitu banyak perempuan ‘Aisyiyah yang setiap hari melakukan kerja-kerja peradaban. Ada guru yang setiap pagi memasuki kelas dan mendidik anak-anak. Ada tenaga kesehatan yang melayani pasien. Ada kader yang mendampingi keluarga kurang mampu. Ada mubalighat yang menguatkan kehidupan keagamaan masyarakat. Ada perempuan yang mengelola amal usaha. Ada ibu yang mendidik anaknya dengan penuh kesabaran. Ada kader yang bekerja tanpa banyak bicara dan tanpa menuntut penghargaan. Mereka mungkin tidak masuk berita. Mereka mungkin tidak memiliki ribuan pengikut di media sosial. Tetapi mereka adalah pahlawan peradaban sehari-hari. Sebab peradaban tidak hanya dibangun oleh orang-orang terkenal. Peradaban dibangun oleh jutaan manusia yang setiap hari memilih untuk berbuat baik. Jika kita melihat perjalanan para perempuan tersebut—dari Khadijah, Aisyah, Asma’, kemudian Nyai Ahmad Dahlan, Siti Bariyah, Siti Munjiyah, dan para perempuan ‘Aisyiyah setelahnya—kita menemukan satu benang merah: Mereka tidak menunggu zaman menjadi ideal untuk bergerak. Mereka bergerak untuk membuat zaman menjadi lebih baik. Nyai Ahmad Dahlan menjawab tantangan pendidikan perempuan pada zamannya. Siti Bariyah dan Siti Munjiyah menunjukkan keberanian perempuan memasuki ruang organisasi dan publik. Para perempuan ‘Aisyiyah generasi berikutnya meneruskan perjuangan melalui pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, dan pemberdayaan masyarakat. Kini, tantangan kita berbeda. Jika dahulu perjuangan menghadapi keterbatasan akses pendidikan, hari ini kita menghadapi banjir informasi. Jika dahulu perjuangan membangun sekolah, hari ini kita juga harus membangun literasi digital. Jika dahulu perjuangan membuka ruang bagi perempuan untuk belajar, hari ini kita harus memastikan perempuan mampu menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, dan kepemimpinan tanpa kehilangan nilai-nilai keislaman. Maka, spirit perjuangan para pendahulu harus kita teruskan dengan cara yang sesuai dengan zaman. Apa yang Harus Dilakukan ‘Aisyiyah?. Menurut saya, ada beberapa agenda penting yang harus terus diperkuat. Pertama, memperkuat pendidikan perempuan. Perempuan harus memiliki akses seluas-luasnya terhadap ilmu agama, ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, kesehatan, dan kepemimpinan. Kedua, memperkuat ketahanan keluarga. Keluarga harus menjadi ruang yang aman, sehat, komunikatif, dan penuh kasih sayang. Ketiga, memperkuat kaderisasi perempuan muda. Anak muda jangan hanya diminta hadir ketika kegiatan berlangsung. Mereka harus diberi ruang untuk berpikir, memimpin, berinovasi, dan menentukan masa depan gerakan. Keempat, memperluas dakwah digital. Generasi muda berada di ruang digital. Maka dakwah juga harus hadir di sana dengan bahasa yang cerdas, santun, kreatif, dan relevan. Kelima, memperkuat pemberdayaan ekonomi perempuan. Kemandirian ekonomi merupakan salah satu modal penting agar perempuan memiliki daya tawar dan mampu berkontribusi lebih besar bagi keluarga dan masyarakat. Keenam, memperluas gerakan perlindungan perempuan dan anak. Islam adalah agama rahmat. Karena itu, tidak boleh ada pembenaran terhadap kekerasan dan penghinaan atas nama agama. Pada akhirnya, tantangan terbesar perempuan hari ini bukan sekadar bagaimana menjadi sukses. Tantangan yang lebih besar adalah bagaimana memastikan bahwa keberhasilan itu memiliki makna bagi kehidupan. Kita membutuhkan perempuan yang berpendidikan tetapi tetap rendah hati. Perempuan yang mandiri tetapi tetap peduli. Perempuan yang kritis tetapi tetap beradab. Perempuan yang aktif di ruang publik tetapi mampu membangun kehangatan keluarga. Perempuan yang melek teknologi tetapi tidak kehilangan nilai kemanusiaan. Dan kita juga membutuhkan laki-laki yang tidak merasa terancam oleh kemajuan perempuan, tetapi melihat kemajuan perempuan sebagai kekuatan bersama. Sebab keluarga tangguh tidak lahir dari dominasi salah satu pihak. Keluarga tangguh lahir dari kemitraan, kasih sayang, komunikasi, keteladanan, dan tanggung jawab. Masyarakat berkeadaban juga tidak lahir hanya dari banyaknya orang yang berbicara tentang agama. Ia lahir ketika nilai agama menjelma menjadi keadilan, ilmu pengetahuan, kepedulian, pelayanan, dan kemanusiaan. Di sinilah tugas besar ‘Aisyiyah. Nyai Ahmad Dahlan telah memberikan teladan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bergerak. Aisyah telah menunjukkan bahwa perempuan dapat menjadi guru umat. Khadijah menunjukkan bahwa perempuan dapat menjadi sumber keteguhan keluarga dan perjuangan. Asma’ menunjukkan keberanian perempuan mengambil bagian dalam sejarah. Siti Bariyah dan Siti Munjiyah menunjukkan bahwa perempuan Muslim dapat hadir dalam ruang publik dengan tetap membawa nilai-nilai keislaman. Dan para perempuan ‘Aisyiyah hari ini sedang meneruskan estafet itu melalui pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, pemberdayaan, dan dakwah. Kini pertanyaannya bukan lagi: “Apa yang telah dilakukan para perempuan hebat sebelum kita?” Pertanyaan kita adalah: “Apa yang akan kita lakukan pada zaman kita?” Kita mungkin tidak akan dikenang seperti Nyai Ahmad Dahlan. Kita mungkin tidak akan menulis sejarah besar. Namun kita dapat memastikan bahwa ada seorang anak yang menjadi lebih berilmu karena kita. Ada seorang perempuan yang menjadi lebih berdaya karena kita. Ada sebuah keluarga yang menjadi lebih tangguh karena kita. Ada seseorang yang kembali memiliki harapan karena kita. Dan jika itu terjadi, sesungguhnya kita telah ikut membangun peradaban. Karena pada akhirnya, perempuan berkemajuan bukan sekadar perempuan yang mampu mengikuti perubahan, tetapi perempuan yang mampu mengarahkan perubahan menuju kebaikan. Dari perempuan yang tercerahkan lahir keluarga yang kuat. Dari keluarga yang kuat lahir generasi yang berkarakter. Dari generasi yang berkarakter lahir masyarakat yang berkeadaban. Dan dari masyarakat yang berkeadaban lahirlah peradaban yang mencerahkan. Inilah dakwah ‘Aisyiyah: memuliakan perempuan, menguatkan keluarga, memberdayakan masyarakat, dan menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh kehidupan.

H

H. Ismail Ibrahim, S.Pd.I.,M.Pd.I

Sekretaris BPH ITBM Polman

Salah Jabatan, Hancur Organisasi
31 Aug 2026 • 40 views

Salah Jabatan, Hancur Organisasi

Manajemen talenta bukan sekadar urusan menempatkan pegawai di meja kerja. Ia adalah seni membaca manusia secara utuh. Ia proses merencanakan, mengorganisir, menempatkan, mengembangkan, dan mengawasi sumber daya manusia agar tepat posisi, tepat fungsi, tepat kinerja, lalu tumbuh menjadi kekuatan unggul organisasi. Sayangnya, banyak organisasi masih sibuk mengurus kursi, bukan kapasitas. Yang diprioritaskan kedekatan, bukan kompetensi. Yang dipilih bukan yang paling mampu, tetapi yang paling disukai. Dari sinilah kehancuran perlahan dimulai. Manusia adalah aset paling mahal di muka bumi. Lebih mahal dari gedung, mesin, bahkan teknologi supercanggih sekalipun. Sebab manusia bukan hanya memiliki kecerdasan, tetapi juga rasa, nurani, spiritualitas, intuisi, empati, cinta, dan kemampuan melahirkan peradaban baru. AI hanyalah kecerdasan buatan. Ia cepat menghitung, tetapi tidak punya hati. Ia bisa menulis puisi, tetapi tidak pernah menangis. Ia bisa membaca data, tetapi tidak bisa mencintai ibunya. AI lahir dari otak manusia, bukan sebaliknya. Maka sehebat apa pun robot diciptakan, manusia tetap pusat utama peradaban. Allah SWT bahkan menegaskan kemuliaan manusia dalam Al-Qur’an:“Dan sungguh Kami telah memuliakan anak cucu Adam.”(QS. Al-Isra: 70) Karena itu, kesalahan terbesar organisasi modern hari ini bukan kekurangan teknologi, tetapi kegagalan membaca manusia. Dalam dunia kerja, kualitas SDM umumnya terbagi dalam tiga level. Pertama, tenaga kerja kasar. Keterampilannya rendah dan lebih mengandalkan tenaga otot daripada kemampuan berpikir. Pendidikan umumnya tidak tamat SD hingga SLTP. Kedua, tenaga kerja semi terampil. Mereka memiliki kemampuan dasar atau menengah, lulusan SMA/SMK hingga diploma awal. Mereka mulai memahami sistem kerja, tetapi masih membutuhkan arahan teknis. Ketiga, tenaga kerja terampil tinggi. Mereka dibentuk oleh pendidikan linear, pelatihan, pengalaman panjang, dan kemampuan adaptasi tinggi. Kelompok inilah yang biasanya menjadi motor inovasi organisasi. Di sinilah pentingnya mapping talent. Organisasi harus mampu membedah SDM secara detail: bakatnya, minatnya, temperamennya, pengalaman kerjanya, kompetensinya, hingga potensi masa depannya. Hasil pemetaan itulah yang melahirkan profil lengkap seseorang, sehingga analisis jabatan, penempatan kerja, dan prospek karier menjadi tepat sasaran. Namun masalah besar muncul ketika pemetaan talenta hanya dijadikan formalitas administrasi. Kertas asesmen terlihat rapi. Grafik kompetensi tampak indah. Tetapi keputusan akhirnya tetap subjektif. Penempatan lebih banyak memakai “rasa suka”, bukan data. Akibatnya, organisasi berjalan lambat seperti mobil mewah yang salah isi bahan bakar, Orang cerdas ditempatkan di posisi mati. Orang lemah strategi memimpin organisasi besar. Orang inovatif malah dipinggirkan. Akhirnya pekerjaan tidak tuntas, kreativitas mati, biaya organisasi membengkak, tetapi hasil minim. Input besar, output kecil. Lebih tragis lagi, organisasi kehilangan daya saing dan mulai tertinggal. Rasulullah SAW telah mengingatkan jauh sebelum teori manajemen modern lahir:“Apabila suatu urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancurannya.” (HR. Bukhari) Hadis ini bukan hanya soal agama, tetapi fondasi besar manajemen talenta dunia. Penelitian McKinsey & Company menyebutkan bahwa organisasi dengan sistem talenta yang kuat memiliki produktivitas dan inovasi jauh lebih tinggi dibanding organisasi yang mengabaikan kompetensi. Studi Harvard Business Review juga menunjukkan bahwa salah penempatan SDM menjadi penyebab utama rendahnya performa organisasi dan tingginya biaya operasional. Jurnal Human Resource Management Review menjelaskan bahwa organisasi unggul lahir dari integrasi antara talent mapping, pengembangan kompetensi, dan sistem merit yang objektif. Sementara penelitian Indonesia dalam jurnal Jurnal Manajemen SDM Indonesia menunjukkan bahwa birokrasi dan organisasi yang berbasis kedekatan personal cenderung mengalami stagnasi inovasi serta rendahnya kualitas pelayanan publik. Kita bisa belajar dari Singapura. Negara kecil itu nyaris tidak punya sumber tambang besar, hutan luas, sungai raksasa, atau lahan pertanian luas. Tetapi mereka memahami satu rahasia: manusia adalah tambang paling berharga. Mantan pemimpin Lee Kuan Yew pernah menegaskan bahwa kekuatan utama Singapura hanyalah manusia. Karena itu mereka membangun sistem pendidikan ketat, birokrasi profesional, meritokrasi kuat, dan budaya kerja berbasis kompetensi. Hasilnya luar biasa. Hampir semua perusahaan global membuka kantor regional di Singapura. Dunia datang bukan karena mereka punya gunung emas, tetapi karena mereka punya manusia unggul. Sementara banyak negeri kaya sumber daya justru tertinggal karena salah mengelola manusia. Kita terlalu sibuk mencari investasi, tetapi lupa membangun kualitas SDM. Kita bangga gedung tinggi, tetapi lupa mengisi ruangan dengan orang yang tepat. Kita mengukur kemajuan dari proyek fisik, padahal masa depan bangsa sebenarnya ditentukan oleh kualitas otak, karakter, dan integritas manusianya. Implikasinya sangat besar. Jika manajemen talenta salah, organisasi akan mengalami pemborosan permanen. Konflik internal meningkat. Produktivitas turun. Inovasi mati. Pegawai hebat memilih keluar. Yang tersisa hanyalah budaya asal bapak senang. Tetapi jika talenta dikelola benar, organisasi akan melompat jauh. Keputusan cepat. Inovasi tumbuh. Biaya lebih efisien. Kinerja meningkat. Dan yang paling penting, organisasi memiliki regenerasi pemimpin yang sehat.Karena itu, langkah proaktif harus segera dilakukan.Pertama, lakukan talent mapping berbasis data dan psikometri, bukan sekadar formalitas dokumen. Kedua, bangun sistem meritokrasi yang objektif dan transparan. Ketiga, tempatkan SDM sesuai kompetensi inti, bukan kedekatan emosional. Keempat, integrasikan kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual dalam pengembangan SDM. Kelima, jadikan pelatihan sebagai investasi strategis, bukan kegiatan seremonial penghabisan anggaran.Keenam, manfaatkan AI sebagai alat bantu analisis, bukan pengganti kemanusiaan. Sebab masa depan organisasi tidak ditentukan siapa yang paling kuat berbicara, tetapi siapa yang paling tepat ditempatkan. Dan bangsa besar bukan bangsa yang kaya sumber daya alam, tetapi bangsa yang mampu menemukan manusia terbaiknya, lalu menaruhnya di tempat yang tepat.

D

Dr. Ir. H. Muh. Tahir, M.Si.

Rektor UNIMAJU

Jabatan Berakhir, Keberkahan Jangan Berakhir
28 Aug 2026 • 54 views

Jabatan Berakhir, Keberkahan Jangan Berakhir

Satu hal yang sering kita lupakan dalam menjalani kehidupan: tidak ada yang benar-benar kekal di dunia ini. Jabatan bisa berakhir, harta bisa berkurang, kedudukan bisa berubah, bahkan orang-orang yang hari ini begitu dekat dengan kita pun suatu saat bisa pergi. Karena itu, yang semestinya kita kejar bukan hanya jabatan yang tinggi, penghasilan yang besar, atau penghormatan dari manusia, tetapi bagaimana agar kehidupan kita tetap berada dalam keberkahan Allah. Salah satu bekal yang paling penting untuk menjaga keberkahan itu adalah ketakwaan. Dengan takwa, kita belajar menerima ketika Allah memberi, belajar bersabar ketika Allah mengambil, dan belajar tetap percaya ketika kehidupan tidak berjalan sesuai dengan apa yang kita harapkan. Sebab, kita harus menyadari bahwa tidak semua yang kita inginkan pasti baik bagi kita, dan tidak semua yang kita kehilangan berarti buruk bagi kita. Kadang-kadang Allah memberikan sesuatu untuk menguji rasa syukur kita, dan pada kesempatan lain Allah mengambil sesuatu untuk menguji kesabaran kita. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mengukur keberhasilan seseorang dari jabatan yang dimilikinya. Semakin tinggi jabatannya, semakin besar pula penghormatan yang diberikan kepadanya. Ketika seseorang menjadi pimpinan, misalnya, banyak orang datang, menyapa, menghormati, bahkan menunggu keputusan darinya. Namun, pertanyaannya, apakah keadaan seperti itu akan berlangsung selamanya? Tentu tidak. Hari ini seseorang bisa menjadi pimpinan, tetapi beberapa tahun kemudian posisinya bisa berganti. Hari ini seseorang duduk di kursi kekuasaan, tetapi suatu saat ia pasti akan meninggalkan kursi tersebut. Hari ini namanya disebut dengan gelar dan penghormatan, tetapi ketika jabatannya berakhir, bisa jadi semua itu ikut berubah. Karena itulah kita perlu memahami bahwa jabatan sebenarnya bukanlah milik kita. Jabatan hanyalah amanah yang Allah titipkan untuk waktu tertentu. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ ۖ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ “Katakanlah: Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau memberikan kerajaan kepada siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau mencabut kerajaan dari siapa yang Engkau kehendaki. Engkau memuliakan siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau menghinakan siapa yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mulah segala kebajikan. Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Ali 'Imran: 26). Kalau kita benar-benar memahami ayat ini, sebenarnya tidak ada alasan bagi seseorang untuk terlalu sombong ketika mendapatkan jabatan. Sebab jabatan itu datang atas izin Allah. Dan ketika jabatan tersebut berakhir, kepergiannya pun terjadi atas izin Allah. Jadi, ketika berada di atas, jangan merasa bahwa kita akan selamanya berada di atas. Dan ketika berada di bawah, jangan merasa bahwa kehidupan kita telah berakhir. Justru, menurut saya, karakter seseorang sering kali terlihat bukan ketika ia mendapatkan jabatan, tetapi ketika jabatannya berakhir. Ketika masih memiliki kekuasaan, mungkin mudah bagi seseorang untuk merasa penting. Banyak orang datang, banyak orang menghormati, dan banyak keputusan bergantung kepadanya. Tetapi ketika jabatan itu sudah tidak ada, apakah ia masih bisa tetap rendah hati? Apakah ia masih mau menyapa orang-orang yang dulu berada di bawahnya? Apakah ia masih mau membantu meskipun sudah tidak memiliki kewenangan? Di situlah nilai seseorang sebenarnya terlihat. Sebab jabatan seharusnya tidak membuat seseorang merasa lebih tinggi daripada orang lain. Justru semakin tinggi jabatan, semakin besar pula amanah yang harus dipikul. Rasulullah ﷺ bersabda: كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini mengingatkan kita bahwa kepemimpinan bukan hanya milik mereka yang memiliki jabatan formal. Seorang pimpinan memiliki amanah terhadap bawahannya. Seorang ayah memiliki amanah terhadap keluarganya. Seorang ibu memiliki amanah terhadap keluarganya. Bahkan setiap kita memiliki amanah atas apa pun yang Allah titipkan kepada kita. Karena itu, jangan sampai jabatan membuat kita lupa kepada Allah. Jangan sampai kursi membuat kita merasa lebih tinggi daripada orang lain. Jangan sampai kekuasaan membuat kita mudah merendahkan orang yang berada di bawah kita. Sebab suatu saat kursi itu akan kosong, jabatan itu akan berakhir, dan yang tersisa adalah bagaimana kita mempertanggungjawabkan amanah tersebut di hadapan Allah. Ada orang yang ketika jabatannya berakhir merasa sangat kehilangan. Ia merasa kehormatannya ikut hilang. Ia merasa dirinya tidak lagi penting. Bahkan ada yang merasa hidupnya tidak lagi memiliki arti karena tidak lagi memiliki kedudukan seperti sebelumnya. Padahal, apakah benar kehilangan jabatan berarti kehilangan kemuliaan? Belum tentu. Bisa jadi justru setelah jabatan itu berakhir, seseorang mendapatkan sesuatu yang selama ini tidak ia miliki. Ia menjadi lebih dekat dengan keluarganya. Ia memiliki lebih banyak waktu untuk beribadah. Ia kembali rajin ke masjid. Ia lebih sering membaca Al-Qur'an. Ia memiliki waktu untuk bersujud lebih lama dan lebih banyak mengingat Allah. Kalau ternyata setelah kehilangan jabatan seseorang menjadi lebih dekat kepada Allah, bukankah mungkin kehilangan tersebut justru merupakan bentuk kebaikan? Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 216). Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa manusia sering kali hanya melihat sesuatu dari sisi yang terlihat saat ini. Kita melihat kehilangan sebagai kesedihan, sementara Allah mengetahui apa yang ada di balik kehilangan tersebut. Bisa jadi Allah mengambil jabatan karena ingin menyelamatkan kita dari kesombongan. Bisa jadi Allah mengurangi penghasilan karena ingin mengajarkan kita untuk lebih bersyukur. Bisa jadi Allah mengubah jalan kehidupan kita karena ada jalan lain yang lebih baik. Dan bisa jadi Allah sedang mengingatkan kita bahwa kehidupan dunia ini bukanlah tujuan akhir. Karena itu, menurut saya, ada satu hal yang seharusnya lebih kita khawatirkan daripada kehilangan jabatan, yaitu kehilangan keberkahan. Jabatan bisa berakhir dan kita masih bisa mencari pekerjaan lain. Kedudukan bisa hilang dan Allah masih bisa memberikan kesempatan yang lain. Penghasilan bisa berkurang dan Allah masih bisa membuka pintu rezeki dari arah yang tidak pernah kita sangka. Tetapi ketika keberkahan dicabut, kehidupan yang secara lahiriah terlihat berlimpah pun bisa terasa kosong. Kita bisa memiliki banyak uang tetapi tidak memiliki ketenangan. Kita bisa memiliki rumah besar tetapi tidak merasakan kedamaian di dalamnya. Kita bisa memiliki pekerjaan yang bagus tetapi setiap hari hati terasa gelisah. Kita bisa memiliki jabatan tinggi tetapi tidak merasakan kebahagiaan. Kita bisa memiliki makanan yang berlimpah tetapi tidak lagi merasakan nikmatnya. Bahkan kita bisa memiliki keluarga yang lengkap tetapi hati terasa jauh dari orang-orang yang kita cintai. Inilah yang menurut saya perlu kita renungkan. Banyak belum tentu berkah, dan sedikit belum tentu tidak berkah. Ada orang yang penghasilannya sederhana, tetapi setiap pulang ke rumah hatinya tenang. Ada keluarga yang rumahnya tidak besar, tetapi di dalamnya terdengar suara Al-Qur'an dan anak-anak tumbuh dalam ketaatan. Ada orang yang jabatannya tidak tinggi, tetapi kehadirannya selalu memberikan manfaat kepada orang lain. Secara duniawi mungkin mereka terlihat biasa saja. Tetapi bisa jadi kehidupan mereka jauh lebih berkah. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ “Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi.” (QS. Al-A'raf: 96). Ayat ini menurut saya sangat jelas mengingatkan bahwa keberkahan tidak hanya berkaitan dengan seberapa banyak yang kita miliki. Keberkahan juga berkaitan dengan iman, ketakwaan, dan bagaimana kita menggunakan apa yang Allah berikan. Karena itu, ketika mendapatkan penghasilan, jangan hanya bertanya, “Berapa banyak yang saya dapatkan?” tetapi tanyakan juga, “Dari mana penghasilan ini berasal dan untuk apa saya menggunakannya?” Ketika mendapatkan jabatan, jangan hanya bertanya, “Seberapa tinggi posisi saya?” tetapi tanyakan, “Apakah saya sudah berlaku adil? Apakah saya sudah menjalankan amanah? Apakah keberadaan saya membawa manfaat bagi orang lain?” Begitu pula ketika Allah memberikan keluarga. Jangan hanya merasa bangga karena memiliki keluarga, tetapi tanyakan kepada diri sendiri, “Apakah rumah tangga saya sudah menjadi tempat tumbuhnya ketenangan, kasih sayang, dan ketaatan kepada Allah?” Sebab pada akhirnya, keberkahan tidak selalu terlihat dalam bentuk kemewahan. Kadang keberkahan hadir dalam bentuk hati yang tenang, keluarga yang rukun, tubuh yang sehat, rezeki yang halal, anak-anak yang baik, dan kemampuan untuk tetap bersyukur meskipun hidup tidak selalu berjalan sesuai keinginan. Lalu bagaimana kalau suatu hari kita merasa kehidupan mulai kehilangan ketenangan? Menurut saya, jangan buru-buru menyalahkan keadaan. Jangan langsung menganggap bahwa masalahnya selalu karena pekerjaan, keluarga, ekonomi, atau orang lain. Cobalah kita berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri: jangan-jangan ada yang perlu kita perbaiki dalam hubungan kita dengan Allah? Barangkali shalat kita mulai tidak terjaga. Barangkali Al-Qur'an mulai jarang kita baca. Barangkali lisan kita terlalu mudah menyakiti orang lain. Barangkali ada hak orang lain yang belum kita tunaikan. Barangkali ada rezeki yang kita dapatkan dengan cara yang tidak benar. Atau mungkin ada dosa yang terus kita lakukan, tetapi belum benar-benar kita tinggalkan. Allah berfirman: أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra'd: 28). Maka ketika hati terasa gelisah, mungkin sudah waktunya kita kembali kepada Allah. Ketika hidup terasa berat, perbanyak sujud. Ketika rezeki terasa sempit, perbanyak istighfar. Ketika hati dipenuhi kekecewaan, perbanyak mengingat Allah. Jangan sampai kita mencari ketenangan ke mana-mana, tetapi lupa kepada sumber ketenangan itu sendiri. Pada akhirnya, kita semua akan meninggalkan jabatan. Kita akan meninggalkan harta. Kita akan meninggalkan rumah. Kita akan meninggalkan pekerjaan. Dan pada waktunya, kita juga akan meninggalkan dunia ini. Yang akan kita bawa bukanlah jabatan, bukan pula pangkat dan kekayaan. Yang akan kita bawa adalah amal kita. Karena itu, saya kira kita tidak perlu terlalu bangga ketika mendapatkan jabatan dan tidak perlu terlalu hancur ketika kehilangan jabatan. Selama kita masih memiliki iman, masih bisa bersujud, masih bisa bertaubat, dan masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri, berarti kita belum kehilangan segalanya. Jabatan boleh berakhir, tetapi keberkahan jangan sampai berakhir. Pangkat boleh hilang, tetapi iman jangan sampai hilang. Harta boleh berkurang, tetapi rasa syukur jangan sampai berkurang. Manusia boleh melupakan kita, tetapi jangan sampai kita melupakan Allah. Sebab pada akhirnya, yang membuat hidup kita berharga bukanlah seberapa tinggi jabatan yang pernah kita miliki, tetapi seberapa amanah kita ketika dipercaya, seberapa rendah hati kita ketika berada di atas, seberapa sabar kita ketika diuji, dan seberapa dekat kita dengan Allah dalam setiap keadaan. Mudah-mudahan kita menjadi orang-orang yang ketika diberi mampu bersyukur, ketika dipercaya mampu menjaga amanah, ketika kehilangan mampu bersabar, dan ketika jabatan berakhir tetap memiliki sesuatu yang jauh lebih berharga daripada jabatan itu sendiri: iman, ketenangan, dan keberkahan hidup. Wallāhu a‘lamu bish-shawāb.

H

H. Ismail Ibrahim, M.Pd.I.

Sekretaris BPH ITBM Polewali Mandar

2045: Indonesia Jangan Cuma Jadi Pasar
28 Aug 2026 • 40 views

2045: Indonesia Jangan Cuma Jadi Pasar

Kita harus berani melihat Indonesia jauh melampaui hari ini. Tahun 2030, 2035, hingga 2045 bukan sekadar deretan angka, melainkan perjalanan menuju masa depan yang sedang kita bentuk. Pertanyaannya sederhana tetapi menentukan: ketika dunia berubah, Indonesia akan menjadi pencipta atau hanya pengguna ciptaan bangsa lain? Jepang memiliki otomotif, Korea Selatan memiliki Samsung dan ekosistem teknologinya, China kuat dalam manufaktur dan produksi massal, Eropa berkembang dalam teknologi digital dan kecerdasan buatan, sementara negara-negara lain terus berlomba menemukan sesuatu yang baru. Lalu apa yang akan menjadi tanda tangan Indonesia? Jangan sampai yang paling menonjol justru energi kita habis untuk saling curiga, saling menjatuhkan dan mempertentangkan kelompok hanya karena berbeda pilihan dan kepentingan. Politik boleh berbeda, tetapi masa depan bangsa harus menjadi kepentingan bersama. Karena itu, Indonesia harus mengubah budaya dari debat menjadi riset, dari riset menjadi inovasi, dari inovasi menjadi produk, dan dari produk menjadi kekuatan bangsa. Riset tidak boleh berhenti sebagai laporan dan jurnal. Ia harus menjawab persoalan nyata, melahirkan teknologi, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan produktivitas dan menghasilkan sesuatu yang dapat digunakan serta dibanggakan dunia. Sejarah membuktikan bahwa teknologi besar tidak lahir sekaligus sempurna. Komputer generasi awal membutuhkan ruang besar dan perangkat yang sangat banyak; kini kemampuan komputasi berada dalam laptop, tablet bahkan telepon genggam. Setiap generasi mengambil hasil generasi sebelumnya, memperbaiki kekurangannya, mengecilkan ukurannya, meningkatkan kecepatannya dan memperluas manfaatnya. Begitulah peradaban maju: generasi tidak mengulang, tetapi meneruskan dan melompat. Thomas Alva Edison pun mengajarkan hal yang sama. Ia membangun laboratorium, melakukan percobaan berulang, menghadapi kegagalan, memperbaiki temuan dan mengubah gagasan menjadi teknologi. Dari Edison hingga revolusi digital dan AI, sejarah ilmu pengetahuan menunjukkan bahwa penemuan lahir dari rasa ingin tahu yang panjang, eksperimen yang tekun dan keberanian untuk gagal. Tidak ada negara maju karena hanya pandai membeli teknologi; negara maju karena mampu menciptakan, menguasai dan mengembangkan teknologi. Maka slogan bahwa Indonesia mampu menjadi negara maju harus diterjemahkan menjadi pekerjaan nyata: memperkuat sekolah dan perguruan tinggi, membangun laboratorium, menyiapkan peneliti dan teknisi, mempertemukan kampus dengan industri, membiayai riset, melindungi inovasi dan membuka pasar bagi produk hasil penelitian. Kekayaan alam Indonesia harus menjadi bahan bakar lahirnya teknologi, bukan sekadar bahan mentah yang kemudian kita beli kembali dalam bentuk produk bernilai tinggi. Kita membutuhkan peta jalan yang melampaui masa jabatan. Apa yang harus ditemukan pada 2030? Apa yang harus menjadi kekuatan teknologi pada 2035? Apa yang harus menjadi karya Indonesia pada 2045? Setiap generasi harus menanam, generasi berikutnya merawat, generasi sesudahnya memanen lalu menanam kembali. Rencana besar tidak boleh mati bersama pergantian pemimpin. Bagi generasi yang mulai memasuki penghujung masa kerja dan usia pengabdian, pertanyaan terpenting bukan lagi berapa lama kita memegang jabatan, tetapi apa yang kita tinggalkan setelah jabatan berakhir. Gedung dapat tua, jabatan berganti, usia berlalu, tetapi gagasan, ilmu, riset dan inovasi dapat hidup jauh lebih panjang daripada penciptanya. Karena itu, warisan terbaik bukan sekadar posisi yang pernah kita duduki, melainkan generasi yang kita siapkan untuk melampaui kita. Indonesia masih membutuhkan banyak ciptaan: pertanian, pangan, kesehatan, energi, kelautan, pendidikan, industri, teknologi digital, AI, lingkungan dan berbagai sektor kehidupan. Kita tidak kekurangan masalah; yang harus diperkuat adalah keberanian mengubah masalah menjadi peluang riset dan inovasi. Maka mulai sekarang, jangan hanya bertanya siapa yang berkuasa, tetapi bertanyalah apa yang kita ciptakan. Jangan hanya sibuk mempertahankan kelompok, tetapi bangun ekosistem yang memungkinkan anak-anak bangsa menemukan sesuatu yang belum pernah ada. Sebab 2045 akan datang tanpa menunggu kita siap. Ketika saat itu tiba, sejarah akan bertanya: Indonesia menjadi apa?.

D

Dr. Ir. H. Muh. Tahir, M.Si.

Rektor UNIMAJU

Chat WhatsApp